Friday, August 8, 2014

Klik "Bisik Rindu "Angin Kerinduan" Ria Ristiana Dewi" karya Eva Juliyanti @aNALISA.

http://analisadaily.com/news/read/bisik-rindu-angin-kerinduan-ria-ristiana-dewi/51436/2014/08/03
 
Eva Julianti. Karya sastra dijadikan oleh pengarang sebagai wadah untuk mengekspresikan perasaan yang sedang dialami atau pengalaman kehidupan pengarang.
Pengarang mengangkat fenomena yang terjadi dalam kehidupannya. Baik suka maupun duka ke dalam karya sastra. Dengan membubuhi kata-kata indah, menjadi sebuah hasil karya yang apik. Luapan emosi akan menambah nilai dari hasil sebuah karya sastra. Pada hakikatnya karya sastra, karya dari luapan emosi si pengarang.
Banyak produk yang dihasilkan dari luapan emosi tersebut. Baik itu puisi, prosa fiksi (novel dan cerpen) dan drama. Pengarang melukiskan isi hati atau hal yang sedang dan pernah dialami kepada para pembaca melalui ketiga karya sastra tersebut.
Pengarang dalam melukiskan pengalaman hidupnya baik suka ataupun duka dengan berbagai cara. Ketiga produk tersebut akan mempunyai nilai jika bermanfaat dan membuat pembaca ikut terbawa emosi tersebut.
Di dalam sebuah prosa fiksi atau drama, pengarang selain memaparkan cerita atau kisah tentang pengalaman hidup baik dirinya maupun pengalaman hidup orang lain, pengarang juga menyelipkan pesan untuk pembacanya. Pengarang dalam menciptakan tokoh-tokoh dan alur cerita yang apik, akan membawa pembaca ikut larut dalam emosi yang disampaikan. Sebuah karya sastra dikatakan baik jika dapat menimbulkan emosi bagi pembacanya.
Bukan saja pada prosa atau drama, pengarang juga dapat meluapkan emosi jiwanya ke dalam sebuah puisi. Pengarang bermain kata-kata indah, sarat makna dalam menciptakan sebuah puisi. Puisi yang identik dengan kata khiasan ini menambah nilai dan ketertarikan para pembacanya, namun untuk memahami puisi ini butuh teori dan pemahan tentang analisis sebuah karya sastra melalui pendekatan-pendekatan dalam karya sastra.
Seperti halnya dalam antologi puisi Angin Kerinduan karya Ria Ristiana Dewi ini. Dia meluapkan rasa rindunya melalui kata-kata yang indah, sehingga membuahkan 116 puisi. Di dalam antologinya pengarang banyak menceritakan tentang kehidupan dan fenomena yang sedang terjadi. Pengarang begitu merindukan sosok pembimbing dan pendamping dalam menjalani hidupnya.
Kerinduan Ria Ristiana Dewi terhadap sosok Ayah begitu kental di dalam antologi puisi Angin Kerinduan. Misalnya pada puisi berjudul Kerinduan Ria melukiskan kerinduan terhadap sosok Ayah yang telah meninggalkannya. Ayah Ria Ristiana Dewi telah meninggalkan dunia ini, wajar saja jika Ria rindu sosok Ayah.
Kerinduan
Sebentuk paling rapuh dibelai ombak terantuk karang
Keyakinan
Bergeser, berpeluh pasir-pasir, mataku mulai tercungkil
Rupa malaikatmu
Kuberguru pada langit tentang kau menempuh deru rindu
Jantungku dihentak jantungmu
Adakah seruling pengantar tiup nyiur papah telapakmu di
Mungilnya jemariku?
Kau membelai dari derasnya abrasi kasih sayang saat bibir
Mungil ini memanggilmu…” Ayah…”
(Hal:106)
Terlihat jelas pada puisi di atas, Ria begitu merindukan sosok Ayah. Usaha yang dialakukan Ria untuk berjumpa dan mengucapkan rasa rindu terhadap Ayahnya terlihat pada larik /Bergeser, berpeluh pasir-pasir, mataku mulai tercungkil/Rupa malaikatmu/ dari larik tersebut tergambar, untuk mengucapkan rasa rindu kepada Ayah Ria harus bertarung kepada sosok malaikat.
Kerinduan Ria tidak cukup pada puisi Kerinduan saja, terdapat juga pada puisi yang berjudul Jawaban Rindumu dan Semacam Rindu. Pada kedua puisi tersebut Ria Ristiana Dewi mengungkapkan kerinduannya. Bukan saja terhadap Ayah, melainkan kepada Ibunya juga. Seperti halnya pada puisi Kerinduan Ria sangat merindukan sosok keduanya yang telah mendidik dan membimbingnya menjadi sosok wanita yang tegar dan penuh senyum sekarang ini.
