Sunday, June 29, 2014

Tanjung Pinang, Yuk!

Tiba-tiba, ia menyuruhku untuk berganti pakaian, membawa beberapa pakaian ganti, cukuplah untuk satu malam. Lalu ia menghidupkan sepeda motor, menelpon beberapa temannya, aha! perjalanan ini memang terjadi tiba-tiba. Kami akan ke Tanjung Pinang, sebab pekerjaan yang baru selesai pukul 16.00, maka kami baru dapat berangkat pukul 16.45 usai beres-beres. Astaga, kapal terakhir akan berangkat pukul 17.00.

Sampai di pelabuhan Tanjung Piayu yang dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari Batam Cetre, kami memasukkan kendaraan ke dalam ruang penitipan bermalam, lantas berlari menuju tempat pembelian tiket. Wah! Ternyata pemberangkatan terakhir pukul 18.00. Yap! kalau begitu kami dapat menunggu.Namun, ada kapal yang akan berangkat pukul 17.45. maka kami langsung saja masuk ke dalam area pemberangkatan. Oya, harga tiket Batam-Tanjung Pinang saat ini (27 Juni 2014) Rp 55.000;/orang dan boarding pass Rp 10.000.




Oke dech! usai naik kapal, kami tenang karena sudah mendapatkan tempat duduk. Ternyata, untuk membeli tiket kapal juga bisa dilakukan saat kita berada di dalamnya. Oke, karena kami sudah aman, maka kami berdoa semoga sampai dalam kondisi selamat. Hem... doa saya semakin kencang saat ombak kencang menerjang kapal kami, bahkan air lautnya sampai setengah kapal di lihat dari jendela. Wow! saya raya lebih menakutkan ini dari pada naik pesawat. Hadeh...

Kami pun sampai di Tanjung Pinang dalam waktu 45 menit. langit sudah gelap, jam menunjukkan pukul 18.30. Saya dan suami berjalan ke luar pelabuhan dan menuju kota. Oya, di Tanjung Pinang, kotanya langsung ke pelabuhan, jadi yang mau jalan-jalan ke kota tak perlu khawatir sebab keluar dari pelabuhan, kita sudah langsung berjalan memasuki Kota Tanjung Pinang. Kota ini menghadap langsung ke laut, jadi jangan khawatir soal pemandangannya.

Kami memutuskan shalat di Mesjid Raya Kota Tanjung Pinang yang tak jauh ditempuh dengan berjalan kaki dari pelabuhan. Setelah itu, kami mencari hotel yang cukup terjangkau. Kami masuk ke Hotel Surya yang rata-rata harga sewa kamarnya 100ribu.an. Ada yang memakai kipas angin dan ada yang memakai AC. Kami pun meletakkan barang-barang terlebih dahulu, berganti pakaian di kamar dan memutuskan untuk mencari makan. Kami makan di depan KFC yang terletak tak jauh dari Hotel dan Mesjid Raya. Saya dan suami melahap dengan lapar nasi goreng spesial dan nasi capcay. Harganya cukup mahal juga sekitar 53ribu dua porsi. Lalu kami berjalan untuk membeli sandal dan yah! harganya juga cukup mahal. Kalau di Batam harganya 30ribu, di sini dihargai 45ribu. Setelang kenyang dan badan terasa lelah, kami memutuskan untuk menonton TV di hotel dan menghabiskan malam pertama di Kota Tanjung Pinang dengan sangat nyenyak.




Oke, Fren! Kami bangun pagi-pagi. Usai shalat subuh, saya dan suami bergegas ke dermaga untuk naik pompong ke arah Pulau Penyengat. Pulau ini masih dalam wilayah Tanjung Pinang, namun harus menyebrang dengan Pompong untuk menuju ke sana. Harga pompong sekali menyeberang cukup Rp 6000;/orang. Lantas, saya dan suami pun menuju ke Pulau Penyengat. Di pulau ini, kami memutuskan untuk shalat dhuha di Mesjid Raya Pulau Penyengat, Mesjid peninggalan raja-raja melayu ini masih terlihat keasliannya.







