Sunday, September 25, 2011

Cerpen, Waspada, 25 September 2011


Buku Hatiku dan Dia
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Sebuah bilik tentang hatimu dan hatiku perlahan terbuka semakin lebar. Di dalam ruang-ruang kerinduan itu, aku terus memalsukan senyummu seperti bintang malam ini. Aku terduduk mencatat jumlah bintang dan kau bisa liat betapa aku semakin bodoh, sebab jumlahnya memang tak terhingga seperti hanya penantian yang nisbi atau kosong. Langitnya terlampau cerah sehingga di sana aku mampu menenun wajahmu, Daraku yang tersimpan dalam buku hati.
            Aku membuka buku di tanganku, buku hati tempat kita selalu saja menorehkan tinta demi tinta cerita berdua. Suatu waktu yaitu di bulan puasa, kita harus mencatatnya dengan perbanyak diam, dengan banyak mengkoreksi diri, dengan banyak sebanyak-banyaknya beribadah, mencari kunci atas bait-bait kebahagiaan kita kelak. Aku memang pernah berjanji hal ini, memang!
            Kuaktifkan handphone dari bawah sorotan rembulan, mungkin saat ini kau bisa saja marah, tapi sungguh aku lebih berharap sebaliknya. Walaupun aku sudah menerima kemungkinan kau akan meledak-ledak menyuruhku lekas kembali. Aku ketik sms yang kira-kira membuat hatimu tenang.
            Adinda, selamat berbuka puasa ya
            Satu jam telah berlalu, namun sms itu belum juga menempuh jawaban. Maka kutinggalkan bulan dan bintang. Aku tutup buku hati dan aku beranjak untuk melaksanakan shalat tarawih. Handphone kembali kunonaktifkan. 
***
Hatiku berkelanjut bila terus menenun wajahnya, selesai dari masjid yang terletak lumayan jauh. Sekitar sepuluh menit ditempuh dengan sepeda motor, aku pulang dengan bekal hati perlahan tenang. Telah aku bagi dalam doa-doaku tadi. Aku aktifkan kembali Handphone. Ia membalas smsku.
            Ya, abangda! Selamat berbuka puasa juga.
            Ia membalasnya tanpa amarah. Ini bulan puasa, ia masih ingat akan menjaga kesucian bulan ini, maka aku senang. Aku tulis kembali pada buku hati.
            Adindaku senang, maka aku bahagia.
            Aku terus mencatatnya hingga masuk ke liang mimpi, ia tersenyum dan menggelar tangannya menuju puncak tertinggi. Melihat hamparan pantai yang biru, menyoroti lambaian daun-daun pohon kelapa, ataupun menikmati deburan-deburan ombak. Terus ditunjuknya lagi hutan bakau di pesisir itu dan ia memperlihatkan betapa senang ikan-ikan di sana. Entah! Akupun tak tahu maksudnya. Aku menduga ia ingin menunjukkan biarlah aku dan dia menikmati ciptaan Tuhan satu malam ini. Melihat betapa besar kekuasaan Tuhan. Aku lebih menduga kalau ia ingin menyuruhku mencatat dalam buku hatiku dan dia, bahwa memang dengan kekuasaan Tuhan, bukan tidak mungkin penantian kami akan berakhir bahagia. Tentu!
            ”Wan... Gunawan! Bangun!” Uwak melihatku yang tertidur sambil senyum-senyum. Spontan saja uwak membangunkan aku.
            Aku masih belum percaya, ada cahaya yang perlahan memantul pada kornea. Aku menatap wajah uwak yang bertanya-tanya di hadapanku.
            ”Kau gak apa kan, Wan? Ayo lekas, kita akan sahur!”
            ”Ah... ia Uwak!” Kataku dengan pikiran yang masih kaku, seakan aku sehabis terjatuh ke jurang, tubuh terasa berat namun terus aku bawa menuju kamar mandi. Aku beranjak seperti yang disarankan uwak untuk sahur. Malam telah terlipat fajar. Aku memilih berselonjor di teras rumah. Aku tinggal berdua di tempat ini, sebuah rumah yang dibangun kepala desa dan diberikan secara gratis kepada penduduk. Aku yang masih baru menjadi penduduk di sini, tentu saja aku merasa cukup terbantu. Terlebih aku kemari untuk mencari rezeki yang kukira akan dapat membantu keluargaku. Keluarga yang menungguku sebagaimana aku anak tertua dan menjadi tugasku membantu ayahku mencukupi keenam adik-adikku.
            Buku hati. Ini buku hatiku yang sempat kutorehkan. Tentang betapa indahnya menjalani tugas-tugas ini, tentang betapa indahnya menenun wajahmu, Dara! Aku sudah mengukirnya pada tunas-tunas daun yang bila ia gugur akan terhempas kepadamu, lantas akan kau baca dengan penuh kebahagiaan. Mampirlah di antara sunyiku, menelurkan warna-warna di hidupku, mematri langit-langit mimpiku. Apabila memang kata-kata bukanlah yang cukup menganakemaskan hatimu, maka dengan doalah perhiasan itu mendulang pada tuntunan para hati.
            Apa pernah adinda, kau mendengar kisah Nabi Muhammad dengan istrinya Khadijah? Tapi, sudahlah aku tak mau egois. Aku tahu kau akan berusaha menuntun hati dan pikiranmu ke arah yang sebenar-benarnya arah bulan suci. Aku lebih yakin itu.
