Saturday, October 22, 2016
Saturday, October 8, 2016
Surat Pertama untuk Sam
Sam, bagaimana kabarmu? Apa kau masih mengingat-ingat masa lalu? Apa mungkin, kau masih romantis seperti dulu? Oh, Sam, di antara seluruh pelaku tokoh paling nakal dalam pikiranku masih kamu. Entah bagaimana Sam, kemudian kita berjalan ke arah hidup kita yang menuju ke depan terus menerus. Kita tidak diberi waktu walau hanya satu detik saling menatap daun-daun yang gugur, pagi ataupun sore. Sam, banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi, kau selalu bilang jangan pernah berkata apa-apa. Sebab kata-kataku terlalu berlian bagimu. Aku lucu sekali mendengarnya.
Sam, kau tak mengetahui apapun saat ini. Itu akibatnya. Ya! entah mengapa ingin sekali aku utarakan betapa setiap langkah yang kujalani, semakin banyak pendakian yang berada di luar hitung-hitungan kita dulu. Kini aku menyadari bahwa tidak selamanya hal baik yang aku lihat akan menjadi kebaikan dan sebaliknya tidak selamanya hal buruk itu akan mengakibatkan keburukan. Segalanya tidak sama.
Oh, Sam, ayolah! Jangan menertawakanku begitu. Menurutmu apa aku telah berubah. Aku tetap seperti dulu. Yang berubah hanyalah dinamika kehidupanku. Itu saja. Aku tidak lebay!
Sam, menurutmu seperti apa sebuah pilihan? Apakah kita berhak untuk menentukan pilihan? Tahukah kau sam, di antara banyaknya pilihan, terkadang Allah hanya memberikan 4 opsi. Empat untuk kau racik, cicipi, dan tentukan! Empat yang tidak semuanya ada satu pun dari yang kau inginkan. Apakah menurutmu ini adil? Itulah mengapa ada orang yang mengatakan hidupnya tidak ada pilihan. Padahal ia telah diberikan empat pilihan. Sam, kau lihat? Kau baca? Kau paham?
Entahlah, menurutku pilihan akan diberikan setelah usaha yang kita perbuat. Kau ingat? Dulu, saat kau masih memiliki satu gelar? Kau diberi pilihan akan menjadi guru atau buruh. Kini, setelah gelarmu bertambah, kau diberi pilihan akan menjadi dosen, guru, buruh, atau mungkin anggota DPR. Oh, ayolah Sam, jangan menertawakanku! Ini kenyataannya. Dan, oh, ya, kau juga pernah diberi pilihan untuk memilih wanita pendamping hidupmu. Tapi anehnya, pilihanmu tidak bisa kau pikirkan dengan seberapa usahamu. Kau aneh, kau gila menurutku. Aku sudah menasihatimu bahwa apa yang kau lihat belum tentu seperti apa yang kau lihat. Ada kuasa Allah di balik semua itu. Lalu, seperti apa selama ini kau berdoa? sudahkah seperti orang yang teraniaya atau jutru seperti orang yang suka menganiaya? Inilah yang kukatakan padamu bahwa kau harus berhati-hati dengan tingkah lakumu, Sam. Penentuan hidupmu adalah kualitas perilakumu. Aku tidak heran bahwa kau akan mengalami banyak hal yang tidak bisa kau pikirkan sebelumnya. Sama seperti aku. Kini, aku melihat terlalu banyak orang yang melampaui batasnya dalam meminta hak-haknya. Coba kau pikirkan, ada orang yang memarahimu karena ia merasa bahwa ia telah memberikanmu uang satu juta untuk melayanimu menjadi lebih cantik. Tapi, ia minta menjadi seperti ratu kerajaan Inggris. Apa menurutmu, ini masuk akal? Dari perilakunya saja ia tidak pantas menjadi ratu. Oh, ayolah... aku sedang ingin mencontohkan sebuah perilaku manusia yang terkadang sangat aneh. Bagaimana caranya seorang tukang salon yang belajar autodidak di kampungnya disuruh membuat wanita biasa menjadi seperti ratu Inggris. Bagaimana bisa uang satu juta yang ia berikan bisa dibandingkan dengan uang miliayaran rupiah yang diberikan seorang Ratu kepada tukang salon kecantikan berpendidikan tinggi, berpengalaman luas, dan menjadi tugasnya melayani seorang Ratu.
