Lelaki itu bukanlah metafora
namun kamu tetap katakan ia adalah gila
lelaki itu datang secara ilmiah
namun kamu katakan ia adalah sihir
lelaki itu tidak membawa nisbi
namun kamu katakan ia adalah kebohongan
lelaki itu tidaklah merugikan
namun kamu katakan ia jelma iblis yang datang
lelaki itu hanya diam
namun kamu katakan ia berkata-kata
lelaki itu hanya berjalan
namun kamu katakan ia telah melangkahi mayit dengan kuda
lelaki itu hanya mengulurkan tangan
namun kamu katakan ia mendorongmu jatuh
Lelaki itu mengatakan dengan lisan yang fasih
namun kamu berkata dengan gagap
lelaki itu adalah garis
namun kamu mencoret
lelaki itu warisan
namun kamu menyembunyikannya
dan kamu tak mampu
lalu kamu yang merasa mampu
lalu kamu hilang dalam malam sunyi
sesekali sunyi hanyalah kepedihan
lelaki itu semakin jauh
lalu kamu berbisik sendirian
ketika ia hilang
kamu tak melihat apa-apa
Wednesday, April 22, 2020
Tentang Dustamu
Ia selalu mengatakannya
dan kamu gelisah
kamu darah suci
sementara kata-kata itu
mengotori kesucianmu
kamu senantiasa gelisah
gelisahmu seperti "sudah-sudah"
semakin itu karena:
"Ia selalu mengatakannya"
semakin kamu gelisah
karena "katakata" itu mencoret keinginanmu
meski keinginanmu tidaklah benar
dan ia terus mengatakannya
dan kamu terus gelisah karenanya
gelisahmu membangunkan amarah gunung-gunung
gelisahmu membuat panas dalam bumi bergejolak
dan gelisahmu adalah kenyataan
kata-katanya terus gema di kepalamu
dan kamu diikat oleh itu
ditutup oleh itu
ditinggalkan oleh itu
gelisahmu benar
dan gelisahnya telah datang
dan kamu gelisah
kamu darah suci
sementara kata-kata itu
mengotori kesucianmu
kamu senantiasa gelisah
gelisahmu seperti "sudah-sudah"
semakin itu karena:
"Ia selalu mengatakannya"
semakin kamu gelisah
karena "katakata" itu mencoret keinginanmu
meski keinginanmu tidaklah benar
dan ia terus mengatakannya
dan kamu terus gelisah karenanya
gelisahmu membangunkan amarah gunung-gunung
gelisahmu membuat panas dalam bumi bergejolak
dan gelisahmu adalah kenyataan
kata-katanya terus gema di kepalamu
dan kamu diikat oleh itu
ditutup oleh itu
ditinggalkan oleh itu
gelisahmu benar
dan gelisahnya telah datang
RENCANA ITU TIDAK UNTUKMU
Rencana itu memang pernah ada
namun rencana itu tak pernah sampai kepadamu
jikapun kamu ingin mengetahui
maka kamu harus mampu membaca metafora
dan mata yang buta takkan mampu membacanya
rencana itu memang pernah ada
namun rencana itu lari karena kedustaanmu
ia hanyalah berupa metafora agar kamu bertanya-tanya
dan ketika kamu mencarinya kamu jadi tersesat selama-lamanya
rencana itu sudah terjadi dan memang terjadi
namun ia adalah metafora
dan kamu tidak akan mampu membaca metafora
karena kamu tak mengenal simbol sejak kamu menjadi buta
rencana itu adalah jalan ke negeri yang jauh
dan kamu harus berlari hanya untuk menemuinya
sementara mereka yang dsana telah bersenang-senang
rencana itu dekat di depan matamu
namun kamu takkan mampu memeluknya
meskipun ia disebelahmu
namun rencana itu tak pernah sampai kepadamu
jikapun kamu ingin mengetahui
maka kamu harus mampu membaca metafora
dan mata yang buta takkan mampu membacanya
rencana itu memang pernah ada
namun rencana itu lari karena kedustaanmu
ia hanyalah berupa metafora agar kamu bertanya-tanya
dan ketika kamu mencarinya kamu jadi tersesat selama-lamanya
rencana itu sudah terjadi dan memang terjadi
namun ia adalah metafora
dan kamu tidak akan mampu membaca metafora
karena kamu tak mengenal simbol sejak kamu menjadi buta
rencana itu adalah jalan ke negeri yang jauh
dan kamu harus berlari hanya untuk menemuinya
sementara mereka yang dsana telah bersenang-senang
rencana itu dekat di depan matamu
namun kamu takkan mampu memeluknya
meskipun ia disebelahmu
Ini Kelender Puisi
Beberapa kelender hilang senyap
sejumlah harapan tergantung di paku dinding
sembari hilang dalam kejapan
tubuh yang hilang dan puisi yang malang
kelender meringis di atas atap
menghitung denting akibat rintik
yang hujannya malu bertandang
beberapa kelender hilang tak berjejak
seperti meninggalkan daun yang terbawa arus
petang menjadi pagi
dan wajah puisi kehilangan lirik
ini kelender puisi
yang jejaknya dibawa takdir
dan angka-angkanya nisbi
serupa tahun-tahun silam
tapi tak sebaik itu atau kemudian
ini kelender puisi atau "isi hati"
sejumlah harapan tergantung di paku dinding
sembari hilang dalam kejapan
tubuh yang hilang dan puisi yang malang
kelender meringis di atas atap
menghitung denting akibat rintik
yang hujannya malu bertandang
beberapa kelender hilang tak berjejak
seperti meninggalkan daun yang terbawa arus
petang menjadi pagi
dan wajah puisi kehilangan lirik
ini kelender puisi
yang jejaknya dibawa takdir
dan angka-angkanya nisbi
serupa tahun-tahun silam
tapi tak sebaik itu atau kemudian
ini kelender puisi atau "isi hati"
berlalu lah secepat hitungan sekon
seperti kedatanganmu, maka pergi dan benar pergilah dengan hitungan sekon
kepala jadi taruhan
masa depan jadi buntut kekeliruan
atau apa'
kepala jadi taruhan
masa depan jadi buntut kekeliruan
atau apa'
Kehilangan diri sendiri
Kehilangan adalah hal biasa. Namun, kehilangan diri sendiri adalah menemukan bencana pikiran yang luar biasa. Hari di mana wabah melanda, di mana aku harus berjuang dengan diriku sendiri dan di mana aku banyak kehilangan kata-kata hanya untuk menjadi manusia membosankan. Pertama kalinya aku merasa puisi tak mampu menampung jiwa dan kata-kata menjadi rasa sakitan dalam dada. Betapa luar biasanya kondisi ini dan betapa menjemukannya. Aku harus bisa karena banyak orang telah bisa. Aku harus mampu karena banyak orang yang berusaha mampu. Aku harus bersyukur karena banyak orang yang tak tahu apa itu kata syukur. Aku harus berupaya dan benar-benar berupaya.
Tiba-tiba
dadaku hampa dan jiwaku kaku
dan sejenak mimpiku rapuh dan gugur air mata
semua yang berdiri terhentak dan tak mampu berjalan
benar, aku yang kehilangan diri sendiri
ingin mati atau hati atau ini memang jari
Tiba-tiba
dadaku hampa dan jiwaku kaku
dan sejenak mimpiku rapuh dan gugur air mata
semua yang berdiri terhentak dan tak mampu berjalan
benar, aku yang kehilangan diri sendiri
ingin mati atau hati atau ini memang jari
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...