BONEKA KESAYANGAN DARINYA
Karya: Ria Ristiana Dewi
Bibirnya bergetar saat ocehan jiwanya keluar membludak. Tirisan lidahnya menari-nari menyambung hati yang telak menghitam. “Aku ini calon pemilik impian, aku akan bangkit,” Hatinya terus berkata-kata, terus… hingga gerakan bibir yang menggetarkan jiwa itu berhenti mengadu takdir. Kali ini bibirnya merapat maju tertutup mengempiskan pipi mengembungkan batang kumis. “Aku pasti bisa,” katanya lagi dari dalam hati yang terpompa dahsyat melebihi sang pompa di tubuhnya.
Fals ia berkata lembut kali ini, mencoba tuk teguhkan diri sendiri. Rambutnya masih teracak-acak, matanya bermalas-malasan menatap lemah langit-langit, tangannya memeluk erat bear bary, boneka kesayangan darinya. Mulutnya masih berkomat-kamit seakan ia sedang ritual di atas ranjang indahnya, lalu ia bangkit, berkali-kali menyodorkan bibir di mulut bear bary. Senyumnya hadir, hanya boneka itu saja yang tertinggal darinya, maka ia sangat mencintai boneka itu seperti ia mencintai pemberinya.
***
Sabtu malam terasa kian indah menjemput bidadari-bidadari. Ia menatap wajah sayu nan ceria di depan cerminnya. Selesai ia memberikan warna-warna cerah di wajahnya membuat kusam itu tertutupi. Lalu ia membalikkan tubuhnya mengambil tas, menyimpan sapu tangan, dan akhirnya melangkah di bawah terik rembulan.
“Kau cantik.” Kata Robi, cowok berkuda ninja berwajah culun yang berpacaran dengannya sejak setahun yang lalu.
“Terimakasih.”
Lalu mereka berlalu disimpan malam. Menghabiskan segalanya hingga larut menjemput dan bidadari itu pun merebah sepatu kaca, menanti esok hari, tertidur kembali di rumahnya masing-masing.
***
“Mitha…bangun sayang.” Bundanya masuk membangunkan Mitha yang kelelahan karena berpergian semalaman. Bundanya yang khas lembut dan mengayomi Mitha merapatkan dirinya mencium kening Mitha. Kesendirian Mitha bersama ibunya menjadikan ia anak sulung sekaligus bungsu. Lalu Mitha bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi, wajahnya muram meninggalkan bunda sendirian terduduk lesu di atas ranjang indahnya. Setelah siap, Mitha pergi begitu saja tanpa menatap sedikit pun kepenatan di wajah bundanya.
Bundanya membisu seribu bisu, kakinya melangkah lemah dari kamar Mitha yang ditinggal begitu saja tanpa pesan jiwa antara ibu dan anak.
Sayang sekali bunda pada Mitha sampai-sampai ia rela melajangkan tubuhnya di setiap malam tiba. Tadinya Mitha tak tahu, tapi kini sudah pasti tahu.
***
Sampai ia di sekolah, hatinya membaur bersama para sahabat. Kini ia lupa saat tak bertatapan dengan bundanya tadi, saat ia memalingkan pikirannya dari kasih sayang bundanya.
Mitha yang malang, senyumnya hari ini memudar dengan sungguh-sungguh. Ia tahu persis kelak bunda akan melakukan itu lagi, setiap kali, setiap Mitha berusaha mengubah strategi bundanya. Pasti bunda Mitha akan mengubur kembali kenangan Mitha bersama laki-laki yang Mitha sayangi, kagumi, dan cintai.
Di bawah sengatan matahari, ia berjalan pelan bersama angin petang. Jadi ia pun teringat pesan keterlaluan yang ditinggalkannya untuk bunda tadi. Ia berusaha menatap pohon rimbun di taman seberang jalan, lalu ia pun melangkah masuk ke sana, duduk diam sendirian, termotori jiwa yang tertusuk penat ibunda tercinta. Paling-paling saat ia merebah tubuh di rumah, bunda hanya meninggalkan jejak tanpa pesan. Dan Mitha tertidur sendirian di ranjang indahnya, seperti biasa.
“Sudah lama?” Robi hadir memecah ratapan Mitha, wajahnya mendekat ke wajah Mitha, tubuhnya dirukukkan sedikit untuk melihat jelas kekosongan pada matanya.
“Belum.”
“Lalu kenapa lemas, ada yang dipikirin?”
Mitha menggeleng pelan, tangannya meraih tangan robi menyuruh duduk di sebelahnya.
“Katakan, apa masalahmu?”
“Bukan apa-apa.” lagi-lagi Mitha bungkam merasa penat itu tak pantas digumbar, tak ingin menyerah pada takdirnya.
“Lalu?”
“Hanya aku dan bunda yang tahu.”
“Jadi, masalah bunda?”
“Dan masalah ayah.” Tambah Mitha.
Kesunyian petang menuju maghrib itu dihabiskan bersama sepasang kekasih yang mengadu takdir. Adzan berkumandang memanggil kumbang-kumbang memasuki masa malam, mereka beranjak ke surau.
