BINTANG
Karya: Ria Ristiana Dewi
Nyatanya kata-katanya selalu unik. Itulah yang kusuka darinya. Iya, aku setuju mengatakan dia adalah Bintang. Bintang karena ia selalu menjadi inspirasi ataupun inspirator. Bintang kukenal periang dan ramah. Bintang pernah pula menerbitkan perkataan “Yes for your spirit, guys! Come on! We must say no to down.”
Kapan aku bisa menemukan teman seperti Bintang? Aku juga tak tahu, barangkali juga takkan pernah tergantikan. Bintang menjadi inspirasiku karena keanehannya, lebih tepatnya karena ia tak pernah sekalipun mengeluh tentang hidup. Bahkan sejak ia harus ditinggal bersama sunyi, ia justru membawa tawa dimana pun berada. Satu kata-katanya yang selalu kuingat.
“Kau tak akan pernah mendapat hidup untuk kedua kalinya, jadi manfaatkanlah. Buatlah hidupmu bukan untuk separuh jiwa, namun sepenuh jiwa.”
Bintang selalu menjadi inspirator karena setiap ia berkata selalu tak punya alasan untuk menentang kata-katanya. Ingin rasanya mengelak, namun tak terelakkan. Begitulah Bintang. Bagaimana lagi aku bisa berbohong tentangnya. Ia tak pernah berkeinginan untuk menghindari masalah namun kenyataannya masalahlah yang menghindar darinya. Itu karena ia selalu berada di tempat yang tepat di saat yang tepat. Bukan main-main, ini sungguh. Aku menyaksikannya bermain teater saat itu. Ia sedang mengkoordinasi anggotanya. Namun tak terlintas olehnya sedikit pun untuk menggilas hak teman-temannya berkomentar dan mengekspresikan diri. Nyatanya dia selalu bisa jadi yang terbaik. Tak ada komentar menganggap ini tak adil, memang begitulah Bintang. Tak bisa iri ataupun sangsi dengan kemampuannya memilih antara hak dan tanggung jawab.
Jika kau ingin tau Bintang, itulah dia. Dan jika kau ingin tau aku, beginilah aku yang hanya bisa terpana kagum melihat Bintang.
***
Ditelusuri hujan gerimis pertanda indahnya pagi tertulis oleh seberkas sinar, membuat tanah airku ini menjadi nostalgia yang takkan pernah kusia-siakan. Seberkas sinar di langit segera berlalu menjadikan segudang cahaya hadir lembut disambut bumi. Embun di daun pinus tergelintir berusaha meraih ranting agar tak terjatuh, sedangkan embun di daun jati terlihat santai menggenang di pagi ini dan pagi-pagi yang lain. Ditemani tubuh sehat, aku berjalan sedikit tertatih mengingat lima menit lagi bel masuk sekolah.
“Nyaris”
Nafasku menggantung di tenggorokan, sesak serasa berhalangan masuk ke paru-paru, pelan-pelan aku mencoba menenangkan diri.
“Seharusnya sudah telat”
“Thanks Tang”
“Lain kali aku gak peduli sobat”
“Jangan bilang Bintang berubah hanya karena aku telat.”
“Telat itu berarti aku berbohong gara-gara kau, setiap pagi aku harus punya alasan membantumu supaya bisa masuk”
“Ayolah Tang, gunakan keahlianmu untuk membantu orang lain toh berpahala”
“Kalau keterusan aku rugi”
“Berapa sih Tang ruginya”
“Seperti kehilangan sedikit nyalimu. Seperti itulah sobat”
“Okelah. Okelah.”
Aku tak begitu mengerti kata-katanya saat menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Ia begitu tahu aku paling sebal dengan kata-kata formal yang ngesok, tapi ia sengaja menjadikan itu senjata agar aku cepat terdiam menyatakan kalah dengan semua asumsinya. Menuju kelas, kami berjalan di lorong tanpa beragumentasi, menyatakan saling maklum. Suasana kelas tak ada perubahan, Bu Aliyah duduk di sudut depan ruangan mengomentari kelas kami. Aku dan Bintang masuk dengan mudah setelah ada kode ‘ya’ dari Bu Aliyah.
“Ah… gawat!” mengingat sesuatu yang barangkali sudah berkali-kali.
“Kenapa?”
“Buku besar lupa kubawa”
“Kalau gitu jangan pinjam” cuek.
“Terus kalo gak pinjam?”
“Lapor ke Bu Aliyah”
“Tang, tega ya?” heran melihat Bintang hari ini. Biasanya ia selalu berusaha mencarikan jalan keluar, setidaknya ia akan membagi dua bukunya padaku ataupun merayu Bu Aliyah untuk mengerti keteledoranku.
“Okelah Tang, aku ngaku aja ke Bu Aliyah” keberanian dalam diriku menjadi ringan sehingga tak tahu apa kata-kataku ini terlalu menunjukan sikap kekanak-kanakan.
“ Hahaha… mudahnya buat sobatku sendiri percaya lelucon” tertawa kecil.
“Maksudnya?” heranku menjadi-jadi. Pikiranku menebak hatiku sendiri. Alangkah lugunya.
“Aku kan bisa membagi dua bukuku”
“Itulah Tang! tadinya aku juga gak percaya”
“Namanya juga Oon” sambil melemparkan senyum.
“Apa?”
“Osoi-osoi ni-to”*
“Apaan tuh”
“Artinya pintar”
“Tang gak lagi ngebodohin aku kan?”
“ Kira-kira?”