            Biar saja fajar menghempas senyummu dan akan kututup sementara buku hati kita. Nanti, setelah ini aku berharap kau sempat menorehkan sedikit tinta-tintamu di buku ini. Aku akan datang kembali. Aku akan bekerja untuk orang-orang yang aku cintai. Bukan untuk baju kemeja dinas kantor, bukan untuk sepatu hitam bermerek, bukan untuk sebuah sepeda motor berbodi aduhai. Tapi, untuk meminjam anugerah Tuhan sembari membelai cinta Tuhan, untuk ridha-Nya kepadaku, dan kepadamu. Aku tak ingin meninggalkan benang-benang kusut di wajah saudara-saudaraku. Maka lihatlah aku adinda. Lihatlah!
            ”Uwak... Wan pergi dulu ya!”
            ”Iya, Wan... hati-hati ya Kau, Nak!”
            Mungkin hanya uwak yang tahu. Setiap malam ia mengajarkan ilmu sabar padaku Bukannya aku tak tahu mengenai ilmu itu. Tentu! Tentu aku tahu, ibu dan ayahku pasti saja tak lupa membenahiku. Apalagi guru-guruku hingga aku beranjak ke jenjang universitas. tapi aku masih terus perlu disambut saran dan ayoman orang lain. Terlebih uwak, ia mengerti benar tentang hal-hal hati dan pikiranku bahkan itu tentangmu, Dara!
***
            Memang malam ini, seperti biasa aku memilih selonjor di teras rumah. Tadinya aku membawa buku yang mampu menggenapi hari-hariku di sini. Aku sedang menimbang kalau-kalau di tempat ini singgasana ingatanku akan mata kuliah hempas oleh sibak pohon coklat, sawit, cabai, entahlah....
            “Uwak menyarankan agar Kau terus bersabar. Uwak yakin kalau Kau tetap konsisten, Kau akan kembali melanjutkan kuliahmu!”
            Aku yang masih mencermati huruf-huruf buku kuliah, berbalik menatap uwak. Tersenyum seakan ingin kuberi saksi atas hatiku bahwa aku mampu memikul hari-hari ke depan. Walaupun hanya Tuhan yang tahu!
            ”Wan tahu Uwak, semakin hari Wan semakin bisa...”
            Tak mampu aku  meneruskan, aku jadi melayang jenak ke arah keluargaku: Ayah, ibu, adik-adik yang menungguku menuai hasil, membawa kami beranjak ke permukaan. Aku masih belum percaya untuk sekian kali harus merantau dan jauh dari mereka.
            ”Dan Uwak juga paham kalau Kau anak yang berbakti,” lanjut uwak seakan ingin melengkapi kalimatku yang masih sumbang. Kulihat ia menghisap rokoknya dan mengepulnya ke langit-langit, lalu melanjutkan, ”Setiap yang bersabar akan mendapat rahmat berlimpah.”
            Buku hati. Dara! Bagaimana denganmu? Akankah kau setuju tentang hal ini. Akankah kau mengisi hari-hariku penuh peluh hangat semangat yang membara. Seperti Khadijah kepada Nabi Muhammad.
            Ah... tidak sama itu. Tidak! Jangan samakan Nabi Muhammad padaku. Aku belum apa-apa. Baginda Rasul  lebih baik dariku. Tentu aku belum apa-apa.
***
            Selamat malam adinda. Met tidur ya....
            Iya abangda. Bagaimana pekerjaannya?
            Ah senangnya hati ini. Belum sempat aku menebak senyum pun rengutnya dahulu aku menenun semangatnya. Betapa senang aku Dara! Betapa senang aku membaca sms ini.
            Baik berkat adinda.
            Abangda bisa saja. Jangan lupa adinda akan selalu menunggu.
            Sekian hari yang saling mendorong, menguber, menyelidik perihal rahasia waktu. Aku masih mencatat buku hati. Buku yang dindingnya adalah keputusan Tuhan. Aku dan dia yang merangkainya. Sembilu lara telah kutanam dalam-dalam jelang hari H. Aku akan menceritakan buku hati ini pada dunia. Hari itu semakin menampakkan lambaian tangannya. Seakan pesisir yang pernah kami kunjungi dalam liang mimpi, memanggil-manggil dan menunggu kami untuk bersimpah dalam pelukan sahabat angin sejuk. Dibuatkan oleh keyakinan diri kami, semakin mengukir dengan pasti pada seonggok karang tempat para ikan bermain layang-layang, tentang ubur-ubur yang mengindah di permukaannya menjadi permainan laut, bergelombang menyembunyikan berjuta tong kekuasaan Tuhan.  
            Aku pulang.
            ”Selamat siang Adinda!”
            Senyumnya menyungging di balik pagar rumah. Ia membukakan pintu. Menyalamaiku. Ia masih belum percaya. Aku memang masih merahasiakan kedatangan ini. Kami mengambil posisi duduk satu-satu seperti biasa di ruang tamunya yang menawarkan foto-foto keluarga.
            ”Kenapa datang tak bilang-bilang?”
            ”Bukannya abang sudah bilang!”
            ”Kapan?”
            ”Lewat doa, lewat kepercayaanmu!”
            Ia belum percaya. Ia masih terlihat malu sekaligus senang menurutku. Padahal aku masih akan mengatakan padanya, ”Besok abang akan pergi. Mungkin lebih jauh, jadi siapkanlah kekuatan hatimu, Adinda!”
            Dan aku sudah menduga yang bersemi di kelopak matanya. Namun, ia lengkapi dengan senyuman.
            ”Tak apa! Hati-hati saja ya,” katanya menimpa senyum dengan senyum yang lebih senyum.
            Sementara, aku komakan buku hati ini,
Buku Rindu, 4 Agustus 2011.
           

