Saya Berpikir, Puisi Menjadi Awal
(Catatan kecil bahagia dengan menulis)
Memahami Proses, Mencari Jati Diri
Saya merasa yakin, Anda tidak akan menemukan tempat di mana Anda berada saat ini melainkan Anda sendiri yang akan mencarinya. Carilah sampai Anda temukan kapan terakhir kali Anda melupakan proses hidup Anda sendiri. Semuanya adalah perjalanan yang harus Anda arungi bersama ombak berikut badainya. Entahlah, apa yang Anda inginkan dari kehidupan Anda saat ini, Anda tidak ingin membaca, Anda tidak ingin menulis. Ini kegagalan proses yang pasti datangnya. Tetapi, Anda selalu mengeluh ketika diminta memaknai perjalanan hidup. Itu karena Anda merasakan proses yang tidak seindah bunga di taman kota. Alahai, memang tak semudah berucap dengan lisan.
Diri Anda itu minta untuk disentuh rapi. Mata, mulut, telinga, hidung, tangan, kaki, kepala adalah saksi betapa proses hidup Anda akan menjadi garapan sejarah usang tanpa dimaknai. Mengapa Anda ragu untuk menuliskan proses hidup Anda? Saya pikir, di sinilah awal mulanya.
Sukses dari Membaca dan Menulis
Saya tidak ingin mempersulit proses yang harus dilalui. Namun, untuk “sukses” memang harus melalui sebuah proses yang tak sederhana. Hipotesa yang saya dapatkan di lapangan menunjukkan bahwa 80 persen anak-anak Indonesia malas membaca dan menulis. Inilah proses yang harus dilalui sesungguhnya. Hasilnya, tak sedikit yang mengalami kemunduran kreativitas. Mengapa kemunduran? Artinya ada proses yang menurun? Ya! Ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Salah satunya, anak-anak diperdaya oleh kecanggihan zaman: bermain games di laptop, tablet, dan handphone.
Setiap orang ingin menjadi sukses. Kategori manusia sukses itu sendiri sangat relatif, tergantung dari mana kita memulainya. Menjadi sukses tidak hanya semasa hidup, tapi juga dibawa hingga kehidupan yang lainnya, kehidupan di mana semua amal perbuatan kita akan diperhitungkan. Salah satu yang akan kita bawa nantinya, tentu ilmu yang bermanfaat. Bagaimana bisa pemikiran kita akan terbuka ke wadah yang lebih luas jika kita sendiri tidak mulai mencari jalan ke arah wadah itu. Tapi, apa yang ingin kita wadahi? Tulisan? Ya! Tentu saja kita ingin menjadikan gagasan kita diterima banyak orang, namun kita tidak memiliki wadah untuk memulainya. Maka, mulailah menulis! Sepanjang apa kamu menulis, seluas itulah kamu melangkah. Kamu akan pergi ke manapun yang kamu inginkan. Menulislah semasa kamu hidup, jadikan hidupmu bersejarah, penuh arti, diingat orang lain. Harga dari gagasan yang kita keluarkan adalah awal menuju manusia yang percaya diri.
Mengeluarkan gagasan dengan menulis sesungguhnya menjadi pintu gerbang kita untuk mendekatkan diri dengan lingkungan sosial. Tentu saja gagasan adalah harga yang cukup mahal. Sementara itu untuk mulai menulis, diperlukan wawasan dengan membaca sebanyak mungkin. Inilah yang menjadi pagar hitam, seolah-olah kita terkurung dalam penjara yang bernama “malas membaca”. Kita selalu berpesan bahwa saya tidak sempat untuk membaca, apalagi menulis. Alahai, sungguh kata-kata itu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi dunia kreativitas. Padahal, dengan menulis walau hanya lima menit, Anda sedang menginvestasikan kualitas hidup yang sesungguhnya. Sebagai contoh, tulisan saya ini, saya tuliskan saat anak saya masih tertidur pulas dan pekerjaan rumah sudah hampir beres, tentu sebelum ia terbangun. Saya coba membuka laptop pelan-pelan, membuka file-file lama. Saya ingat bahwa kemarin saya baru mendapat tantangan dari salah seorang teman agar mengirimkan beberapa tulisan terbaik. Tapi saya tidak sedang ingin membuat cerita pendek seperti yang selama ini saya tekuni. Akhirnya saya memutuskan untuk menyambung tulisan ini—yang mana telah saya tulis sebagian pada bulan Januari 2016 lalu. Berangkat dari alasan inilah, saya merasa Anda tidak perlu menulis dengan cara langsung menuntaskan tulisan saat itu juga. Kesimpulannya, jangan sesekali membuang file-file lama meskipun Anda masih malas untuk menulisnya kembali.
Belajar sebuah kesuksesan tidak perlu berandai bahwa suatu saat Anda akan menjadi orang kaya raya, memiliki harta berlimpah hingga tujuh turunan hingga hari kematian Anda cukup menenangkan. Menjadi sukses cukup dengan berhasil mengendalikan diri Anda untuk bisa menyumbang sebuah tulisan, membaca hasil gagasan orang lain, dan menginspirasi orang lain pula.
Kini, jika Anda telah menulis, mulailah dengan menuliskan sebuah catatan kecil yang mencurahkan isi hati Anda. Di sinilah ruh puisi menjadi salah-satu alasan untuk mengatasi betapa waktu telah memperdaya Anda dengan kesibukan yang tidak beralasan.
Saya Menulis Puisi, Lalu Anda Menulis Apa?
Dengan lagak sombong seolah telah memiliki uang miliaran rupiah, saya ingin berkata, “Saya menulis puisi, lalu Anda menulis apa?”
Alahai, betapa kayanya saya karena telah menjadi seorang penulis walau hanya menulis puisi. Betapa bahagianya saya bisa mencoba untuk menulis walau hanya sebatang pena. Sebuah alasan mengapa saya menjadi begitu berharga setidaknya bagi diri sendiri hingga saat ini.
Tahukan Anda sebelum saya menulis esai ini, beberapa tahun yang lalu, saya menulis puisi. Dan tahukah Anda? Ketika itu, tulisan saya dibaca oleh seorang dosen yang sangat saya hargai jasa-jasanya. Pertama kalinya beliau membaca tulisan saya, beliau berkata, “Gak enak!” hati kecil kecewa, di sisi lain merasa tertantang. Saya membuat beberapa tulisan lagi dan seperti biasa, jawaban beliau tetap, “Gak enak!”
Tapi menyerah bukan kata kunci sukses. Saya mencoba lagi, dan akhirnya beliau meminta saya membacakan puisi saya sendiri pada acara baca puisi di depan rel kereta api, dan menghadap jalan raya. Saat itu, yang terlintas dalam pikiran saya adalah sebuah kebahagiaan. Pertama kalinya saya merasa dihargai dan menjadi seseorang yang sukses bagi diri sendiri. Sukses untuk menggagalkan asumsi bahwa saya tidak mampu menulis. Jadi, mengapa puisi harus menjadi harga kecil jika pengaruhnya sangatlah mewah? Anda bisa? Mulailah menulis!
Oleh: Ria Ristiana Dewi
www.perempuan-bermata-elang.blogspot.com
Friday, August 5, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...
No comments:
Post a Comment