Friday, February 24, 2012

Mimbar Umum, 25 Februari 2012


Cerpen.
Gua Rahasia dan Penulis yang
Ingin Bunuh Diri
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            “Ini kemarahan, Sam!”
            “Aku tahu!”
            “Dan kamarahan bukanlah belas kasihan!”
            “Aku paham.”
            “Kau paham? Paham apa? Tahumu berdiri di balik ketiak orang lain!”
            “Menurutmu aku bahagia? Ra, Sudah berapa lama kau menjadi penulis? Kau tak pernah mengeluh. Kau tak pernah mengungkapkan akan melakukan ini. Hentikan Ra! Buang pisau itu!”
            “Gampangnya kau!”
            “Aku minta maap. Kau tak pernah begini sebelumnya. Aku tahu. Ini bukan kau yang sesungguhnya.”
            “Inilah aku yang sebenarnya, Sam! Jadi, jika selama yang kau kenal aku tak pernah mengungkapkan akan melangkahi ajal, itu semualah kebohongan. Aku ingin mati Sam! Ingin! Sangat!”
            “Hentikan! Hentikan!”
            Kurun dua jam menunggu, Sam semakin panik. Ambulan di depan rumah begitu mengilu di telinga Sam. Suara orang-orang berdatangan seperti pengkhianat. Kucing yang mengeong seperti malaikan maut, sementara itu kelender yang tergantung di dinding kamar seperti menebas punggungnya dengan belati, suara jam berdentang pertanda neraka terbuka lebar. Api menyala-nyala seperti gas meledak mengenai sekujur tubuhnya, terbakar tak sempat berdarah-darah. Walaupun begitu ia sempat memergoki doa-doa pengajian yang terucap di inti ruang rumah ini sebagai rasa iri dibalik iba. Mereka iri dengan Ra. Mereka iri, begitu, begitulah Sam menikmati rasa bersalahnya.
            Aku yang salah Ra, tak mengerti keinginanmu.
            Sam menikungi segala kebiadaban pikiran ini. Ia berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan yang terus berusaha melukainya di balik kematian Ra. Sam gila, lebih tepatnya hampir gila memikirkan Ra. Sam merasa kesalahan terletak padanya. Di balik punggung rumah itulah. Rumah yang sekarang ini penuh dengan masyarakat: polisi, ibu bapak Ra, saudaranya. Di situlah Ra sempat meminta satu hal pada Sam. Malam itu mereka sempat bercakap-cakap. Ya, Ra ingin agar Sam bercerita, namun Sam menolak hanya karena sebuah pertengkaran yang itu dan itu lagi. Oh, entahlah...
            Suara radio di channel 109,4 seperti jaringan setan malam itu. Setelah sebelumnya ia menutup percakapan, Ra dengan gilanya memenuhi pikiran Sam. Namun, itulah yang lagi-lagi mengiang di telinga Sam. Meskipun Ra tak sedang berada di sampingnya, ia merasa dihantamkan dahan-dahan dari pepohonan di depan rumah. Akh, Ra! Tega kau meninggalkan aku seperti ini, dengan semua pikiran-pikiran ini.
            Sam sedang terus mengganti-ganti channelnya—105,4—cambuk  yang mampu melukai Sam, 100,2—menyiksanya untuk cepat-cepat masuk ke liang kubur. Dan 103,2—Sam baru sadar ia mendengar sebuah teriakan keras, sangat keras. Semuanya berasal dari ingatan-ingatan indah sekaligus menyebalkan bersama Ra.
            Zzzzttttttt....
            Sam akhirnya benar-benar gila. Beberapa hari kemudian ia meniduri rumah sakit yang dipenuhi orang-orang calon penghuni surga. Begitulah Sam menganggapnya. Setidaknya ia juga menganggap bahwa dengan memasuki tempat orang-orang gila, ia juga adalah calon penghuni surga. Ia bahagia karena dengannya tak perlu memikirkan lagi perihal kelender yang tertawa terbahak-bahak, setiap kali, setiap ia melakukan kesalahan lagi kepada Ra. Ia tak mampu merubahnya hingga batas waktu yang Ra berikan sendiri. .
            Di kamar itu, Sam melilitkan tali demi tali untuk mempraktekkan sebuah kematian hingga ia tak sadar ia hampir saja menghabisi nyawanya sendiri sebelum akhirnya beberapa perawat memergokinya. Beberapa kali waktu, ia sempat menyadari dan mengatakan banyak hal kepada dinding-dinding polos di kamarnya.