Di Pulau Penyengat, kita bisa naik sepeda motor dengan harga Rp 25.000/jam. Dan sejak pukul 09.00,  kita pun dapat menyewa sepeda dengan harga Rp 10.000/jam. Oya, jangan khawatir dengan jalanannya karena sudah diaspal dengan sederhana di keliling pulau ini. Saat itu, kami memutuskan untuk naik sepeda motor dan ternyata untuk berjalan-jalan di sekitar pemakaman kerajaan, istana, mesiu, kami memerlukan waktu 2 jam. Kami juga membeli oleh-oleh seperti gelang, gantungan kunci gonggong, baju kaus bertuliskan Pulau Penyengat plus tulisan gurindam dua belas yang diciptakan raja-raja terdahulu Melayu yang terkenal dengan gurindamnya.



Usai berjalan-jalan di Pulau Penyengat, kami kembali ke pusat Kota Tanjung Pinang dengan pompong. Di wilayah Tanjung Pinang, saya dan suami kembali ke hotel, mandi, check out dan bergegas untuk ke Pantai Trikora. Namun ternyata kami urungkan niat ke sana untuk perjalanan kali ini berhubung kami tak ingin ketinggalan kapal. Maka kami memutuskan berfoto di sepanjang Kota Tanjung Pinang dan tak lupa makan durian dengan 1 durian seharga Rp 40.000. Tentu tergantung ukuran dan jenisnya. Hem.. yap! Mungkin sampai di sini saja jalan-jalan kita hari ini. Tanjung Pinang? Why Not? Lets GO!!










Wednesday, June 4, 2014

Ingin kuabadikan-real

Memasuki pertengahan tahun pernikahan, aku belajar:
Menggantikan kata-kata dengan detak yang paling kencang
Atas nama cintaku kepada suamiku, atas nama perempuan
Yang menangis di dermaga menunggu bertahun-tahun
Dan engkau menggantinya dengan senyum yang jarang kutemui
Terduduk, menundukkan problema, menyatakan lapang, di hatiku tanah begitu terasa lapang. Suamiku, aku terlahir di matamu tanpa perawakan yang didambakan duniawi, tanpa hati yang didambakan surgawi, tanpa ada yang peduli, tanpa mampu belajar, tanpa pengalaman cinta yg familiar, tanpa dan tanpa. Aku dengan kekuranganku dan engkau dengan senyum yang paling kasih, merentangkan tanganmu. Aku takkan pernah menggantinya dengan catatan-catatan kebodohan. 

Di dalam genggaman tanganmu aku berjalan menuju Allah SWT. Dengan tanpa dan tanpa, kau mengajariku, menuntunku, membimbingku, dengan senyummu, dengan emosimu yang paling kucintai, dengan ݪªª! Dengan sabar yang sangat kau kuasai... 

Aku takkan pernah lupa pernah memiliki janji kepada Allah, jika nanti Kau pertemukan aku dengan lelaki yang menuntunku, jika Kau pertemukan dengan yang sederhana dan paling menghargai wanita, aku akan menjaganya dan akan menjadi istri yang paling didambakan seorang suami. Kini, aku akan memenuhi janjiku setelah Allah memberikannya. 

Bimbinglah kami ݪªª Allah...
Kini, kusyukuri, segala yang Allah berikan
Beribadah, menuju rumah Allah..
Bersama suamiku.

Kini, aku belajar yang sesungguhnya kehidupan
Dari apa yang dikurangkan dari masa laluku-aku yang dungu-
Yang kekanak-kanakan-yang konyol-yang aneh-yang riya-yang penuuh dengan tanpa... 

Hanya doa yang aku bisa setelah tanpa
Dan Allah berikan segala-galanya.
Suamiku. I LoVe U. 

Sunday, June 1, 2014

Cerpen, Batam Pos, 1 Juni 2014

PERISAI
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Wanita itu menjerit-jerit ke arah seluruh mata yang sejak tadi melihatnya.
“Juri pasti sudah buta! Perlombaan apa ini? Semuanya hanya kebohongan!” lalu ia berusaha untuk membanting kursi plastik di depannya. Setelah puas menjerit-jerit dan melampiaskan kemarahannya, ia pergi membelakangi seluruh mata itu. Seorang anak perempuan berusia kira-kira 14 tahun mengikutinya dari belakang. Anak itu tampak menangis dan tak mampu menahan rasa sedihnya. Hujan gerimis turun sore itu setelah dua bulan lebih hujan menjadi hal yang dirindukan penduduk Batam. Dengan derai air mata yang bercampur hujan, mereka pergi dan meninggalkan kekecewaan mendalam.Wanita itu mengendarai sepeda motornya dengan rasa gugup dan amarah yang masih kental di urat saraf.
“Jangan menangis! Sudahlah, Nak! Kau lupakan perlombaan itu!” katanya masih sempat menenangkan perasaan Indie.

