Saturday, June 29, 2013

Medan Bisnis, 30 Juni 2013



Dua Daun Magenta
Oleh: Ria Ristiana Dewi


            Bermata magenta, kau sisir matahari tengah cengkrama dan berkata perihal daun-daun. Dengan mata magenta, kau duduk di halte tua, menunggu kedatangan malam yang berganti pagi. Kau tak beranjak barang satu atau dua jam. Hari itu, kau buat dirimu menunggu. Hingga matamu magenta dan aku pun akhirnya memilih untuk memanggilmu dengan sebutan itu. Hingga kini, aku mengenalmu begitu. Ya! Magenta...
            “Magenta!”Aku panggil kamu dengan lirih. Kau alihkan pandang pada daun gugur, menyisir angin seolah-olah mendengarkan suaraku. Memanggilmu, hanya itu yang dapat aku lakukan dan kau selalu bergidik memenuhinya. Magenta, jika aku bersuara dan kau mendengar, dengarkanlah...
            Kemarin malam ada sepasang merpati menjengukku di rumah. Aku tengah duduk di teras, menunggumu memilih daun-daun di bawah cemara, menuliskan kata rindu. Entah sudah berapa kali. Namamu tertera begitu ilu, menyengat dalam dadaku. Sudah berapa lama kita tak bertemu, begitulah aku menghitung daun-daun yang tumbuh pada pohon cemara di depan rumah. Magenta.. aku hanya punya daun dan dengan ini bisakah kau menikah denganku? Kataku masih membicarakanmu, berkabar dengan angin. Ada sambutan hembus dua hembus angin bulat dan menghilang. Membawa kabar yang hendak kau dengar. Aku sedang mempelajari caranya, percayalah! Aku sedang mempelajari bagaimana menjadi lelaki yang romantis. Aku sedang bergumam pada dua daun di tanganku lalu menuliskan namamu di keduanya. Untukmu satu dan dua. Magenta... aku seperti menunggumu, seperti benar bahwa kau akan datang dengan sendirinya. Tak ada yang bisa aku lakukan. Pagi itu semakin berkabut saja dan  malam semakin garangnya. Begitulah sehari itu aku belajar menjengukmu dan kau mendengarkan kata rindu dariku.
            Hari ini menginjakkan kakinya dalam tempo tujuh tahun. Tentu bukan waktu yang sejenak dalam batinmu, menunggu dalam kalbu, menghitung daun-daun yang gugur di bawah pohon- pohon cemara. Menyimak angin dan menjadikannya suara yang berkata, akan ada yang datang. Sebentar... sebentar lagi. Bukan aku tak tahu menahu tentang penungguanmu itu. Aku paham benar. Tujuh tahun adalah waktu yang berarti.  
            Daun gugur di kota Mukalla, tanda musim gugur yang hadir saat aku duduk di teras rumah. Beberapa hari aku sibuk menyiapkan kata-kata, aku sibuk menegur daun, aku sibuk membereskan  batin, aku tengah disibukkan dengan benak-benak yang berkelakar. Di Hadhramaut Mukalla, Yaman, aku beranjak membawa ijazah yang lama aku dan kau nanti. Tak sabar dadaku berkabar. Lalu, di depan rumah aku hembuskan napas panjang, menyimakmu dalam hembusan angin.
            Kira-kira seperti inilah perkataannmu, “Akan aku  nanti kamu, aku menanti dengan senyum paling indah.”
            Magenta, sudah lama aku tak mendengarkan kata-katamu bahkan aku seperti belajar kembali mengumpamakan suaramu dalam telingaku. Di benakku, suaramu yang terindah. Aku memilihmu menjadi calon istriku. Aku ingin kau tahu, aku akan pulang dengan satu  likaran cincin. Aku hanya ingin kau simak baik-baik, aku tak pernah melupakanmu barang satu atau dua jam yang selalu kau pungut di halte tua.
            Beberapa hari lagi, aku akan meninggalkan Kota Mukalla, kota yang selama ini kukenal bermata tajam, menyorotiku, seorang pejuang dari Indonesia, mencari ilmu, meneguk pengalaman yang indah dalam dunia yang luas. Tahukah kau, Magenta, kota ini seolah-olah ingin mencekamku. Setiap aku berjalan, aku menghitung sudah berapa ayat yang kupelajari, sudah berapa kata yang aku simak, sudah berapa kali aku berdoa, sudah berapa kali aku mempersiapkan untuk menghadapi ujian demi ujian.
            Aku masih ingat saat ibunda menangis dan memelukku lalu memberikan nasihat-nasihat panjang dan berarti. Ia mengecupku tepat di kening seraya berdoa untuk kesuksesanku. Entah berapa lama aku mencoba untuk ingat apa yang ia pesankan. Doamu dan doa ibulah yang membuat aku bertahan.