Artikel, Analisa, 25 September 2011

Ide, Mengawali Proses Kreatif Penulis
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Saat saya bertanya kepada beberapa orang penulis muda mengenai kondisi apa yang paling memungkinkan bagi mereka untuk mendapatkan ide, ternyata memiliki jawaban yang beragam. Lalu bila kita membicarakan masalah ide sendiri memang tak lepas dari proses kreatif seseorang terutama bagi seorang penulis. Dan inipula yang terjadi pada beberapa sastrawan kita. Menulis ibarat mencelupkan ide sebagai bahan terbentuknya sebuah karya. Lalu seperti apa keluaran dari hasil pencelupan ide?
            Ide sebagai bahan tulisan ternyata awal sebuah proses kreatif yang dapat diperoleh secara beragam. Kelahiran ide sebagai proses kreatif ini sebenarnya mendapat tempat utama yaitu adanya situasi yang menjadikan kita berpendapat atas sesuatu hal kemudian menjadi gagasan. Gagasan inilah merupakan ide yang kemudian disalurkan dalam bentuk tulisan dan tulisan ini tentunya memerlukan editing sehingga hasilnya memuaskan. Jadi, seperti apa proses lengkapnya?

Tahapan Proses Kreatif dalam Menulis
            Williem Miller dalam kutipan Jakob Sumarjo memaparkan bahwa berdasarkan berbagai pengalaman penulis terkenal, proses kreatif seorang penulis mengalami beberapa tahap. Pada dasarnya terdapat empat tahap proses kreatif menulis.
            Pertama, adalah tahap persiapan. Tahapan ini adalah gagasan yang pertama kali mulai dipikirkan oleh seorang penulis dan akan siap untuk kemudian dikembangkan. Kedua, tahap inkubasi. Tahap ini akan menyimpan gagasan tadi dan dipikirkannya matang-matang. Proses ini dinamakan pula pengendapan yang nantinya akan terus dipikirkan oleh penulis untuk kemudian dimatangkan gagasan itu. Ketiga, saat inspirasi. Tahapan inilah tahap yang menggelisahkan. Saat ini gagasan ingin dilahirkan dan dimantapkan di mesin tulis sehingga kehadirannya harus disambut sesegera mungkin jika tidak ingin hilang begitu saja. Keempat, tahap penulisan. Saat ini dianjurkan membuka kran jiwa sebesar-besarnya. Jangan tunda lagi. Lakukan itu baik dalam bentuk catatan kecil maupun langsung mengetiknya di komputer. Tetapi ini masih sebuah tulisan kasar yang belum bisa final. Maka akan ada tahap akhir yaitu tahap revisi. Pada tahap inilah tulisan benar-benar dibaca kembali. Setelah menjadi sebuah tulisan pada tahap keempat dan diendapkan lagi beberapa waktu barulah dilakukan tahap revisi ini. Yang melakukan revisi bisa saja diri sendiri dan bisa pula orang lain.

Sastrawan Mengawalinya dengan Ide
Beberapa sastrawan yang juga membeberkan pengalamannya mengenai hal ini tertuang dalam buku Siswanto Wahyudi (2008: 24) yaitu: Arswendo Atmowiloto suka berpetualang untuk mendapatkan ide; A. A. Navis banyak membaca buku atau karya sastra lain, melihat film, mendengar cerita, atau mengamati tingkah laku orang di sekelilingnya; N. H. Dini tidak mau diganggu kesibukan-kesibukan sehari-hari hingga ia meminta izin keluarganya untuk menyendiri; Budi Darma bisa menulis dalam keadaan yang enak untuk menulis; Abdul Hadi W. M. lebih suka mengarang pada saat hujan atau di tepi kolam.
            Beberapa contoh di atas adalah sastrawan yang banyak kita kenal. Lalu bagaimana dengan proses kelahiran ide dari penulis muda Sumatera Utara?
