Surat dan Stasiun
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Aku mengejar, namun wajah gerbong stasiun telah menguning, engkau telah layu dibawa tubuh kereta api. Kulihat sebelah tubuhmu saat kereta berjalan dan aku yakin itu adalah kau, berdiri dengan enggan di pintunya, seakan ingin melompat, namun terlambat!
Aku masih duduk di depan stasiun kereta api, menunggumu memenuhi janji. Namun apa masih? Bila yang kulihat kau justru pergi tanpa pesan di pintu itu, tanpa lambaian sedikitpun, tanpa mengedipkan mata, atau bahkan menyiratkan wajah yang menyesal, sangat sesal....
Kini kereta api lebih banyak yang lalu lalang. Selagi begitu kusempatkan mengutip angan. Engkau dengan sebuncah senyum, berdiri di depanku, mengeratkan tanganmu di tanganku lalu kita melayangkan diri ke hadapan langit, menjalani tapakan pelangi, memenuhi istana yang siap, telah siap menunggu kita. Tubuh angkasa bersiar tentang kemenangan hati, burung-burung menebar kepakan bahagia, atsmosfer menjelma karpet merah untuk kita meraih cerahnya bintang malam dan bulan di singgasana para langit. Seperti itu beberapa waktu hingga tiba-tiba petir terdengar, seketika langit semakin pekat, tapakan pelangi menipis, istana menghilang, buyar oleh serpihan air. Burung-burung melemahkan kepakannya dan atsmosfer merintih dingin, meretak detak kemudian semak di seluruh langit semakin terserak. Bibirmu ngilu, bibirkupun gigil, kita turun menatap tubuh stasiun, dan aku masih di sana bersama cahaya matahari, walaupun kini telah menjelma mendung yang sebentar lagi hujan. Masih kududuk di depan stasiun.
Hari ini aku melihat kereta api semakin banyak yang lalu lalang. Lagi-lagi seperti itu. Ada seorang anak kecil yang berlari mengejar gerbong dan memanggil-manggil ibunya, tapi ia tak sadar kalaupun ibunya telah berlari dalam tubuh dunia ini. Ia terus saja berlari seraya memanggil nama ibunya, entah nama siapa walaupun ia tak pernah tahu siapa itu ibunya dan mungkinkah tak tahu apa arti ibu bagi hidupnya. Tapi, ia tetap saja berharap di pintu gerbong akan ada yang melambaikan tangan, menatapnya dan memberhenti di hadapannya. Lalu memeluknya begitu erat, mencium keningnya, terakhir menangis menderu-deru seraya mengelus-elus rambut tanggung si anak itu. Di sebelah sana, dekat dengan ruang tunggu orang-orang yang akan berangkat, aku juga melihat seorang ayah. Ayah dengan tongkatnya, menggeleng pelan kepalanya ke kiri lalu ke kanan. Menyoroti rel, menunggu detik-detik kepulangan sang anak atau bahkan sang istri, entah siapapun itu. Ia seakan ingin menerkam gerbong menggunakan tatapannya, mencari-cari paras yang dikenalnya. Namun, ia tak menemukan. Tak ada senyum yang selalu dikulumnya setiap bunyi kereta api mendengung. Ia bingung dan pulang dengan wajah mendung.
Pengemis-pengemis juga di sana mengangkatkan tangannya. Bukan sekadar meminta, namun juga berdoa agar yang ditunggunya dari balik gerbong segera hadir menghampiri, mengisap bait-bait sendu di wajahnya. Memang ada satu gerbong yang datang, bunyinya membuat banyak mata terbelalak, anak kecil, seorang ayah, dan pengemis itu tampak bagai kehausan, kelaparan, ketakutan, atau mungkinkah kegembiraan?
”Bibirmu kering Yana,” kata Sarah di sebelahku. Hari ini ia datang membawa sebuah surat, surat dari ibuku yang telah meninggal dunia.
“Tapi Yana, sebelum Kau membacanya, aku ingin bertanya,” katanya sambil menatap ke bawah tanpa berani menatapku. Mungkinkah aku yang terlalu bebal sebab itu terkadang Sarah enggan menggangguku. Kini ia pikir sangat perlu bertanya sesuatu.
“Apa?”
“Aku mau kau menjawab, apakah kau yang membunuh ibumu?”
Aku tahu ia seperti bercanda sekaligus ia ingin benar-benar serius dengan kata-katanya. Tapi aku tak tahu kenapa berani ia menanyakan hal semacam itu. Itu yang tak kumengerti.
“Tapi Yana, Maap.”
“Tak apa.”
Akan kuputuskan juga menjawabnya walaupun aku tak mau membalas tatapannya kali ini. Ia ingin meneduhkan air mata begitupun aku. Lalu tiba-tiba gerbong datang, bunyinya membuatku dan Sarah terperanjat. Kami sama-sama menyaksikan kedatangannya. Aku berdiri dan melongok terus mencari-cari....
