Tuesday, January 28, 2014

Mengunjungi Pulau Galang, Kepulauan Riau.



 Pulau Galang merupakan pulau yang bisa kita tempuh 1,5 jam dari Kota Batam. Pulau ini dihubungkan dengan jembatan Barelang sehingga dapat dengan mudah menyebranginya.

 Apabila menatap pemandangannya, pulau ini memang terkenal dengan hutan lindungnya. Sehingga tidak heran ada banyak monyet.
Yang lebih menarik lagi, pulau ini pernah menjadi tempat pengungsian warga Vietnam yang pergi dari negaranya akibat perang saudara. Perang tersebut awalnya merupakan bentuk kekalahan Amerika terhadap Vietnam Utara, sehingga Vietnam Utara yang dikenal dengan aliran komunisnya memperluas kekuasaan dengan cara menyiksa warga Vietnam Selatan. Sejarah inilah yang kemudian membuat Pulau Galang menjadi tempat baru bagi warga Vietnam--yang disediakan pemerintah Indonesia dan PBB kala itu (1975). Namun, sejak tahun 1995, pemerntah Indonesia merasa perlu mengembalikan kembali mereka (pengungsi) ke Vietnam. Meskipun banyak di antaranya yang tidak ingin dipulangkan ke Vietnam. Maka, beberapa ada yang bunuh diri di Pulau ini. Beberapa lainnya mencari suaka di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Australia. Beberapa lainnya bersedia dipulangkan. Sehingga, sejak tahun 1996, Pulau Galang telah dikosongkan. Meskipun begitu, pulau ini akhirnya menjadi tempat wisata di Batam dan sekitarnya. Jika kita masuk ke dalam area bekas pengungsian di pulau ini, kita masih dapat melihat fasilitas pengungsi seperti tempat ibadah, sekolah, tempat kesehatan, dan beberapa rumah, serta kapal peninggalan pengungsi yang ingin melarikan diri. Memang, mereka sengaja diisolasi untuk mencegah kemungkinan melanggar hak-hak batas teritorial Indonesia dan sekitarnya.








Sunday, January 26, 2014

Cerpen, Medan Bisnis, 26 Januari 2014

Dalam Cermin di Tengah Hujan






  
"Masih ingat?"
"Tentu!"
Itu percakapan hujan, percakapan tengah malam Sam dengan Ran. Malam itu, bibir teras benar-benar telah basah, mereka menatap pandang dengan gumam santai dan mengingat-ingat masa-masa yang sudah keberapa kali, entahlah, sudah untuk hitungan yang bagaimana lagi, sehingga mereka terpaksa menerka-nerka ingatan itu. Mereka menarik napas secara bergantian ketika tiba waktunya sejarah itu berbekas.
"Kau, bahkan menyuruhku mandi hujan hanya untuk datang tepat waktu!"
"Sudahlah Sam! Jangan mulai mengungkit-ungkitnya lagi. Ha... ha... ha...."

Bahkan tawa mereka masih begitu polos seperti masa kanak-kanan yang tak pernah usai jadi bahan candaan. Sesekali mereka memegang perutnya masing-masing akibat tak mampu membendung geli tawa.

Hujan turun gerimis, dengan perlahan membasahi bibir teras, lagi dan lagi hingga menggenangi bagian dalam teras. Sam dan Ran masih mengingat hujan di teras rumah, sesekali Ran menyimpul senyum dan Sam membalas dengan lagu-lagu yang lama tak didengar Ran lagi. Lagi dan lagi hujan tak pernah mau selesai, kini, bahkan, menggenangi kaki Ran dan Sam. Mereka tetap santai, saling menatap satu sama lain.

Mungkin sebuah percakapan yang tak pernah mereka duga sebelum-sebelumnya. Percakapan ringan dan renyah yang dihabiskan hanya untuk berdua saja. Jika ada yang menatap mereka dari kejauhan dan berusaha untuk menduga-duga, maka mereka setidaknya akan berkata, "Dunia benar-benar mereka nikmati berdua saja! Romantis!"

