Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Medan Bisnis, 9 Mei 2010


DUA WANITA BERKALUNG DAUN
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Di sepanjang rerumputan tua, di celah-celah cahaya yang berkelok, diantaranya daun-daun menggugur, Pasir sepanjang lorong terhembus kencang terbawa angin, bersatu mengibar debu dengan daun-daun tua berguguran. Gedung-gedung tempat akademikus membangun mimpi terasa sunyi. Waktu menunjukkan jam lima sore. Diantaranya dua wanita berpampang wajah mengedut dahi, berlari-lari, mengendus napas, melihat-lihat ke arah ruang kosong. Ruangan yang sejak sejam lalu tak berpenghuni. Tadinya di ruangan itu tempat mahasiswa mendaftarkan diri mengajukan permohonan, namun tidak ada lagi yang tersisa. Keduanya menarik napas panjang, terduduk lemas. Wanita yang satu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan wanita yang kedua mendekat ke wanita yang satu, menepuk-nepuk bahunya. Wanita yang satu menampakkan wajahnya terlihat penuh air berlinang sepanjang pipi. Wanita kedua mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada wanita yang satu.
“Masih ada kesempatan lain, kawan!”
Wanita yang satu menampakkan wajah basahnya, dia berdiri dan menarik napas panjang, terakhir dia menyedat hidungnya memanfaatkan sapu tangan pemberian temannya.
”Kapan?”
Tatapannya kosong ke depan. Ia melihat ruang kosong itu lagi. Masih tak percaya. Angin petang semakin kencang. Hujan gerimis menemani perlahan. Malam pun semakin dekat.
”Tidak ada gunanya kau menangis. Tidak ada yang dapat kita rubah.”
Wanita yang satu membalik tubuhnya. Mendekat ke wanita kedua. Menatap tajam wanita kedua, sambil mengelap sekilas wajahnya dengan lengan. Perasaannya tidak ada yang bimbang, namun kekecewaan.
”Lima tahun. Lima tahun menunggu cita-citaku. Kau, kau tak perduli karena kau tak pernah merasakan seperti aku.” Lalu dia membalikkan lagi tubuhnya dan pergi meninggalkan wanita kedua. Langkahnya tak seelok dan sekuat pertama kali mereka berlari dengan wajah berbinar, antusias, sekaligus cemas.
Wanita kedua tak berusaha mengejar, memilih diam. Menggeleng-geleng kepalanya, tak percaya. Ia sengaja menunda. Lalu ia menagis tiba-tiba, sendiri, tak perduli hanya sepi yang menemani. Ia teringat mereka selalu bahagia apa pun yang terjadi. Tapi kenapa sekarang semua berubah cepat. Seakan mimpi berdua telah bercerai. Tak ada lagi kata sama. Jalan itu sudah tak sama, mereka harus berpisah. Tadinya ia ingin mengatakan kepalsuan, tapi semua berubah. Kini yang ada hanya penyesalan. Ia tak mengerti kenapa sahabatnya sendiri, yang telah berjanji mengarung cita-cita bersama kini merubah semua dan selamanya akan meninggalkannya.
Sebaiknya semua yang mereka rangkai bersama dilupakan. Kebersamaan tidak untuk selamanya. Lama sudah, tapi ia harus rela.
***
Di kampus, mahasiswa ada memanfaatkan waktu luang istirahat membaca buku-buku penghibur sunyi, menyempatkan waktu bercerita di kantin, di bangku-bangku bawah pohon, dan lainnya lalu lalang menyibukkan diri. Wanita yang satu berdiri melihat-lihat papan pengumuman. Wajahnya terajut bingung, melihat kesana kemari, hasil yang sama.
Ada yang ingin ia persembahkan bagi jalan hidupnya. Setelah tidak menemukan hasil, ia berjalan pelan-pelan menuju kelas. Wanita kedua terlihat berlari menujunya. Berhenti tepat di depan wanita yang satu.
”Ada kabar baik.”
”Apa?” tanya wanita yang satu.
”Pendaftaran beasiswa ke Australia ditunda sampai bulan depan.”
Wanita yang satu diam sejenak, wajahnya berubah harapan. Matanya berbinar lagi dan ia menepuk bahu wanita kedua dengan kedua tangannya, menatap tak percaya.
”Informasi dari mana?”
”Lihat saja di papan pengumuman biro rektor.”
”Terima kasih, Sob!”
Dan wanita yang satu mempercepat langkahnya, tidak ingin terlambat lagi. Karena lama sudah ia menunggu.
Wanita kedua hanya menatap sahabatnya pergi. Tak ada lagi yang bisa ia buat. Yang bisa hanya mengharap perpisahan ini berujung pasti. Seandainya ia punya hal yang bisa membuatnya juga pergi. Tapi, ia tidak punya apa yang sahabatnya punya dan dia hanya berharap kelak ia juga meraih mimpi.
Lagi-lagi dia teringat saat sahabatnya mendapat penghargaan sebagai pembaca puisi terbaik, debat berbahasa inggris terbaik, penulis puisi terbaik, maupun penulis esai, cerpen, bahkan mahasiswa teladan. Mereka tak selalu bersama, tapi wanita yang satu mengajarkan cara untuk meraih impian. Tadinya wanita kedua hanya teman terbaik, kini menjadi pesaing terbaik. Lalu wanita yang kedua mengajarkan caranya sebuah pertemanan dengan wanita yang satu hingga akhirnya jadilah mereka dua wanita yang berkalung daun, wanita yang selalu meraih impian bersama, kapan pun dan dimana pun. 
