Karya: Ria Ristiana Dewi
Tiara namanya. Dulunya nama itu milik ibunya, namun kini miliknya, Tiara. Ayah memanggilnya dengan sebutan Ara terkadang Tia, tapi Tiara sendiri lebih suka dipanggil Ara. Tiara bangun setiap pagi memasak sarapan untuk mengisi perutnya dan perut ayahnya, Tiara juga memasak setiap pulang sekolah lagi-lagi untuk perut keduanya, begitu pula malamnya. Tiara mengerjakan PRnya sendirian, dia juga mencuci dan menggosok baju miliknya dan milik ayahnya sendirian pula. Tak ada keluhan, hanya gurauan mengingat kedipan mata ibunya di langit Tuhannya yang maha luas.
“Ibu….”
Matanya merah. Tiara tak begitu pandai menutupinya. Tiara selalu ingin meraih kedipan mata ibunya, namun ada yang melarangnya. Tiara mengusap beningan matanya yang semakin membutakan kornea. Hanya kali itu saja Tiara bersikeras menahan perih. Biasanya ia sengaja menghabiskan satu jam dalam semalam hanya untuk menahan rindu.
“Kau belum tidur Ara?” Panggilan itu berasal dari sosok mantan pendamping hidup ibunya, seorang duda berusia 49 tahun. Ayah Tiara bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Kerjanya cukup jauh, sebagai kuli. Ayahnya mendayung kendaraan tak bermesin setiap harinya. Tubuhnya kurus kering, matanya cekung, janggutnya belum terpangkas habis, dan kulitnya tak pertanda akan memutih, namun menghitam seiring cahaya yang menyengat.
“Ayah pasti belum makan. Ara masak untuk ayah.”
“Ayah sudah bilang berapa kali agar kau tak usah masak untuk ayah kalau sudah malam.”
“Mana mungkin Ara tak masak kalau Ara tahu ayah sendiri belum makan.”
Senyum ayah terlihat melebar, matanya juga ikut berkunang-kunang. Tas yang masih digandenganya terlepas jatuh ke tanah. Sambil sedikit melangkah ayah meraih Tiara, memeluk buah hatinya erat-erat.
“Kau sudah sangat besar anakku. Ayah bangga padamu. Sebentar lagi kau akan tamat SMA dan melanjutkan kuliah. Ayah akan menguliahkanmu. Ayah tak akan menyerah untuk membuatmu sukses karena itu sudah janji tersembunyi ayah di balik kubur ibumu.”
Tiara tak mampu berkata-kata. Dia juga tak ingin ikut menangis terlalu dalam jika tak ingin ayahnya semakin iba. Lekat Tiara memandang sekilas ayahnya mengucurkan air mata. Ia merasakan nafas lelah terisak di balik telinganya, memilukan, membuat hati tak mampu berisik.
Setelah cuplikan mengharukan, Tiara dan ayah lagi-lagi hanya makan berdua saja. Setiap malam ditemani sederet cangkir kusuh dengan air putih yang dimasak penuh kasih sayang.
***
Pagi kedua setelah Tiara dan ayah bercakap penuh haru di malam kemarin, Ayah Tiara mendengkur hebat. Tiara mengetuk pintu kamar ayah tidak cukup sekali, namun berkali-kali. Membuat hati yang bersemayam ikut merasuki jantung yang berdetak kencang. Tiara tak mampu menyembunyikan risau. Apa kelak yang terjadi, pikirannya menjadi-jadi. Akhirnya tanpa pikir panjang dia berlari ke rumah sebelah.
“Bu Karim, Pak Karim! Tolong Pak, Bu!”
“Ada apa Ara? Ada apa buru-buru?”
“Ayah tak keluar dari kamar, padahal sudah jam 10 pagi. Kamarnya terkunci dari dalam. Ara gak tahu harus apa.”
Tiara didampingi Pak Karim dan Bu Karim berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya. Kamar ayahnya masih tertutup rapat. Pak karim berusaha membuka berkali-kali dan memanggil-manggil ayah Tiara, tapi tak ada jawaban.
“Apa gak ada kunci lain kamar ini, Ara?”
“Gak ada Pak! Kunci hanya satu dan di dalam kamar ayah.”
Sejenak Pak Karim berpikir. Barangkali sudah tak ada jalan lain. Pak Karim melangkah sedikit beraba-aba mundur ke belakang, memampang bahu, dan berlari kecil seraya menendang pintu.
“GUBRAK….”
Di balik pintu terlihat ayah Tiara terbujur kaku, lemah, tak berdaya di ranjangnya yang sederhana berusia puluhan tahun. Ujung kayu tempat tidurnya sebagian lapuk termakan rayap, menyisakan sepenggal penyangga. Tiara mendekatkan diri dengan ayahnya, mengoyangkan tubuh ayahnya, namun tak ada jawaban. Kekhawatiran Tiara memuncak, ia meletakkan telinga di dada ayahnya. Yang ada hanya detakan lemah, nyaris tak ada.
“Biar kita bawa saja ke puskesmas, Tiara!”
Dengan bantuan seluruh tetangga, ayah Tiara akhirnya dibawa ke puskesmas. Tiara terduduk lemas diselubungi kekhawatiran mendalam di samping ayahnya setiap malam. Tiara menanti nafas panjang ayahnya. Dilihatnya orang tua yang sangat dicintainya itu hanya mampu terbaring dengan bantuan alat pernafasan. Tiara tak mampu meninggalkan ayahnya sendirian berjuang melawan maut. Tiara sadar kalau akhirnya sekolahnya kini terbengkala. Tapi dia tak mau menyalahkan orang tua di depannya itu karena memang tak pantas.