***
Kali ini tiga hari berlalu Mitha terdiam sepi, merenungi bunda, bunda, dan ayah.
“Ini sudah tiga hari. Bicaralah masalahmu itu!”
“Robi, kau tak pelu mengkhawatirkanku lagi.”
Hinga sepi yang tergambar di wajahnya, kini hanyalah kebiasaan semata. Kalau ada yang menanyakan, Mitha hanya menjawab “Tidak ada masalah.”
***
Malam yang larut ini menjemput peraduan pagi. Mitha sepoyongan menyambut pagi berpulang ke rumahnya. Bunda sudah menunggu.
“Mau jadi apa anak gadis pulang jam segini ?”
“Kenapa bunda?, kenapa bunda tanyakan? Coba bunda tanyakan diri bunda sendiri, bersihkah?”
“Parr.” Tangan bunda melayang sepontan di pipi Mitha. Bunda menarik napas pelan tersendat-sendat, matanya memerah, dan kakinya kaku seribu kaku.
“Maafkan Bunda.”
“Bukan Bunda, bukan Bunda! Tapi, boneka kesayangan darinya, dari ayah, dimana Bunda menyimpannya. Jangan ambil satu-satunya hadiah dari Ayah.”
Bunda pun terduduk lemas, sambil memegang dada ia mengambil napas pelan-pelan dan berkata “Ayah yang sudah meninggalkanmu dan Bundamu ini? Itukah maksudmu? Jadi, kau masih berharap dia datang dan mengakuimu sebagai anak?” Bunda menahan air matanya yang hendak keluar.
Mitha hanya terdiam beku. Ada sekumbang hitam menghitam di benaknya. Ia tak bisa menyanggupi dan ia pun berlari keluar rumah.
***
Di taman, di bawah rimbunan pepohonan Mitha menyendat hidungnya, menangis sejadi-jadinya. Daun-daun berguguran seakan menangis bersamanya. Hempasan angin mengangkat pasir memenuhi udara pagi itu.
“Uhuk…uhuk….” Mitha terbatuk tersengat pasir. Saat renungannya menjadi-jadi, sebuah langkah lembut hadir di hadapan Mitha. Gundah pikirannya membuat Mitha enggan menoleh. Ia tak mengharap apa pun kecuali kesendirian saat ini. Namun, penasarannya menyuruh untuk mengangkat wajah dan melihat sosok yang baru saja hadir di hadapannya.
“Ini boneka untukmu.” Robi menyodorkan sebuah boneka, boneka bear bary kesayangan yang persis seperti pemberian ayahnya.
“Jadi… kau tahu?”
“Tentu, dan jangan bersedih lagi!”
Mitha tersenyum lebar, ia menghentakkan kakinya untuk berdiri tegak dan meraih Robi, memeluknya erat-erat.
“Kau harus meminta maaf pada ibumu!”
“Maksudmu?”
“Mitha, boneka ini dari ibumu.”
“Jadi…”
“Ya…dia memintaku memberikannya padamu. Kau tahu dia sangat menyayangimu. Walau bagaimanapun dia adalah ibumu.”
Mitha hanya menunduk enggan. Lalu ia menatap Robi dengan yakin.
“Baiklah. Aku akan minta maaf padanya. Aku selama ini sudah durhaka padanya. Padahal aku tahu selama ini dia menyayangiku.”
Setelah tanpa pikir panjang, Mitha mengusap beningan matanya. Dengan penuh yakin, ia beranjak menuju rumah. Dalam perjalanan sesekali air mata menetes, setelah Mitha mengusapnya lalu ia mencoba menghadirkan senyuman. Terus seperti itu sepanjang perjalanan seakan ia berlatih untuk mencoba tegar di hadapan Bunda.
Mitha mencoba mengingat kembali saat ia tak acuh pada Bunda, saat ia membiarkan begitu saja Bunda meneteskan air mata di hadapannya, saat ia tidak menghiraukan senyum menyungging Bunda yang sangat mengharapkan tawa pada dirinya. Saat inilah Mitha menyadari betapa pentingnya Bunda. Betapa Bunda yang selama ini ada di sampingnya. Kapan ia pernah menghargai keluh kesah dan tangis Bunda demi dirinya?
Oh…Bunda!
“Akhirnya kau sadar Mitha.”
“Maafkan Mitha Bunda.”
“Mitha! Kau boleh memiliki boneka itu sekarang, namun bagi Bunda kaulah boneka kesayangan Bunda dari ayahmu. Tanpa kau, Bunda takkan sekuat sekarang ini.”
“Makasih Bun, Mitha sayang Bunda.”
Tak ada lagi kesedihan di matanya. Pengalaman telah mengajarinya untuk lebih memahami Bunda. Sore yang menjelma malam itu membawanya ke pangkuan Bunda, lalu ia memeluk erat Bunda tanpa keraguan. Tak ingin melepas Bunda.
KOMPAK, 7 Maret 1989
No comments:
Post a Comment