Empat Pukul Kesunyian
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Hampir setiap waktu sunyi itu mencekam, mengeratkan tangannya
di selingkar leher. Paduan desir angin bersama kehitaman malam menyayat, cahaya
bintang berjatuhan, bayang wajahmu
tergeletak. Aku terhampar menyaksikan, sebagian perasaan mengatakan betapa kau
tega membiarkan sunyi itu berkeliar pada tiap-tiap malam, tiap-tiap mimpi
memimpin, hingga sewaktu bangun tetap sama, tiada siapa-siapa. Dan sebagian
lagi mengutarakan kau selalu meletakkan wajahmu di aroma kerinduan bahwa: kau
ingin tetap untukku, selalu.
Ingatkah kau, aku
pernah memintamu untuk mengikatkan wajah itu di sebuah tiang gantung sepanjang
trotoar agar aku dapat selalu mencaci sekaligus melampiaskan sebuah sunyi yang
merindu di sepanjang jalan. Hingga suatu waktu sunyi itu mencekam, aku melempar
sesimpul senyummu yang tersisa pada wajah di atas tiang gantung. Mungkinkah kau
di situ selalu merajut sunyi beserta segala bentuk kerinduannya.
“Setiap malam,
setiap malam aku takut!”
“Kenapa?”
“Sepi.”
Wajah itu
mengayun-ayun, berbunyi besi yang saling bergesekan. Wajah itu penuh sunyi yang
menyayat di sepanjang ruang. Hembusan angin bertambah riuh, debar jantung tak
karuan. Wajah itu seakan tahu, mengerti arti sunyi. Pekat malam menari-nari
dalam imaji. Aku menarik napas seirama hembusan angin. Sementara itu, Sam duduk
dengan setia di sampingku. Ia terus mendengarkan kisah kesunyian ini. Setiap
malam, kisah itu kubagi kepadanya. Lalu entah mengapa, ia selalu setia
mendengarkan.
Setiap malam, ya,
setiap malam. Wajah itu, wajah kesunyian, bergantung-gantung dan
berpindah-pindah dari satu tiang ke tiang yang lainnya. Menemani langkahku
berjalan sewaktu aku pulang dari kantor pukul 20.00 WIB.
Pukul 20.00 WIB yang pertama,
Pulang dari
kantor, aku berjalan di sepanjang trotoar. Seirama langkah, aku menatap wajah
pada sebuah tiang. Wajah itu wajah seorang wanita paruh baya, belum pernah
menikah. Ya! Usianya berkisar 39 tahun. Lepas senja, ia melangkah manja di pinggiran
jalan sambil menepuk-nepuk pipinya hingga berwarna kemerah-merahan. Pekerjaan
yang sudah lama wanita itu jalankan. Aku heran mengapa masih ada wanita dengan
berpakaian kantoran saat senja telah mendengkur di ranjang malam. Langkahku
semakin pelan seirama niat yang akan kutajamkan untuk bertanya apa yang hendak
ia lakukan saat malam telah berkumandang. Ah, sudah lama aku benam niat untuk
bertanya kepadanya. Sementara itu aku baru saja membeli sebungkus mie dari gaji
pertamaku. Aku akan pulang, membuka sepatu, mandi, menonton TV sambil memakan
sebungkus mie. Namun, akankah ia juga melakukannya seperti aku pada pukul 20.15
WIB?
Lima belas menit aku
masih belum paham. Sengaja kurenggangkan waktu duduk di halte. Ia belum juga
pulang. Hingga pukul 21.15 WIB aku mendatanginya.
“Maap, Mbak!” kataku
sedikit menundukkan kepala untuk bersikap lebih ramah di depannya.
“Ya? Oh, mau Mbak?
Ini brosur....”
“Bukan! Saya...”
“Ya?”
“Mbak sedang apa
ya?”
“Begini Mbak! Saya
sedang bekerja menyebarkan brosur asuransi di jalanan,” katanya sedikit tertawa
ringan sambil menyodorkan brosur di tangannya.
“Asuransi?
Malam-malam? Boleh tahu, Mbak di sini sampai jam berapa? Ah, Eh, maap, saya tak
bermaksud....”
