DANAU
DENGAN PROBLEMATIKA CINTA
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Resensi Buku
Judul Buku: Anak Danau
Penulis: Arie MP Tamba
Penerbit: Koekoesan
Cetakan: I, Februari 2012
Halaman: 182
+ x halaman
Thomas.
Itulah nama tokoh utama pada novel ini. Seorang anak yang pergi ke kota Medan
untuk bersekolah. Menemukan banyak kesan yang tumbuh—diantaranya adalah memilih
antara Medan, Samosir atau Jakarta. Tidak pula kurang dengan bumbuhan cinta,
budaya, sosial, dan moral. Dengan demikian, tokoh ini hidup dengan segala
problematika yang dihadapinya.
Membaca
buku ini seperti menjalani penjelajahan sebuah daerah yang istimewa di Danau
Toba: Pulau Samosir. Kita akan diperkenalkan mulai dari sebuah daerah bernama
Naimbaton, Sihotang, Harianboho, Simbolon, dan masih banyak lagi. Ada banyak
keistimewaan pernambilan budaya dan adat istiadat pula yang bisa
ditampilkannya. Inti pada ceritanya adalah percintaan terlarang dalam adat
istiadat Tokoh Thomas dan Sabina. Namun, konflik yang ingin dibangun terlihat
pada hubungan cinta terlarang ini yang kemudian dilanggar. Padahal menurut para
leluhur, orang Saitnihuta dan orang Haranggasan—dua perkampuangan di tepi Danau
Toba—masih bersaudara. Maka, terlarang saling mencintai, meski mereka tidak
mempunyai hubungan darah. Bila dilakukan, akibatnya fatal. Pasangan itu akan
dicoret dari silsilah, dibuang dari kampung. Sebab, dipercayai akan menjadi
muasal kutukan. Dan, Thomas dan Sabina telah melanggar pantangan. Sabina
kembali ke Medan. Kali ini, ia tidak sendiri, tapi sudah berbadan dua. Dan
akhirnya, di dalam cerita itu, Thomas pergi ke Jakarta sehingga tidak ada kabar
lagi. Inilah yang membuat konflik menjadi klimaks.
Setiap
paragraf yang dipaparkan oleh Arie MP Tamba di dalam novel ini, kemudian
menjadi panutan bagi pembaca dalam mengenal Danau Toba dan Pulau Samosir,
khususnya. Hal ini terlihat pada paparan paragraf berikut: “Naimbaton adalah
sebuah negeri kecil di pesisir Danau Toba. Terdiri dari beberapa kampung kecil
yang berserak di tepi danau, sampai ke pundak-pundak bukit. Negeri Naimbaton,
di sebuah teluk, persis berhadapan dengan negeri Simbolon yang nyaris setiap
hari tampak bercahaya, di tepi danau, di pulau Samosir sana. Dari negeri
Naimbaton juga terlihat negeri Hatoguan, Palipi, dan negeri Mogang, yang
berjejer di sebelah kiri negeri Simbolon”.
Kisah
ini mengingatkan kita bahwa kebudayaan di Indonesia khususnya di Pulau Samosir,
Sumatera Utara sendiri memiliki ikatan keterkaitan yang erat dengan
masyarakatnya. Untuk membuat kita kenal dan mengubah kehidupan masyarakat ke
arah yang lebih modern, memang terlebih dahulu kita belajar dari hal-hal yang
mengikat dalam kebiasaan masyarakat. Sehingga perubahan yang bertolak ukur
dengan jalan yang bertahap dan aman juga akan diperoleh. Ya, Arie MP Tamba
ingin memaparkan betapa pentingnya pengenalan sebuah kebudayaan. Ia ingin
memberi pembaca sebuah perbandingan sendiri dengan kehidupan modern yang serba
praktis. Misalnya saja, masayarakat di perkotaan yang tak lagi mempersoalkan
masalah adat seperti yang dipaparkan dalam buku “ Anak Danau” ini.
Memang
sebaiknya, untuk mengenal Pulau Samosir itu sendiri, kita dianjurkan membaca
buku ini. Apalagi bagi orang-orang di perkotaan. Buku ini hadir dengan segala
problematika perkampuan dan perkotaan. Namun sangat disayangkan, kisah cinta
yang diambil masih begitu klise atau sering diangkat oleh novelis-novelis
lainnya. Meskipun, alasan cinta dalam adat itulah yang ingin tampil,
sesungguhnya.
Serambi Kompak, 12
Maret 2013