Indie, nama yang ia berikan, hasil pertengkaran kecilnya dengan Hasan dulu. Ya, Hasan, suaminya!
Setidaknya, dalam beberapa pekan ini ia dan Indie sudah berkomitmen, agar melupakan masa lalu dan menatap masa depan, yang masih terus menunggu di depan rumah mereka. Rumah itu, ia hampir lupa kalau pihak bank sudah memberi teguran, baik lewat telepon, surat, maupun datang ke rumah. Mereka atau bahkan ia, Syafira dan Indie tentu berharap akan ada pertolongan yang datang, setidaknya mampu memberikan tunggakan 3 bulan angsuran rumah. Entah sampai kapan ia harus mempercayai
kenyataan. Ia benar-benar ingin melupakannya.
“Lihat! Lihat, Nak!  Kalau sampai bunga anggrek di depan rumah berhenti mekar, kau harus siap mempercayai kondisinya.”
Indie, sekali lagi, nama itu ia buat karena tak ada yang dapat dilakukannya. Hasan nama ayahnya, syafira nama ibunya. Ketika satu bunga tengah mekar dan bunga yang lainnya juga harum di lain ruang, ketika itulah sebuah bunga harus tunas dan menyatukan perbedaan. Entahlah, mengapa Syafira mempercayainya ketika itu. Ia merasa harusmenjadikan Indie berbeda darinya, maupun dari ayahnya. Ia merasa dengan kewanitaan yang dimilikinya bahwa Indie memang telah berbeda. Itu terlihat dari kebiasaan yang dilakukannya.
Ya!
***
Hari itulah Indie berjalan dengan tergesa. Baru pertama kalinya ia merasakan cemas seperti itu. Tak ada kata-kata yang mampu diungkapkannya lagi.
“Kau mau apa lagi! Ibuku telah tiada! Ia telah tiada!”
Ia benar-benar harus menghadapi kenyataannya. Di depannya, seorang ayah yang sudah sangat tua—atau lebih tepatnya seorang kakek menatap penuh arti. Saat ia memandang Indie dengan caranya yang menahan tangis,  saat itulah bunga anggrek di depan rumah tidak lagi mekar. Entah sejak kapan!
“Aku yang akan menjaga adik-adikku! Kau tahu, ah, entahlah, siapa dirimu! Aku hampir tak kenal. Tapi, aku memang tak kenal kamu!”
Kakek itu tak berani memulai kata-katanya, apalagi mendengar amarah yang tergesa dan tak henti
dari gadis di depannya itu. Tapi ia harus mengatakannya.
“Kakek hanya ingin kau dan adik-adikmu tidak merasa kalian sendirian!”
“Tapi kenyatannya aku dan adik-adikku sendirian. Kenyataannya begitu!”
“Dan kau berusaha untuk menjadi ayah sekaligus adik bagi adik-adikmu?”
“Ya!”
“Kau tak kasihan melihat adik-adikmu?”
Mendengar kalimat terakhir itu, Indie tak mampu lagi membalas kata-kata kakeknya.
“Bawalah mereka ke tempatmu! Berilah makanan dan minuman untuk mereka! Tapi biarkan aku di kota ini, Batam!
Di sini aku dilahirkan!”
“Tapi, Nak! Tempatmu bukan di sini! Kau cucuku dan kita akan pulang ke Padang!”
“Jangan paksa aku! Cucumu? Sejak kapan? Sejak kapan kau merestui ayah dan ibuku? Sejak kapan kau percaya bahwa aku adalah cucumu? Tapi,” ia menahan sedikit emosinya, “Kumohon, jagalah mereka!” Ia pergi meninggalkan kakeknya dan adik-adiknya. Rumah yang masih beraroma arwah itu ia tinggalkan begitu saja. Dan ia tahu, rumah itu akan disita oleh pihak bank.
“Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau!” batinnya.
***
Di sekolah itu, ia masih ingat! Seorang ibu menjerit-jerit dan berkata bahwa anaknya adalah yang terbaik.