Sosok Ayah dan Ibu memang tidak dapat tergantikan oleh siapapun itu, kepergiannya dari sisi kita akan membuat ragi kita hambar atau kosong. Keduanya sangatlah hebat, penuh kesabaran dan dedikasi yang tinggi dalam mendidik anak-anaknya. Tidak ada kata “mantan Ayah atau Ibu” sekalipun salah satu di antara mereka meninggalkan anak-anaknya, baik karena kematian maupun perceraian.
Peran Ayah dan Ibu sangatlah berpengaruh dalam perkembangan anak-anaknya. Dalam puisi-puisi, Ria ini ingin mengungkapkan kepada para pembaca.
Ria sangat merindukan sosok Ayah dan Ibu yang penuh kasih dan sayang dalam mendidik anak-anaknya. Kerinduan ini dapat dilihat, saat ini sosok pelindung bahkan satu-satunya tempat anak-anaknya menyandarkan kepalanya tega menyakiti dan mendorong anak-anaknya ke jurang penistaan.
Kekerasan pada anak saat ini sangat marak. Baik kekerasan seksual maupun fisik. Lebih mirisnya lagi, kekerasan tersebut dilakukan oleh Ayah atau Ibunya. Usia anak-anak yang mengalami kekerasaan mayoritas masa kanak-kanak yang masih belum mengerti tentang masalah hidup. Masa ceria anak-anak seakan punah dan sirnah, keceriaan itu sirnah akibat tindakan orang tua yang semena-semana.
Kekerasan pada anak, khususnya kota Medan menjadi daerah tertinggi dalam hal tindak kekerasan terhadap anak di wilayah Sumatera Utara, dengan jumlah korbannya mencapai 72 orang. Urutan kedua adalah Kabupaten Deli Serdang dengan 29 korban, disusul Kabupaten Serdang Bedagai.
Dari sisi pendidikan para korban, untuk tingkat SMA mencapai 74 korban, SMP 66 korban dan SD 36 korban. Usia yang paling rentan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak yang paling dominan di usia 15-16 tahun mencapai 60 korban dan usia 17-18 tahun mencapai 56 korban. Kasus kekerasan yang menimpa anak masih sangat banyak dan tidak terungkap ke permukaan.
Realita ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, bahkan mengerikan, karena menimpa anak-anak yang notabenenya generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa.
Negara harus menjamin hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi setiap anak, sebagaimana yang diamanatkan UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002.  Kita tidak dapat menutup mata terhadap masalah yang menimpa anak-anak.
Kasus-kasus pencabulan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, eksploitasi, trafiking dan lainnya harus segera dituntaskan dan menghukum pelakunya semaksimal mungkin.
Untuk memberikan efek jera bagi pelaku maupun orang yang mempunyai niat jahat, jangan sampai ada tebang pilih.(KPS)
Banyak faktor yang mengakibatkan kekerasan pada anak. Salah satunya adalah lunturnya kasih sayang. Kasih sayang merupakan salah satu atom yang telah hilang dalam diri orang tua. Orang tua telah sibuk dengan kesibukkannya sendiri tanpa memikirkan perasaan dan perkembangan anak-anaknya. Kasih sayang orang tua sangat diharapakan dan berperan penting bagi perkembangan anak. Rasa kasih sayang terhadap sesama ini harus dilakukan seperti sabda Rasulullah Saw:
“Sayangilah orang-orang yang ada dibumi, supaya engkau disayangi oleh yang di langit (para maaikat). (HR. Thabrani).
Tiada lagi tempat perlindungan anak-anak saat ini, orang tua sebagai benteng perlindungan saja sudah runtuh.
Seperti pepatah mengatakan, Harimau saja sangat melindungi anak-anaknya dari marabahaya bahkan rela menaruhkan nyawanya demi keselamatan anak-anaknya.
Dalam antologi puisi Angin Kerinduan karya Ria Ristiana Dewi mengingatkan kita bahwa bentuklah kepribadian dan saling mengasihi satu sama lain. Seperti halnya yang dikatakan oleh Afrion dalam sampul antologi puisi Angin Kerinduan karya Ria Ristiana Dewi berikut:
“Angin Kerinduan” karya Ria Ristiana Dewi. Memahami dan merasakan kerinduan pada puisi Ria Ristiana Dewi, menjadi cara membentuk kepribadian dalam memotivasi diri.
Ketika pengalaman hidup dijadikan cermin, maka keyakinan pada diri memunculkan penguatan baru dalam jiwa. Puisi Angin Kerinduan ini juga berkisah tentang filsafat hidup, ikhlas menerima kenyataan dan saling berbagi cinta kasih

