Sunday, June 24, 2012

Cerpen, Jurnal Medan, 24 juni 2012


Empat Pukul Kesunyian
Oleh: Ria Ristiana Dewi


Hampir setiap waktu sunyi itu mencekam, mengeratkan tangannya di selingkar leher. Paduan desir angin bersama kehitaman malam menyayat, cahaya bintang  berjatuhan, bayang wajahmu tergeletak. Aku terhampar menyaksikan, sebagian perasaan mengatakan betapa kau tega membiarkan sunyi itu berkeliar pada tiap-tiap malam, tiap-tiap mimpi memimpin, hingga sewaktu bangun tetap sama, tiada siapa-siapa. Dan sebagian lagi mengutarakan kau selalu meletakkan wajahmu di aroma kerinduan bahwa: kau ingin tetap untukku, selalu.
                Ingatkah kau, aku pernah memintamu untuk mengikatkan wajah itu di sebuah tiang gantung sepanjang trotoar agar aku dapat selalu mencaci sekaligus melampiaskan sebuah sunyi yang merindu di sepanjang jalan. Hingga suatu waktu sunyi itu mencekam, aku melempar sesimpul senyummu yang tersisa pada wajah di atas tiang gantung. Mungkinkah kau di situ selalu merajut sunyi beserta segala bentuk kerinduannya.
                “Setiap malam, setiap malam aku takut!”
                “Kenapa?”
                “Sepi.”
                Wajah itu mengayun-ayun, berbunyi besi yang saling bergesekan. Wajah itu penuh sunyi yang menyayat di sepanjang ruang. Hembusan angin bertambah riuh, debar jantung tak karuan. Wajah itu seakan tahu, mengerti arti sunyi. Pekat malam menari-nari dalam imaji. Aku menarik napas seirama hembusan angin. Sementara itu, Sam duduk dengan setia di sampingku. Ia terus mendengarkan kisah kesunyian ini. Setiap malam, kisah itu kubagi kepadanya. Lalu entah mengapa, ia selalu setia mendengarkan.
                Setiap malam, ya, setiap malam. Wajah itu, wajah kesunyian, bergantung-gantung dan berpindah-pindah dari satu tiang ke tiang yang lainnya. Menemani langkahku berjalan sewaktu aku pulang dari kantor pukul 20.00 WIB.

Pukul 20.00 WIB yang pertama,
                Pulang dari kantor, aku berjalan di sepanjang trotoar. Seirama langkah, aku menatap wajah pada sebuah tiang. Wajah itu wajah seorang wanita paruh baya, belum pernah menikah. Ya! Usianya berkisar 39 tahun.  Lepas senja, ia melangkah manja di pinggiran jalan sambil menepuk-nepuk pipinya hingga berwarna kemerah-merahan. Pekerjaan yang sudah lama wanita itu jalankan. Aku heran mengapa masih ada wanita dengan berpakaian kantoran saat senja telah mendengkur di ranjang malam. Langkahku semakin pelan seirama niat yang akan kutajamkan untuk bertanya apa yang hendak ia lakukan saat malam telah berkumandang. Ah, sudah lama aku benam niat untuk bertanya kepadanya. Sementara itu aku baru saja membeli sebungkus mie dari gaji pertamaku. Aku akan pulang, membuka sepatu, mandi, menonton TV sambil memakan sebungkus mie. Namun, akankah ia juga melakukannya seperti aku pada pukul 20.15 WIB?
                Lima belas menit aku masih belum paham. Sengaja kurenggangkan waktu duduk di halte. Ia belum juga pulang. Hingga pukul 21.15 WIB aku mendatanginya.
                “Maap, Mbak!” kataku sedikit menundukkan kepala untuk bersikap lebih ramah di depannya.
                “Ya? Oh, mau Mbak? Ini brosur....”
                “Bukan! Saya...”
                “Ya?”
                “Mbak sedang apa ya?”
                “Begini Mbak! Saya sedang bekerja menyebarkan brosur asuransi di jalanan,” katanya sedikit tertawa ringan sambil menyodorkan brosur di tangannya.
                “Asuransi? Malam-malam? Boleh tahu, Mbak di sini sampai jam berapa? Ah, Eh, maap, saya tak bermaksud....”
                “Tak apa,” wajahnya di balut sunyi, namun ia pandai menutupi. Bersamaku, wanita ini tak dapat membohongi diri. Desing mobil masih terlalu ramai, riuh angin malam memeluk wanita ini. Sejenak kami duduk dan ia bercerita panjang lebar.
                “Tidakkah Mbak takut sakit?”
                “Saya tidak tahu. Yang saya tahu saya perlu uang,” katanya.
                Malam kembali membagi kisah. Jika malam adalah peluang, wanita ini akan membagi gelisah di sepanjang jalan. Ia akan terus menunggu om-om hingga raut awan begitu pekat. Saat itulah, sembari berjalan-jalan menaiki mobil om-om tersebut, ia menawarkan asuransi.
                “Mbak tidak takut?”
                “Sampai sekarang mereka tidak berani mengajak saya sampai ke penginapan. Soalnya saya katakan, saya mengidap HIV,” katanya tertawa dengan sedikit sungging aneh sekaligus sunyi. Ya! Sunyi yang terus mengeratkan tangannya di selingkar leher wanita itu. Sunyi yang berpendar di kedua bola matanya. Walaupun begitu, ia masih menganggap pekerjaannya halal. Siapa yang tahu kalau ia tetap menjaga diri.
                Sepanjang jalan, aku meneguk senyum. Ada-ada saja! Wanita di malam yang berjalan di awan pekat. Dengan sunyi yang menyayat dan berdendang mengikuti langkah-langkahnya. Seperti aku, sepanjang trotoar menyimak wajah-wajah sunyi. Angin kian berhembus kencang, jangkrik bersahutan dengan lantang, gerimis semakin menantang.
                Hingga esok,