Sam, terlalu banyak orang aneh yang aku temui akhir-akhir ini. Dan aku harus berurusan dengan orang-orang lebih aneh lainnya. Kau percaya itu? Terlalu banyak orang yang berpikir bahwa ia bisa mendapatkan lebih dari perilaku buruknya. Ini memang terdengar menyesakkan. Baiklah, begini saja. Dahulu, kau pernah menasihatiku agar aku menjadi wanita yang biasa-biasa saja karena melihatku tidak bisa jatuh dalam pergaulan menggunjing dan melakukan tekanan pada orang lain secara berkelompok. Kau tahu bahwa aku sangat tidak bisa membuat sekawanan perlawanan. Berorganisasi atau berkelompok hanya untuk menceritakan keburukan orang ataupun melakukan hal yang berfoya-foya dan boros. Kau tahu aku begitu hemat, aku sangat perhitungan dalam setiap tingkah lakuku. Aku memutuskan tidak selalu suka melakukan segala sesuatunya dengan berlebihan. Termasuk ketika aku memasuki organisasi. Aku akan memilih organisasi yang lebih banyak manfaatnya daripada keburukan yang diciptakannya. Aku suka menulis, dan kau tahu itu. Untuk itulah, aku memilih jalan menulis. Menurutku, ini sehat. Aku bisa berlomba dengan sehat, aku bisa berkreativitas, aku bisa bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Aku suka itu. Aku lebih tidak suka jika aku harus memakai pakaian serba tertutup, memegang Al Qur'an, memahaminya, tapi aku justru membuat hidup orang lain tertekan karena perilakuku. Aku lebih suka hidup sederhana daripada aku harus memiliki banyak kekayaan, tetapi aku harus mencampakkan uang di muka orang dan mempermalukan hidup orang lain. Aku memang sok suci bukan berarti aku suci. Setidaknya, aku orang yang tidak suka menjadi sebab kesusahan hidup orang lain. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya Sam. Kau tahu itu, kau tahu aku dari dulu. Inilah yang aku maksud, Sam. Kita terlalu sering menganggap diri kita adalah sempurna, padahal tidak. Kekuranganku, aku tidak bisa sekuat karang. Sam, titipkan salamku pada hidupmu yang baru. Saat aku menulis surat ini untukmu sebenarnya dispenser di rumahku sedang rusak, AC di kamar tengah rusak pula, atap rumah juga bocor. Doakan saja, ini menjadi pengalaman berharga bagiku. Da...
Sam, kau tak mengetahui apapun saat ini. Itu akibatnya. Ya! entah mengapa ingin sekali aku utarakan betapa setiap langkah yang kujalani, semakin banyak pendakian yang berada di luar hitung-hitungan kita dulu. Kini aku menyadari bahwa tidak selamanya hal baik yang aku lihat akan menjadi kebaikan dan sebaliknya tidak selamanya hal buruk itu akan mengakibatkan keburukan. Segalanya tidak sama.
Oh, Sam, ayolah! Jangan menertawakanku begitu. Menurutmu apa aku telah berubah. Aku tetap seperti dulu. Yang berubah hanyalah dinamika kehidupanku. Itu saja. Aku tidak lebay!
Sam, menurutmu seperti apa sebuah pilihan? Apakah kita berhak untuk menentukan pilihan? Tahukah kau sam, di antara banyaknya pilihan, terkadang Allah hanya memberikan 4 opsi. Empat untuk kau racik, cicipi, dan tentukan! Empat yang tidak semuanya ada satu pun dari yang kau inginkan. Apakah menurutmu ini adil? Itulah mengapa ada orang yang mengatakan hidupnya tidak ada pilihan. Padahal ia telah diberikan empat pilihan. Sam, kau lihat? Kau baca? Kau paham?