Wednesday, August 6, 2014

Cerpen, Medan Bisnis, 3 Agustus 2014

Kawasan Hati dan Api

Berita Sore
Di kawasan yang cukup dekat dengan pemukiman warga, awan panas mengancam nyawa. Pemirsa! Satu orang terpanggang api, pohon-pohon mati, tanah habis diselimuti debu. Mari kita lihat! Rumah-rumah juga ditutupi debu. Warga yang jaraknya 3 km dari gunung api direlokasi ke kawasan yang lebih jauh.
SIAPA yang tahu, ketika akhirnya kematian lelaki itu di bawah genggaman kaki gunung. Ketika itu awan tebal mengejarnya dan yang ada di dekatnya ingin berlari, namun pohon tak mampu berlari. Mungkin, jika pepohonan diperintahkan untuk berlari, maka ia akan berlari, berlari, berlari ke mana saja. Tapi hanya lelaki itu yang dapat berlari, maka ketika pepohonan hendak teriak minta pertolongan, bersamaan dengan itu lelaki yang mampu berlari juga berteriak, berteriak pun tak ada yang mampu menolongnya. Kecuali, ia berhasil menemui akhir dengan cara yang dikehendaki-Nya.

Tepat satu minggu pasca meletusnya gunung, lelaki itu ditemukan dalam keadaan berpeluk di sebuah pohon yang telah kering. Keduanya seperti benar meminta pertolongan. Satu sama lain terlihat memelas dengan sangat kasihan.

Apa kau pernah melihat sebuah adegan paling menyedihkan ketika seorang lelaki terbunuh dan benar-benar tragis dalam bayangan seorang perempuan? Bayangan itu mencabik-cabik dagingnya yang habis terpanggang.

Beberapa yang tertinggal hanyalah kenangan. Lelaki itu bahkan masih menggenggam hati yang paling dirindukan seorang wanita. Di sebuah tempat pengungsian, seorang wanita lainnya mencari dengan wajah penuh gelisah. Ia sekonyong-konyong menyaksikan sebuah tubuh dalam keadaan ingin memeluk, di sekujurnya masih lengket debu putih bekas debu yang dilontarkan oleh gunung api. Namun wajahnya begitu hitam, mulutnya sedikit ternganga, ada perih yang masih disimpan.

"Dita!"
"Aku baru tahu bahwa orang baik bisa meninggal dengan begitu tragis!" katanya tersedu di samping jenazah sang kekasih. Entah kapan ia mulai memutuskan untuk mencintai, entah kapan pula ia memutuskan lelaki itu adalah yang terbaik di matanya. Kini, ketika yang di hadapannya hanyalah seonggok tubuh yang tak mampu memberikannya apa-apa, ia baru menyadarinya.