            Di Rayyan Airport, Mukalla, Yaman, aku duduk tengah menunggu pesawat yang akan membawaku kepadamu. Lantas aku mengingat-ingat sampai aku belajar bagaimana caranya dapat aku menegurmu. Di ruang tunggu itu, aku masih memegang cincin yang aku takkan meletakkannya di dalam tas, agar saat aku turun dan melihat matamu yang magenta, akan langsung aku genggam tanganmu dan kukenakan ia di jari indahmu. Magenta, sudah lama kita berpisah. Aku masih ingat saat kita bertemu di halte tua. Malam itu sepi bergelanyut di dadamu. Aku menyimak matamu, merah seperti tengah menangisi sesuatu. Kau bercerita panjang lebar tentang kepergian dan kepulangan. Kau merindukan ayah dan ibumu, yang di panti asuhan kau tak menemukan kedua mata magenta yang sekarang kau miliki di dalam matamu. Magenta, di halte tua aku memungut tanganmu dan untuk terakhir kali setelah kita berkenalan dan bercanda remaja, aku hendak pergi mencari ilmu, kau dengan senyummu meski tetap matamu yang magenta, berkata bahwa kau akan menungguku. Bukan barang satu dua kali akun menikmati kebahagiaan itu, setiap aku harus mengingat-ingatnya aku jadi menemukan ruhku yang berdiri tegak dan tak hendak menyerah. Beberapa kali kepulangan dengan kegagalan selalu menghantuiku. Kau tahu hal itu. Aku selalu menceritakannya padamu, selalu!
            Beasiswa adalah rangkaian bunga paling membanggakan dalam hidupku sekaligus meski aku memenuhi syarat. Kita sudah pernah berdebat. Ya, aku masih ingat!
            “Bagaimana jika kau dipulangkan sebelum ijazah kau genggam? Tidak mudah hidup di sana!”
            “Aku akan selalu menghadapi ujian demi ujian dan setiap itu pula aku akan berhasil. Percayalah!”
            Meskipun hatiku berdebar, berdenyut hebat, darah pun mengalir sangat cepat, seolah-olah aku benar-benar gugup. Aku tetap menyakinkanmu bahwa akan ada yang aku bawa pulang. Daun-daun di matamu berguguran seperti akan berganti esok dan esoknya dengan guguran yang sama. Magenta, aku hanya punya cincin ini dan dengan tanpa mengurangi rasa kasihku, selebihnya aku hanya punya daun-daun. Hanya ada dua daun di tanganku yang siap aku serahkan kepadamu. Yang keduanya memiliki sejarah dalam guguran cemara di depan rumah sewaku aku di Mukalla, Yaman.
            Daun yang pertama adalah ijazah yang aku persiapkan mencari kerja di tanah air. Ketika hendak pulang dan menunggu pesawat di ruang penungguan, aku sudah memikirkan apa yang bisa aku lakukan di tanah air. Di Mukalla, aku bekerja di sebuah rumah makan, aku selalu terlambat sebab setiap malam adalah waktu yang kupakai untuk menghapal mata kuliah esok. Sementara itu, aku harus bertahan. Uang beasiswa tidak sepenuhnya menjanjikan kehidupanku.
            Aku bekerja sebagai apa saja yang halal. Pernah suatu kali, aku bekerja sebagai pembantu di rumah salah seorang rumah tangga di Mukalla, aku juga menjadi supir angkutan, menjadi pengangkut barang-barang bagi orang-orang kaya. Setiap kali mereka melihatku, dengan perawakan kulit kuning langsat dan tubuh tidak terlalu tinggi, mereka akan paham, akan mengerti, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan itulah, aku menyerahkan daun kepadamu, dengan keberanian dan doa.
            Daun yang kedua, aku sudah menghapal dengan khusyuk, sudah berapa banyak yang akan aku pelajari untuk menjadi imam yang baik bagimu. Bagaimana caranya memberikan nasihat jika istriku salah, bagaimana caranya menasihati diriku sendiri pun jika aku yang salah, bagaimana caranya agar dapur terus mengepul, agar kau merasa nyaman dan berkecukupan, bagaimana caranya aku dan kau membina anak-anak kita kelak dan menjadi penghuni surga.
            Magenta, bisakah kau tunggu aku di sana. Meskipun dua daun itu gugur di matamu setelah aku menaiki pesawat dan tersenyum, lalu delapan jam perjalanan yang aku janjikan kepadamu, kau tak menemukanku. Maapkan aku, Magenta, kau harus menungguku di halte tua. Aku akan terbang, ingin kembali, namun kehendak Tuhan mengatakan lain. Magenta, aku melihatmu dan ingin kau berdiri. Bisakah kau mendengarkan suaraku di antara daun-daun yang berguguran?
Serambi Kompak, 7-9 Mei 2013

