Thursday, September 15, 2011

Artikel, Waspada, 4 September 2011

Era Menulis Diregut Kekuasaan Kapital
       Oleh: Ria Ristiana Dewi

Sejatinya seorang penulis, meski harus terus menulis tetap memiliki kecenderungan akan melirik ke banyak hal, salah satunya soal berapa honor yang ia dapatkan. Memang hal ini bukan lagi hal baru, sejatinya memang seperti itu cerita yang banyak dibangun oleh pengamat sastra akhir-akhir ini. Bahkan pernah sedikit penulis berbicara dengan salah seorang sastrawan kota Medan. Raudah Jambak misalnya, mengatakan bahwa menulis itu jangan melihat berapa honor yang diberikan. Begitu pula dengan Hasan Al Banna mengatakan bahwa menulislah dengan hatimu, maka kau tak perlu mengejar uang. Ulfa Zaini, seorang penulis muda dalam artikelnya (Analisa Minggu, 12 Juni 2011) juga tak kalah berpendapat banyaknya karya yang justru dikomersilkan. Ini artinya bila memang kita menulis untuk pertama kalinya hanya bercita-cita menimbun uang sama dengan kita membunuh karya atau tulisan kita sendiri. Tetapi tolak ukur ini tentu tidak hanya dari si penulis sendiri, namun juga dari media massa akhir-akhir ini yang merasa perlu membuat satu cara jitu memenuhi konsumsi pembaca kita yang nakal dan haus akan globalisasi.
            Bahkan penulis terperanjat dengan sebuah artikel yang dilayangkan Naufil Istikhari KR, penekun sastra Fishum UIN Yogyakarta (Seputar Indonesia, 24 Juli 2011) berjudul Kematian Sastra Indonesia (?). Dalam artikel tersebut, Naufil mengatakan bahwa kekuatan sastra secara diam-diam menjalin hubungan gelap dengan kekuasaan kapital. Memang berdasarkan artikel ini pula telah banyak karya-karya sastra yang beredar sekarang ini kurang greget dalam melumat kebobrokan moral. Akhir-akhir ini banyak sekali kita melihat karya-karya yang melejit justru karena memberi ruang surga bagi pihak-pihak yang mestinya kita kritik. Di sini Naufil seolah ingin mengabarkan perihal penulis-penulis yang lebih ke arah dunia perfilman modern, mengambil tema-tema percintaan yang tak habisnya dibahas di media. Lalu dengan iming-iming popularitas sekaligus banyaknya uang yang didapatkan, ikut pula penulis-penulis lainnya mengekor seperti semut yang hendak menggotong gula. Tak tampak pahitnya sastrawan-sastrawan itu selayaknya sastrawan tempo dulu.
            Tentu kita masih ingat peristiwa berdirinya Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) di era tahun 1945-an yang mana harus bertarung melawan pemerintahan kolonial. Kala itu kolonial ingin menjadikan kebudayaan asing sebagai kebudayaan utama dan terdepan di Indonesia. Tentu saja mendapat penolakan dari sastrawan Indonesia. Apabila kala itu sastrawan hanya memikirkan masalah kapitalisme, mungkin sudah bisa kita tebak bahwa kebudayaan Indonesia perlahan lenyap. Maka, sekarang ini pula kita takkan menemukan karya-karya rakyat Indonesia di belantara kebudayaan bangsa kita sendiri.  Hidupnya Lekra di era 1945-an ini tentu tak lepas dari usaha sastrawan untuk membantu usaha mencapai kemerdekaan dalam kebudayaan.
Arus yang Menyita Benak Bibit Penulis
            Penulis merasa tertarik sekaligus tertantang dengan artikel yang diusung Yul Hasni, seorang dosen muda Medan yang mengangkat tentang kampus USU yang sepi kreativitas sastra (Analisa Minggu, 31 Juli 2011). Dalam hal ini penulis sedikit banyaknya menduga alasan-alasan yang menjadi tersendatnya kreativitas sastra di USU. Seperti halnya yang dikatakan dalam artikel tersebut bahwasannya dahulu memang banyak sekali sastrawan-sastrawan yang lahir dari kampus USU ini. Lalu mengapa jurusan Sastra Indonesia di USU seakan tak menunjukkan taringnya bila dibandingkan dengan penulis-penulis dari UNIMED ataupun UMSU?
Penulis sekadar menduga bahwa corak USU yang lebih ke arah masyarakat kota dibebani banyak kegiatan perkotaan pula seperti kebiasaan berbelanja dan sekadar melihat-lihat ramainya arus global turut membuat mereka tak hendak kembali menjadi pahlawan sastra bangsa Indonesia khususnya di Sumatera Utara. Padahal bila mereka tidak terikut arus global sebagai masuknya budaya asing, tentu masih mampu menampung aspirasi rakyat dalam karya-karya terbaik mereka.
Sebenarnya di UNIMED dan UMSU sendiri juga mengalami hal semacam ini, namun atas gerakan beberapa orang mampu membawa mereka beranjak dari lubang yang itu-itu saja. Maka, harus ada yang melakukan itu di kampus USU, khususnya jurusan Sastra Indonesia.
