Monday, August 8, 2016

Full Day School



Menyambut “Full Day School”, Membentuk Karakter Siswa
            Oleh: Ria Ristiana Dewi, S.Pd.

                Akhir-akhir ini kita diberikan sedikit bisikan mengenai adanya rencana yang diajukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Muhadjir Effendy untuk membuat system “full day school”. Rencana ini nantinya dikhususkan bagi pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), baik di sekolah negeri maupun swasta. Hal ini dilandasi alasan beliau bahwa kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orang tuanya seusai jam kerja.
                Menyambut kabar ini, sesungguhnya ada kekhawatiran pemerintah atas tingkah laku anak-anak yang kerap menjadi liar saat jam pulang sekolah, saat orang tua bekerja dan tidak berada di rumah. Pada umumnya anak usia SD dan SMP memerlukan pengawasan yang ekstra. Terutama menyikapi tingkat konsumsi media sosial yang akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Nantinya, di sekolah anak-anak dikontrol untuk tidak menggunakan media sosial saat-saat masa produktif mereka dalam mencari ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, walaupun anak-anak memerlukan media, mereka tetap diberi arahan pengajar bahwa fungsi media yang selama ini mereka gunakan harusnya digunakan untuk hal-hal bermanfaat. Mereka bisa menggunakan facebook untuk mencari teman, tapi perlu bagi mereka untuk bercerita apa yang terjadi pada orang tuanya. Namun, kontrol yang dilakukan harusnya tidak lepas dari kata “lengah”. Untuk itulah, dalam mengatasi ini nantinya, anak-anak perlu diberi kesibukan yang bersifat akademik hingga tiba waktunya mereka mampu mengendalikan diri dalam menyikapi manfaat media sosial.
                Siswa SD kelas V dan VI menjadi awal meningkatnya tingkat berpikir pada anak-anak dari yang bersifat menerima kondisi berubah menjadi anak yang memiliki rasa ingin tahu lebih besar. Menurut teori “Tahap Perkembangan Piaget”, Anak-anak usia ini mulai masuk dalam kategori tahap operasional formal. Di usia ini anak-anak mulai berpikir logis dan sistematis. Usia yang dimaksud adalah usia 11-15 tahun. Usia ini, rata-rata baru akan dimulai pada siswa kelas V SD di semester dua. Untuk itulah ketika memasuki usia ini, anak-anak akan mulai mengalami perubahan cara berpikir dari yang pasif menjadi lebih aktif. Sifat aktif anak-anak ini tentunya perlu disalurkan dengan baik. Jangan sampai usia ini dihabiskan dengan melakukan kegiatan yang cenderung menghabiskan masa ingin tahu ke arah yang tidak baik, seperti bermain games, lebih banyak menerima respon dan umpan balik dari pergaulan yang buruk. Masa ini juga disebut sebagai masa peralihan dari tahap operasional nyata ke tahap perkembangan kognitif terakhir yang tadi disebut tahap operasional formal. Tahap operasional formal dalam teori piaget adalah tahap di mana anak sudah mampu berpikir abstrak, menalar dengan logis, menarik kesimpulan sebuah informasi. Hal ini menarik ulur pengetahuan mereka dalam mengenal cinta, dan nilai. Tahap ini juga disebut tahap pubertas.
                Berasal dari teori ini sesungguhnya anak sedang dalam kondisi puncaknya untuk menerima lingkungan. Untuk alasan inilah pemerintah merasa khawatir ada banyak respon yang buruk akan diterima anak, jika guru dan orang tua “tentunya” tidak segera mengambil alih pengaturan kondisi lingkungan. Lalu, karakter apa yang akan dibentuk dengan adanya penerapan “Full Day School”?
                Pengaruh positif yang bisa didapatkan dari penerapan sistem ini adalah anak perlahan mengubah karakter puncaknya dengan kegiatan positif yang cenderung berada di jalur aman. “Aman” dalam hal ini, anak hanya mengetahui apa yang ia lihat dan dengar dari guru yang telah dikonsep untuk menjadikan siswa tidak mengetahui hal-hal yang buruk. Tentu saja ini adalah hal yang baik disambut oleh orang tua. Namun di sisi lain, anak akan mengalami kondisi tidak menemukan kehidupan dinamis seperti yang terjadi pada kondisi kehidupan sesungguhnya. Anak akan menjadi miniatur yang digerakkan dan dirawat sedemikian rupa. Proses perkembangannya yang aktif sesungguhnya tidak tersalur sebagaimana mestinya. Namun, pengaruh negatif ini masih bisa diatasi dengan adanya kerjasama guru dan orang tua, pun pemerintah dalam hal merawat kondisi lingkungan menjadi aktif positif. Buatlah kegiatan-kegiatan yang cenderung mewadahi mereka dengan kondisi baik. Seperti, aktivitas mengaji, kaligrafi, menari, menulis, bernyanyi, wisata alam, olahraga dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan mereka bersama teman, guru, orang tua, sekaligus lingkungan. Hingga pada akhirnya anak-anak mampu mengetahui arti dinamika kehidupan berasal dari apa yang dia alami di dalam berorganisasi positif bukan berorganisasi negatif di luar sana. Mereka akan menemukan sebuah cara untuk memberi bantuan daripada  menyulitkan orang lain. Hal inilah karakter yang sesungguhnya diinginkan bangsa Indonesia.

