Sampai di pelabuhan Tanjung Piayu yang dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari Batam Cetre, kami memasukkan kendaraan ke dalam ruang penitipan bermalam, lantas berlari menuju tempat pembelian tiket. Wah! Ternyata pemberangkatan terakhir pukul 18.00. Yap! kalau begitu kami dapat menunggu.Namun, ada kapal yang akan berangkat pukul 17.45. maka kami langsung saja masuk ke dalam area pemberangkatan. Oya, harga tiket Batam-Tanjung Pinang saat ini (27 Juni 2014) Rp 55.000;/orang dan boarding pass Rp 10.000.
Oke dech! usai naik kapal, kami tenang karena sudah mendapatkan tempat duduk. Ternyata, untuk membeli tiket kapal juga bisa dilakukan saat kita berada di dalamnya. Oke, karena kami sudah aman, maka kami berdoa semoga sampai dalam kondisi selamat. Hem... doa saya semakin kencang saat ombak kencang menerjang kapal kami, bahkan air lautnya sampai setengah kapal di lihat dari jendela. Wow! saya raya lebih menakutkan ini dari pada naik pesawat. Hadeh...
Kami pun sampai di Tanjung Pinang dalam waktu 45 menit. langit sudah gelap, jam menunjukkan pukul 18.30. Saya dan suami berjalan ke luar pelabuhan dan menuju kota. Oya, di Tanjung Pinang, kotanya langsung ke pelabuhan, jadi yang mau jalan-jalan ke kota tak perlu khawatir sebab keluar dari pelabuhan, kita sudah langsung berjalan memasuki Kota Tanjung Pinang. Kota ini menghadap langsung ke laut, jadi jangan khawatir soal pemandangannya.
Kami memutuskan shalat di Mesjid Raya Kota Tanjung Pinang yang tak jauh ditempuh dengan berjalan kaki dari pelabuhan. Setelah itu, kami mencari hotel yang cukup terjangkau. Kami masuk ke Hotel Surya yang rata-rata harga sewa kamarnya 100ribu.an. Ada yang memakai kipas angin dan ada yang memakai AC. Kami pun meletakkan barang-barang terlebih dahulu, berganti pakaian di kamar dan memutuskan untuk mencari makan. Kami makan di depan KFC yang terletak tak jauh dari Hotel dan Mesjid Raya. Saya dan suami melahap dengan lapar nasi goreng spesial dan nasi capcay. Harganya cukup mahal juga sekitar 53ribu dua porsi. Lalu kami berjalan untuk membeli sandal dan yah! harganya juga cukup mahal. Kalau di Batam harganya 30ribu, di sini dihargai 45ribu. Setelang kenyang dan badan terasa lelah, kami memutuskan untuk menonton TV di hotel dan menghabiskan malam pertama di Kota Tanjung Pinang dengan sangat nyenyak.
Oke, Fren! Kami bangun pagi-pagi. Usai shalat subuh, saya dan suami bergegas ke dermaga untuk naik pompong ke arah Pulau Penyengat. Pulau ini masih dalam wilayah Tanjung Pinang, namun harus menyebrang dengan Pompong untuk menuju ke sana. Harga pompong sekali menyeberang cukup Rp 6000;/orang. Lantas, saya dan suami pun menuju ke Pulau Penyengat. Di pulau ini, kami memutuskan untuk shalat dhuha di Mesjid Raya Pulau Penyengat, Mesjid peninggalan raja-raja melayu ini masih terlihat keasliannya.
Di Pulau Penyengat, kita bisa naik sepeda motor dengan harga Rp 25.000/jam. Dan sejak pukul 09.00, kita pun dapat menyewa sepeda dengan harga Rp 10.000/jam. Oya, jangan khawatir dengan jalanannya karena sudah diaspal dengan sederhana di keliling pulau ini. Saat itu, kami memutuskan untuk naik sepeda motor dan ternyata untuk berjalan-jalan di sekitar pemakaman kerajaan, istana, mesiu, kami memerlukan waktu 2 jam. Kami juga membeli oleh-oleh seperti gelang, gantungan kunci gonggong, baju kaus bertuliskan Pulau Penyengat plus tulisan gurindam dua belas yang diciptakan raja-raja terdahulu Melayu yang terkenal dengan gurindamnya.
Usai berjalan-jalan di Pulau Penyengat, kami kembali ke pusat Kota Tanjung Pinang dengan pompong. Di wilayah Tanjung Pinang, saya dan suami kembali ke hotel, mandi, check out dan bergegas untuk ke Pantai Trikora. Namun ternyata kami urungkan niat ke sana untuk perjalanan kali ini berhubung kami tak ingin ketinggalan kapal. Maka kami memutuskan berfoto di sepanjang Kota Tanjung Pinang dan tak lupa makan durian dengan 1 durian seharga Rp 40.000. Tentu tergantung ukuran dan jenisnya. Hem.. yap! Mungkin sampai di sini saja jalan-jalan kita hari ini. Tanjung Pinang? Why Not? Lets GO!!