            Jika saja aku tak merahasiakannya. Jika saja aku mengatakannya pada Ra. Jika saja saat itu aku tak marah dan aku berhasil mengungkapkan apa yang perlu aku ungkapkan padanya. Mungkin ia masih hidup. Ia akan bahagia menjadi seorang penulis seperti keinginannya selama ini.
            Esoknya, Sam  pulang. Ia telah  mampu  mengingat perihal kematian itu. Kematian satu lawan satu, saat ia tak mampu menghentikan Ra menyembelih urat nadinya sendiri. Mungkin kenyataan berat hingga Sam menganggap seakan bumi akan menelannya hidup-hidup. Ia gugup, masih tampak cemas berkeliaran di wajahnya. Sampai akhirnya tak sengaja ia menonton berita di televisi menayangkan peristiwa kematian, kematian sembilan orang ditabrak mentah-mentah oleh seorang pecandu narkoba, kecelakan bus dengan sopir sedang kondisi mengantuk, belum lagi akhirnya Sam  menemukan berita kematian seorang wanita bunuh diri: akibat kondisi ekonomi, akibat diputusi pacar, akibat tekanan orang tua. Akibatnya, Sam sendiri menyadari luapan di sekitar cekung mata adalah kewajaran. Ia tak mampu membendungnya kali itu.  Sewaktu-waktu apabila akhirnya kenyataan adalah jalan kehidupan. Sam menganggapnya telah wajar, wajar.
            Sam... Sam... ceritakanlah padaku walau hanya dalam mimpi.
            Mimpi?
            Sam, mimpi itu seperti nyata
            Nyata?
            Ceritakan padaku, waktu kita tak banyak.
            Baiklah.... Ra, ini tak sesederhana yang kau pikirkan, namun dengarlah! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Beberapa gua di sekitar sungai yang sempat aku singgahi di daerah Dairi. Kau tahu Ra cerita ini tak pernah aku ungkapkan karena aku berjanji pada seseorang yang sangat aku hormati, maka simpanlah baik-baik.
            Aku tahu. Lanjutkanlah!
            Baiklah.... Begini, gua itu diyakini memiliki ribuan rahasia. Warga telah banyak menceritakanya. Dahulu penduduk di sana memiliki kepercayaan apabila gua itu terbuka, maka akan banyak sekali warga yang tertolong. Mereka yakin apapun isi di dalam gua tersebut mampu membuat mereka terhindar dari kemiskinan. Namun, saat beberapa menganggap ada harta karun di dalam gua itu, beberapa yang lain percaya pula bahwa di dalamnya tak lain adalah jin yang sedang beribadah dan hendak menyampaikan pesan pada Tuhannya bahwa ia sangat ingin ada kemakmuran di daerah ini. Selain itu... apa yang ada di gua itu mampu menghidupkan orang mati.
            Sam aku ingin ke sana. Bawa aku ke sana.
            Tapi, tapi bagaimana caranya?
            Sam... lekaslah!
            Ra, kau di mana
            Sam bawa aku!
            Ra... Ra....
            Beberapa puluh jam terlewati setelah kejadian itu, Sam terlalu sering untuk diam. Ia masih berpikir bagaimana caranya membawa Ra pergi sampai ke tempat itu walaupun dengan sebuah kenyataan bahwa kemarin hanyalah mimpi. Biarpun mimpi, biarlah pula mimpi yang menyelesaikannya. Sam ingin tidur dua puluh empat jam tanpa ada yang membangunkannya. Ia harus bermimpi panjang. Dan hari itu Sam memutuskan mengunci pintu kamar lalu tidur dengan menelan obat tidur.
            Sam, bawa aku dengan sebuah amplop.
            Ra, aku tak mengerti
            Tulislah namaku di sebuah kertas, ceritakan apa yang sedang terjadi padaku dalam kertas itu
            Maksudmu?
            Masukkan ke dalam amplop dan bawa amplop yang berisikan kertas kematianku itu ke gua yang kau ceritakan. Aku perlu itu!
            Apa kau yakin Ra?
            Aku sangat yakin!
            Beranjak dari tidurnya, suara burung hantu berkeliaran di telinga bersambutan jangkrik-jangkrik yang enggan berpindah. Seperti ada peluit mendekat persis dari arah bawah tempat tidur, namun Sam tak peduli. Sebuah jas tua berwarna daun gugur tampak tergantung di dinding kamar, Sam mengambilnya dengan buru-buru. Lalu ia melihat sebatang pena mengeles hendak dipungut dan Sam mulai menuliskan apa yang Ra perintahkan. Di dalam lemari, sebuah amplop pasrah digenggam Sam, lalu Sam menjilati ujungnya. Setelah memasukkan kertas tadi, ia mengeratkan penutup amplop. Ia merasa tak perlu membaca ulang dan ia tahu harus cepat-cepat ke tempat itu sebelum matahari terbangun esok pagi.  