***
Tiara semakin terbiasa. Sebulan menemani ayah yang terbaring tanpa suara maupun gerakan membuatnya semakin tegar. Ia bukan lagi seperti anak remaja yang berkeliling bercanda gurau bersama teman-teman sebayanya, namun ia habiskan untuk mengabdi pada orang yang telah membesarkannya.
Ia tertidur pulas di kursi pengunjung puskesmas. Tiara memakai selimut tebal terbalut malam yang dingin dan cahaya lampu 25 watt yang menemani. Matanya tak lagi terlihat segar, makin lama semakin menghitam, pertanda pilu setiap organ di tubuhnya.
“Keluarga Pak Mansyur!”
Tiara tersentak. Sayup-sayup ia mendengar perawat memanggil-manggil. Orang-orang lalu lalang di depannya. Ia melihat kekhawatiran tak karuan, menyisakan rasa menghitam tak kunjung bersinar. Lalu ia putuskan untuk melanjutkan tidur. Yang ia tunggu setiap malam atau barangkali yang tak ia harapkan jika perawat memanggil keluarga Pak Marja. Karena itulah satu-satunya nama ayah kandungnya.
***
Hari itu Tiara putuskan untuk ke sekolah. Ia tinggalkan sehari saja ayahnya untuk mencari tahu apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Tiara melangkah ke tahap ini karena ia teringat sebuah impian dari seorang duda beranak satu. Impian itu adalah melihatnya tamat SMA dan kelak melanjutkan kuliah.
Kembali menuju puskesmas, Tiara kembali menatap langit-langit. Yang ada hanya putih, kabur tak berekspresi. Tadi kepala sekolah menjelaskan agar Tiara tetap melanjutkan hingga Ujian Nasional. Kepala sekolah juga menyakinkan biaya sekolah Tiara hingga tamat SMA akan ditanggung pihak yayasan. Namun Tiara tak ingin membiarkan kesibukannya ini menggangu proses pengobatan ayahnya. Tadinya ia ingin bekerja untuk mendapat uang tambahan pengobatan ayahnya, namun ia tak mampu berterus terang bahwa hatinya menolak.
***
Dua bulan sudah Tiara berpikir untuk memilih sambil setia menemani ayah yang masih tak sadarkan diri. Tiara mampu untuk bertahan, namun sampai kapan ia juga tak tahu.
“Ara!”
Suara itu sangat ia kenali. Suara yang memanggil-manggilnya saat usia masih dini untuk menyebut sebutan ‘bulek’. Tiara langsung menengadahkan wajahnya, ia berdiri kaku, lalu memeluk adik ibunya itu.
“Bagaimana ayahmu, Nak?”
“Sudah dua bulan tak bangun, Bulek!”
Tiara memanggilnya dengan sebutan ‘Bulek Tini’. Dulu sekali bulek Tini lah yang mengajarkannya cara memasak, mencuci, dan menggosok baju. Namun bulek Tini menikah dan harus pergi bersama suaminya. Kini bulek Tini juga seorang diri, suaminya telah tiada dan ia putuskan untuk bekerja di negara tetangga untuk mencukupi makan dua orang anaknya yang dirawat ayah ibu suaminya di Jawa.
“Bulek dengar dari Pak Karim, katanya kau terus menjaga ayahmu di Puskesmas. Bulek jadi sedih melihatmu, Nak!”
Bulek Tini mengangkat sedikit wajah Tiara, ia memandang penuh haru. Seperti telah meninggalkan buah hati kandungnya sendiri, ia mengecup kening Tiara. Matanya berlinangan, tak mampu di bendung karena telah tertahan selama bertahun.
“Lalu bagaimana sekolahmu?”
Tiara hanya menggeleng menyikapi pertanyaan Buleknya. Tiara tak ingin menunjukkan keluh kesah keterlaluan. Ia mencoba terlihat biasa.
“Kau bisa terus sekolah anakku. Bulek ada di sini untuk berada di sampingmu.”
Tiara kembali terdiam. Bulek Tini, sosok ibu kedua yang selama ini ia cintai dan ia hormati, bagai dewi kwan in datang dengan segudah impian. Tiara mengusap matanya yang ternoda air mata, ia menunduk sedikit dan mencium tangan buleknya. Sudah lama ia menanti saat untuk bertemu buleknya itu.
Bulek Tini membalas dengan membelai rambut Tiara yang kusut termakan waktu. Berkali-kali hingga ia merasakan kembali keberadaan putri cantik nan baik hatinya yang rela tanpa keluhan menanti ayahanda.
“Lekas Ara wujudkan impianmu dan impian ayahmu. Kau harus sabar anakku.”
Tiara mengangguk pelan. Ia mengerti harus apa. sekarang ia punya pilihan untuk tak terdiam sendiri menunggu takdir. Ia akan terus menanti ayah, ia akan menggapai SMA bahkan S1nya untuk dipersembahkan pada ayah yang terbaring lemah, untuk setiap kedipan ibunya di syurga, dan untuk buleknya yang setia menemani.
Serambi KOMPAK, 19-20 Desember 2009
No comments:
Post a Comment