Terpasung Kecurigaan Tak Mendasar
            Selain itu, penulis terpaksa juga membeberkan persaingan-persaingan yang membelenggu penulis-penulis kita saat ini khususnya di kota Medan. Penulis ingin memberi sebuah percontohan sedikit bagi penulis-penulis muda Sumatera Utara yang berpusat di Medan. Sebuah keyakinan beberapa orang untuk menyatukan itikad baik dalam menulis inilah banyak mendapat sambutan yang justru kurang baik. Padahal sudah jelas apa tujuannya yaitu memajukan sastra di sumatera utara dengan menekan sebanyak mungkin antusias pemuda. Sejatinya sastrawan kita tak lupa akan semangat pemuda mencetuskan sumpah pemuda dan sudah selayaknya pemuda diberi tempat. Apalagi melihat begitu tingginya peran pemuda dalam pengembangan karya sastra. Bila sastrawan mampu melirik potensi ini, sebenarnya adalah ruang khusus diskusi sastra serius itu mulai digalakkan.
            Penulis-penulis muda seperti halnya Ulfa Zaini, Sartika Sari, Robi Subrata, Rudiansyah Siregar, Wahyu Wiji Astuti, Sakinah Anisa Mariz, Febri Mira Rizki, Zuliana Ibrahim, Maulana Satrya Sinaga, Dani Sukma, dan masih banyak lagi bahkan begitu menyadari akan pentingnya menggalakkan sastra serius ini. Seperti yang terkutip dalam artikel Ulfa Zaini: ”Sastra serius tidak bersifat komersial, sehingga tidak terlalu memperdulikan selera pasar. Hal ini tentu menjadikan sastra serius minim peminat baik pembaca maupun penulisnya”.
            Maka bila ada beberapa penulis yang beranjak dari penulis-penulis yang disebutkan di atas mengatakan bahwa ini sebuah regenerasi penulis dadakan yang dibuat-buat dan tak ada guna adalah sebuah kesalahan besar. Dan hal ini mampu memasung kepercayaan penulis-penulis muda kita bahwa memang ada ketakutan beberapa orang akan tersaing. Padahal mereka adalah potensi menumbuhkembangkan kepercayaan rakyat akan pentingnya sastra bagi kemajuan bangsa ini. Semoga saja apa yang penulis duga mengenai ketakutan-ketakutan ini hanya sebuah kabar miring. Dan pastinya kehidupan sastra kita lebih menunjukkan giginya di dunia internasional.
Bergeming pada Angka-Angka
            Kita tak bisa menyangkal memang masih banyak kaum baik muda maupun tua yang memperhitungkan angka-angka. Misalnya saja, tentang berapa honor di media A kemudian berapa pula di media B. Tetapi tunggu! Mari melihat sedikit ke arah alasan-alasan yang masih dapat kita terima.
            Di beberapa komunitas kepenulisan pemuda memang masih banyak sekali pertanyaan ini muncul. Berdasarkan pengalaman penulis, banyak penulis muda memang mempertanyakan dahulu apa untungnya kegiatan menulis ini? Sebagian memang ada. Apabila keuntungan yang didapatkan kecil, maka menjadi pertimbangan. Apalagi merintisnya penuh keluhan dan jatuh bangun. Namun kenyataannya tidak sedikit penulis muda yang mengaku setia menulis walaupun wadah untuk menampungnya belum mereka dapatkan bahkan harus bertahun-tahun belajar dan menghabiskan banyak waktu pun pikiran. Penulis-penulis ini juga sangat terbantu dengan banyaknya perlombaan-perlombaan yang diadakan sehingga mengetahui kualitas karya mereka. Namun tak sedikit yang mengetahui karyanya tidak layak langsung berbalik badan alias mundur seketika dari persaingan sehat. Lagi-lagi angka-angka menjadi tolak ukur.
            Namun sebenarnya, penulis muda lebih banyak mengandalkan honor demi tetap mengembangkan dan melancarkan taringnya dalam menulis. Misalnya saja, untuk membeli koran, mengakses internet, menghadiri dan membuat acara sastra. Pastinya membutuhkan modal dan di sinilah honor-honor itu berputar. Sebab pada dasarnya penulis muda kita belum memiliki nominal lebih dari kantong sendiri demi memenuhi hal-hal ini.
            Inilah sebabnya para penulis lagi-lagi perlu mengambil alih keyinan diri akan mencintai karya-karya mereka. Yaitu penulis memang harus menulis sesuai hati nuraninya. Memberi pesan-pesan berguna untuk masyarakat kita. Berani tampil mengkritik pemerintahan dan membela rakyat. Maka, sudah saatnya menjaga diri dari arus global yang menawarkan tontonan pun tulisan-tulisan berbau imperialisme modern. Marilah penulis-penulis!

Penulis adalah dewan ahli Komunitas Penulis Anak Kampus,
aktivis Laboratoriun Sastra (LABSAS) Medan,
dan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNIMED.


No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...