Dua Daun Magenta
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Bermata
magenta, kau sisir matahari tengah cengkrama dan berkata perihal daun-daun.
Dengan mata magenta, kau duduk di halte tua, menunggu kedatangan malam yang
berganti pagi. Kau tak beranjak barang satu atau dua jam. Hari itu, kau buat
dirimu menunggu. Hingga matamu magenta dan aku pun akhirnya memilih untuk
memanggilmu dengan sebutan itu. Hingga kini, aku mengenalmu begitu. Ya!
Magenta...
“Magenta!”Aku
panggil kamu dengan lirih. Kau alihkan pandang pada daun gugur, menyisir angin
seolah-olah mendengarkan suaraku. Memanggilmu, hanya itu yang dapat aku lakukan
dan kau selalu bergidik memenuhinya. Magenta, jika aku bersuara dan kau
mendengar, dengarkanlah...
Kemarin
malam ada sepasang merpati menjengukku di rumah. Aku tengah duduk di teras,
menunggumu memilih daun-daun di bawah cemara, menuliskan kata rindu. Entah
sudah berapa kali. Namamu tertera begitu ilu, menyengat dalam dadaku. Sudah
berapa lama kita tak bertemu, begitulah aku menghitung daun-daun yang tumbuh pada
pohon cemara di depan rumah. Magenta.. aku hanya punya daun dan dengan ini
bisakah kau menikah denganku? Kataku masih membicarakanmu, berkabar dengan
angin. Ada sambutan hembus dua hembus angin bulat dan menghilang. Membawa kabar
yang hendak kau dengar. Aku sedang mempelajari caranya, percayalah! Aku sedang
mempelajari bagaimana menjadi lelaki yang romantis. Aku sedang bergumam pada
dua daun di tanganku lalu menuliskan namamu di keduanya. Untukmu satu dan dua.
Magenta... aku seperti menunggumu, seperti benar bahwa kau akan datang dengan
sendirinya. Tak ada yang bisa aku lakukan. Pagi itu semakin berkabut saja dan malam semakin garangnya. Begitulah sehari itu
aku belajar menjengukmu dan kau mendengarkan kata rindu dariku.
Hari
ini menginjakkan kakinya dalam tempo tujuh tahun. Tentu bukan waktu yang
sejenak dalam batinmu, menunggu dalam kalbu, menghitung daun-daun yang gugur di
bawah pohon- pohon cemara. Menyimak angin dan menjadikannya suara yang berkata,
akan ada yang datang. Sebentar... sebentar lagi. Bukan aku tak tahu menahu
tentang penungguanmu itu. Aku paham benar. Tujuh tahun adalah waktu yang
berarti.
Daun
gugur di kota Mukalla, tanda musim gugur yang hadir saat aku duduk di teras
rumah. Beberapa hari aku sibuk menyiapkan kata-kata, aku sibuk menegur daun,
aku sibuk membereskan batin, aku tengah
disibukkan dengan benak-benak yang berkelakar. Di Hadhramaut Mukalla, Yaman,
aku beranjak membawa ijazah yang lama aku dan kau nanti. Tak sabar dadaku
berkabar. Lalu, di depan rumah aku hembuskan napas panjang, menyimakmu dalam
hembusan angin.
Kira-kira
seperti inilah perkataannmu, “Akan aku
nanti kamu, aku menanti dengan senyum paling indah.”
Magenta,
sudah lama aku tak mendengarkan kata-katamu bahkan aku seperti belajar kembali
mengumpamakan suaramu dalam telingaku. Di benakku, suaramu yang terindah. Aku
memilihmu menjadi calon istriku. Aku ingin kau tahu, aku akan pulang dengan
satu likaran cincin. Aku hanya ingin kau
simak baik-baik, aku tak pernah melupakanmu barang satu atau dua jam yang selalu
kau pungut di halte tua.
Beberapa
hari lagi, aku akan meninggalkan Kota Mukalla, kota yang selama ini kukenal
bermata tajam, menyorotiku, seorang pejuang dari Indonesia, mencari ilmu,
meneguk pengalaman yang indah dalam dunia yang luas. Tahukah kau, Magenta, kota
ini seolah-olah ingin mencekamku. Setiap aku berjalan, aku menghitung sudah
berapa ayat yang kupelajari, sudah berapa kata yang aku simak, sudah berapa
kali aku berdoa, sudah berapa kali aku mempersiapkan untuk menghadapi ujian
demi ujian.
Aku
masih ingat saat ibunda menangis dan memelukku lalu memberikan nasihat-nasihat
panjang dan berarti. Ia mengecupku tepat di kening seraya berdoa untuk
kesuksesanku. Entah berapa lama aku mencoba untuk ingat apa yang ia pesankan.
Doamu dan doa ibulah yang membuat aku bertahan.