Pukul 20.00 WIB yang kedua,
                Kali ini wajah kesunyian itu bersiul dari seekor burung, seekor merpati berwarna putih, memiliki mata merah sedikit berair. Merpati itu sering bertengger di atas tiang gantung, melengkapi pandanganku terhadap sunyi yang menyayat lebih dalam. Purnama ikut membedakan malam ini, merpati itu mengepak-ngepakkan sayap sembari terpengkur. Hati ini tak jelas girang, mengapa pula seekor merpati bertengger santai pada tiang di atas trotoar. Tidakkah ia memilih mengoyak-ngoyak daun di atas pohon atau beranjak untuk menemukan sekumpulannya? Langkahku kembali terhenti, kali ini tanpa sebungkus mie, berdiri menatap burung itu.
                Ia adalah seekor burung, namun tak hendak terbang ke manapun. Kenapa? Bukankah kebebasan adalah cita-cita?
                Burung itu membalas tatapanku. Meskipun malam, tidak pula menjadi penghalang. Mata merah berairnya nanar, suasana semakin bercadar. Aku melangkah pergi, ia terpengkur, lalu aku menoleh kembali, dan ia mematuk-matuk tiang itu. Seakan hendak menyampaikan pesan. Aku tak jadi, sebab malam semakin tak kepalang, maka aku pulang.
                Dalam tidur aku bermimpi burung itu mengisyaratkan pertemuan. Suaranya hingga membangunkanku dan aku keluar melihatnya telah bertengger pada tiang listrik yang berada persis di depan rumah kos. Matanya bisu, tatapan kesunyian. Gemericik air dari pipa air yang terhubung menuju gorong-gorong menyisir suara malam itu. Cicit tikus saling berkerjaran menambah gaung kesunyian itu hadir. Tak tertinggal pula hembusan angin mendesir pelan.
                Aku mengusirnya, aku tak berniat memelihara merpati di depan rumah. Ia tak mau pergi, justru nanarnya semakin merajai pikiranku.
                Esok pagi,
                Aku menemukan burung itu telah tergeletak dengan tubuh terbalik di beranda rumah. Sayapnya telah terkoyak parah dan matanya yang nanar itu membelalak di hadapanku. Sunyi mencekam, mengeratkan genggamannya di selingkar leher. Aku menguburnya di bawah guguran daun pohon mangga.
Satu hari mesti kulupakan saja peristiwa tersebut.