Seorang ibu yang melampiaskan seluruh energi dan cintanya. Mungkin seluruh mata yang memandang mereka kala itu menganggap ia dan ibunya sudah gila. Tidak bisa menerima kekalahan, tidak bisa memahami keputusan, tidak bisa menghadapi kenyataan!
“Aku akan menghadapi kenyataannya!”
Indie. Entah mengapa ia kini terlihat lebih dewasa. Ia memegang sapu dan pel, menggunakannya secara bergantian. Begitulah setiap harinya yang ia tekuni di tempat itu, di sekolah itu, di tempat ia memandang banyak gadis cantik, berpakaian rapi, kaki mereka berjenjang, rambutnya lurus, sebagian berwarna merah akibat cat rambut, sebagian lagi hitam legam dan menarik untuk dipandang lelaki manapun.
Indie. Tak ada yang pernah bertanya kepadanya, apakah ia bersekolah? Di mana ayahnya? Di mana ibunya? Di mana rumahnya? Tidak ada! Tidak ada!Kulitnya tampak lebih gelap dua tahun terakhir. Ia bahkan tak pernah memperdulikan hal itu. Saat hari mulai gelap, ia beranjak dengan langkah keyakinan ke tempat yang selalu menjadi tempat baginya menuangkan amarah. Ia bermain teater. Entah sejak kapan? Mungkin sejak ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia harus menghadapi kenyataan. Ia tak memiliki handphome. Ah, ia tak perdulikan itu. Ia hanya ingin berjalan dan setiap berjalan, ia selalu percaya akan ada jalan. Ia tak pernah percaya bahwa ia memerlukan handphone, meskipun untuk menghubungi adik-adiknya saat ini.
“Selesaikanlah kuliahmu! Aku yang akan menanggungnya. Tapi setelah kau tamat, aku hanya meminta satu hal, ya, hem... tentu kau tahu. Sanggar ini harus ada yang menjaganya! Harus ada yang meneruskannya!”
Lelaki itu bernama Azi, Azi Suyitno. Sudah lama ia mendirikan sanggar ini. Dan ia melihat seorang gadis dengan penuh keputusasaan berjalan di depan sanggar, menangis, meronta, menutup wajahnya dengan kedua lipatan lutut kaki. Saat ditanya, ia baru menyadari bahwa gadis itu seorang pemain teater. Ia percaya bahwa tangisannya itu bukan sekadar tangisan orang biasa. Tapi tangisan seseorang yang penuh kepercayaan diri. Tangisan seorang yang memiliki karekter kuat.
***
Sejak itulah. Sejak ia memenangkan keyakinan, ia kembali ke Padang menemui adik-adiknya. Ia bertanya pada kakeknya, Andi sudah kelas berapa? Lalu adiknya yang bungsu Buyong, sudah kelas berapa pula?
“Andi sudah kelas 3 SMP, Buyong sudah kelas 6 SD. Lalu kau, Indie, bagaimana sekolahmu? Aku mengkhawatirkanmu, tapi baru kini kau mengunjungiku!”
“Aku sudah tamat kuliah, S2 di Fakultas Seni, aku memiliki sanggar, aku juga memiliki murid, aku memenangkan banyak penghargaan, aku mendapatkan uang yang cukup untuk adik-adikku! Aku ingin kau menerimanya, Kakek!”
“Sejak kapan kau percaya bahwa aku ini kakekmu!”
“Sejak kakek membawa adikku, menjaga mereka, membesarkan, menyekolahkan dan menjadi perisai dalam hidup mereka!”
“Aku tak percaya ini! Tapi, In, anakku, cucuku, kaulah perisai itu! Kau melindungi keluargamu, kau melindungi dirimu dari kekalahan! Kau membuktikan bahwa dirimu pemenangnya!”
Mereka berdua tertawa, tertawa menatap diri mereka. Menatap masa depan, menatap kehidupan, merasakan napas, merasakan langkah. Hingga mereka tak menyadari bahwa kata-kata mereka terlalu formal untuk konteks antara kakek dan cucu. Entahlah...

Serambi Kompak, Batam, Maret 2014

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...