***
Mereka memiliki mimpi yang sama. Mereka sama-sama ingin lulus sebagai mana orang tua berpesan. Wanita yang satu selalu menuntun wanita kedua dan setiap ada keluhan mereka berbagi cerita, menutupnya bersama-sama. Saat wanita yang kedua merasa pesimis, wanita yang satu akan menyemangati. Dan saat wanita yang satu merasa terlalu optimis, wanita kedua akan mengingatkan.
Namun kini wanita yang kedua berperan lebih untuk caranya mengajarkan pertemanan. Dia lebih memilih tetap berada di sini. Dan wanita kedua memilih tetap untuk meraih mimpi yang menjulang di depan mata.
**
Sahabat itu telah pergi meninggalkannya. Mungkinkah kini ia bisa menjemput impiannya sendiri. Benarlah. Sahabat yang selalu memberinya arahan selama ini telah mengajarkan secara baik-baik kala itu dan kini sahabat itu juga mengajarkan caranya bersikap sendiri. Menjalani semua sendiri berarti ia mengajarkan agar sebaiknya menjemput impiannya sendiri pula.
Wanita kedua menjalani segalanya hingga dua tahun lamanya tanpa sahabat yang sekarang menggapai mimpi di Australia. Haruskah Australia? Kadangkala ia bertanya-tanya sendiri, tak mengerti. Bukankah disini juga ada segudang mimpi dan kelak menjadi nyata.
Lorong kembali sunyi. Wanita kedua kembali menduduk rindu. Di bawah pohon rimbun di depannya terduduk adalah tempat mereka bertukar kisah pada masa-masa mereka menebas perih. Terkadang mereka bercanda tiada perlu. Yang lain akan iri, yang lain akan bertanya-tanya, semua hanya karena mereka selalu berpikir bersama-sama. 
Wanita kedua tidak lekas memikirkan semua itu. Ia pun bangkit. Akhirnya ia putuskan mengikuti jalur yang sahabatnya ajarkan. Tidak sia-sia. Selama dua tahun lamanya ia mengejar prestasi, memenangkan beberapa lomba, dan mendapat kelulusan dengan nilai tinggi. 
Dahulu, jika ada perlombaan bergrup mereka sejoli grup yang paling baik, mereka lagi-lagi membuat iri, dan lagi-lagi memenangkan perlombaan. Wanita yang satu selalu membuahkan ide-ide dan wanita kedua yang selalu mempersiapkan semua dengan baik. Dahulu, jika wanita yang satu mengikuti teater wanita kedua akan mendukung dan jika wanita kedua mengikuti perlombaan membaca puisi, wanita yang satu juga akan mendukung. Dahulu jika wanita yang satu kehabisan uang untuk daftar perlombaan, wanita kedua akan membantu dan jika wanita kedua kehabisan uang untuk pendaftaran lomba, wanita yang satu juga akan membantu. Semuanya hanya dahulu, sekarang semua ia lakukan sendiri. Ia pun tak percaya bisa melalui semua sendiri. Tapi, tidak ada yang iri lagi, tidak ada yang dapat ia buat dan sahabatnya buat untuk membuat semua iri. Mereka hanya bertanya kemana sejolimu pergi dan ia akan menjawab nanti juga akan kembali dengan suksesnya dan aku kan tunjukkan suksesku. Dan semua akan kembali lagi. Semua akan terheran-heran jika nanti semua seperti semula.
Tapi kini semua itu seakan jauh dari harapan. Seharusnya sahabatnya kelak pulang ke tanah air, tapi sudah lima bulan lamanya mereka tak berkirim kabar. Tidak tahu apakah sahabatnya itu telah lulus, bekerja, atau menikah. Lalu kenapa tidak ada satu pun nomor  telpon yang dapat ia hubungi. Sejak terakhir kali ia hubungi, saat itu nomornya sudah tidak aktif.
Wanita kedua tak paham. Semua yang dilalaui tidak untuk dilupakan. Hingga satu tahun lamanya barulah ia mendengar bahwa sahabatnya telah kembali, namun tidak seperti harapannya. Wanita yang satu gagal mendapat gelar karena kasus yang menimpanya. Ia dipulangkan karena masa tahanan telah usai.
Di samping sahabatnya, wanita yang satu terisak habis mengenang impian yang nyatanya tak pernah diraihnya. Ia memeluk erat sahabatnya, mengadu sejadi-jadinya. Ia dituduh membunuh dosennya sendiri. Setelah satu tahun lamanya ditahan, barulah ia dibebaskan karena telah ada bukti bahwa ia tidak bersalah. Semua hanya kesalahan pemeriksaan. Namun pihak universitas tidak lagi menerima, membuat beribu alasan agar ia tak kembali dan mau dipulangkan ke tanah air. Akhirnya selama satu bulan ia dirawat akibat trauma dan setelah sembuh barulah ia menghubungi sahabatnya dan mengadu rindu, sedih, takut, kecewa, dan harapan yang telah hilang.
Wanita kedua membangkitkan lagi semangatnya. Ia terus mendukung agar tidak pernah usai menggapai mimpi seperti dahulu ia mengajarkan. Semua mereka lalui bersama dan semua mereka bagi bersama. Tidak ada yang perlu disesali dan mimpi masih terbuka lebar untuk mereka berdua.

Serambi KOMPAK, 2010

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...