            Sebenarnya, penulis muda Sumatera Utara yang kebanyakan menulis puisi, cerpen, dan artikel ini memiliki pengalaman yang serupa dengan beberapa sastrawan yang dipaparkan di atas. Melalui SMS, penulis muda mengutarakannya pada saya, yaitu: Ari Azhari Nasution melahirkan ide tergantung mood atau suasana hatinya; Winda Prihartini yang gemar menulis puisi ini lebih suka menyendiri saat menelurkan ide; Sartika Sari lebih suka mencarinya daripada menunggu suasana dan akan menuliskannya bila dalam kondisi sendirian bila memungkinkan; Febri Mira Rizki mengungkapkan itu tergantung suasana hati sehingga biasanya ia menyiapkan note kecil yang dibawanya untuk menuliskan ide yang tiba-tiba saja muncul, namun tidak menutup kemungkinan dalam kondisi menyendiri kualitas karya akan lebih baik; Zuliana Ibrahim lebih menyukai pula suasana keramaian yang kerap memunculkan beragam inspirasi; begitupula Ulfa Zaini yang juga menyukai keramaian.
            Namun sesungguhnya berhubungan dengan hal ini, Koentjaraningrat dalam Siswanto (2008: 25) menjelaskan ada tujuh macam dorongan menjadi penulis yaitu: untuk mempertahankan hidup, seksual, untuk mencari makan, untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia, untuk meniru tingkah laku sesamanya, untuk berbakti, dan keindahan. Apapula hubungannya dengan ide menulis tadi?
            Ketujuh dorongan itu sebenarnya merupakan unsur yang mengikat dan benar adanya dalam jati diri setiap penulis. Namun itu tergantung berapa besar pengaruh dari masing-masingnya. Misalnya saja Ari Azhari Nasution dan Febri Mira Rizki yang mengatakan bahwa ide menulis timbul berdasarkan suasana hati artinya menulis bukan sesuatu yang dipaksa dan prosesnya juga lahir dengan alami. Hal ini sejalan dengan lima tahapan proses kreatif menulis yang terjalin dengan banyak pertimbangan atau kehati-hatian serta mementingkan kualitas yang benar, jujur.
            Ketujuh dorongan itupula yang turut mempengaruhi suasana hati. Bila saya melihat hal ini sejalan. Pertama, untuk mempertahankan hidup berarti kita ingin benar-benar menjadi hidup dan berguna, maka menulislah. Contohnya puisi-puisi yang mengkritik sesuatu hal tentu saja bertujuan untuk mempertahankan opini si penulis. Ini alasan yang tidak salah. Kedua, berdasarkan seksual. Tentu saja kisah percintaan begitu sederhana untuk kita kenali sebagai dorongan seksual kita dalam membuahkan pikiran, perasaan lalu menuliskannya. Atau bisa pula akibat keinginan menunjukkan rasa cinta pada pasangan dan membuatnya menuliskan puisi atau cerpen. Hal ini juga sudah tidak asing lagi. Bahkan tidak sedikit penulis yang meletakkan nama orang yang ditujunya dalam puisi atau cerpen baik yang telah terbit di media massa ataupun belum.
            Ketiga, mencari makan biasanya akibat tuntutan ekonomi dan kebetulan mampu menulis. Hal ini walaupun banyak yang beranggapan tidak dapat dikatakan penulis sejati, namun keberadaannya tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi banyak pula yang tadinya menulis demi uang akhirnya menjadi terbiasa dan jatuh hati bahkan lupa akan tujuan awal. Ia begitu menikmatinya. Keempat, untuk bergaul juga sudah tidak asing lagi. Bahkan beberapa penulis muda yang saya sebutkan di atas juga berkenalan dalam dunia kepenulisan. Kelima, untuk meniru atau biasanya ada yang ia kagumi dari seorang penulis dan ini sering terjadi antara kawan dengan kawan. Keenam, untuk berbakti bisa saja berbakti pada dunia kepenulisan ataupun akibat perjanjian di masa dahulu untuk tetap menulis. Ketujuh, demi keindahan dari kegiatan menulis itu sendiri. Demi menunjukkan adanya ruang seni yang pantasnya ditampilkan dalam sebuah karya tulisan seperti halnya keindahan dunia sastra.
            Maka, doronglah diri anda dengan dasar apapun, namun temukan jati diri seorang penulis. Buatlah ia menjadi alasan yang melahirkan ide-ide kuat dan terbaik.