Tuesday, June 25, 2013

Cerpen, Mimbar Umum, 23 Juni 2013



Pelukan Tangis

Beberapa kali dalam satu malam suaramu tak habis mengucapkan kalimat-kalimat tangisan dan aku hanya bisa mencoba untuk memahamimu. Namun malam itu, aku tak bisa. Entahlah, dengan deru-deru yang panjang, tangismu meleleh seperti tertahan selama bertahun-tahun. Aku ingin mencoba memahamimu. Percayalah...
“Aku tak ingin menangis, tapi bisakah kau menghentikan tangisku?” katamu sambil terus mengusap air mata di pipi. Dan, masih terus kucoba untuk memahamimu kembali.
“Aku tidak tahu!” kataku mencoba memahamimu kembali lagi, meskipun kau tahu aku terlalu panik untuk menyikapi ini. Hingga aku mungkin takkan pernah paham. Dalam mimpi-mimpi yang terpasung diingatanmu, kau selalu mencurahkannya padaku. Setiap kali kau curahkan, aku tak mengerti mengapa kau menangis. Padahal, menurutku, beberapa hal yang kau katakan, tidak untuk mengakibatkan tangis-tangis panjang seperti ini.
“Mungkin akhir-akhir ini mimpimu ada yang aneh?”
“Tidak ada yang aneh, Pram!”
Sementara tangismu menderu dengan perlahan, namun perlahan-lahan menjadi begitu kencang. Aku tak bisa benar-benar memahamimu. Semestinya kau selalu bisa mengatasi apapun yang membara di dadamu.
Setiap malam, ada angin di pintu masuk kamar sewa ini akan begitu riuh mesra di bulu kuduk kita. Dan kau selalu bercerita banyak hal padaku. Suatu waktu pula, kau pernah pergi ke suatu tempat yang paling kau cintai. Katamu, di sana seorang lelaki selalu menunggumu. Ia adalah sosok yang kau kenal—pertama kali tentang cinta dan sajak-sajak. Kau berkata bahwa kau sendiri tidak pernah mengenal lelaki dengan sajak-sajak sebelumnya. Saat kau mengenalnya, ada cerita pendek yang timbul dan tenggelam. Di bagian yang paling baik dan cerahnya, ia, yang kau sebut lelaki sajak selalu memujamu dan menjadi bagian paling gelisah di dadamu adalah ketika ia mengucapkan kata cinta di saat cinta bukan untuk dikatakan waktu-waktu tersebut. Kau, dengan gelimu sendiri mengucapkan penuh kebanggaan bahwa “Aku berhasil dicintai”. Entahlah, kebanggaan seperti apa? Namun, saat aku melihat matamu yang berkaca-kaca dan lagi-lagi melelehkan air mata itu, seolah-olah ada rasa amuk yang dahsyat tengah kau simpan dan kau lipat baik dalam kenanganmu. Mungkin, sebuah tawa yang paling kau nikmati.
Malam itu, menjadi malam  yang begitu panjang. Di kota Medan, hal ini menjadi yang paling wajar. Pasalnya, cinta akan timbul di waktu-waktu yang tak pernah kau sangka-sangka. Kita selalu menatap ke depan, di pintu masuk kamar sewamu. Agar tak ada yang mengira bahwa kau wanita malam, katamu berkali-kali.
“Aku ini wanita baik-baik,” katamu lagi untuk lebih menyakinkanku selama lebih kurang dalam lima tahun kita saling mengenal. Namun, saat mengatakan hal itu pun kau selalu saja menangis. Berada di sisimu semalaman ini membuatku seperti berada di dalam tumpuk percikan sungai yang alirannya deras dan menemukanku tenggelam dalam arusnya. Jika kau adalah sungai, maka aku sangat ingin menyampanimu dengan cinta. Ah, terlalu!
“Kau itu temanku. Dan jangan katakan hal lain selain itu.” Begitulah selalu dan selalu.
Pintu masuk kamar sewamu  telah kau tutup. Kini tangismu menderu seperti guncangan yang dahsyat di dalam sebuah tong air, ingin keluar. Ketika aku mengendari sepeda motorku dan memikirkan tangis-tangis panjangmu, aku selalu tampak menjadi pengkhayal yang paling misteri. Hidupku telah kau kuasai, dan jalanku terpasung dalam mimpi-mimpimu. Dan, begitulah.