“Tak apa,” wajahnya
di balut sunyi, namun ia pandai menutupi. Bersamaku, wanita ini tak dapat
membohongi diri. Desing mobil masih terlalu ramai, riuh angin malam memeluk
wanita ini. Sejenak kami duduk dan ia bercerita panjang lebar.
“Tidakkah Mbak takut
sakit?”
“Saya tidak tahu.
Yang saya tahu saya perlu uang,” katanya.
Malam kembali
membagi kisah. Jika malam adalah peluang, wanita ini akan membagi gelisah di
sepanjang jalan. Ia akan terus menunggu om-om hingga raut awan begitu pekat.
Saat itulah, sembari berjalan-jalan menaiki mobil om-om tersebut, ia menawarkan
asuransi.
“Mbak tidak takut?”
“Sampai sekarang
mereka tidak berani mengajak saya sampai ke penginapan. Soalnya saya katakan, saya
mengidap HIV,” katanya tertawa dengan sedikit sungging aneh sekaligus sunyi.
Ya! Sunyi yang terus mengeratkan tangannya di selingkar leher wanita itu. Sunyi
yang berpendar di kedua bola matanya. Walaupun begitu, ia masih menganggap
pekerjaannya halal. Siapa yang tahu kalau ia tetap menjaga diri.
Sepanjang jalan, aku
meneguk senyum. Ada-ada saja! Wanita di malam yang berjalan di awan pekat.
Dengan sunyi yang menyayat dan berdendang mengikuti langkah-langkahnya. Seperti
aku, sepanjang trotoar menyimak wajah-wajah sunyi. Angin kian berhembus
kencang, jangkrik bersahutan dengan lantang, gerimis semakin menantang.
Hingga esok,
Pukul 20.00 WIB yang kedua,
Kali ini wajah
kesunyian itu bersiul dari seekor burung, seekor merpati berwarna putih,
memiliki mata merah sedikit berair. Merpati itu sering bertengger di atas tiang
gantung, melengkapi pandanganku terhadap sunyi yang menyayat lebih dalam. Purnama
ikut membedakan malam ini, merpati itu mengepak-ngepakkan sayap sembari
terpengkur. Hati ini tak jelas girang, mengapa pula seekor merpati bertengger
santai pada tiang di atas trotoar. Tidakkah ia memilih mengoyak-ngoyak daun di
atas pohon atau beranjak untuk menemukan sekumpulannya? Langkahku kembali
terhenti, kali ini tanpa sebungkus mie, berdiri menatap burung itu.
Ia adalah seekor
burung, namun tak hendak terbang ke manapun. Kenapa? Bukankah kebebasan adalah
cita-cita?
Burung itu membalas
tatapanku. Meskipun malam, tidak pula menjadi penghalang. Mata merah berairnya
nanar, suasana semakin bercadar. Aku melangkah pergi, ia terpengkur, lalu aku
menoleh kembali, dan ia mematuk-matuk tiang itu. Seakan hendak menyampaikan
pesan. Aku tak jadi, sebab malam semakin tak kepalang, maka aku pulang.
Dalam tidur aku
bermimpi burung itu mengisyaratkan pertemuan. Suaranya hingga membangunkanku
dan aku keluar melihatnya telah bertengger pada tiang listrik yang berada
persis di depan rumah kos. Matanya bisu, tatapan kesunyian. Gemericik air dari
pipa air yang terhubung menuju gorong-gorong menyisir suara malam itu. Cicit
tikus saling berkerjaran menambah gaung kesunyian itu hadir. Tak tertinggal
pula hembusan angin mendesir pelan.
Aku mengusirnya, aku
tak berniat memelihara merpati di depan rumah. Ia tak mau pergi, justru
nanarnya semakin merajai pikiranku.
Esok pagi,
Aku menemukan burung
itu telah tergeletak dengan tubuh terbalik di beranda rumah. Sayapnya telah
terkoyak parah dan matanya yang nanar itu membelalak di hadapanku. Sunyi
mencekam, mengeratkan genggamannya di selingkar leher. Aku menguburnya di bawah
guguran daun pohon mangga.
Satu hari mesti kulupakan saja peristiwa tersebut.