Serambi KOMPAK, 2 September 2011.

Cerpen, Medan Bisnis (B'Gaul), 25 September 2011

Surat dan Stasiun
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Aku mengejar, namun wajah gerbong stasiun telah menguning, engkau telah layu dibawa tubuh kereta api. Kulihat sebelah tubuhmu saat kereta berjalan dan aku yakin itu adalah kau, berdiri dengan enggan di pintunya, seakan ingin melompat, namun terlambat!
Aku masih duduk di depan stasiun kereta api, menunggumu memenuhi janji. Namun apa masih? Bila yang kulihat kau justru pergi tanpa pesan di pintu itu, tanpa lambaian sedikitpun, tanpa mengedipkan mata, atau bahkan menyiratkan wajah yang menyesal, sangat sesal....
Kini kereta api lebih banyak yang lalu lalang. Selagi begitu kusempatkan mengutip angan. Engkau dengan sebuncah senyum, berdiri di depanku, mengeratkan tanganmu di tanganku lalu kita melayangkan diri ke hadapan langit, menjalani tapakan pelangi, memenuhi istana yang siap, telah siap menunggu kita. Tubuh angkasa bersiar tentang kemenangan hati, burung-burung menebar kepakan bahagia, atsmosfer menjelma karpet merah untuk kita meraih cerahnya bintang malam dan bulan di singgasana para langit. Seperti itu beberapa waktu hingga tiba-tiba petir terdengar, seketika langit semakin pekat, tapakan pelangi menipis, istana menghilang, buyar oleh serpihan air. Burung-burung melemahkan kepakannya dan atsmosfer merintih dingin, meretak detak kemudian semak di seluruh langit semakin terserak. Bibirmu ngilu, bibirkupun gigil, kita turun menatap tubuh stasiun, dan aku masih di sana bersama cahaya matahari, walaupun kini telah menjelma mendung yang sebentar lagi hujan. Masih kududuk di depan stasiun. 
Hari ini aku melihat kereta api semakin banyak yang lalu lalang. Lagi-lagi seperti itu. Ada seorang anak kecil yang berlari mengejar gerbong dan memanggil-manggil ibunya, tapi ia tak sadar kalaupun ibunya telah berlari dalam tubuh dunia ini. Ia terus saja berlari seraya memanggil nama ibunya, entah nama siapa walaupun ia tak pernah tahu siapa itu ibunya dan mungkinkah tak tahu apa arti ibu bagi hidupnya. Tapi, ia tetap saja berharap di pintu gerbong akan ada yang melambaikan tangan, menatapnya dan memberhenti di hadapannya. Lalu memeluknya begitu erat, mencium keningnya, terakhir menangis menderu-deru seraya mengelus-elus rambut tanggung si anak itu. Di sebelah sana, dekat dengan ruang tunggu orang-orang yang akan berangkat, aku juga melihat seorang ayah. Ayah dengan tongkatnya, menggeleng pelan kepalanya ke kiri lalu ke kanan. Menyoroti rel, menunggu detik-detik kepulangan sang anak atau bahkan sang istri, entah siapapun itu. Ia seakan ingin menerkam gerbong menggunakan tatapannya, mencari-cari paras yang dikenalnya. Namun, ia tak menemukan. Tak ada senyum yang selalu dikulumnya setiap bunyi kereta api mendengung. Ia bingung dan pulang dengan wajah mendung.
 Pengemis-pengemis  juga di sana mengangkatkan tangannya. Bukan sekadar meminta, namun juga berdoa agar yang ditunggunya dari balik gerbong segera hadir menghampiri, mengisap bait-bait sendu di wajahnya. Memang ada satu gerbong yang datang, bunyinya membuat banyak mata terbelalak, anak kecil, seorang ayah, dan pengemis itu tampak bagai kehausan, kelaparan, ketakutan, atau mungkinkah kegembiraan?     
”Bibirmu kering Yana,” kata Sarah di sebelahku. Hari ini ia datang membawa sebuah surat, surat dari ibuku yang telah meninggal dunia.
“Tapi Yana, sebelum Kau membacanya, aku ingin bertanya,” katanya sambil menatap ke bawah tanpa berani menatapku. Mungkinkah aku yang terlalu bebal sebab itu terkadang Sarah enggan menggangguku. Kini ia pikir sangat perlu bertanya sesuatu.
“Apa?”
“Aku mau kau menjawab, apakah kau yang membunuh ibumu?”
Aku tahu ia seperti bercanda sekaligus ia ingin benar-benar serius dengan kata-katanya. Tapi aku tak tahu kenapa berani ia menanyakan hal semacam itu. Itu yang tak kumengerti.
“Tapi Yana, Maap.”
“Tak apa.”
Akan kuputuskan juga menjawabnya walaupun aku tak mau membalas tatapannya kali ini. Ia ingin meneduhkan air mata begitupun aku. Lalu tiba-tiba gerbong datang, bunyinya membuatku dan Sarah terperanjat. Kami sama-sama menyaksikan kedatangannya. Aku berdiri dan melongok terus mencari-cari....
Sarah justru memandangku dengan caranya memipihkan mata dan menyuburkan kerutan di keningnya. Meski aku tak sadar atas ketidakmengertiannya. Aku terus ke depan, serius dengan orang-orang yang turun dari dalam gerbong.
”Yana!”
”Ya?”
”Yana aku pulang saja.”
”Oke.”
Aku masih terus mencari dan tak tahu ketika gerbong tertutup pun pencarianku nihil, Sarah benar-benar telah menghilang. Aku pikir ia berlari, tapi aku pikir lagi ia lenyap. Sangat cepat padahal hanya beberapa detik saja mengatakan selamat tinggal. Belumpun aku sempat mengatakan apakah aku yang membunuh ibuku?