            Selagi aku memikirkanmu, aku tak tahu ke mana perginya kesadaranku. Aku seperti ingin menabrak siapapun, ingin mengamuk, ingin mencederai, dan aku seperti seorang pecandu tangismu yang paling tidak waras. Bahkan, aku tak menyadari bahwa di depanku telah tergeletak seorang anak yang darahnya tak mau berhenti. Anak itu terpental. Persisnya, aku tengah melamun saat itu, aku menyalahkanmu sebagai tokoh dalam khayalanku, hingga kini aku menbrak seorang anak tak bersalah. Entahlah, persetan dengan tangis-tangismu itu!
            Dan begitulah. Tangismu selalu mempersulit kesadaranku. Di dalam sel, aku masih sempat mendengar tangismu itu. Entahlah...
            Dahulu, tangis itu adalah tangis yang paling kau cintai. Pasalnya, dengan tangis-tangis yang kau punya, kau mampu menyewa rumah hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Di saat usiamu mencapai 15 tahun, kau masih begitu manis dan segar untuk menjadi seorang pekerja yang handal sehingga kau tak mampu menunjukkan cantiknya paras wajah atau hatimu.
            Kau selalu menikmati hasil-hasil dari tangismu. Saat kau akan dipecat karena perlakuanmu yang menodongkan pisau ke perut salah seorang pelanggan, bahkan tangismu kembali menolongmu. Kau terduduk tunduk dan merengek hebat, menarik-narik ujung pakaian bosmu, kau katakan bahwa kau akan membayar kerugiannya dua kali lipat asalkan kau tak akan dipecat. Sebab dari pekerjaan itulah, kau bisa menyewa rumah itu. Dan dari situlah kau bisa makan minum, ke salon, berjalan-jalan, menikmati dunia yang bagimu, itu perlu kau nikmati. Kau pernah menannyakan padaku, bagaimana caranya menikmati hidup meskipun begitu kau tak pernah menuruti nasihatku. Kau selalu kembali pada keyakinanmu bahwa tangis-tangis yang kau punya adalah kebahagiaan terbesarmu.
            Kini, setelah aku melangkah keluar dari sel dan kembali mendengar gema hebat dari tangismu di antara tiang-tiang sel yang akan aku lalui, bahkan kau tidak pula datang mengunjungiku. Bagiku, jika kau tetap ingin menjadikan aku sebagai temanmu, yang selalu mencintaimu dan menemani malam-malam sepimu, seharusnya atau setidaknya kau membawakan satu rantang makanan ke sel ini. Bahkan aku mendekam selama sebulan di sini, itu, karena tangis-tangismu yang menyesakkan dadaku. Sungguh menjengkelkan!
            “Sebagai teman, aku akan selalu berada di sampingmu. Percayalah!”
            Tentu saja aku masih ingat kata-katamu itu. Tentu. Dan saat ini, aku seperti mendapat pukulan hebat. Seolah-olah ada benda keras yang jatuh di atas kepalaku dan menyadarkan bahwa itu hanya sepotong kalimatmu.
            Ketika itu, aku melihatmu tengah menangis di balik salah satu tiang rumah sakit. Dengan sangat rapi, kau simpan sebelah wajahmu yang basah itu agar tidak ada satupun yang melihat. Malam tidak diam, tangismu memberisik di telinga, menyusup dan membuatku ingin mengukirnya lalu menjadi prasasti di dadaku. Itulah, pertama kalinya aku melihat dan mendengar tangis-tangismu. Membakar di mataku yang melihat parasmu, syahdu, penuh kekhusyukan. Lantas, bukankah bagi seorang wanita sepertimu adalah wajar jika menangis. Namun, yang paling tidak kumengerti, kau mencintai tangisanmu. Ah, gila!
            Saat itu hingga kini, aku tak pernah mengetahui siapa persisnya namamu. Aku hanya memanggilmu dengan asal saat kita seolah berpura-pura akrab, dan aku datang untuk menjadi bagian paling nyaman di hatimu. Santana! Begitulah aku memanggilmu. Meskipun kau tetap saja menangis, dan teruslah menangis. Ayah dan ibumu telah dipeluk maut, begitu katamu. Dan kini yang kau cintai hanyalah tangisan. Kau tau, dengan tangisanmu itu, kau nyaris saja terbunuh. Lagi-lagi kau berlari menghindari pelangganmu kala itu. Dengan sangat tergesa kau berlari dan tak tahu kalau kau sedang dikejar berpuluh preman yang siap menjadikanmu sebagai wanita paling kasihan, sangat. Kalau bukan karena aku datang dan menarik tanganmu naik ke atas sepeda motorku, mungkin aku takkan bisa lagi menikmati tangis-tangismu itu.