Atau mungkin, mereka sampai lupa bahwa hujan telah melenyapkan sandal-sandal kesayangan mereka? Ran menyukai warna merah, namun sandal berwarna merah itu bahkan telah tenggelam dibawa arus pendek - perlahan terlihat deras, namun Ran tak begitu mempedulikannya. Sam berusaha mengingatkan Ran, namun Ran menghentikannya.
"Biar saja Sam! Biarkan saja tenggelam. Aku juga tak terlalu suka motifnya!" kata Ran dengan menaikkan bahunya sedikit berikut kedua telapak tangannya secara bersamaan.

Sam hanya diam dan kembali menatap sorotan Ran, lantas ia membiarkan pula jika berikut sandal yang tergenang air dan termakan arus adalah sandal kesayangannya - yang baru saja ia beli di Singapura saat berbulan madu sekitar satu bulan yang lalu - tentu aja masih begitu hangat di ingatan Sam. Ia berusaha tidak acuh menanggapi sandal yang menurutnya bisa ia dapatkan kapan dan di mana pun itu. Kapan dan di mana pun yang ia inginkan. Mungkin! tidak sampai harus berbulan madu untuk kedua kalinya.

"Kau bahkan tidak peduli dengan sandal kesayanganmu, Sam! Kau tukang gombal paling gila yang pernah aku kenal!"

Ia terus menggali lorong-lorong hati yang terbangun di dalam mata Ran. Mereka lupa bagaimana dulu pertengkaran kerap membias di dada masing-masing. Aku cinta kamu, kata Sam, dan Ran akan membalasnya dengan, ah, itu hanya gombal dan ia pergi dan ia akan meninggalkan Sam dengan bujuk rayu tidak berguna.

Hem... ya, air pun semakin deras berpusar hampir mencapai lutut mereka berdua, menenggelamkan betis. Sorotan Sam tidak ingin lepas barang satu dua kali pusaran. Ia tak ingin melewati lorong-lorong di dalam mata itu yang sejak tadi ia nikmati, bermain dalam ombak-ombak di dalam mata itu, berikut angin rindu bergidik riuh mesra, membangunkan sorotan yang begitu tajam, mencekam rindu yang berkabut di musim-musim penghujan. Beberapa tembang kenangan meluncur dari bibir lelaki ini.

"Air, Sam! Banjir!" kata Ran setelah bergidik pelan menatap pada genangan air yang sudah memenuhi teras rumah - yang memang dibuat lebih rendah dari rumah mereka. Meskipun begitu, air tak mampu dibendung masuk ke dalam rumah, namun Sam hanya menatap Ran.

"Kalau rumah ini banjir, aku akan belikan kamu rumah yang lebih mewah dari rumah ini!"
Ran ingin tertawa, namun ia gagal sehingga yang terjadi hanya sebuah ekspresi senyum yang halus. Di balik ekspresi itu, Ran kembali menatap sorotan Sam dengan begitu tenang.

Sementara itu, air tampak sudah akan membanjiri rumah mereka. Di dalamnya, ruang TV, ruang tamu, kamar tidur yang sofanya baru saja dibeli Sam, ataupun beberapa karpet di bawah kursi tamu telah basah. Tidak ada cermin yang mampu menggambarkan hati masing-masing di antaranya. Bahkan situasi banjir tak mampu membendung puncak rindu itu.
"Jangan berbalik! Tetaplah di situ, jangan pedulikan banjir!"

Meskipun, beberapa orang dari rumah sebelah tampak sibuk mengangkut barang-barang mereka ke tempat yang lebih tinggi, beberapa lainnya berusaha membendung derasnya air, juga ada yang menggunakan alat penyapu air untuk mengeluarkannya dari dalam rumah mereka. Mereka tidak peduli.