Pukul 20.00 WIB yang ketiga,
                Aku kembali melewati trotoar menuju tempat kos-kosan. Hujan menggerimis memaksa langkahku untuk semakin panjang. Jilbab yang kukenakan pun terburai seiring angin yang semakin kencang. Aku merasa takkan sampai kos tanpa kehujanan, maka aku kembali menunggu hujan reda di halte pinggir jalan. Malam menjadi begitu sunyi dengan lebih sunyi. Hanya ada suara desau mobil sesekali dan petir bercampur rintikan hujan, perlahan semakin deras dan semakin lagi. Sesekali pula cahaya kilatan menyambut aroma sunyi, keberanianku seakan padam sebab malam semakin garang.
Sorotanku menyusur di seberang jalan, dengan jarak pandang semakin rapat aku melihat wanita paruh baya berpakaian kantor silam membisu sembari berdiri iri pada hujan yang perkasa. Rambutnya telah basah, pula beberapa kertas yang ada di tangannya. Perkiraanku ia akan pulang dengan sunyi masih terus mengekor di belakangnya.
                Dengan lebih yakin, aku melangkah berani sebab kali ini hujan berisyarat lega meski masih dengan gerimis satu-satu. Layaknya sosok yang ingin tahu, kudekati wanita itu.
                “Maap, Mbak! Masih kenal saya?”
                “Kamu...”
                Ya! Beberapa menit kemudian aku kembali mendengarkan kisahnya. Kisah itu masih perihal sunyi yang mencekam, mengeratkan tangannya di selingkar leher, bergantung-gantung, terkadang pula melompat-lompat di sepanjang tiang, di sepanjang aku berjalan, di sepanjang trotoar dari kantor menuju kos.
                “Aku membunuh anakku sendiri. Aku membunuhnya!”
                Ia meraung, menangis di bahuku. Aku merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya. Katanya, ia menutup kepala sang anak dengan bantal saat malam anaknya tertidur pulas. Katanya, ia ingin melupakan peristiwa di mana pemerkosaan itu terjadi. Saat ia akan menawarkan asuransi di jalanan, saat ia akan meraup keuntungan demi menyembuhkan kedua orang tuanya yang tengah sakit.
                “Ayahku hidup, tapi tak bangun-bangun dari tidurnya! Dan ibuku tak mampu lagi berbicara. Mereka terkena penyakit kelumpuhan. Sementara itu kedua adikku butuh sekolah! Kau tahu aku mencarinya!”
                “Mencari siapa?”
                “Burung merpati!”
                “Apa?”
                “Burung itu membawa kesunyian di tiap malam. Aku membencinya!”
                “Aku tak mengerti maksudmu!”
                Ia terus menangis, sementara akal sehatku semakin miris. Burung merpati itu pernah hinggap di depan rumah kosku dan mati tanpa sebab di beranda rumah. Apa yang mesti kubuat dengan burung merpati yang juga dipenuhi kesunyian itu, dan, dan wanita yang diperkosa itu ingin membunuh merpati itu sama seperti ia membunuh anaknya sendiri.


 Pukul 20.00 WIB yang keempat,
                Kesunyian itu semakin mencekam dan menyayat di malam ke empat. Pukul 20.00 WIB, aku berjalan pulang dari kantor. Tak ada hujan, tak ada wanita itu, tak ada seekor burung merpati melainkan seorang lelaki. Ia mendatangiku dengan tergesa dan menarik tanganku dengan memaksa.
                “Ikut aku!”
                “Sam!”
                “Ayo, ikut aku!”
                “Ke mana?”
                “Memecah kesunyian. Kau kesunyian kan?”
                “Aku tak mengerti.”
                “Aku akan membuatmu tak pernah melupakan kesunyian.”
                Lalu ia membawaku ke dalam semak taman yang berada tak jauh dari jalan. Benar saja ia membuatku tak pernah melupakan kesunyian. Merpati di taman pun berterbangan. Langit tersenyum, hujan menggerimis. Dan kini, kesunyian telah mengeratkan tangannya di selingkar leher milikku. Aku menggamit malam dan pulang dengan sunyi yang mencekam.