            Tapi enyahlah kau dengan tangis-tangismu itu, aku masih terus mendengarnya meskipun aku telah keluar dari sel dan tengah berjalan menunggu angkutan umum. Aku juga mendengar tangismu saat aku tengah menikmati sebuah lagu di dalam angkutan tersebut. Dengan cepat, kau merobek-robek waktu tenangku. Entah kapan kau akan pergi dan berlalu. Saat itu, kau mengatakan padaku dengan rengekan hebat bahwa kau tak memiliki rumah, maka aku mengusulkan padamu agar menyewa saja di rumah saudaraku. Tentu saja saat itu kau tak memiliki uang sepeserpun. Aku meminjamkan uangku dan kau menuruti janji-janjimu akan mengembalikannya meskipun aku takkan tega. Namun, saat aku menasihatimu agar keluar dari pekerjaan itu, kau tetap saja bekerja. Bahkan ketika nyawamu tengah kalut di tangan kematian dan aku akan selalu berada di sampingmu.
            Persetan! Persetan dengan tangis-tangismu!
            Tangisan itu telah memelukmu bertahun-tahun lamanya. Hingga pada suatu masa kau jatuh dalam pelukan cinta seorang lelaki yang kau sebut pahlawanmu. Saat itu aku ingin menjadi pemarah yang maniak, namun aku hentikan sebab aku sadar bahwa aku hanya ingin kau selalu tampak bahagia. Kau berjanji akan bahagia bersamanya. Di saat usiamu tengah memasuki usia 20 tahun, kau tampak matang akan melepas masa mudamu. Di rumah yang kemudian di sewa oleh suamimu itu, kau tampak bahagia, namun  itu tak lama. Dan kau menangis dengan tersedu-sedu di bahuku, memelukku erat, dan telah menyesal telah menjadi istri kedua. Bersamaku, kau selalu tampak lebih tenang, walau aku tau tidak ada kesungguhan masa tenang di dalam dadamu sendiri.
            Aku mengatakan padamu bahwa sebaiknya kau bekerja dengan halal, maka ketika tak ada satupun pilihan, kau menurutiku dengan baikmu. Kau selalu mengadu padaku bahwa kau bahagia, bahagia telah menemukanku dalam hidupmu.
            Sehingga, pada waktu-waktu tertentu, kita akan menghabiskan waktu bersama-sama. Dan aku selalu mencintaimu semenjak kau menangis di balik tiang rumah sakit itu. Dengan bercerita ringan dan tawa-tawa paksa, kau mengatakan bahwa hidupmu telah dipeluk tangis. Tangis menjadi teman baikmu, kemanapun selalu mengikutimu. Orang tuamu adalah seorang pekerja keras, meninggalkanmu dengan penuh peluh perjuangan. Sementara itu, kau hanya tahu bahwa kau harus makan untuk esok hari dan aku tak tahu setelah itu. Mengapa kau selalu saja menyesak di dalam dadaku.
            Aku telah sampai di rumah sewamu dan aku telah bersiap-siap untuk tidak tertidur dalam tangis-tangismu. Aku telah menyiapkan kata-kataku untuk meminta penjelasan kepadamu, mengapa kau tak pula menjengukku di sel saat itu. Ketika aku selalu saja memikirkanmu dan ingin kau menjadi istriku. Kau menangis dan selalu saja menangis dan mengatakan, kau masih mencintai lelakimu. Kau wanita tangis yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Aku telah bersiap-siap dan aku akan menggedor-gedor pintumu lalu melabrakmu yang tengah berpelukan mesra dengan tangis-tangismu.
            Namun, aku melihatmu dengan terpaksa: terpaksa aku memeluk tangismu selama-lamanya. Abadi, di dalam dadaku. Tersimpan.
            Aku buka pintu rumah sewamu dan kau telah pergi tampa pamit sedikitpun. Aku menangis, menangis, dan menangis.
            Aku mencintaimu, Pram! Aku mencintaimu! Putusilah pacarmu! Aku tak bisa hidup tanpamu! Aku mohon Pram! Jangan permainkan aku lagi!

