Buku Hatiku
dan Dia 2
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Gambar oleh Hadi Oki Cahyadi
Dara... yang sesungguhnya, aku tak ingin lagi
menuliskan sesuatu di buku hati ini. Yang tergerus gelombang amarah, terkapar
di aliran yang deras berinisial kekecewaan. Mataku selalu saja ingin
membengkak, padahal kau selalu mengatakan,”Ingatlah Abangda, kau adalah
lelaki!”
Entahlah
Dara, mungkinkah aku selalu tak mampu memenuhi mimpi-mimpi itu. Kita berlayar
di atas kapal kemenangan dan mengibarkan bendera kebahagiaan. Aku tak pernah
tahu hendak di mana akan kulabuhkan wajah merah yang terlanjur hanyut terbawa
warna kehidupan. Dalam kabar ini, aku sempat membaca perihal dusta. Guruku
sempat mengajarkannya padaku saat masih di madrasah dahulu. Aku tertarik
menguaknya di permukaan jalan kita. Ini tentang kata-kata yang sempat kau
lontarkan,”Janganlah berdusta!”
Kata-kata
itu menyempitkan aliran saraf darah dan jantungku membengkak tak mampu bernapas
dengan benar. Aku menariknya pelan-pelan dan berupaya lebih tenang Dara. Jika
saja kau tahu bukanlah dusta yang ingin kuciptakan sesungguhnya. Buku hati, aku
rindu buku hati ini. Tentang bagaimana kita selalu dibuai rasa marah, kecewa,
bosan, bahagia, puas, ataupun kesungguhan hati. Lagi-lagi itulah komitmen! Kau
selalu mengajarkan aku arti dari sebuah komitmen.
Dalam
malam yang membersitkan cahaya purnama inilah, aku meletakkan jantungku di atas
sebuah daun yang sarafnya menjalar berkelok seperti kehidupan yang tak pernah
lurus. Namun di atasnya, jantung itu berdetak begitu kencang hendak menemukan
perasaan yang berguncang. Mungkin kau benar, Dara! Tentang apa yang pernah aku
berjanji: menjemput perasaanmu yang dilumuri kerinduan tak terkira.
Setelah
aku meninggalkanmu dengan tangis yang dibalut senyum dua bulan yang lalu, aku
seperti hidup dalam janji yang kuyakin akan menemui ujung. Keyakinan itu terkikis!
Keyakinan itu tipis dan miris. Biarpun guruku lagi-lagi mengajarkan tentang
arti sebuah keyakinan: Allah takkan
pernah diam, takkan pernah lengah.
“Semua
kehidupan punya cara masing-masing untuk menemukan kebahagiaannya, Wan!”
“Wan
masih percaya, Wak!” kataku tersenyum.
Kami
duduk, masih di teras yang menjadi teman untukku menuliskan lembar demi lembar
buku hati. Malam ini sempurna untuk sebuah perasaan yang membutuhkan cahayanya.
Di sinilah aku menuliskannya, Dara....
“Abangda,
seperti apa pohon mahoni itu?”
“Mahoni?
Untuk apa Adinda menanyakannya?”
“Untuk
melihat setangguh apa ia berdiri. Adinda ingin tahu pohon apa yang paling
tangguh? Adinda pernah diberitahukan mengenai pohon beringin. Pohon itu tangguh
Abangda!”
“Pohon
mahoni tidak selalu tangguh Adinda, begitupun beringin. Adinda harus tahu, masing-masing
punya kelebihan.”
“Apa
kelebihannya Abangda?”
“Buah
pohon mahoni mampu dijadikan obat malaria, kayunya yang keras juga berguna
untuk industri mebel dan pohon beringin yang tampak lebih besar menjadi sebuah
pohon yang rimbun dan melindungi seseorang dari sinar matahari yang menyengat.
Cocok diletakkan di sebuah halaman yang luas dan menjadi pelindung kita dari
terik cahaya secara langsung, juga akarnya berguna untuk menyembuhkan berbagai
macam penyakit”
“Begitukah?
Pohon pun memiliki tempatnya masing-masing. Allah Maha Adil.”
Aku
mengangguk. Ia menebarkan senyum yang nyaman. Kami di bawah pohon mahoni, di
lapangan merdeka yang terletak di pusat kota Medan. Selebihnya aku dan Dara
membicarakan pohon pinang, merbau, jati dan lainnya. Entahlah, aku sendiri tak
tahu mengapa ia tertarik membicarakan itu. Bila ia dapat kemari, melihat betapa
banyaknya jenis pohon di sini. Aku menduga ia lebih senang daripada setiap kali
aku hanya mampu melayangkan SMS dan mendengar suaranya lewat percakapan handphone.