Serambi KOMPAK,  6 April 2012

Saturday, June 9, 2012

MImbar Umum, 9 Juni 2012


Buku Hatiku dan Dia 2
Oleh: Ria Ristiana Dewi

 Gambar oleh Hadi Oki Cahyadi

                Dara...  yang sesungguhnya, aku tak ingin lagi menuliskan sesuatu di buku hati ini. Yang tergerus gelombang amarah, terkapar di aliran yang deras berinisial kekecewaan. Mataku selalu saja ingin membengkak, padahal kau selalu mengatakan,”Ingatlah Abangda, kau adalah lelaki!”
                Entahlah Dara, mungkinkah aku selalu tak mampu memenuhi mimpi-mimpi itu. Kita berlayar di atas kapal kemenangan dan mengibarkan bendera kebahagiaan. Aku tak pernah tahu hendak di mana akan kulabuhkan wajah merah yang terlanjur hanyut terbawa warna kehidupan. Dalam kabar ini, aku sempat membaca perihal dusta. Guruku sempat mengajarkannya padaku saat masih di madrasah dahulu. Aku tertarik menguaknya di permukaan jalan kita. Ini tentang kata-kata yang sempat kau lontarkan,”Janganlah berdusta!”
                Kata-kata itu menyempitkan aliran saraf darah dan jantungku membengkak tak mampu bernapas dengan benar. Aku menariknya pelan-pelan dan berupaya lebih tenang Dara. Jika saja kau tahu bukanlah dusta yang ingin kuciptakan sesungguhnya. Buku hati, aku rindu buku hati ini. Tentang bagaimana kita selalu dibuai rasa marah, kecewa, bosan, bahagia, puas, ataupun kesungguhan hati. Lagi-lagi itulah komitmen! Kau selalu mengajarkan aku arti dari sebuah komitmen.
              Dalam malam yang membersitkan cahaya purnama inilah, aku meletakkan jantungku di atas sebuah daun yang sarafnya menjalar berkelok seperti kehidupan yang tak pernah lurus. Namun di atasnya, jantung itu berdetak begitu kencang hendak menemukan perasaan yang berguncang. Mungkin kau benar, Dara! Tentang apa yang pernah aku berjanji: menjemput perasaanmu yang dilumuri kerinduan tak terkira.
          Setelah aku meninggalkanmu dengan tangis yang dibalut senyum dua bulan yang lalu, aku seperti hidup dalam janji yang kuyakin akan menemui ujung. Keyakinan itu terkikis! Keyakinan itu tipis dan miris. Biarpun guruku lagi-lagi mengajarkan tentang arti sebuah keyakinan:  Allah takkan pernah diam, takkan pernah lengah.
              “Semua kehidupan punya cara masing-masing untuk menemukan kebahagiaannya, Wan!”
              “Wan masih percaya, Wak!” kataku tersenyum.
             Kami duduk, masih di teras yang menjadi teman untukku menuliskan lembar demi lembar buku hati. Malam ini sempurna untuk sebuah perasaan yang membutuhkan cahayanya. Di sinilah aku menuliskannya, Dara....
              “Abangda, seperti apa pohon mahoni itu?”
              “Mahoni? Untuk apa Adinda menanyakannya?”
               “Untuk melihat setangguh apa ia berdiri. Adinda ingin tahu pohon apa yang paling tangguh? Adinda pernah diberitahukan mengenai pohon beringin. Pohon itu tangguh Abangda!”
               “Pohon mahoni tidak selalu tangguh Adinda, begitupun beringin. Adinda harus tahu, masing-masing punya kelebihan.”
                “Apa kelebihannya Abangda?”
             “Buah pohon mahoni mampu dijadikan obat malaria, kayunya yang keras juga berguna untuk industri mebel dan pohon beringin yang tampak lebih besar menjadi sebuah pohon yang rimbun dan melindungi seseorang dari sinar matahari yang menyengat. Cocok diletakkan di sebuah halaman yang luas dan menjadi pelindung kita dari terik cahaya secara langsung, juga akarnya berguna untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit”
                “Begitukah? Pohon pun memiliki tempatnya masing-masing. Allah Maha Adil.”