            Tapi sebenarnya aku tak sanggup menjawab itu, maka aku mematung terus dengan mencoba membenahi benak dari segala kisruh cerita dudukku di depan stasiun. Sementara kereta api terus saja berdiam, padahal seharusnya sudah tiba waktu bagi kereta api itu berjalan.
Dalam pemandangan itu, tiba-tiba anak laki-laki kecil tadi kini menjerit-jerit dan masih terus memanggil ibunya. Ia terlihat begitu kalut, rambutnya yang tanggung terlihat acak-acakan, wajahnya lekat sekali, hitam di sekujur tubuhnya tak biasa. Dan ia memanjat gerbong itu lalu duduk sambil terus menjerit-jerit memanggil-manggil ibunya. Selagi seperti itu, ada seorang anak perempuan juga berlari ke arah gerbongnya. Ia memanggil-manggil sebuah nama dan kukira nama seorang anak laki-laki kecil, tapi mereka sungguh mirip hanya bila aku tak salah mereka adalah anak kembar.
            ”Adik... Adik... jangan lari! Kakak menyayangimu. Kau ada dimana?”
            Mendengar itu aku berdiri dan ingin mengatakan kalau yang dicarinya ada di atas gerbong. Tetapi si anak perempuan itu justru berlari ke depan rel dan tiba-tiba bunyi kereta semakin lantang. Oh....
            Aku menjerit tak karuan. Di sana ia terkapar, sementara orang-orang tak ada yang datang menolongnya. Aku pun tak sanggup dan sejenak lagi aku duduk penuh kaku. Orang-orang masih belum menolongnya, padahal tubuhnya telah terpental hebat hingga yang tersisa hanya seonggok kaki bersama darah kental beberapa meter sepanjang rel.  Aku tak berani, aku hanya duduk dengan tatapan yang kosong mirip seperti lukisan kegilaan. Aku diam walaupun disana banyak orang yang kemudian menyadari itu dan mulai menjerit-jerit hebat.
            Ini tak mungkin, sungguh tak mungkin. Hingga aku melihat anak laki-laki kecil itu menangis lebih keras di samping kereta api. Aku masih gigil memandang darah, aku terkucil dengan nyawa, kulihat begitu bergaris di depanku. Seperti itupula aku melihat seorang ayah atau seorang suami. Ia menangis tak jauh dari tubuh si anak perempuan itu. Ia menggendong tubuhnya yang telah rusak parah sambil memanggil-manggil sebuah nama, Sarah.
            Ah... bagaimana mungkin sahabatku sendiri. Iakah si tubuh kecil itu?
            Mungkin aku perlu lebih tenang. Aku harus menarik napasku sedikit demi sedikit. Hingga aku sadar kalau di sana kejadiannya begitu cepat. Bahkan gerbong yang telah menabrak tubuh Sarah itu berlalu dengan enteng. Sarah... aku ingat mata birunya dan aku pasti tidak salah menduga kalau ia memang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Lalu si anak laki-laki itu. Matanya serupa Sarah, bibirnya tebal, gayanya sungguh kaku, pipinya merona, rambutnya tanggung. Aku mengenalnya, dia adalah Saron, laki-laki yang kutunggu di depan stasiun selama bertahun-tahun. Laki-laki kecil yang dahulu adalah sahabatku, namun entahlah... sebab kami saling menyukai. Walaupun ini gila dan sejak kecil aku dan Saron telah berjanji akan menikah. Inipun lebih gila. Dan ibunya?
            Selalu dengung ibunya itu yang kutakar setiap kali ia menjerit-jerit. Mungkinkah? Dengan gerak tak sabar aku mencari surat yang tadi diberikan Sarah, tapi begitu saja lenyap atau mungkin tidak pernah ada adegan pertemuanku tadi dengan Sarah? Tapi tentu aku masih ingat kata-kata ibu sepuluh tahun yang lalu. Saat itu aku yakin aku masih stabil.
            ”Ibu... coba katakan, siapa Saron sebenarnya?!”
            Ibu diam sekali. Ia menatap sebuah album. Aku menariknya sangat keras dan melihat foto-foto keluarga. Keluarga ibu kukira, tapi lebih tepat lagi keluarga ia bersama suaminya, suami pertamanya dan kedua anaknya.
”Ibu menyaksikan nama mereka di antara para korban kereta api saat itu. Ibu kira mereka... tapi tidak! Ibu memutuskan menerima tawaran ayahmu untuk menikah,” katanya padaku dan seketika aku menjadi hitam. Ibu pun terjatuh dan aku mulai bingung, tanpa berpikir panjang aku justru berlari sangat kencang menuju ke stasiun kereta api. Tapi terlambat, Saron telah pergi sementara itu ia pasti telah tahu lebih duhulu dariku sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan aku dan ibu.
            Ayahku meninggal akibat serangan jantung saat melihat Sarah mengalami kecelakaan. Dan aku baru sadar saat itu ayah sempat bercerita mengenai ibu kami yang telah ia temukan. Lalu ibu telah menikah lagi. Dan ternyata selain pertemuan kita yang tak sengaja, Sarah pernah satu sekolah denganmu. Usia kalian memang terpaut dua tahun.  Tapi Yana,  kalian begitu akrab. Kata Sarah, kau adik kelasnya yang manis.
            Aku kaku dengan surat yang kuingat dititipkannya pada ibu. Lantas diberikan padaku saat terakhir kalinya aku membiarkan ibu tanpa napas. Sambil lalu aku melihat sebuah tubuh di tengah rel mengayun kencang dikejar kereta, seperti sedang pasrah. Hingga momok gerbong membuat tubuh itu terpental. Amis darah terakhir sejenak tercium olehku, ternyata darahku. Kapan aku meninggal? Aku tak ingat.