Saturday, June 22, 2013

Berastagi-At Sibayak International Hotel

Mengunjungi Berastagi tentu saja tidak sekadar menatap pemandangan dan berjalan-jalan, namun juga merasakan pelayanan hotel yang satu ini yaitu International Sibayak Hotel. Bertepatan dengan hari liburan anak sekolah, saya dan keluarga: Mamak, kakak, abg ipar dan keponakan berkunjung menghabiskan akhir pekan di Kota Berastagi. Kota Berastagi yang berjarak kurang lebih dalam tempo 2 jam dari Kota Medan. Memang, Kota ini memiliki daya tarik selain dekat, suhunya dingin, tentu berbeda sekali dengan Kota Medan yang cenderung panas.

Saya dan keluarga berangkat dari Medan pada malam hari. Kami baru sampai jam 9 malam. sesampainya di Berastagi, kami langsung Chek-in. Kamar kami yaitu kamar nomor 2009 dan 2011. Di dalam kamar ini memiliki pemandangan indah yang langsung menghadap ke taman-taman di sekitar Kota Berastagi. Di dalamnya terdapat TV, lemari, dua bed untuk kmar 2009 dan 1 bed untuk kamar nomor 2011. Tadinya, saya ingin menuliskan sesuatu hal sebelum tidur, namun karena kondisi saya yang sudah sangat capek dari Kota Medan--usai bagi rapot siswa dan mengikuti seminar untuk guru-guru hingga selesai jam 5 sore, dan berangkat lagi langsung ke Berastagi malamnya, saya memutuskan untuk tidur. Di pagi hari, tidur saya memang cenderung gelisah. Tentu! sebab udara yang sangat dingin meskipun sudah memakai kaos kaki dan jaket pun selimut.

Saat waktu sudah menunjukkan kami harus segera bergegas untuk sarapan, maka saya dan keluarga pergi ke restoran di hotel ini. Di restoran terdapat berbagai macam menu, seperti nasi goreng, nasi gurih, roti, kopi, teh, jus, bubur ayam, telur dadar dan mata sapi yang bisa dipesanbuatkan dahulu, buah, agar-agar, dan lainnya. Setelah kenyang, saya dan keluarga bergegas untuk ke kolam renang.