            Gua itu akan menghidupkan kekasihmu. Gua itu akan menghidupkan kekasihmu.
            Ini gila. Perkataan Romo, seorang warga tetua di Dairi itu mendesak-desak di telinganya, menyerang seluruh saraf-sarafnya. Seluruhnya mengalir dan membuatnya terdorong mengetahui lebih banyak. Walaupun satu dua menit saja ia melihat Ra hidup kembali, ia akan melakukannya. Ia hanya meminta beberapa waktu agar cerita itu mengalir di telinga Ra.
            Sungai mengalir deras menampar-nampar bebatuan, ikan-ikan bersembunyi di baliknya, sebuah gua yang menganga elok di depan sana. Sam mesti menyebrang sungai—ia melompat-lompat di bebatuan yang lumayan rapat. Kakinya terjerembab ke air, air deras memelintir tubuhnya dan menyangkut di bebatuan yang lain. Ia bangkit dan tak perduli—meski tenaganya terkuras dalam. Ia merangkak penuh hati-hati, gua itu mulai tampak dan ia akan masuk. Ia sudah tak sabar mengetahui sesuatu di dalam gua itu. Ia beruntung gua itu terbuka—kemarin beberapa orang warga tak sempat berhasil memergoki gua itu terbuka bahkan hampir dipastikan gua itu tak terlihat saat-saat tertentu.
            Kau harus hati-hati Sam. Jin di dalam gua itu belum tentu mampu menolongmu.
            Perkataan Romo yang satu itu terngiang lebih jelas saat ia telah berada di dalam gua. Ia tak tahu apakah peralatan dalam tas di bahunya seluruhnya berguna, namun ia bersyukur senter yang dibawanya tidak rusak dan berhasil dinyalakan. Sejauh lima meter Sam berjalan, ia menemukan beberapa tengkorak manusia, dan Sam mendadak kaget namun tak berteriak. Ia mesti tenang. Ia berjalan terus memenuhi arah tikungan yang hanya ada satu jalan. Tidak ada jalan-jalan yang lain seperti dalam permainan petak umpet. Sam tahu ia harus menemukan ujung dari gua ini. Dan di sanalah Sam melihat cahaya seperti api menyala-nyala, di ujung gua.
            “Aku tahu kenapa kau kemari! Bawa amplop itu ke padaku!”
            Sam tak tahu mengapa dapat semudah ini. Ia tak tahu harus memberikannya pada siapa sebab di depannya hanya ada nyala api dan suara yang tak tahu dari mana asalnya. Ia meletakkan amplop ke lantai, lalu nyala api itu mengangkatnya. Amplop itu terbakar dan habis. Sam terperangah—giginya menyala memenuhi ruangan. Lalu di depannya seorang wanita berdiri sambil tersenyum.
            “Ra, kau Ra? Aku tak percaya!”
            Wanita itu hanya diam. Sam kemudian mendekatinya. Namun, sebuah suara yang tak dikenalnya mengatakan, “Jangan menyentuhnya, ceritakanlah apa yang ingin kau ceritakan!”
            “Tapi, aku tak perlu lagi menceritakannya!”
            “Apa maksudmu?”
            “Cerita itu telah terbongkar! Aku ingin menceritakan hal ini. Rahasia ini, rahasia kematian dan kehidupan kembali.”
            Belum dalam hitungan menit, sebuah pusaran hebat mencampakkan Sam ke dataran yang jauh dari tempat itu dan ia berdiri pun tak mengerti apa yang terjadi.
            “Ra... Ra... Ra....”
            “Sam....”
            Sam berbalik. Seorang wanita keluar dari dalam rumahnya dan berjalan menuju dirinya.
            “Sam, aku sudah tahu! Aku tahu kenapa selama ini aku tak menemukan cerita yang menarik untuk aku ceritakan! Sam aku hanya terlalu ambisi. Padahal kisahku akan datang sendiri! Sam, aku tak perlu khawatir lagi selama kau ada di sisiku. Kau adalah kisahku!”
            “Ra... ini, apa?”
            “Kau dari mana saja? Lima hari kau tak pulang. Katanya kau hanya sehari ke Dairi untuk melihat kebunmu. Ah, payah....”
            “Tapi...”
            “Oya, Sam, sekarang ceritakan padaku tentang gua rahasia di Dairi itu. Bisa, kan? Aku ingin menulis. Aku sudah tak penat lagi.”
           
Serambi KOMPAK, 5 Februari 2011
             

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...