Serambi KOMPAK, 27 Agustus 2011.

Cerpen, Radar Surabaya, 25 September 2011


Akingnya Soleha
Ria Ristiana Dewi

            Masih begitu jelas suara burung malam dalam sepetak taman sederhana. Di atas daun yang memanja udara dingin, hembusan pagi memeluk tubuhnya begitu erat. Namun, tak gentar ia bersimbah di atas nilai-nilai kehidupan.
            Wanita itu masih setia menumpukkan nasi demi nasi yang baru saja dipungutnya. Seperti tong-tong di depan rumah megah, di depan ruko sebuah rumah makan, ataupun kotak-kotak nasi sehabis acara seminar para awak kampus. Disitulah ia berparkir tubuh. Namun begitulah ladangnya. Sembari membungkam lapar yang kian berteriak. Walaupun kini peringatan turunnya hari suci menjemput pengabdian demi tetap terus berjuang.
            Namanya Soleha. Lahir saat ramadhan sembilan Desember. Memang, Soleha bukan lagi seorang gadis. Tapi, bukan pula wanita dengan usia senja. Usianya masih berkisar dua puluh dua tahun. Untuk seusia itu, tentu persis dengan wanita yang kerap berjalan di atas lantai akademik. Walaupun setiap ada seminar di kampus dekat dengan lingkungan rumahnya berasal, ia akan bertatap muka dengan wanita seusianya. Ia tak terlihat seakan mereka. Bukan saja karena pakaiannya yang kotor bekas mengorek-ngorek tong sampah, juga karena wajahnya terlihat menua lebih dini. Mungkin disebabkan pikirannya lebih cepat beranjak demi sejengkal perut ataupun bait-bait jeritannya sebagaimana wanita yang telah beranak.
Sementara sang suami sendiri hanya dapat terduduk diam sebab telah lama kedua kaki suaminya diamputasi akibat kecelakan kereta api.   
Saat itu, kereta api melaju dengan garang, sementara suami Soleha yang seorang pekerja bangunan persis di dekat rel, berusaha menolong seorang anak yang kala itu tanpa pengawalan ibunya berjalan melintasi rel. Ia melihatnya, tak mampu dibendungnya untuk menolong nyawa anak itu. Sementara kereta api dalam jangkauan detik akan melindas siapapun. Entah apa aral kemalangan yang melintang, tubuh suaminya terdorong beberapa meter. Namun, entahlah... napasnya masih lengkap dan mampu diselamatkan. 
            Hmm... Soleha akhir-akhir ini hanya mampu menghitung jarum jam. Setiap kali ia berbicara dengan detik dan menit, kapankah ia diberi jenak melawan lelah ini. Dengan pagi yang masih memimpin tidur anak dan suaminya itulah Soleha memilah nasi dari plastik kecil-kecil lalu ia menggabungkannya dalam tampah besar. Kemarin ia mengumpulkan begitu banyak. Ada banyak pesta yang ia kunjungi. Tentu bukan berpartisipasi sebagai tamu, namun ia berada di sebelah orang-orang yang berpakaian rapi. Ia mencari nasi-nasi dari tong bekas acara perkawinan.
            ”Soleh... sedang apa kau pagi-pagi begini?”
            Spontan Soleha yang masih sibuk dengan nasi-nasi basi, berbalik pandang. Terlihatlah di depan teras rumahnya yang masih berupa batu-batu disusun itu suami soleha berdiri dengan kaki yang sudah tak utuh. Daging yang tumbuh cepat di bekas luka amputasi kini menutup permukaannya. Dan begitulah suami Soleha sehari-harinya, berdiri ke sana kemari hanya di rumah sederhana mereka yang sebagian terbuat dari papan.
            Memang, Mereka pernah bercita-cita akan menjadi keluarga sederhana. Mereka memang pula mendirikan rumah ini bersama-sama. Walau entah... tanah siapa yang terletak di pinggiran kota, persis dekat perkebunan jagung milik penduduk ini. Mereka hanya berani berharap tidak akan ada yang mengusir selama mereka masih butuh tempat tinggal.  
            “Sedang membuat nasi aking, Mas!”
            “Ah... Soleh, bisa kan bekerja tidak sepagi ini. Kau tahu ini masih terlalu dingin, nanti kau sakit.”
            Soleh hanya tersenyum lalu ia berbicara lagi, “Mas, Mas gak lupa kan kalau ini bulan puasa. Soleh harus buat makanan untuk kita. Ini mas, ada sedikit nasi aking yang sudah jadi, mas bisa makan dulu untuk sahur.”
            ”Aking? Memangnya uang kita tidak cukup untuk beli beras?”
            ”Mas lupa lagi ya ini bulan puasa? Mas gak lupa kan harga beras sudah melonjak naik? Kita udah gak sanggup lagi beli beras, Mas!” Walaupun Soleha mengatakannya dengan begitu jelas, namun ia tak mampu menyangkal kalau memang air yang meleleh di pipinya adalah air matanya. Cepat-cepat ia singkap dengan lengan.
            ”Maapkan aku Soleha, aku memang sudah tak berguna!”
            Dan Soleha berusaha bergembira setiap kalinya. Burung-burung malam yang sejak tadi menemani telah beranjak. Seakan mereka ingin memberi ruang bagi hati sepasang anak manusia ini. Tak lama suara bayi dari dalam rumah pun memecah suasana. Soleha bergidik dan lekas ia bangkit meninggalkan taman lalu masuk ke dalam rumah. Sang suami mengikutinya dan mereka sama-sama menumpahkan pandang pada Aming yang sedang menggeliat, menangis dan terus menangis.
            ”Soleh... cepat berikan asi! kasihan, mungkin dia haus,” kata suaminya datar sambil dengan sedikit cemas melihat Aming, anaknya.  
Soleh menimangnya begitu lembut. Suara Aming perlahan surut sembari Soleh masih terus memberinya asi. Selang itu suaminya yang tadi keluar kini kembali dengan membawa nasi aking.
            ”Kau membuat cukup banyak. Ini makanlah dulu Soleh, nanti kau terlambat sahur,” katanya sambil menyuapkan nasi itu ke mulut Soleha.
Walaupun hanya dia, suami, dan seorang anaknya, rumah sederhana dengan dinding batu bata dan papan itu memberi bait-bait ketegaran.
            ”Soleh... hujan. Kita tak bisa mengeringkan nasi-nasi basi itu. Lalu bagaimana?”
            ”Kalau begitu biar Soleh yang atur. Mas istirahatlah.”
            Sambil mengatakannya, Soleh meletakkan Aming yang sudah tidur dalam dekapannya. Berhati-hati ia meletakkan Aming. Dari gerakannya, memang Soleha terlihat begitu terlatih. Seakan ia adalah pemain paling handal dalam mencapai rahmat Tuhan. Ah... bukan! tentu bukan pemain yang kerap mempermainkan kehidupan, namun pemain yang selalu bersungguh-sungguh menjalani kehidupan.