Friday, August 5, 2016

Esai,

Saya Berpikir, Puisi Menjadi Awal
(Catatan kecil bahagia dengan menulis)

Memahami Proses, Mencari Jati Diri
Saya merasa yakin, Anda tidak akan menemukan tempat di mana Anda berada saat ini melainkan Anda sendiri yang akan mencarinya. Carilah sampai Anda temukan kapan terakhir kali Anda melupakan proses hidup Anda sendiri. Semuanya adalah perjalanan yang harus Anda arungi bersama ombak berikut badainya. Entahlah, apa yang Anda inginkan dari kehidupan Anda saat ini, Anda tidak ingin membaca, Anda tidak ingin menulis. Ini kegagalan proses yang pasti datangnya. Tetapi, Anda selalu mengeluh ketika diminta memaknai perjalanan hidup. Itu karena Anda merasakan proses yang tidak seindah bunga di taman kota. Alahai, memang tak semudah berucap dengan lisan.
Diri Anda itu minta untuk disentuh rapi. Mata, mulut, telinga, hidung, tangan, kaki, kepala adalah saksi betapa proses hidup Anda akan menjadi garapan sejarah usang tanpa dimaknai. Mengapa Anda ragu untuk menuliskan proses hidup Anda? Saya pikir, di sinilah awal mulanya.
Sukses dari Membaca dan Menulis
Saya tidak ingin mempersulit proses yang harus dilalui. Namun, untuk “sukses” memang harus melalui sebuah proses yang tak sederhana. Hipotesa yang saya dapatkan di lapangan menunjukkan bahwa 80 persen anak-anak Indonesia malas membaca dan menulis. Inilah proses yang harus dilalui sesungguhnya. Hasilnya, tak sedikit yang mengalami kemunduran kreativitas. Mengapa kemunduran? Artinya ada proses yang menurun? Ya! Ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Salah satunya, anak-anak diperdaya oleh kecanggihan zaman: bermain games di laptop, tablet, dan handphone.
Setiap orang ingin menjadi sukses. Kategori manusia sukses itu sendiri sangat relatif, tergantung dari mana kita memulainya. Menjadi sukses tidak hanya semasa hidup, tapi juga dibawa hingga kehidupan yang lainnya, kehidupan di mana semua amal perbuatan kita akan diperhitungkan. Salah satu yang akan kita bawa nantinya, tentu ilmu yang bermanfaat. Bagaimana bisa pemikiran kita akan terbuka ke wadah yang lebih luas jika kita sendiri tidak mulai mencari jalan ke arah wadah itu. Tapi, apa yang ingin kita wadahi? Tulisan? Ya! Tentu saja kita ingin menjadikan gagasan kita diterima banyak orang, namun kita tidak memiliki wadah untuk memulainya. Maka, mulailah menulis! Sepanjang apa kamu menulis, seluas itulah kamu melangkah. Kamu akan pergi ke manapun yang kamu inginkan. Menulislah semasa kamu hidup, jadikan hidupmu bersejarah, penuh arti, diingat orang lain. Harga dari gagasan yang kita keluarkan adalah awal menuju manusia yang percaya diri.
Mengeluarkan gagasan dengan menulis sesungguhnya menjadi pintu gerbang kita untuk mendekatkan diri dengan lingkungan sosial. Tentu saja gagasan adalah harga yang cukup mahal. Sementara itu untuk mulai menulis, diperlukan wawasan dengan membaca sebanyak mungkin. Inilah yang menjadi pagar hitam, seolah-olah kita terkurung dalam penjara yang bernama “malas membaca”. Kita selalu berpesan bahwa saya tidak sempat untuk membaca, apalagi menulis. Alahai, sungguh kata-kata itu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi dunia kreativitas. Padahal, dengan menulis walau hanya lima menit, Anda sedang menginvestasikan kualitas hidup yang sesungguhnya. Sebagai contoh, tulisan saya ini, saya tuliskan saat anak saya masih tertidur pulas dan pekerjaan rumah sudah hampir beres, tentu sebelum ia terbangun. Saya coba membuka laptop pelan-pelan, membuka file-file lama. Saya ingat bahwa kemarin saya baru mendapat tantangan dari salah seorang teman agar mengirimkan beberapa tulisan terbaik. Tapi saya tidak sedang ingin membuat cerita pendek seperti yang selama ini saya tekuni. Akhirnya saya memutuskan untuk menyambung tulisan ini—yang mana telah saya tulis sebagian pada bulan Januari 2016 lalu. Berangkat dari alasan inilah, saya merasa Anda tidak perlu menulis dengan cara langsung menuntaskan tulisan saat itu juga. Kesimpulannya, jangan sesekali membuang file-file lama meskipun Anda masih malas untuk menulisnya kembali.
Belajar sebuah kesuksesan tidak perlu berandai bahwa suatu saat Anda akan menjadi orang kaya raya, memiliki harta berlimpah hingga tujuh turunan hingga hari kematian Anda cukup menenangkan. Menjadi sukses cukup dengan berhasil mengendalikan diri Anda untuk bisa menyumbang sebuah tulisan, membaca hasil gagasan orang lain, dan menginspirasi orang lain pula.
Kini, jika Anda telah menulis, mulailah dengan menuliskan sebuah catatan kecil yang mencurahkan isi hati Anda. Di sinilah ruh puisi menjadi salah-satu alasan untuk mengatasi betapa waktu telah memperdaya Anda dengan kesibukan yang tidak beralasan.