“Ngak!”
“Tuh tau”
Hmm…ini udah kesekian kalinya. Nantinya Bintang akan menghiburku dan membuat aku merasa paling pintar setelah dia merasa bersalah sudah membodohiku. Kulihat ia tersenyum. Aku tahu aku juga harus pura-pura tersenyum. Walau perasaanku mengatakan Bintang sedang tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya.
***
Pengalaman bersama Bintang mengingatkanku untuk senantiasa merangkai buih-buih persahabatan yang kadang kala menyisakan asap kepanikan namun tetap dalam koridor kekaguman. Kupetik rasa untuk mengecap manis pahit bersama Bintang, tetapi harus kuakui Bintang senantiasa hanyalah sebilah pisau yang dalam setiap tindakan dan kata-katanya menyembelih hingga ke serambi jantungku. Biarpun darah yang terpompa dalam tubuhku seakan berbeda setiap ada bintang di dekatku, aku mengerti bahwa Bintang tidak akan berpaling meninggalkan sahabatnya seperti yang dilakukan malin kudang terhadap ibunya. Siapa yang tahu? Aku juga tak tahu!
Suasana haru menghibur perjalanan aku dan Bintang menuju lapangan. Pak Susilo sudah memperingatkan kami semua untuk tidak terlambat karena waktu akan terbuang percuma tanpa ada yang maksimal untuk setiap pelajaran olahraga.
Badminton. Mencicipi raket dan memukul setiap bola yang datang terasa begitu mudah bagiku. Lalu bagaimana dengan Bintang?
Benar! Bintang tak layak lagi dikatakan pemula. Sampai hari ini Pak Susilo adalah korbanya yang entah keberapa, hingga Pak Susilo terpaksa mengakui Bintang akan segera dipromosikan untuk mengharumkan nama sekolah.
“Kau hebat!” hanya itu saja yang dapat kukatakan padanya. Sambil lagi-lagi terpana kagum. Melihat Bintang seperti angin ke sana kemari memudahkan segala perkara bagi setiap bola yang datang padanya.
“Kau yang dahsyat!” lagi-lagi Bintang memutarkan derajat kata-kata yang aku tuju padanya.
“Kapan kau kalah dariku Tang? Katakan! Kapan aku bisa mengalahkanmu? Aku akan segera memanfaatkan waku itu”
“Ha…ha…ha…, jangat sewot gitu sobat”
“Just Kidding!” sedikit intermezzo sebelum akhirnya aku dan bintang beralih jalan menuju kelas setelah selesai berganti pakaian.
***
Kejuaraan yang ditunggu-tunggu akhirnya hadir. Bintang berjalan penuh percaya diri. Menyisikan setiap langkahnya dengan aba-aba kemenangan. Hampir dipastikan kenyataan yang benar-benar menjadi nyata. Antara yang aku pikirkan dan yg terjadi didepan mata kepalaku tidak jauh berbeda.
“Hebat kau Tang. Aku sampai lupa minum minumanku, mataku tak lagi berkedip”
“Dimana-mana yang terhebat itu adalah motivator. Dan kau motivatorku sobat”.
Inilah yang aku sendiri selalu bimbang menyatakan akan apa dan mengapa Bintang selalu sukses adalah karena dia selalu rendah diri untuk setiap yang telah ia raih.
Aku berjalan bersama bintang keluar dari keramaian maha dahsyat. Aku melihat tangan-tangan berusaha meraih ke arah Bintang, sesekali menyentuh kulitku, sesekali pula kulihat wajah-wajah itu seakan wajah belum makan berhari-hari, penuh harap mengaharap iba.
Tidak! Bukan itu yang mereka harapkan. Namun, menyentuh Bintang ataupun mendapat sebuah tanda tangan maupun foto bareng sudah membuat mereka kekenyangan. Mereka tidak lain warga sekolahku maupun dari sekolah-sekolah lain.
Setelah akhirnya aku dan Bintang keluar dari keramaian, aku, Bintang, dan guru-guru kami beranjak ke bus sekolah dan segera menuju sekolah. Sepanjang perjalanan Pak Susilo tidak henti-hentinya memuji Bintang. Tidak ketinggalan pula guru-guru yang lain menepuk-nepuk punggung Bintang.
“Subahannallah, anakku, semua pemain berbakat dan terlatih asuhan gedung mewah kamu kalahin. Ibu gak percaya Tang! Nyaris Tang, tapi ibu tadi sejujurnya meneteskan air mata.” Kembali bu guru menepuk-nepuk punggung Bintang dan sekali-kali mengatakan, “Subahannallah…Subahannallah.”
***
Lantas di sekolah, aku segera menghindari keramaian yang lagi-lagi selalu kunjung hadir di sekeliling Bintang. Ini sudah seperti hari sehari bersama artis. Tanpa Bintang ketahui aku akhirnya berhasil keluar dari keramaian, beranjak ke tempat sepi. Aku melihat ke arah keramaian menjadikan diriku sendiri kagum. Saat aku selalu melangkahkan keyakinan bersama sahabat, tidak selamanya keyakinan itu benar. Suara-suara menganggap ini tak adil terkadang terpetik dalam setiap anganku. Apa pula yang bisa aku berikan bagi diriku sendiri adalah sama dengan yang ingin Bintang berikan padaku, yaitu persahabatan.
Ini lah beberapa hal dari banyak hal yang barangkali cerita tak pernah habisnya tentang aku dan Bintang.
Serambi KOMPAK, 2009-2010
No comments:
Post a Comment