Beberapa di antaranya masih berkesempatan melongok dari balik pagar dan menggelengkan kepala beberapa kali tatkala melihat lelaki dan perempuan yang terlihat bodoh dengan tindakan saling menatap, seperti menatap sebuah cermin di depan masing-masingnya, pada hujan yang semakin lama semakin memenuhi pikiran warga, meskipun tidak untuk pikiran mereka berdua.

Mereka tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu ketika kemudian listrik menjadi padam secara berlebihan, mereka saling berpegangan tangan. Warga mulai berteriak kesal, beberapa menyambutnya dengan umpatan kesal, ada yang menelpon pihak penanggungjawab listrik dengan makian-makian, ada pula yang sekadar mengumpat dalam diam di jejaring sosial, ataupun blog-blog yang menurut orang lainnya, itu tidaklah begitu penting.

Yang penting dan menarik bagi mereka saat sekelompok orang yang menyebut dirinya warga demokrasi membakar lembaga listrik di kotanya. Lantas kini, listrik jadi benar-benar padam, entah sampai kapan.

Mereka berdua pun tetap saja saling menatap meskipun hujan menggerimis di tengah siang yang sudah menyoroti kornea kedua mata. Dan saat itu sekelompok orang mulai kelelahan untuk memperjuangkan listrik agar menyala, banjir agar terhenti, agar cinta kelak bersemi di akhir penceritaan.

Mereka belum juga lapar!

"Kau ingin anak berapa, Sam?"
"Anak? Dari siapa?"

Ran menaikkan sebelah alis matanya, lorong-lorong dalam korneanya membeku seperti telah turun salju dan di tempat yang jauh dalam lorong itu air berombak dan tadinya mengalir jernih, kini mulai membeku.

"Dari siapa lagi?"

"Maksudmu? Dari istriku?"

"Tentu saja dariku! Kau ini bagaimana!"

Percakapan mulai tidak semestinya. Beberapa warga menyiapkan telinga untuk mendengar sebuah pertengkaran hebat. Beberapa mulai menggelengkan kepala untuk kesekian kali.

Kini, banjir pun mulai surut, lampu telah menyala, warga terlihat sibuk membersihkan kotoran sisa-sisa banjir di rumah mereka. Sementara itu pertengkaran terus terjadi di rumah sepasang kekasih yang konon menikah dengan dua orang saksi di rumah yang baru saja mereka beli ini.

Sepasang warga yang mengaku dirinya adalah seorang RT dan seorang lagi pak Lurah mendatangi rumah sepasang kekasih yang telah menikah sebulan yang lalu itu.

"Maaf Pak! Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya mohon dengarkanlah aspirasi kami!"

Ran nampak naik tensi apalagi Sam. Suasana sorotan mata berubah menjadi suasana tuntutan warga yang sejak tadi tidak mereka pedulikan. Bapak pemimpin itu kini mempersilahkan Pak RT dan Pak Lurah yang sejak tadi menatap enggan kepada rumah yang kotor ini untuk duduk di sebelahnya. Sementara Ran tampak mengumpat geram sambil berceloteh untuk sekadar didengar oleh mereka berdua.

"Aku ingin punya anak! Titik! Aku juga istrimu sejak sebulan yang lalu! Jangan pernah berharap pernikahan itu hanya sebatang janur di depan rumah!"

Beberapa cermin di dalam rumah pecah di tangan Ran, Pak RT dan Pak Lurah kini pun bernajak pergi dari rumah pemimpinnya setelah mendapat apa yang mereka mau. Tak peduli kalau pada akhirnya, mungkin ya, Ran mengamuk dengan hebat dan memecahkan seluruh cermin di rumahnya. Bahkan ia ingin sekali mencungkil mata Sam! Mata yang tadi ia tengah bercermin di balik hujan. Mata itu berangsur menjadi kabut tebal dan menyesakkan.

Ran hampir saja kehilangan nyawanya. Untunglah seseorang menaham tindakan itu dari belakang tubuhnya, dengan memeluknya dan mencoba menyuntikkan obat penenang untuknya.

