Hari ini sekitar tahun-tahun yang lalu socrates pernah memikirkan tentang kehidupan manusia. Mengapa manusia merupakan manusia yang paling tidak stabil dan membutuhkan kesepakatan untuk mencapai keadilan bersama. Keadilan yang lain dari hukum masyarakat dan bukan hukum dari para dewa.
Betapa socrates hanya memikirkan apa yang tampak secara real di depan matanya, tanpa ia mempertimbangkan perihal energi yang datang tanpa ia tahu pasti.
Namun, ia sendiri mengakui bahwa manusia hanya akan mendapatkan kebahagiaannya melalui segala kesulitan yang dialami.
kata kunci "kesulitan" itulah yang menjadikan kita, sebagai muslim memahami bahwa hari-hari tersebut adalah hukum yang Allah berikan terhadap hasil yang ingin dicapai. Kebahagiaan hakiki yang kemudian sangat dangkal untuk bisa diteliti oleh manusia.
Betapa naifnya, manusia meninggalkan hari-hari pentingnya tanpa mengetahui isi kalimat-kalimat Allah. Betapa naifnya, manusia menjadikan Al quran hanya sebagai bahan bacaan sampingan.
Bukankah, seperti pada kutipan wikipedia,
"Al-Qur'an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak.[29] Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari Al-Qur'an, sehingga umat Muslim mampu membuat sistematika penulisan sejarah yang lebih mendekati landasan penanggalan astronomis."
Turunnya Alquran secara berangsur-angsur untuk meneguhkan Rasulullah kala itu, juga menjadi landasan keteguhan Islam untuk bijak memahami hakikat hikmah yang terjadi.
Allah menjadikan kehidupan seumpama urutan kejadian yang berangsur-angsur. Pemenang di antara kita adalah yang mampu mencerna segala halnya dari apa yang Allah katakan dalam Alquran.
Maka, Socrates harus tahu, bahwa Ia akan tampak hanya sebagai seorang filsuf jika "seandainya" ia tahu bahwa hakikat kebenaran bukan datang dari manusia atau "kesepakatan manusia" melainkan dari apa yang Allah katakan. Jika ia tahu itu, mungkin saja ia akan menjadi heran lantas menamakan diri sebagai manusia saja.