Saturday, September 10, 2011

Artikel, Juara I di Org. KAMMI UNIMED


NASIB RAKYAT DI ATAS PENA MAHASISWA
Islam, Momentum Ideologis Mahasiswa Era Pascareformasi

Mahasiswa di sini dianggap sebagai pengawal yang membentuk sekelompok orang kemudian bergerak, berkoordinasi, membentuk suatu bangunan yang utuh dan memiliki tujuan bersama dan sistem peraturan sama menuju tujuan yang ingin dicapai.  Sebagai mahasiswa memang sudah selayaknya memiliki talenta ideologis tinggi daripada kita mengukurnya dari masyarakat awam yang hanya mengetahui perihal harga naik, namun tidak mengerti harus bergerak dengan cara apa demi memperjuangkan nasib. Inilah gunanya mahasiswa untuk mengawal masyarakat awam dan membantu mereka yang tidak tahu berpikir ke arah hal-hal yang sifatnya kritis. Kemudian, siapa dan untuk apa pergerakan ini, sesungguhnya telah terbukti dari waktu ke waktu terutama dalam menentukan masa depan bangsa dan Negara Indonesia.
Sejak zaman pergerakan dan kebangkitan nasional, orang-orang muda yang berani dan intelektual adalah rohnya. Mulai Soekarno, Hatta, Kartini, Soetomo, Ki Hajar Dewantara dan sebagainya. Mereka memperjuangkan apa yang dianggapnya benar dan untuk kepentingan bangsanya sampai titik darah penghabisan. Hingga Indonesia merdeka sekarang ini.
Penulis sepakat pula dengan yang dikatakan Aziz Fauzi dalam artikelnya mengenai mahasiswa di salah satu situs internet bahwa orang intelektual (mahasiswa, pelajar, serta orang terpelajar) dianggap tokoh yang membawa perubahan (agent of change). Pada artikel ini akan dibahas sedikit gerakan mahasiswa dari masa ke masa. Secara umum pergerakan mahasiswa selalu membawa suara rakyat yang ingin perubahan. Aksi mereka murni dari dalam hati atas tidak stabilnya kondisi yang ada mulai dari politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain.
Angkatan 66, faktor penggeraknya karena keadaan politik dan ekonomi yang carut marut pada saat itu. Terjadi kudeta berdarah oleh PKI yang menyebabkan timbulnya korban dari perwira-perwira AD. Mahasiswa, pelajar, serta rakyat yang didukung AD pun bergerak dan bersatu dengan suara yang sama yang terkenal dengan TRITURA. Aksi gabungan massa ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dan menimbulkan jatuhnya korban jiwa dari mahasiswa dan rakyat.
Angkatan 98, atau yang lebih dikenal dengan gerakan reformasi. Aksi ini menuntut turunnya Soeharto sebagai presiden yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Dalam reformasi ini pergerakan mahasiswa berbeda dengan tahun 66. Mahasiswa, LSM, dan rakyat bersatu melawan Soeharto dan AD sebagai pendukung kelenggengan Orba (Orde Baru). Dan kemenangan pun kembali ke tangan mahasiswa dan rakyat. Dari dua dekade yang berbeda dapat kita simpulkan bahwa kalangan mahasiswa adalah agent of change. Selalu bergerak serta bersatu atas hati nurani dan keinginan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gerakan Mahasiswa Dalam Reformasi
Reformasi dapat diartikan sebagai suatu gerakan yang ingin mengubah tatanan masyarakat secara damai. Oleh bangsa kita era sekarang merupakan suatu history of the making (sejarah yang sedang dibuat). Dimana pada pasca lengsernya Soeharto, bangsa Indonesia mengalami disintregrasi, munculnya konflik horizontal, dan masalah-masalah yang ditinggalkan rezim terdahulu.
Saat kita (mahasiswa) melawan rezim Orla dan Orba, kita dan rakyat bersatu dengan satu tekad yang menginginkan pembaharuan dan perubahan dalam arti luas. Seperti tahun 66 dan 98, orang-orang intelektual kembali kedalam lingkungan semula yaitu kampus dan sekolah. Kita kembali belajar dan juga bertindak sebagai moral force, agent of change, dan agent of social control.
Dapat kita lihat bagaimana aksi mahasiswa menolak RUU BHP, aksi solidaritas kemanusiaan, dan mengkritik kebijaksanaan pemerintah. Semuanya murni dari kesadaran mahasiswa sendiri, yang diperjuangkan atas nama rakyat secara umum. Pada kondisi yang lain dibeberapa daerah, belakangan para mahasiswa kurang kompak dan bersatu seperti yang terlihat awal Orba dan Reformasi. Malah memperlihatkan seperti bukan orang intelektual lagi (primitive).
Kita lihat dibeberapa tayangan TV, bagaimana antar universitas saling serang, antar fakultas dalam satu kampus, mahasiswa dengan masyarakat umum. Sebab persoalannya hanya soal sepele yaitu ejek-mengejek. Dimana budaya intelektual mereka, mahasiswa bukan jagonya soal main fisik. Tetapi bagaimana saling perang pendapat, argumentasi, opini dan sebagainya yang sejenis.
Dan yang paling parah lagi ada segolongan mahasiswa dalam melakukan aksinya bukan karena hati nurani, melainkan karena sejumlah uang, misal dalam kasus DPRD Sumut. Sebagai orang-orang yang berpendidikan janganlah dan jaga supaya gerakan kita tidak diikuti oleh kepentingan politik suatu golongan. Yang paling penting dan utamakan jika sedang mengelar aksi masa, terjebak hal-hal yang tidak perlu, jangan berbuat anarkis serta terprokasi oleh orang yang tak bertanggung-jawab yang bisa merusak citra mahasiswa itu sendiri.
Sekali lagi perlu ditekankan bahwa masyarakat kampus sebagai masyarakat ilmiah harus benar-benar mengamalkan budaya akademik, terutama untuk tidak terjebak pada politik praktis dalam arti terjebak pada legimitasi kepentingan penguasa. Oleh karena itu sikap masyarakat kampus tidak boleh tercemar oleh kepentingan-kepentingan politik penguasa sehingga benar-benar luhur dan mulia. Dasar kebenaran masyarakat kampus adalah kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur yang bersumber pada Ketuhanan dan kemanusiaan.

