Sunday, March 31, 2013

Resensi Buku, Medan Bisnis 31 Maret 2013



DANAU DENGAN PROBLEMATIKA CINTA
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Resensi Buku
Judul Buku: Anak Danau
Penulis: Arie MP Tamba
Penerbit: Koekoesan
Cetakan: I, Februari 2012
Halaman:  182 + x halaman

                Thomas. Itulah nama tokoh utama pada novel ini. Seorang anak yang pergi ke kota Medan untuk bersekolah. Menemukan banyak kesan yang tumbuh—diantaranya adalah memilih antara Medan, Samosir atau Jakarta. Tidak pula kurang dengan bumbuhan cinta, budaya, sosial, dan moral. Dengan demikian, tokoh ini hidup dengan segala problematika yang dihadapinya.
                Membaca buku ini seperti menjalani penjelajahan sebuah daerah yang istimewa di Danau Toba: Pulau Samosir. Kita akan diperkenalkan mulai dari sebuah daerah bernama Naimbaton, Sihotang, Harianboho, Simbolon, dan masih banyak lagi. Ada banyak keistimewaan pernambilan budaya dan adat istiadat pula yang bisa ditampilkannya. Inti pada ceritanya adalah percintaan terlarang dalam adat istiadat Tokoh Thomas dan Sabina. Namun, konflik yang ingin dibangun terlihat pada hubungan cinta terlarang ini yang kemudian dilanggar. Padahal menurut para leluhur, orang Saitnihuta dan orang Haranggasan—dua perkampuangan di tepi Danau Toba—masih bersaudara. Maka, terlarang saling mencintai, meski mereka tidak mempunyai hubungan darah. Bila dilakukan, akibatnya fatal. Pasangan itu akan dicoret dari silsilah, dibuang dari kampung. Sebab, dipercayai akan menjadi muasal kutukan. Dan, Thomas dan Sabina telah melanggar pantangan. Sabina kembali ke Medan. Kali ini, ia tidak sendiri, tapi sudah berbadan dua. Dan akhirnya, di dalam cerita itu, Thomas pergi ke Jakarta sehingga tidak ada kabar lagi. Inilah yang membuat konflik menjadi klimaks.
                Setiap paragraf yang dipaparkan oleh Arie MP Tamba di dalam novel ini, kemudian menjadi panutan bagi pembaca dalam mengenal Danau Toba dan Pulau Samosir, khususnya. Hal ini terlihat pada paparan paragraf berikut: “Naimbaton adalah sebuah negeri kecil di pesisir Danau Toba. Terdiri dari beberapa kampung kecil yang berserak di tepi danau, sampai ke pundak-pundak bukit. Negeri Naimbaton, di sebuah teluk, persis berhadapan dengan negeri Simbolon yang nyaris setiap hari tampak bercahaya, di tepi danau, di pulau Samosir sana. Dari negeri Naimbaton juga terlihat negeri Hatoguan, Palipi, dan negeri Mogang, yang berjejer di sebelah kiri negeri Simbolon”.
                Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebudayaan di Indonesia khususnya di Pulau Samosir, Sumatera Utara sendiri memiliki ikatan keterkaitan yang erat dengan masyarakatnya. Untuk membuat kita kenal dan mengubah kehidupan masyarakat ke arah yang lebih modern, memang terlebih dahulu kita belajar dari hal-hal yang mengikat dalam kebiasaan masyarakat. Sehingga perubahan yang bertolak ukur dengan jalan yang bertahap dan aman juga akan diperoleh. Ya, Arie MP Tamba ingin memaparkan betapa pentingnya pengenalan sebuah kebudayaan. Ia ingin memberi pembaca sebuah perbandingan sendiri dengan kehidupan modern yang serba praktis. Misalnya saja, masayarakat di perkotaan yang tak lagi mempersoalkan masalah adat seperti yang dipaparkan dalam buku “ Anak Danau” ini.
                Memang sebaiknya, untuk mengenal Pulau Samosir itu sendiri, kita dianjurkan membaca buku ini. Apalagi bagi orang-orang di perkotaan. Buku ini hadir dengan segala problematika perkampuan dan perkotaan. Namun sangat disayangkan, kisah cinta yang diambil masih begitu klise atau sering diangkat oleh novelis-novelis lainnya. Meskipun, alasan cinta dalam adat itulah yang ingin tampil, sesungguhnya.
Serambi Kompak, 12 Maret 2013


No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...