Di
Rayyan Airport, Mukalla, Yaman, aku duduk tengah menunggu pesawat yang akan
membawaku kepadamu. Lantas aku mengingat-ingat sampai aku belajar bagaimana
caranya dapat aku menegurmu. Di ruang tunggu itu, aku masih memegang cincin
yang aku takkan meletakkannya di dalam tas, agar saat aku turun dan melihat
matamu yang magenta, akan langsung aku genggam tanganmu dan kukenakan ia di
jari indahmu. Magenta, sudah lama kita berpisah. Aku masih ingat saat kita
bertemu di halte tua. Malam itu sepi bergelanyut di dadamu. Aku menyimak
matamu, merah seperti tengah menangisi sesuatu. Kau bercerita panjang lebar
tentang kepergian dan kepulangan. Kau merindukan ayah dan ibumu, yang di panti
asuhan kau tak menemukan kedua mata magenta yang sekarang kau miliki di dalam
matamu. Magenta, di halte tua aku memungut tanganmu dan untuk terakhir kali
setelah kita berkenalan dan bercanda remaja, aku hendak pergi mencari ilmu, kau
dengan senyummu meski tetap matamu yang magenta, berkata bahwa kau akan menungguku.
Bukan barang satu dua kali akun menikmati kebahagiaan itu, setiap aku harus
mengingat-ingatnya aku jadi menemukan ruhku yang berdiri tegak dan tak hendak
menyerah. Beberapa kali kepulangan dengan kegagalan selalu menghantuiku. Kau
tahu hal itu. Aku selalu menceritakannya padamu, selalu!
Beasiswa
adalah rangkaian bunga paling membanggakan dalam hidupku sekaligus meski aku
memenuhi syarat. Kita sudah pernah berdebat. Ya, aku masih ingat!
“Bagaimana
jika kau dipulangkan sebelum ijazah kau genggam? Tidak mudah hidup di sana!”
“Aku
akan selalu menghadapi ujian demi ujian dan setiap itu pula aku akan berhasil.
Percayalah!”
Meskipun
hatiku berdebar, berdenyut hebat, darah pun mengalir sangat cepat, seolah-olah
aku benar-benar gugup. Aku tetap menyakinkanmu bahwa akan ada yang aku bawa
pulang. Daun-daun di matamu berguguran seperti akan berganti esok dan esoknya
dengan guguran yang sama. Magenta, aku hanya punya cincin ini dan dengan tanpa
mengurangi rasa kasihku, selebihnya aku hanya punya daun-daun. Hanya ada dua
daun di tanganku yang siap aku serahkan kepadamu. Yang keduanya memiliki
sejarah dalam guguran cemara di depan rumah sewaku aku di Mukalla, Yaman.
Daun
yang pertama adalah ijazah yang aku persiapkan mencari kerja di tanah air.
Ketika hendak pulang dan menunggu pesawat di ruang penungguan, aku sudah
memikirkan apa yang bisa aku lakukan di tanah air. Di Mukalla, aku bekerja di
sebuah rumah makan, aku selalu terlambat sebab setiap malam adalah waktu yang
kupakai untuk menghapal mata kuliah esok. Sementara itu, aku harus bertahan.
Uang beasiswa tidak sepenuhnya menjanjikan kehidupanku.
Aku
bekerja sebagai apa saja yang halal. Pernah suatu kali, aku bekerja sebagai
pembantu di rumah salah seorang rumah tangga di Mukalla, aku juga menjadi supir
angkutan, menjadi pengangkut barang-barang bagi orang-orang kaya. Setiap kali
mereka melihatku, dengan perawakan kulit kuning langsat dan tubuh tidak terlalu
tinggi, mereka akan paham, akan mengerti, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan
itulah, aku menyerahkan daun kepadamu, dengan keberanian dan doa.
Daun
yang kedua, aku sudah menghapal dengan khusyuk, sudah berapa banyak yang akan
aku pelajari untuk menjadi imam yang baik bagimu. Bagaimana caranya memberikan
nasihat jika istriku salah, bagaimana caranya menasihati diriku sendiri pun
jika aku yang salah, bagaimana caranya agar dapur terus mengepul, agar kau
merasa nyaman dan berkecukupan, bagaimana caranya aku dan kau membina anak-anak
kita kelak dan menjadi penghuni surga.
Magenta,
bisakah kau tunggu aku di sana. Meskipun dua daun itu gugur di matamu setelah
aku menaiki pesawat dan tersenyum, lalu delapan jam perjalanan yang aku
janjikan kepadamu, kau tak menemukanku. Maapkan aku, Magenta, kau harus
menungguku di halte tua. Aku akan terbang, ingin kembali, namun kehendak Tuhan
mengatakan lain. Magenta, aku melihatmu dan ingin kau berdiri. Bisakah kau
mendengarkan suaraku di antara daun-daun yang berguguran?
Serambi Kompak, 7-9 Mei 2013