Islam, Menumbuhkan Moralitas Mahasiswa
            Presiden SBY dalam kuliah umum yang diberikan di tribun Grha ITS juga menyebutkan bahwa memang suara mahasiswa adalah suara hati dan presiden selalu berupaya agar suara itu tersalurkan (Waspada, rabu, 15 Desember 2010). Namun, pada akhirnya pasca reformasi seperti halnya masa kepemimpinan SBY adalah tonggak perlunya moralitas di kalangan mahasiswa. Yang pada akhirnya akan menyalurkan ide-ide dan suara rakyat lebih dengan cara yang dianggap benar serta tidak membuat tindakan kriminalitas. Implementasinya telah real dalam beberapa demonstrasi akhir-akhir ini seperti bentuk kekecewaan Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) terhadap kinerja DPRD kota Medan (Analisa, 2010). Serta beberapa suara yang dilancarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berlangsung damai. Jika ada beberapa yang sifatnya kriminalitas, penulis menanggapinya sebagai bangunan moralitas yang gagal dihidupkan oleh mahasiswa itu sendiri ataupun adanya campur tangan yang sifatnya pribadi dan merugikan golongan.
            Lalu bagaimana pula peran Islam? Inilah momentum para mahasiswa ideologis. Momentum untuk menyadarkan ke masyarakat tentang kebobrokan system kapitalis. Momentum untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang system islam yang kaffah yang justru akan mensejahterakan mereka. Gempur dan warnai opini kampus dengan system ideology dan solusi yang anda tawarkan. Pahamkan kepada masyarakat tentang syariah dan khilafah.
Maka perpaduan masyarakat atau rakyat kecil dan anda sebagai pengawal bahkan sebagai pemimpin akan menjadikan kekuatan menjadi solid dan tidak bisa terbendung lagi. Maka, dengan sendiri jika opini sudah berubah dan mengarah untuk menolak, mencampakkan dan menghancurkan kapitalisme dan mengganti serta menjadikan ideology islam sebagai solusi maka tegaknya islam di bawah naungan khilafah tinggal menunggu waktu sebentar lagi. Dan itu tidak perlu dengan senjata dan perumpahan darah yang hanya membuat dendam baru ketika system sudah berdiri, tetapi dengan keinginan dan kehendak masyarakat itu sendiri.
 
Serambi KOMPAK, 26 Maret 2011

1 comment:

eMBe Basir BloG said...

Sebuah akumulasi pemikiran dan pengalaman intelektual yang diungkapkan melalui coretan-coretan indah. Tinjauan Historis yang diberikan mampu membuka memori-memori pergerakan dan mmenumbuhkan kembali semangat pergerakan mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa, Ria Ristiana mampu menggabungkan Islam, Sejarah, Tulisan, Pergerakan dan kondisi terkini negeri. Bagi mahasiswa yang ingin maju dan ingin cerdas, silahkan baca tulisan ini...

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...