***
Ia biarkan kembali tergelintir dalam menyelesaikan nasi aking. Ia harus bisa membuat semua nasi-nasi basi yang belum menjadi nasi aking itu menjadi nasi aking yang dapat dijual. Perlahan Soleh mengambil segumpal nasi dan menepuk-nepuknya dengan kedua telapak tangan. Ia ambil sebuah plastik dan diletakkannya nasi yang sudah dimasukkan ke dalam plastik itu ke atas papan, lalu ia menutupkannya dengan papan lagi. Terus ia buat lagi segumpal demi segumpal.
            Setelah lama ia menunggu, diambilnya nasi yang telah gepeng itu dan ia mencoba membuat api dari kayu di dapurnya. Dengan cara yang terus menerus diletakkannya nasi itu di atas wajan dan di balik-baliknya hingga benar-benar kering. Soleha terlihat ligat walau air keringat terus bergiat di sekujur tubuhnya seakan hembusan hujan tak mampu lagi membendung tekadnya.
            “Hujan adalah anugerah. Hujan adalah rahmat Tuhan,” katanya berbicara pada dinding-dinding dapurnya yang hitam. Sekilas terlihat ia menyibak air yang sedikit masuk melalui lubang seng  di atap rumah.
Jam turut dibuai tekad dan lipatan waktu itupun memberhenti gerak Soleha. Ia telah selesai membuat nasi  menjadi kering. Namun, ia masih mencoba menatap lagi nasi aking itu dan mengetes suara hujan, lantas tersenyumlah ia.  
            “Masih saja Tuhan memberiku kekuatan,” katanya lagi dengan semakin berpeluh juang.
            Lantas Soleha bergerak keluar rumah melalui pintu dapur yang dapat langsung menuju luar rumah. Ia mengambil payung yang tergantung di belakang pintu. Lalu dengan penuh semangat ia mencoba mengambil alat yang mampu membuat kelapa yang masih di pohon itu terjatuh. Tak lama hujan memberhenti dengan perlahan, maka Soleha pun semakin gencar. Diambilnya yang tua dan dibawanya ke dalam.
            Ia membuat santan menggunakan kelapa itu. Syukurlah setiap habis pulang mencari nasi basi, ia juga tak lupa menanam banyak tanaman yang dibutuhkan untuk bahan makanan. Dan ia kembali lagi keluar dalam hujan yang masih berupa gerimis. Diambilnya sere dan daun salam, lalu ia bawa dan ia campur dengan nasi aking. Maka sempurnalah bahannya. Ia masih ingat pernah membuat tempe sendiri dan dibuatnya tempe itu sebagai isi dari nasi aking. Terakhir ia kukus dengan alat kukus sepeninggalan ibunya. Belakangan ia baru sadar ia selesai membuat arem-arem berbahan nasi aking.
            Dan matahari yang mulai terlihat pun tak disia-siakan olehnya. Akan dijualnya arem-arem itu ke pasar. Maka setelah berpamitan dengan suami, ia menuju pasar membawa arem-arem tadi. Begitulah hingga senja, ia mengambil uang hasil penjualanan. Sehabis mengambil uang itu, gurat manis tercermin di wajahnya. Ia asyik menghitung sejumlah uang di tangannya. Hmm... manisnya Soleha memadu jerih payah. Ia tahu sejak dahulu seharusnya ia telah bertekad membuat sesuatu yang lain demi menambah sejumlah uang. Selama ini walaupun ia bekerja keras mengumpulkan sampah plastik, memang tak cukup agar menabung memperbaiki atap yang bocor ataupun sekadar membeli beras. Tak lama ia berjalan,
            ”Soleh... Soleh... anakmu!” Jerit seseorang dari kejauhan.
            Spontan Soleh mengalih pandang pada Jojo, tetangganya. Jojo bergerak menuju Soleh dengan kecemasan yang menjadi-jadi.  
            “Soleh... kau cepatlah lihat anakmu, suamimu juga menangis dan ada  penduduk di sana turut membantu,” ucap Jojo masih dengan napas yang terpenggal-penggal.
            Maka sembari meremat uang di tangannya Soleh berlari begitu kencang menuju rumahnya yang memang sudah tak jauh. Benar apa yang dikatakan Jojo, memang ada banyak orang memenuhi rumah itu.
            “Ada apa mas?”
            “Soleh... anak kita.”
Riwayat kecemasan berkejar-kejaran di wajah suaminya dan di sana, di samping suaminya Soleh melihat Aming sudah ditutup kain. Sepertinya batin Soleha benar, anaknya telah tak bernyawa. Tanpa dapat lagi dibendung air mata tumpah membasahi pipinya. Ia tak mengira berdasarkan cerita suaminya itu.
            “Ia menangis terus. Aku tak mengerti dan tiba-tiba dari mulutnya keluar buih. Aku tak tahu Soleh. Aku tak mengerti.”
Suami Soleh masih terus mengucurkan air mata sambil terus dan terus menatap ke bawah. Sementara Soleh dipeluknya begitu erat.
            “Sudahlah Mas, Aming memang sudah saatnya dipanggil Tuhan. Biarlah Mas, Soleh tak menyalahkan siapapun,” katanya walau ia tahu masih dipanggilnya terus kekuatannya. Berkali-kali ia mengucapkan nama besar Tuhan. Perlahan suaminya tenang begitupun Soleha.  
***
            Soleh....
Dalam waktu yang terus berganti. Sempat terpenggal beberapa kisah. Dan setiap kisah dengan dilemanya membimbing Soleh terus melanjutkan kegiatannya. Di bawah pohon kelapa, depan rumahnya dan ditemani nasi-nasi basi. Ia masih percaya kalau memang akan mendapatkan jawab atas yang telah dialaminya. Ia percaya kalau nasi aking akan membawanya kepada masa depan yang baik. Tentu!
            Perlahan namun pasti di halaman rumahnya itulah, penduduk setempat berdatangan. Mereka mengambil arem-arem yang telah jadi bahkan tiwul yang Soleh dan suaminya buat. Selanjutnya penduduk sekitar yang mendapat pekerjaan baru itu akan berkeliling menjual arem-arem dan tiwul buatan Soleh. Tapi tunggu! Soleh membuat lebih banyak hingga dari pagi sampai sore mereka tak berhenti. Pesanan selalu melonjak dan kini mereka optimis.
***
            Selesainya, Soleh menunggu hujan hari ini. Gerimis menjinjing dan ia pun beristirahat. Diceburnya ingatan akan rahmat dari turunnya hujan.
            ”Hujan adalah anugerah. Hujan adalah rahmat dari Tuhan,” katanya seraya melayang pandang ke luar rumah dari jendela. Sambil menikmati hujan, ia menulis. Maka, jadilah sebuah tulisan Soleh yang ditekuni disamping ia menikmati hujan.         Anakku Aking. Sudah lama kita tak bertemu. Aku merasa yakin kau sudah cukup dewasa di sana. Anakku, selama sepuluh tahun ayah dan ibu menunggu kedatanganmu. Kau tahu Nak, nasi aking adalah hidup kita. Hidupmu, hidupku, dan hidup ayahmu. Aking, tahukah kalau namamu itu adalah anugerah. Aku memberimu nama di kala hujan turun saat itu. Walaupun kau tahu dengan sendirinya mengapa aku memberimu nama itu. Tapi, lihatlah Anakku! Kau tumbuh menjadi seorang pengacara handal di ibu kota. Aku percaya kau akan pulang dengan anak dan istrimu kelak. Sebab hari raya memang tidak lama lagi. Tapi, kakakmu yang meninggal tiga puluh tahun lalu bernama Aming pula merupakan anugerah bagiku. Namun entah... aku memberimu justru dengan nama Aking. Sekali lagi, tentu kau tahu sebabnya, Anakku! Aku dan ayahmu akan menunggumu.
Soleha, Ibumu.
            Soleh tersenyum. Lantas disebutnya kembali nama besar Tuhan. Berkali-kali hingga hujan reda. Tak lupa mengucap nama besar Tuhan kembali, ia mengatupkan mata. Napasnya pun reda.

Serambi KOMPAK, 23-25 Juli 2011.

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...