JUDUL : PENCARI, Kumpulan Feature Human Interest
Penulis : Anggota Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan
Tahun : Cetakan Pertama, 2010
Penerbit : Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan
Tebal : xii + 144 halaman
MENGUNGKAP HITAM PUTIH KEHIDUPAN DI MASYARAKAT
Haru. Buku ini menebar realita yang tidak bisa diragukan adalah tataran perjalanan hidup anak manusia dengan segala suka dukanya turut meramaikan isinya. Sungguh berani dan menyulap dengan pengertian tinggi. Sebuah rasa syukur sekaligus bangga atas karya kru pers mahasiswa kreatif Universitas Negeri Medan yang turut aktif dalam dunia kepenulisan.
Feature adalah tulisan berupa fakta yang dikemas secara sastrawi. Yang diceritakan disini adalah kejadian-kejadian nyata di masyarakat yang ditulis para jurnalis kampus. Buku ini berisi tulisan dari 34 penulis berasal dari kru pers mahasiswa kreatif sendiri yang diangkat dari pengalaman-pengalaman mereka sebagai jurnalis.
Diawali dengan tulisan Abdul Latif Rusdi berjudul ”Berpeluh di Paluh-Paluh” yang mengangkat kisah seorang anak yang suka membantu orang tuanya menangkap udang dan ikan kecil untuk mendapatkan uang merupakan kisah yang penelusurannya terlihat tidak main-main. Sama pula dengan tulisan Abdul Halim Rao yang menceritakan kisah singkat dari anak jalanan yang selama ini kita ketahui memiliki latar belakang kehidupan yang kita sendiri masih kurang perduli.
Andi Makasau dan Asrizal Fauzi mengungkapkan hal yang sama yang pada akhirnya akan ada pesan moral. Aulia Andri menceritakan dengan dibubuhi humor tentang pengalaman pribadinya. Anton H. Sihotang menceritakan tentang harapan akan diadakannya sertifikasi guru yang seharusnya tidak turut merugikan. Aris permadi mengungkap pula jasa dari dukun beranak yang melebihi peran bidan di daerah perkampungan. Hal ini merupakan sebuah pesan sosial yang mana sulit untuk menemukan seseorang dengan kerelaan hati dan pengabdian besar membantu kesulitan masyarakat pendesaan.
Budiah Sari Siregar juga tak kalah menceritakan kisah beberapa orang yang mengalami kesulitan memilih jalan hidup dan terpaksa harus mengalami dilema jangka panjang. Dengan mengungkapkan penuh kejujuran pribadi dan keberanianlah seseorang dalam memilih jalan hidupnya. Inilah yang kita perlukan.
David Vandi Hutagalung menceritakan tukang parkir yang telah enam tahun bekerja. Ertina dan Fadly Pratama menceritakan tentang seluk-beluk kota Medan. Fakhira Sitorus menceritakan tentang anak pesantren yang cinta terhadap lingkungan. Maulana Malik Ibrahim menceritakan tentang gubernur kecil yang dalam pengertiannya disini adalah sebutan bagi salah satu jabatan mahasiswa di dalam kampus. Maya Dwi Kurnia menceritakan historiografi kota Medan mulai dari golongan etnis India di kota Medan sampai dengan etnis Cina maupun orang-orang pribumi sendiri yang mana mampu hidup berdampingan tanpa terjadinya perseteruan. Hal ini menarik mengingat tidak banyak orang mengetahui seluk beluk pendatang di kota Medan.
Mariati Sinaga menceritakan perjalanan hidup yang penelusurannya cukup panjang dan menarik dengan judul yang mengikat pula yaitu ”Ketika Huruf-Huruf Mengkhianati” sudah membuat kita yakin sekaligus penasaran akan pengungkapannya. Sudut pandang yang diambilnya pun dari macam hal sudah membuat pembaca tidak berniat mengakhiri mengikuti alur ceritanya.
Metawati Rosti memaparkan pengalaman kerja bagi seorang operator di warnet. Sedangkan Mei Yanti Siagian justru mengangkat kisah yang penuh dengan rasa iba tentang masyarakat marjinal yang dipinggirkan dan merupakan sorotan kehidupan berbeda. Nasria Husni dan Novita Sari menceritakan kehidupan tukang becak. Nurul Hidayah Samura mengungkapkan kisah ironisnya kehidupan dua orang anak pengamen. Rahmadani menceritakan kisah beberapa mahasiswa yang bekerja sambil kuliah. Rinda Dinamita menceritakan tentang ibu penjual bubur yang memiliki keinginan untuk naik haji. Rudi H. S. menceritakan kisah beberapa penjual tukang jamu.
Salman Hasibuan dan Yokko C. Lubis menceritakan tentang orang yang mengalami cacat. Siti Sarah menceritakan seorang ibu tukang cuci. Dan Syafriani menceritakan seorang pekerja pabrik.
Winda Syafitri menceritakan tentang seorang pengantar fast food yang akhirnya menjadi manajer. Wahyu Wiji Astuti menceritakan pengalamannya bersama para sastrawan dan menariknya ada sebuah ikatan silaturahmi yang kuat baik itu antar sastrawan sendiri maupun antar sastrawan dengan lingkugannya. Terakhir, M. Ancha Sitorus menceritakan tentang kebudayaan.
Menariknya buku ini dipenuhi oleh penulis-penulis gabungan mulai dari angkatan pemula sampai yang alumni. Jika membacanya, kita akan tahu sebuah keseriusan pencarian fakta yang dibangun oleh penulis-penulis di dalamnya dan buku ini penting untuk mengungkap kesadaran kita untuk peduli terhadap lingkungan.
Akhirnya harus kita sadari buku ini juga memiliki kekurangan diantaranya, jenis huruf yang dipakai kurang menarik terlebih tidak ada ilustrasi-ilustrasi berupa gambar yang sebenarnya sangat ingin pembaca temui. Apalagi tulisan ini sebuah realita kehidupan dan penelusuran dari penulisnya sendiri, sudah selayaknya masing-masing penulis menyajikan gambar baik itu potret masyarakatnya langsung melalui foto digital maupun gambar-gambar kartun. Selain itu, masih ada penulis-penulis yang penggunaan gaya bahasanya belum memenuhi karakter dalam kepenulisan sastra, padahal feature menuntut penyajian tulisan berbau sastra namun tetap realita.
No comments:
Post a Comment