Tadinya, saya sudah berencana ingin berenang setelah sekian lama, namun saya urungkan sebab ternyata airnya cukup dingin mengigil. Untuk seseorang yang memiliki tensi rendah seperti saya, tentu saja akan mengakibatkan rasa dingin yang berlebihan di tambah dengan Kota Berastagi yang memang telah dingin, suhunya.

Maka, hanya seorang keponakan saya saja yang bertahan dengan kondisi yang cukup dingin tersebut.

Sunday, June 9, 2013

Menjenguk Taman Sri Deli

Taman Sri Deli di Pusat Kota Medan


Keberadaan Taman Sri Deli memang tergolong langka dikembangkan di Kota Medan. Sebut saja Kota Medan dengan segala macam aktivitas perdagangan dan kesibukan lainnya, telah menjadi salah satu kota supersibuk di Indonesia. Namun, sejalan dengan itu banyak pula berdiri bisnis perhotelan. Salah satunya yang paling banyak dikembangkan adalah terletak di jalan Sisingamangaraja. Di Jalan ini terdapat banyak hotel yang letaknya strategis. Selain dekat dari Taman Sri Deli yang menjual jajakan kuliner, tempat bersantai, dan sesekali ada band-band yang ditampilkan di sana, juga lokasinya dekat dengan mesjid terbesar di Kota Medan yaitu Mesjid Raya dan simbolis Kota Medan, Istana Maimum. 




Kebetulan, beberapa penulis muda di Kota Medan memiliki rencana untuk melakukan kegiatan obrolan sastra ringan di Taman Sri Deli ini. Kami sengaja mengulur waktu dan berbincang sambil meminum beberapa jajakan minuman yang disediakan untuk dijual. Sebut saja saya memesan satu gelas capuccino dingin seharga Rp 8000,00; dan beberapa teman yang lain yang memesan jus dengan harga yang kurang lebih sama. Kalau kita ingin mendapatkan makanan seperti bakso dan moe ayam, sebaiknya menyebrang jalan ke depan mesjid raya yang juga tak kalah ramai dengan menu kulinernya. So, untuk pengunjung dari luar kota, untuk masalah penginapan di sini takkan sulit, di depan Taman ada hotel terdekat yaitu Hotel Madani dengan segala macam fasilitas, juga terdapat plaza Yuki Simpang Raya yang tak kalah menyediakan makanan siap saji, berbelanja tas, pakaian, dan lainnya. 




Saturday, June 8, 2013

Resensi, Medan Bisnis, 9 Juni 2013



MENYAKSIKAN DUNIA DARI BENAK PELAJAR INDONESIA
Oleh: Ria Ristiana Dewi


Judul Buku                  :  Semut Merah 75, Kisah Pelajar  Indonesia di 7 Benua 5 Samudra
Penulis                         : Wenny Artha Lugina, dkk.
Penerbit                       : Galang Pustaka
Kota/Tahun Terbit       : Yogyakarta/2013
Halaman                      : x + 248 hlm