Namun, Sam sudah tidak peduli lagi ketika kemudian ia meninggalkan rumah itu di tengah hujan yang mengguyur perlahan, perlahan deras dengan lebih deras.

Kini, cinta hanya sepasang sorotan semu yang menguyur mata milik wanita cantik bernama Ran. Ia bahkan hampir lupa siapa nama lengkapnya ketika beberapa orang dokter di kemudian tahun baru ini menanyakannya.

"Siapakah aku dan siapa kamu? Apa kamu kekasihku?" itulah ucapanya di hadapan seorang dokter yang tadi memeluknya begitu erat, sangat erat!

(Cerpen: Ria Ristiana Dewi) (Serambi Kompak, 29 Desember 2013)

Thursday, January 23, 2014

Check in at Hotel Madani, Medan


Hotel Madani merupakan salah satu hotel bintang empat yang letaknya sangat strategis. Hotel ini terletak berhadapan dengan Plaza Yuki Simpang Raya, Mesjid Raya, dan Taman Sri Deli, serta tak jauh darinya juga terdapat Istana Maimun. Jadi, jika ingin mengunjungi Medan dengan posisi yang strategis, hotel ini memang tepat sebagai pilihannya.

Saya sendiri mendapatkan voucher gratis bulan madu menginap di hotel ini. Pertama yang saya suka adalah posisi kamar yang langsun menghadap Yuki dan Mesjid Raya. Pemandangan indah yang tentu saja tidak saya dan suami saya sia-siakan.

Tuesday, January 21, 2014

Maap! saya tak mau menyebut namanya: Gonggong!

Gonggong dan Khas Batam.

Kakak kandung saya tengah disibukkan pikirannya yang sudah lama tak terpenuhi. Ya! kali ini ia akan membeli makanan khas Batam. Saya bertanya apa makanan itu? sejenis bolu atau apa? dan ia menjawab "gonggong". Gonggong? Yes! Why?

Gonggong adalah sejenis sea food yang menyerupai bekicot ataupun kerang. Meskipun cangkangnya mirip dengan bekicot, tapi rasanya tak kalah enak dengan kerang. Gonggong untuk saat ini masih dikenal makanan yang sering disajikan pada rumah makan sea food di Batam. Hem... kamu pasti mau tahu kan berapa harganya? yap! satu porsi bisa mencapai seratus ribu rupiah.. wow...

Gonggong memang dikenal langka dan merupaka makanan yang memiliki gizi sangat tinggi. Jika ke Batam memang tidak sah jika tidak mencicipi gonggong. Untuk mendapatkannya pun tak sulit. Pergi saja ke area Nagoya, tepat di pinggiran jalannya ada beberapa warung yang menjajakan makanan sejenis sea food dan salah satunya gonggong. Selain tentunya, juga terdapat di daerah-daerah pinggiran laut. Yap! coba saja mengelilingi Kota Batam dengan khas sea food-nya.

Thursday, January 16, 2014

Pernikahan dan Kata-kata yang Berdetak

Detak kata, dentang penantian.
Detak akhir, waktu pengakhiran.
dan kini tenda-tenda adalah jam
pelaminan, detik yang berkabar
semakin, semakin, semakin,
mendekatkan wajah tepat di hadapan!

Alhamdulillah...
         "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu. Dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu, yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan." (Q. S. An-Nuur: 32)

Jantung panjang melewati jam
dan menit-menit adalah langkah-langkah yang lain
maka, ketika angin berlari menjajaki lantai-lantai di depan rumah,
senja ini adalah waktu untukmu, menentukan!

          "Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah, Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui." (Q. S. An-Nuur: 32)

jika, adalah air yang mengalir hendak menujukkan hilir
berikutlah sampan-sampan di belakangnya
sampan kebaikan, sampan kedudukan, sampan berkah, dan
sampaikan kepadanya bahwa tak ada yang lebih beriman dari yang membaca nikmat Allah SWT.
        
         Subhanallah...
         Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang harus kau dustakan!



Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...