Wednesday, August 29, 2012

Saat Temu Sastrawan Indonesia di Ternate 2011

Dari Medan Sampai Benteng Kalamata


Mengunjungi Ternate memang tidak ada habisnya berbicara pesona wisata. Alami, sejuk, pemandangan yang indah akan kita dapatkan pada setiap seluk beluk kotanya. Selain itu tentu saja sejarah yang kental sejak zaman kolonial. Peperangan merebut kemerdekaan tergores penuh budaya dan peninggalan yang tercatat rapi dalam benak kita. Beberapa benteng juga masih belum terjamah, bahkan pemerintah sengaja membiarkan keasliannya untuk memanjakan rasa penasaran pengunjung bagaimana sesungguhnya kejayaan Ternate itu. Kejayaan itu tentu saja tergambar dari usaha perebutan Ternate oleh Portugis, Spanyol, dan Belanda. Saat kepergian saya dan teman-teman sastrawan seluruh Indonesia di kota tersebut, kami tidak habisnya membicarakan budaya Ternate yang luar biasa. Jika melihat kota, budaya, alam, sejarah, dan tentunya kesultanan Ternate sendiri tentu ini adalah aset yang perlu dijaga.

Sambutan meriah kerap mengiringi pesta sastrawan ini, mulai dari tari-tarian dana-dana, soya-soya, dan kadato di kesultanan. Hal ini membuat kami merasa lebih yakin bahwa Ternate punya apa yang tidak dimiliki kota-kota lainnya. Tentu masih banyak lagi yang terekam dalam benak saya.

Membicarakan sastra di Ternate, tentu saja hal yang menarik, selain tentunya artikel yang telah saya buat saat berada di Ternate. Jujur saya katakan kepergiaan ke Ternate adalah kepergian pertama saja dengan pesawat, jauh keluar dari kota Medan, dan sendirian. Dari Medan saya menaiki pesawat lion air yang saat itu, abangda Hasan Al Banna membantu saya membelinya seharga enam ratus ribu. Saat di Jakarta saya ganti pesawat (ganti bukan transit). Wah, saya menunggu dari jam 8 pagi sampai jam 1 malam. Saya masuk ke area keberangkatan menuju Makasar-Ternate dengan pesawat Sriwijaya. Setelah Chek in dan menunggu pesawat datang itulah saya bertemu Mbak Del (sastrawan Aceh yang juga seorang guru), Benny Arnas (Sastrawan Palembang yang juga pegawai balai bahasa di sana), dan Arafat Nur (Penulis Lampuki, pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta yang merupakan Sastrawan Aceh).

Sampai di Ternate, kami dibawa panitia untuk chek ini di hotel Bella International. Ada banyak LO yang cantik. Ternyata seluruh LO itu dari kalangan mahasiswa yang ada di Ternate. Kami pun dibawa ke kamar masing-masing. Awalnya saya agak grogi harus tidur sendiri, maklum, ini pengalaman pertama saya pergi sendiri tanpa saudara. Tapi akhirnya teman saya dari Medan, Maulana Satrya Sinaga juga hadir sore hari. Kami dibawa ke tempat makan siang jam 3. Dengan lapar bukan main kami jadi bersemangat untuk makan. Tapi apa jadinya kalau seluruh makanan di situ makanan yang tidak kami kenal. Mungkiin bahannya kami kenal seperti ubi, telur ikan, dan sagu. Tapi masalahnya olahan yang belum pernah kami cicipi, makanan ala tmur ini membuat kami tertegun. Namun karena lapar, maka kami santap saja habis. Ha.Ha.Ha.

Syukurlah setelah makan siang itu, kami diajak panitia ke cafe California. Nah, di Cafe ini, tenang aja kawan! Makanannya sudah sesuai dengan lidah orang Medan! Uehehehe... Cafe ini adalah lokasi foto kepulauan Tidore yang terdapat di uang seribu rupiah. Coba aja deh kamu cek!

Setelah perjalanan yang panjang selama empat hari, akhirnya hari ke lima, saya dan teman-teman perpisahan di benteng kalamata. Panitia menyediakan acara yang cukup meriah. Di ending, selain tentunya benteng yang langsung menghadapkan mata pada laut, kami menari poco-poco. Peserta, panitia, persahabatan, dan keberasamaan rasanya gak beda, Indonesia juga!

Jadi, Mari, mumpung ada kocek dikit, jalan-jalan ke Ternate. Total tiket Medan-Ternate 6jt bia garuda atau 4,8jt via lion dan wings air. Jalan-jalan di sana koceknya, hem... hotel bella 700ribu-1jt/malam. Nasi minang ada tapi sayangnya saya tak pernah beli sebab kami sungguh dimanjakan makanan-makanan enak yang telah disediakan panitia. hehehehe..

Oya, pantainya juga okeh banget. Ga bakal nyesel dech...




Kentang Goreng ala Umi'Mur


Kentang Goreng Sambal.

Kentang goreng ini bukan kentang goreng biasa. Menurut beberapa orang yang mengkonsumsinya, rasa yang beda, renyah, manis pedas, dan sedikit sentilan ikan teri membuat kentang ini diminati. Sebungkus cukup Rp.10.000 ;

CP: 088264312234
Menerima pesan antar area Medan. Dijamin Uenak!!


Bukit Kubu, Brastagi.

Bukit Kubu, Bukan Sekadar Brastagi Biasa.

Hanya dengan dua jam dari Medan, maka kita bisa mendapatkan lapangan yang luas, berbukit, di kelilingi pinus, sejuk, dan pastinya ramai. Tepat pula bulan puasa, kami pikir tidak akan ramai sebab lebih banyak yang akan memilih berada di rumah saat-saat bulan puasa. Keramaian ini membuktikan Bukit Kubu memiliki daya tarik.

Kalau anda menemukan beberapa tempat wisata yang akhir-akhir ini banyak digarap di Brastagi, maka bukit kubu salah satu pilihannya. Selain tentunya kundaling menjadi pilihan sejak dulu. Namun, letaknya yang gampang terlihat, membuat bukit kubu pun banyak diminati.

Jika Anda ingin hadir di areal wisata yang berada persis di pintu masuk kota Brastagi, maka Anda harus mengocek uang masuk 20.000 untuk satu sepeda motor. Saya lupa berapa persisnya jika satu mobil atau justru dihitung perorang. Maklum, tinggal ikut. He.He.He.

Tapi, Silahkan dicoba!
Oya, bagi anak-anak akan diberikan layang-layang secara cuma-cuma oleh pengelola. Tapi satu aja. Main rame-rame ya.

Cek.It.dot.

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...