Saya Menulis Puisi, Lalu Anda Menulis Apa?
Dengan lagak sombong seolah telah memiliki uang miliaran rupiah, saya ingin berkata, “Saya menulis puisi, lalu Anda menulis apa?”
Alahai, betapa kayanya saya karena telah menjadi seorang penulis walau hanya menulis puisi. Betapa bahagianya saya bisa mencoba untuk menulis walau hanya sebatang pena. Sebuah alasan mengapa saya menjadi begitu berharga setidaknya bagi diri sendiri hingga saat ini.
Tahukan Anda sebelum saya menulis esai ini, beberapa tahun yang lalu, saya menulis puisi. Dan tahukah Anda? Ketika itu, tulisan saya dibaca oleh seorang dosen yang sangat saya hargai jasa-jasanya. Pertama kalinya beliau membaca tulisan saya, beliau berkata, “Gak enak!” hati kecil kecewa, di sisi lain merasa tertantang. Saya membuat beberapa tulisan lagi dan seperti biasa, jawaban beliau tetap, “Gak enak!”
Tapi menyerah bukan kata kunci sukses. Saya mencoba lagi, dan akhirnya beliau meminta saya membacakan puisi saya sendiri pada acara baca puisi di depan rel kereta api, dan menghadap jalan raya. Saat itu, yang terlintas dalam pikiran saya adalah sebuah kebahagiaan. Pertama kalinya saya merasa dihargai dan menjadi seseorang yang sukses bagi diri sendiri. Sukses untuk menggagalkan asumsi bahwa saya tidak mampu menulis. Jadi, mengapa puisi harus menjadi harga kecil jika pengaruhnya sangatlah mewah? Anda bisa? Mulailah menulis!
Oleh: Ria Ristiana Dewi
www.perempuan-bermata-elang.blogspot.com

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...