Terkadang, ingin kutarik suaranya, kumasukkan dalam sebuah plastik, kuikat dan
takkan kubiarkan ia berlalu. Ingin aku peluk dalam setiap malam aku tertidur.
Mungkinkah aku berlebihan?
“Biarlah
Wan, biarlah kau merasakan terlebih dahulu nikmatnya kehidupan seperti ini.
Nanti, saat kau telah meninggalkan hari-hari ini, kau akan merindukannya.”
Hmm...
itu benar.
Setelah
malam itu meninggalkan kerinduan yang begitu... aku menyambung waktu dengan
menyiapkan sarapan. Wak bangun, terkejut melihat dua piring nasi, daun ubi
rebus, sambal blacan, dan dua ekor ikan sungai yang kugoreng. Aku tak lupa
meletakkan satu plastik kecil kemasan kecap yang sempat aku beli di warung
kemarin. Sesederhana aku mencintamu Dara, inilah makananku sehari-hari bersama
uwak.
“Mirip
sebuah petualangan menjemput bidadari ya, Wan! Aku juga jadi teringat istriku
di rumah,” katanya sambil lahap menambahkan kembali nasi dari mangkuk. Wak tak
menyadari ia sudah dua kali menambahkan nasi. Ikan yang sudah habis pun tak
lagi ia perduli. Biarpun hanya dengan kecap, daun ubi, dan sambal belacan, ia
seperti ingin melampiaskan kerinduan yang terlanjur menjadi....
Dara,
takkah kau tahu itu? Mirip Nabi Muhammad yang berusaha menerjang badai di
padang pasir saat akan menyebrangkan barang dagangan. Akankah kau juga seperti
Khadijah, istri Nabi Muhammad yang gundah dan gelisah. Akankah kau juga
memikirkan bagaimana aku berada dalam sebuah petualangan hidup? Walaupun aku
belum mampu meminangmu. Biarlah... aku merindukan panutan duniawi kita,
Muhammad SAW. Sungguh, Dara! Dan, setelah itu aku menemukan hati dan pikiranku
terjatuh dalam kerinduan yang begitu.... Kepadamu.
Hari
ini aku ke kebun. Sebelum ke kebun yang sempat aku janjikan akan menghasilkan
mimpi-mimpi kita. Aku memang terlebih dahulu mencari nafkah untuk esok aku
memenuhi perut. Bekerja di kebun milik salah seorang di kampung ini. Beberapa
hektar pohon cabai terhampar, ini milik orang-orang yang mensyukuri anugerah
Allah. Di sudut kebun inilah aku melihat sebuah gubuk. Gubuk yang kemarin belum
aku sadari keberadaannya. Aku tertarik ke sana sebelum bertanya. Ah, terbersit
olehku bahwa takkan ada yang keberatan. Bila aku dapat sedikit merebahkan tubuh
dan meminum sebotol air yang telah kupersiapkan.
Perlahan,
aku melihat jelas pangkal gubuk itu. Namun, kepalaku spontan saja tegak dengan
pemandangan di dalamnya. Seorang wanita yang memiliki dagu berbentuk sudut
persegi, alis tebal hitam, dan mata menyala tajam menatapku penuh kejut.
“Apa
yang kau lakukan?”
“Aku?”
“Kau?”
Dan,
wanita itu mengenakan jilbab berwarna merah darah. Seperti warna yang memang
kau gemari, Dara!
“Dara!”
“Abangda?”
Aku
masih ingat pula pewarna bibir lembut kepunyaanmu itu. Merah jambu tipis dan
berair.
“Masyaallah.
Kau benar-benar Dara?”
“Wan!”
Aku
berbalik ke belakang. Laki-laki bertubuh tinggi, kurus, berkumis tipis, dan
rambut cepak itu mendekatiku.
“Kholil?”
“Wan!
Maap,” katanya setelah hanya dengan raihan tangan aku mampu mendekap dan
memeluknya. Sahabatku di saat suka dan duka.
“Kau
bawa Dara, Lil? Bagaimana bisa?”
“Aku
yakini ibunya takkan marah, Wan! Bukankah kau itu orang yang mampu dipercaya?”
“Maksudmu,
termasuk juga kau?”