Sementara, wanita itu menangis secara tidak sengaja, meskipun ia mengutuk dengan sumpah serapah. Biarlah... biarlah kematiannya begitu tragis.
"Dita! Aku tahu, ini sangat memukul hatimu. Tapi, masih banyak yang harus kau lakukan."

"Aku tahu! Selagi aku masih bernapas..." Ia berhenti sejenak, "Aku tahu!" Lalu membuang napas secara perlahan.

"Dita, ada yang harus kau ketahui tentangnya!"
Dita menolehkan pandangannya dari tubuh yang teronggok itu. Kini, ia menatap mata lelaki yang tadi di belakang pandangannya - ia mencari tahu sesuatu dari mata itu. Lelaki itu adalah salah seorang teman baik Redra. Entah bagaimana mereka memutuskan untuk datang ke tempat ini. Ian, teman Redra, berhasil selamat dengan sepeda motornya. Namun, motor yang dikendarai Redra justru mogok dan menumpahkan satu nyawa tepat di hadapan awan panas. Nyawa yang menyerah di usia 28 tahun.

"Katakan, Ian... katakan apa yang harus aku ketahui!"
"Kami sengaja ke tempat ini karena sebuah surat yang Redra ceritakan padaku! Awalnya, aku menganggap itu hanyalah lelucon, namun setelah kejadian ini, aku jadi semakin percaya dengan apa yang dikatakannya!"

"Apa?" Mata itu menyala dengan penuh tanda tanya. Ia menatap mata Ian dengan lekat dan masih menunggu dengan tidak sabar, itu terlihat benar dari gerakan tubuh yang gelisah.

"Satu hari sebelum ini kau dan Redra sempat bertengkar. Aku tahu itu! Ya... sebab Redra telah menceritakannya padaku." Ia membalas tatapan yang dipenuhi tanda tanya itu lebih lekat. Tak lama sambil menarik napas, ia melanjutkan cerita.
"Apa hubungannya dengan peristiwa ini?"

"Ini!" Ian menyodorkan sebuah kertas dengan begitu sadar, lalu ia melanjutkan jawaban atas pertanyaan yang semakin terlihat jelas di mata Dita.

"Kertas itu adalah surat Redra untukmu. Saat itu ia letakkan kertas di dalam tasku. Aku terpaksa membaca surat itu usai peristiwa yang menimpanya. Bukankah itu wajar? Maaf bila aku lancang!"

Tanpa panjang cerita, Dita membuka surat itu dengan gerakan yang tidak mampu dibendungnya lagi. Matanya bergerak dengan cepat ke kanan dan ke kiri. Seiring itu ia menarik napas satu persatu, berusaha untuk percaya dengan apa yang dibacanya.

Aku memutuskan hidupku, dan kau memutuskan hidupmu. Biar pun aku lelaki yang kau kutuk menjadi daging yang terpanggang. Aku baru menyadarinya, betapa kau mencintai sekaligus membenciku. Tapi, apakah itu masih begitu penting?

Tarikan napasnya semakin kuat, ia menceritakan apa yang terjadi - pertengkaran antara dia dan Redra kepada Ian.

"Aku membencinya. Sejak dulu aku tahu ia coba memancing banyak wanita untuk di dekatnya! Aku selalu bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Mengapa? Tapi, ia hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa ia lelaki bebas, bebas memilih.

Lalu bagaimana dengan aku, wanita itu, itu, dan itu? Wanita untuk dilindungi? Kau percaya? Sekarang, surat ini? Menjijikkan! Pengakuan yang menjijikkan! Kau tahu? Suatu hari, takkan ada lagi wanita yang benar-benar menikmati hidup! Semua yang ada di hadapan kalian, kalian ubah untuk menyulap kami! Mengubahnya menjadi hewan buas! Kemarahan yang penuh tanda tanya."
"Kau cantik, Dita! Bisakah kita lebih tenang?"