Entahlah, menurutku pilihan akan diberikan setelah usaha yang kita perbuat. Kau ingat? Dulu, saat kau masih memiliki satu gelar? Kau diberi pilihan akan menjadi guru atau buruh. Kini, setelah gelarmu bertambah, kau diberi pilihan akan menjadi dosen, guru, buruh, atau mungkin anggota DPR. Oh, ayolah Sam, jangan menertawakanku! Ini kenyataannya. Dan, oh, ya, kau juga pernah diberi pilihan untuk memilih wanita pendamping hidupmu. Tapi anehnya, pilihanmu tidak bisa kau pikirkan dengan seberapa usahamu. Kau aneh, kau gila menurutku. Aku sudah menasihatimu bahwa apa yang kau lihat belum tentu seperti apa yang kau lihat. Ada kuasa Allah di balik semua itu. Lalu, seperti apa selama ini kau berdoa? sudahkah seperti orang yang teraniaya atau jutru seperti orang yang suka menganiaya? Inilah yang kukatakan padamu bahwa kau harus berhati-hati dengan tingkah lakumu, Sam. Penentuan hidupmu adalah kualitas perilakumu. Aku tidak heran bahwa kau akan mengalami banyak hal yang tidak bisa kau pikirkan sebelumnya. Sama seperti aku. Kini, aku melihat terlalu banyak orang yang melampaui batasnya dalam meminta hak-haknya. Coba kau pikirkan, ada orang yang memarahimu karena ia merasa bahwa ia telah memberikanmu uang satu juta untuk melayanimu menjadi lebih cantik. Tapi, ia minta menjadi seperti ratu kerajaan Inggris. Apa menurutmu, ini masuk akal? Dari perilakunya saja ia tidak pantas menjadi ratu. Oh, ayolah... aku sedang ingin mencontohkan sebuah perilaku manusia yang terkadang sangat aneh. Bagaimana caranya seorang tukang salon yang belajar autodidak di kampungnya disuruh membuat wanita biasa menjadi seperti ratu Inggris. Bagaimana bisa uang satu juta yang ia berikan bisa dibandingkan dengan uang miliayaran rupiah yang diberikan seorang Ratu kepada tukang salon kecantikan berpendidikan tinggi, berpengalaman luas, dan menjadi tugasnya melayani seorang Ratu.
Sam, terlalu banyak orang aneh yang aku temui akhir-akhir ini. Dan aku harus berurusan dengan orang-orang lebih aneh lainnya. Kau percaya itu? Terlalu banyak orang yang berpikir bahwa ia bisa mendapatkan lebih dari perilaku buruknya. Ini memang terdengar menyesakkan. Baiklah, begini saja. Dahulu, kau pernah menasihatiku agar aku menjadi wanita yang biasa-biasa saja karena melihatku tidak bisa jatuh dalam pergaulan menggunjing dan melakukan tekanan pada orang lain secara berkelompok. Kau tahu bahwa aku sangat tidak bisa membuat sekawanan perlawanan. Berorganisasi atau berkelompok hanya untuk menceritakan keburukan orang ataupun melakukan hal yang berfoya-foya dan boros. Kau tahu aku begitu hemat, aku sangat perhitungan dalam setiap tingkah lakuku. Aku memutuskan tidak selalu suka melakukan segala sesuatunya dengan berlebihan. Termasuk ketika aku memasuki organisasi. Aku akan memilih organisasi yang lebih banyak manfaatnya daripada keburukan yang diciptakannya. Aku suka menulis, dan kau tahu itu. Untuk itulah, aku memilih jalan menulis. Menurutku, ini sehat. Aku bisa berlomba dengan sehat, aku bisa berkreativitas, aku bisa bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Aku suka itu. Aku lebih tidak suka jika aku harus memakai pakaian serba tertutup, memegang Al Qur'an, memahaminya, tapi aku justru membuat hidup orang lain tertekan karena perilakuku. Aku lebih suka hidup sederhana daripada aku harus memiliki banyak kekayaan, tetapi aku harus mencampakkan uang di muka orang dan mempermalukan hidup orang lain. Aku memang sok suci bukan berarti aku suci. Setidaknya, aku orang yang tidak suka menjadi sebab kesusahan hidup orang lain. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya Sam. Kau tahu itu, kau tahu aku dari dulu. Inilah yang aku maksud, Sam. Kita terlalu sering menganggap diri kita adalah sempurna, padahal tidak. Kekuranganku, aku tidak bisa sekuat karang. Sam, titipkan salamku pada hidupmu yang baru. Saat aku menulis surat ini untukmu sebenarnya dispenser di rumahku sedang rusak, AC di kamar tengah rusak pula, atap rumah juga bocor. Doakan saja, ini menjadi pengalaman berharga bagiku. Da...
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...