“Hahaha...
itulah kelihaianku membawa mereka.”
“Mereka?”
“Ya,
tentu saja aku dan Dara tidak berdua, Wan!”
“Oh?
Jadi...”
“Hehehe... aku membawa calon
istriku, Rani...” katanya berbisik di telingaku. Lalu aku dapat melihat seorang
wanita dengan bentuk wajah oval, bulu mata lentik, bermata indah lagi-lagi ia
tersenyum dan menunduk di belakang Kholil.
“Kau
hebat,” Kataku berbisik ke arah telinga Kholil.
Dara!
Apa kau tahu? Bukankah ini terlalu cepat biarpun menjadi kejutan. Kau datang
tanpa aku mimpikan sebelumnya. Entahlah, di sini, bersamamu, aku semakin
bingung dan tak tahu hendak mengatakan apa. Apakah mungkin kukatakan saja bahwa
aku orang yang paling bahagia saat ini.
“Aku
hanya meminta ijin satu malam, Wan!”
“Tak
apa, Lil! Lagipula aku sangat bersyukur.”
“Sobat,
jangan sia-siakan kesempatan ini. Kau harus banyak berbicara dengan Dara!
Sebelum ia...”
“Sebelum?
Kembali ke Medan?”
“Hmm...
ya, lekaslah kau temani dia!”
Di
bawah pohon mangga yang dahannya terangkat ke atas, terlihat teduh dengan
berbagai cabang, Dara... kau terlihat menikmati sesuatu. Entah apa kau terkejut
melihat tempat yang berhari-hari aku selalu membayangkan kau ada di situ. Kau
duduk di bangku yang kubuat dari sisa kayu gubuk, menikmati malam ini. Saat aku
memperhatikanmu berbicang dengan Rani, aku merasa kau sedang membicarakan apa
yang juga tengah aku bicarakan tadi bersama Kholil. Namun aku tak sabar. Aku
mendekatimu. Rani yang mulai melihatku berjalan di belajakangmu seperti
mengatakan permisi dan tersenyum saat berjalan melewatiku.
Aku
mulai duduk di depanmu, menggantikan posisi Rani, dan kau... seperti biasa,
menebarkan senyum yang takkan mampu membuatku lupa akan hal itu, saat pertama
kali kita bertemu, Dara....
“Adinda
senang di sini? Ini... bukan tempat yang cocok untuk wanita secantik Adinda!”
“Ini
tempat yang pantas untuk kebutuhan hati seseorang yang Adinda sayangi!”
Aku
tak mengerti maksudmu. Kepantasan? Kebutuhan hati? Seperti hampir mirip dengan
cara mengungkapkan perasaan bahwa sesungguhnya kau yakin di sinilah, saat aku
di sinilah aku selalu merindukan hari-hari bersamamu.
“Tapi...
adinda lebih berharap Abangda akan segera kembali dan...”
Mungkin,
hatimu mengatakan percuma. Percuma bila kau terlalu banyak berharap. Percuma
bila nantinya kau sendiri yang memintaku mengkhianati ruang takdir ini. Percuma
bila akhirnya tidak ada ridha Allah dalam perjalanan ini. Percuma bila apa yang
tengah kau tangguhkan kesabaran di dadamu selama ini rusak hanya karena harapan-harapan
nisbi.
“Minggu
depan, Adinda berangkat ke Yogyakarta!”
“.....”
“Adinda
yakin takkan lama, walaupun...”
“Alhamdulillah.
Adinda lulus beasiswa kuliah di sana?”
“Ya,
Abangda. Adinda pikir, adinda harus meneruskan S1 seperti keinginan Almarhum
Ayah. Alhamdulillah, adinda lulus dan mendapatkan beasiswa bidik misi.”
“Ibunda
pasti bangga! Dan, abangda juga!”
Kau
tersenyum, namun dalam senyummu selalu ada mata yang menyala-nyala, ingin
menetes. Haruskah kutahu apa yang sesungguhnya ingin kau utarakan?
Walaupun
setelah itu aku takkan berani memelukmu. Walaupun setelah itu, perjalanan masih
terlalu bergaris-garis tak hanya lurus, walaupun setelah itu kehidupan adalah
takdir yang berbicara. Walaupun begitu, hati itu adalah usaha untuk
menangguhkan keyakinan. Bila keyakinan adalah percaya pada keputusan Allah.
Biarlah....
Buku Rindu, 15 Januari 2011

No comments:
Post a Comment