Pukul 20.00 WIB yang ketiga,
Aku kembali
melewati trotoar menuju tempat kos-kosan. Hujan menggerimis memaksa langkahku
untuk semakin panjang. Jilbab yang kukenakan pun terburai seiring angin yang
semakin kencang. Aku merasa takkan sampai kos tanpa kehujanan, maka aku kembali
menunggu hujan reda di halte pinggir jalan. Malam menjadi begitu sunyi dengan
lebih sunyi. Hanya ada suara desau mobil sesekali dan petir bercampur rintikan
hujan, perlahan semakin deras dan semakin lagi. Sesekali pula cahaya kilatan
menyambut aroma sunyi, keberanianku seakan padam sebab malam semakin garang.
Sorotanku menyusur di seberang jalan, dengan jarak pandang semakin rapat
aku melihat wanita paruh baya berpakaian kantor silam membisu sembari berdiri
iri pada hujan yang perkasa. Rambutnya telah basah, pula beberapa kertas yang
ada di tangannya. Perkiraanku ia akan pulang dengan sunyi masih terus mengekor
di belakangnya.
Dengan lebih yakin,
aku melangkah berani sebab kali ini hujan berisyarat lega meski masih dengan
gerimis satu-satu. Layaknya sosok yang ingin tahu, kudekati wanita itu.
“Maap, Mbak! Masih
kenal saya?”
“Kamu...”
Ya! Beberapa menit
kemudian aku kembali mendengarkan kisahnya. Kisah itu masih perihal sunyi yang
mencekam, mengeratkan tangannya di selingkar leher, bergantung-gantung,
terkadang pula melompat-lompat di sepanjang tiang, di sepanjang aku berjalan,
di sepanjang trotoar dari kantor menuju kos.
“Aku membunuh anakku
sendiri. Aku membunuhnya!”
Ia meraung, menangis
di bahuku. Aku merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya. Katanya, ia menutup
kepala sang anak dengan bantal saat malam anaknya tertidur pulas. Katanya, ia
ingin melupakan peristiwa di mana pemerkosaan itu terjadi. Saat ia akan
menawarkan asuransi di jalanan, saat ia akan meraup keuntungan demi
menyembuhkan kedua orang tuanya yang tengah sakit.
“Ayahku hidup, tapi
tak bangun-bangun dari tidurnya! Dan ibuku tak mampu lagi berbicara. Mereka
terkena penyakit kelumpuhan. Sementara itu kedua adikku butuh sekolah! Kau tahu
aku mencarinya!”
“Mencari siapa?”
“Burung merpati!”
“Apa?”
“Burung itu membawa
kesunyian di tiap malam. Aku membencinya!”
“Aku tak mengerti
maksudmu!”
Ia terus menangis,
sementara akal sehatku semakin miris. Burung merpati itu pernah hinggap di
depan rumah kosku dan mati tanpa sebab di beranda rumah. Apa yang mesti kubuat
dengan burung merpati yang juga dipenuhi kesunyian itu, dan, dan wanita yang
diperkosa itu ingin membunuh merpati itu sama seperti ia membunuh anaknya
sendiri.
Pukul 20.00 WIB yang keempat,
Kesunyian itu
semakin mencekam dan menyayat di malam ke empat. Pukul 20.00 WIB, aku berjalan
pulang dari kantor. Tak ada hujan, tak ada wanita itu, tak ada seekor burung
merpati melainkan seorang lelaki. Ia mendatangiku dengan tergesa dan menarik
tanganku dengan memaksa.
“Ikut aku!”
“Sam!”
“Ayo, ikut aku!”
“Ke mana?”
“Memecah kesunyian.
Kau kesunyian kan?”
“Aku tak mengerti.”
“Aku akan membuatmu
tak pernah melupakan kesunyian.”
Lalu ia membawaku ke
dalam semak taman yang berada tak jauh dari jalan. Benar saja ia membuatku tak
pernah melupakan kesunyian. Merpati di taman pun berterbangan. Langit
tersenyum, hujan menggerimis. Dan kini, kesunyian telah mengeratkan tangannya
di selingkar leher milikku. Aku menggamit malam dan pulang dengan sunyi yang
mencekam.
Serambi KOMPAK, 6 April 2012