              Aku mengangguk. Ia menebarkan senyum yang nyaman. Kami di bawah pohon mahoni, di lapangan merdeka yang terletak di pusat kota Medan. Selebihnya aku dan Dara membicarakan pohon pinang, merbau, jati dan lainnya. Entahlah, aku sendiri tak tahu mengapa ia tertarik membicarakan itu. Bila ia dapat kemari, melihat betapa banyaknya jenis pohon di sini. Aku menduga ia lebih senang daripada setiap kali aku hanya mampu melayangkan SMS dan mendengar suaranya lewat percakapan handphone. Terkadang, ingin kutarik suaranya, kumasukkan dalam sebuah plastik, kuikat dan takkan kubiarkan ia berlalu. Ingin aku peluk dalam setiap malam aku tertidur. Mungkinkah aku berlebihan?
                “Biarlah Wan, biarlah kau merasakan terlebih dahulu nikmatnya kehidupan seperti ini. Nanti, saat kau telah meninggalkan hari-hari ini, kau akan merindukannya.”
                Hmm... itu benar.
                Setelah malam itu meninggalkan kerinduan yang begitu... aku menyambung waktu dengan menyiapkan sarapan. Wak bangun, terkejut melihat dua piring nasi, daun ubi rebus, sambal blacan, dan dua ekor ikan sungai yang kugoreng. Aku tak lupa meletakkan satu plastik kecil kemasan kecap yang sempat aku beli di warung kemarin. Sesederhana aku mencintamu Dara, inilah makananku sehari-hari bersama uwak.
                “Mirip sebuah petualangan menjemput bidadari ya, Wan! Aku juga jadi teringat istriku di rumah,” katanya sambil lahap menambahkan kembali nasi dari mangkuk. Wak tak menyadari ia sudah dua kali menambahkan nasi. Ikan yang sudah habis pun tak lagi ia perduli. Biarpun hanya dengan kecap, daun ubi, dan sambal belacan, ia seperti ingin melampiaskan kerinduan yang terlanjur menjadi....
                Dara, takkah kau tahu itu? Mirip Nabi Muhammad yang berusaha menerjang badai di padang pasir saat akan menyebrangkan barang dagangan. Akankah kau juga seperti Khadijah, istri Nabi Muhammad yang gundah dan gelisah. Akankah kau juga memikirkan bagaimana aku berada dalam sebuah petualangan hidup? Walaupun aku belum mampu meminangmu. Biarlah... aku merindukan panutan duniawi kita, Muhammad SAW. Sungguh, Dara! Dan, setelah itu aku menemukan hati dan pikiranku terjatuh dalam kerinduan yang begitu.... Kepadamu.
                Hari ini aku ke kebun. Sebelum ke kebun yang sempat aku janjikan akan menghasilkan mimpi-mimpi kita. Aku memang terlebih dahulu mencari nafkah untuk esok aku memenuhi perut. Bekerja di kebun milik salah seorang di kampung ini. Beberapa hektar pohon cabai terhampar, ini milik orang-orang yang mensyukuri anugerah Allah. Di sudut kebun inilah aku melihat sebuah gubuk. Gubuk yang kemarin belum aku sadari keberadaannya. Aku tertarik ke sana sebelum bertanya. Ah, terbersit olehku bahwa takkan ada yang keberatan. Bila aku dapat sedikit merebahkan tubuh dan meminum sebotol air yang telah kupersiapkan.
                Perlahan, aku melihat jelas pangkal gubuk itu. Namun, kepalaku spontan saja tegak dengan pemandangan di dalamnya. Seorang wanita yang memiliki dagu berbentuk sudut persegi, alis tebal hitam, dan mata menyala tajam menatapku penuh kejut.
                “Apa yang kau lakukan?”
                “Aku?”
                “Kau?”
                Dan, wanita itu mengenakan jilbab berwarna merah darah. Seperti warna yang memang kau gemari, Dara!
                “Dara!”
                “Abangda?”
                Aku masih ingat pula pewarna bibir lembut kepunyaanmu itu. Merah jambu tipis dan berair.
                “Masyaallah. Kau benar-benar Dara?”
                “Wan!”
                Aku berbalik ke belakang. Laki-laki bertubuh tinggi, kurus, berkumis tipis, dan rambut cepak itu mendekatiku.
                “Kholil?”
                “Wan! Maap,” katanya setelah hanya dengan raihan tangan aku mampu mendekap dan memeluknya. Sahabatku di saat suka dan duka.
                “Kau bawa Dara, Lil? Bagaimana bisa?”
                “Aku yakini ibunya takkan marah, Wan! Bukankah kau itu orang yang mampu dipercaya?”
                “Maksudmu, termasuk juga kau?”