"Menurutmu, kecantikan terbuat dari apa? Dan apalah artinya!"
Saat ia mengatakan itu, ada sebuah gerakan luar biasa yang mengguncang tubuh mereka berdua. Tidak! Tidak mereka berdua, namun seluruh yang ada di dekat pengungsian. Tapi sungguh! Guncangan itu bukan datang dari degupan jantung atau darah mereka yang mengalir cepat, namun dari bumi, bumi yang sedang marah.

"Allahuakbar... Allahuakbar..."
Beberapa orang mengucapkan nama besar Allah dengan berteriak. Beberapa lainnya berlari ke segala arah, mencari anak-anak mereka, nenek, ayah, ibu, saudara.

"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini!"
"Aku takkan pergi! Kau harus dengar!"
"Sudahlah! Tidak ada lagi masalah, yang ada hanyalah permintaan maaf! Aku tahu, kau begitu mencintai Redra, tapi aku mohon hentikan semua kebencianmu itu!"

"Lalu, ia akan mati dengan tenang?"
"Hentikan, Dita! Kemarahanmu di luar batas!"
"Kau mengatakannya karena kau juga lelaki yang suka mempermainkan perasaan wanita!"

"Hentikan!"
"Sebab, kemarahan seorang wanita adalah..."
Di luar tenda, warga pengungsian berteriak "awan panas" dan "awas", "awan panas" dan "awas". Begitu seterusnya hingga sayup-sayup menghilang di telan angin. Tenda mulai berguncang hebat, seonggok tubuh yang tadi ditatap Dita, kini tampak menggulung di tanah. Dita dan Ian saling berpegangan erat.
"Sebaiknya kau hentikan amarahmu!"

Awan setinggi bayangan tubuhmu, menghunjam, memeluk dan berkata "selamat datang". Apakah kau juga merasakannya dalam tidurmu, sayang? Meskipun begitu, aku tak menolak jika cinta ini milikmu. Namun,Tenda rusak. Warga mengosongkan lokasi. Dua orang ditemukan tewas saling berpelukan. Terpanggang, tubungnya lekat berwarna hitam, matanya memerah, debu di sekujur, pohon-pohon berdoa, memanjatkan pengampunan.

Pernahkah kau mendengar kisah sepasang kekasih yang saling mengkhianati, lalu ia terkena kutukannya sendiri? Pernahkah kau memperhatikan sepasang merpati di depan rumahmu? Matanya merah, sayapnya gelisah, kakinya ingin melangkah.

Dan jika kau memperhatikan mereka, tak ada yang mampu menduga kalau keduanya telah berselingkuh. Ditemukan dalam keadaan kelaparan dan saling berpelukan. Dita, aku ingin kau membaca surat ini saat kondisimu telah membaik. Kondisi di mana kau begitu membenci seorang lelaki. Hentikanlah kebencianmu, dan jika tidak, kau menerima kepergianku.

Berita pagi ini.
Telah ditemukan tiga mayat dalam sebuah bencana dahsyat akibat awan panas gunung api tadi malam. Ketiga mayat itu ditemukan dalam keadaan terpanggang. Dua mayat, wanita dan lelaki, saling berpelukan, satunya lagi, lelaki yang lain, memegang tangan wanita itu. Oh! Bukan! Pemirsa! Maaf ternyata, ada empat mayat! Ya! lebih tepatnya mayat lelaki yang satunya tadi memegang tangan wanita lainnya, tepat di sebelahnya! Itu artinya telah ditemukan empat mayat, dua wanita, dua lelaki. Oh! Begitu romantis!
Sekian berita dari saya!
...maafkan aku Dita, aku mencintaimu, sangat! Tapi itu sebelum aku bertemu dengan wanita pilihanku! Dan kini, dalam pencarianku, ia mencariku, kini, ya, kini, pencariannya - yang menurutku sudah sangat terlambat! Dita hiduplah dengan tenang di sampingku dan tanpaku. Sekali lagi, maafkan aku!
Serambi Kompak, Maret 2013

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...