            “Berbagai tantangan dan pengorbanan harus kami lalui. Namun semuanya terasa ringan, mudah, dan lancar karena adanya persaudaraan yang tidak memandang suku, ras, agama, bahkan kebangsaan.” Begitulah pernyataan Hafnidar Hasbi, mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah di Taiwan. Perjuangan mereka tentu saja beragam, mulai dari tidak adanya biaya, sulitnya beradaptasi, hingga masalah untuk tamat dari bangku kuliah. Adapula berbagai macam kesaksian hidup yang mereka alami selama berada di negara-negara tersebut.
Penulis-penulisnya adalah Ahmad Faris (Turki), Andi Liza Patminasari (Perancis), Charolinda (Canberra, Australia), Dewa Gede Sudika mangku (Hawai, USA), Faqih Ahmad (Yaman), Firman Arifandi (Pakistan), Gianvuigi Grimaldi (Jepang), Muhammad Zainudin (Kairo, Mesir), Muhammad Nur (Sudan), Nina Inayati (Australia), Rifki Furqan (Belanda), Susanto (Hindia), Ade Irma Alvira (Rusia), Wenny Artha Lugina (China), dan lainnya. Penulis-penulis di dalam buku ini tentu saja sebagian dari banyaknya pelajar Indonesia yang menulis di luar negeri dan memiliki pengalaman menginspirasi.
Dimulai dari Ade Irma Elvira (Rusia) yang mengawali segalanya dari restu ibu dan menjawab seluruh pertanyaannya dengan tindakan demi tindakan. Kemudian perjalanan Andi Liza Patminasari di Perancis. Perjalanan Andi yang terbilang lain dari mahasiswa-mahasiswa lainnya adalah ia tak lantas menjadi seorang mahasiswa melainkan au pair girl. Mungkin, istilah ini masih begitu asing di benak pembaca. Istilah yang bisa kita temukan jawabannya di dalam buku ini. Yang jelas, Andi tak langsung mengecap pendidikan melainkan sebuah cara lain dengan bekerja, misalnya. Tentu, tujuan akhirnya adalah mendapatkan pendidikan gratis di negara Perancis tersebut. Di Hawai, USA, Dewa Gede Sudika menceritakan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa ke USA. Program yang ia ikuti yang akhirnya membawa ia ke negeri paman Sam. Menurutnya, Amerika Serikat sebagai negara dengan dunia pendidikan nomor satu di dunia itu, tak mungkin dapat ia sia-siakan begitu saja. Awalnya adalah mimpi, kemudian ia menginjakkan kakinya untuk mengubur dunia mimpi itu. Begitu pula yang dialami Charolinda yang tengah kuliah di Australia. Awalnya, ia adalah seseorang yang tak begitu pintar berbahasa Inggris, bahkan ini menjadi kelemahannya, selain tentunya masalah biaya, dan tanggung jawab sebagai anak pertama. Teknik berbahasa Inggris Amerika, Inggris, dan Australia ternyata juga berbeda. Pertama, Charolina mencoba untuk ikut wawancara, namun ia gagal, ya! Karena bahasa Inggrisnya yang belum sempurna. Lantas, setelah ia bekerja sambil mengumpulkan uang, menikah, dan memiliki anak, ia tak luput dari cita-cita awal yaitu kuliah di Australia. Akhirnya, penantiannya selama bertahun-tahun terjawab bahkan ia dan suaminya, keduanya lulus kuliah di Australia. Charolinda menyimpulkan bahwa terwujudnya cita-cita itu hanya perlu waktu yang lebih tepat saja.
Berlanjut pada kisah Faqih Ahmad (Yaman). Faqih merasakan pahitnya perjuangan itu saat ia tengah mengikuti ujian demi ujian di Universitas Al-Ahgaff, Yaman. Kenyataannya, untuk terus bertahan di Yaman, mereka, penerima beasiswa dari negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, Palestina, Suriah, dan lainnya harus lulus dalam setiap ujian yang diadakan tiap semester. Beberapa yang tidak mampu mengikutinya akan langsung dipulangkan ke tanah air masing-masing. Jadi, mereka harus lulus di tiap semester dengan resiko akan langsung dipulangkan jika satu kali saja mereka gagal.
Itulah sebagian dari banyak lagi cerita yang terangkum dalam buku ini. Sayangnya Profil beberapa penulis ada yang tak tertera di dalamnya. Beberapa yang lain tertera di bagian belakang cerita masing-masing. Kata pengantar yang memuat tujuan dan proses kreatif di dalam buku ini juga dinilai masih belum memuaskan. Hanya ada kata pengantar sekadarnya dari Direktur Komunitas Semut Merah 75, Wenny Artha Lugina, dan Koordinator Persatuan pelajar Indonesia Luar Negeri, Zulham Effendi. Beberapa tulisan juga masih ada yang belum memenuhi rasa penasaran pembaca sebab terlalu tanggung atau hanya mengisahkan sepenggal kehidupan saja. Tentu saja, terlepas dari itu semua, buku ia merupakan usaha yang baik dari Komunitas Semut Merah 75 dan PPI untuk memberikan dampak motivasi kepada bangsa Indonesia agar dapat go international.

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...