                “Hahaha... itulah kelihaianku membawa mereka.”
                “Mereka?”
                “Ya, tentu saja aku dan Dara tidak berdua, Wan!”
                “Oh? Jadi...”
“Hehehe... aku membawa calon istriku, Rani...” katanya berbisik di telingaku. Lalu aku dapat melihat seorang wanita dengan bentuk wajah oval, bulu mata lentik, bermata indah lagi-lagi ia tersenyum dan menunduk di belakang Kholil.
                “Kau hebat,” Kataku berbisik ke arah telinga Kholil.
                Dara! Apa kau tahu? Bukankah ini terlalu cepat biarpun menjadi kejutan. Kau datang tanpa aku mimpikan sebelumnya. Entahlah, di sini, bersamamu, aku semakin bingung dan tak tahu hendak mengatakan apa. Apakah mungkin kukatakan saja bahwa aku orang yang paling bahagia saat ini.
                “Aku hanya meminta ijin satu malam, Wan!”
                “Tak apa, Lil! Lagipula aku sangat bersyukur.”       
                “Sobat, jangan sia-siakan kesempatan ini. Kau harus banyak berbicara dengan Dara! Sebelum ia...”
                “Sebelum? Kembali ke Medan?”
                “Hmm... ya, lekaslah kau temani dia!”
                Di bawah pohon mangga yang dahannya terangkat ke atas, terlihat teduh dengan berbagai cabang, Dara... kau terlihat menikmati sesuatu. Entah apa kau terkejut melihat tempat yang berhari-hari aku selalu membayangkan kau ada di situ. Kau duduk di bangku yang kubuat dari sisa kayu gubuk, menikmati malam ini. Saat aku memperhatikanmu berbicang dengan Rani, aku merasa kau sedang membicarakan apa yang juga tengah aku bicarakan tadi bersama Kholil. Namun aku tak sabar. Aku mendekatimu. Rani yang mulai melihatku berjalan di belajakangmu seperti mengatakan permisi dan tersenyum saat berjalan melewatiku.
                Aku mulai duduk di depanmu, menggantikan posisi Rani, dan kau... seperti biasa, menebarkan senyum yang takkan mampu membuatku lupa akan hal itu, saat pertama kali kita bertemu, Dara....
                “Adinda senang di sini? Ini... bukan tempat yang cocok untuk wanita secantik Adinda!”
                “Ini tempat yang pantas untuk kebutuhan hati seseorang yang Adinda sayangi!”
                Aku tak mengerti maksudmu. Kepantasan? Kebutuhan hati? Seperti hampir mirip dengan cara mengungkapkan perasaan bahwa sesungguhnya kau yakin di sinilah, saat aku di sinilah aku selalu merindukan hari-hari bersamamu.
                “Tapi... adinda lebih berharap Abangda akan segera kembali dan...”
                Mungkin, hatimu mengatakan percuma. Percuma bila kau terlalu banyak berharap. Percuma bila nantinya kau sendiri yang memintaku mengkhianati ruang takdir ini. Percuma bila akhirnya tidak ada ridha Allah dalam perjalanan ini. Percuma bila apa yang tengah kau tangguhkan kesabaran di dadamu selama ini rusak hanya karena harapan-harapan nisbi.  
                “Minggu depan, Adinda berangkat ke Yogyakarta!”
                “.....”
                “Adinda yakin takkan lama, walaupun...”
                “Alhamdulillah. Adinda lulus beasiswa kuliah di sana?”
         “Ya, Abangda. Adinda pikir, adinda harus meneruskan S1 seperti keinginan Almarhum Ayah. Alhamdulillah, adinda lulus dan mendapatkan beasiswa bidik misi.”
                “Ibunda pasti bangga! Dan, abangda juga!”
           Kau tersenyum, namun dalam senyummu selalu ada mata yang menyala-nyala, ingin menetes. Haruskah kutahu apa yang sesungguhnya ingin kau utarakan?
               Walaupun setelah itu aku takkan berani memelukmu. Walaupun setelah itu, perjalanan masih terlalu bergaris-garis tak hanya lurus, walaupun setelah itu kehidupan adalah takdir yang berbicara. Walaupun begitu, hati itu adalah usaha untuk menangguhkan keyakinan. Bila keyakinan adalah percaya pada keputusan Allah. Biarlah....

Buku Rindu, 15 Januari 2011

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...