Sarah justru memandangku dengan caranya memipihkan mata dan menyuburkan kerutan di keningnya. Meski aku tak sadar atas ketidakmengertiannya. Aku terus ke depan, serius dengan orang-orang yang turun dari dalam gerbong.
”Yana!”
”Ya?”
”Yana aku pulang saja.”
”Oke.”
Aku masih terus mencari dan tak tahu ketika gerbong tertutup pun pencarianku nihil, Sarah benar-benar telah menghilang. Aku pikir ia berlari, tapi aku pikir lagi ia lenyap. Sangat cepat padahal hanya beberapa detik saja mengatakan selamat tinggal. Belumpun aku sempat mengatakan apakah aku yang membunuh ibuku?
Tapi sebenarnya aku tak sanggup menjawab itu, maka aku mematung terus dengan mencoba membenahi benak dari segala kisruh cerita dudukku di depan stasiun. Sementara kereta api terus saja berdiam, padahal seharusnya sudah tiba waktu bagi kereta api itu berjalan.
Dalam pemandangan itu, tiba-tiba anak laki-laki kecil tadi kini menjerit-jerit dan masih terus memanggil ibunya. Ia terlihat begitu kalut, rambutnya yang tanggung terlihat acak-acakan, wajahnya lekat sekali, hitam di sekujur tubuhnya tak biasa. Dan ia memanjat gerbong itu lalu duduk sambil terus menjerit-jerit memanggil-manggil ibunya. Selagi seperti itu, ada seorang anak perempuan juga berlari ke arah gerbongnya. Ia memanggil-manggil sebuah nama dan kukira nama seorang anak laki-laki kecil, tapi mereka sungguh mirip hanya bila aku tak salah mereka adalah anak kembar.
”Adik... Adik... jangan lari! Kakak menyayangimu. Kau ada dimana?”
Mendengar itu aku berdiri dan ingin mengatakan kalau yang dicarinya ada di atas gerbong. Tetapi si anak perempuan itu justru berlari ke depan rel dan tiba-tiba bunyi kereta semakin lantang. Oh....
Aku menjerit tak karuan. Di sana ia terkapar, sementara orang-orang tak ada yang datang menolongnya. Aku pun tak sanggup dan sejenak lagi aku duduk penuh kaku. Orang-orang masih belum menolongnya, padahal tubuhnya telah terpental hebat hingga yang tersisa hanya seonggok kaki bersama darah kental beberapa meter sepanjang rel. Aku tak berani, aku hanya duduk dengan tatapan yang kosong mirip seperti lukisan kegilaan. Aku diam walaupun disana banyak orang yang kemudian menyadari itu dan mulai menjerit-jerit hebat.
Ini tak mungkin, sungguh tak mungkin. Hingga aku melihat anak laki-laki kecil itu menangis lebih keras di samping kereta api. Aku masih gigil memandang darah, aku terkucil dengan nyawa, kulihat begitu bergaris di depanku. Seperti itupula aku melihat seorang ayah atau seorang suami. Ia menangis tak jauh dari tubuh si anak perempuan itu. Ia menggendong tubuhnya yang telah rusak parah sambil memanggil-manggil sebuah nama, Sarah.
Ah... bagaimana mungkin sahabatku sendiri. Iakah si tubuh kecil itu?
Mungkin aku perlu lebih tenang. Aku harus menarik napasku sedikit demi sedikit. Hingga aku sadar kalau di sana kejadiannya begitu cepat. Bahkan gerbong yang telah menabrak tubuh Sarah itu berlalu dengan enteng. Sarah... aku ingat mata birunya dan aku pasti tidak salah menduga kalau ia memang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Lalu si anak laki-laki itu. Matanya serupa Sarah, bibirnya tebal, gayanya sungguh kaku, pipinya merona, rambutnya tanggung. Aku mengenalnya, dia adalah Saron, laki-laki yang kutunggu di depan stasiun selama bertahun-tahun. Laki-laki kecil yang dahulu adalah sahabatku, namun entahlah... sebab kami saling menyukai. Walaupun ini gila dan sejak kecil aku dan Saron telah berjanji akan menikah. Inipun lebih gila. Dan ibunya?
Selalu dengung ibunya itu yang kutakar setiap kali ia menjerit-jerit. Mungkinkah? Dengan gerak tak sabar aku mencari surat yang tadi diberikan Sarah, tapi begitu saja lenyap atau mungkin tidak pernah ada adegan pertemuanku tadi dengan Sarah? Tapi tentu aku masih ingat kata-kata ibu sepuluh tahun yang lalu. Saat itu aku yakin aku masih stabil.
”Ibu... coba katakan, siapa Saron sebenarnya?!”
Ibu diam sekali. Ia menatap sebuah album. Aku menariknya sangat keras dan melihat foto-foto keluarga. Keluarga ibu kukira, tapi lebih tepat lagi keluarga ia bersama suaminya, suami pertamanya dan kedua anaknya.
”Ibu menyaksikan nama mereka di antara para korban kereta api saat itu. Ibu kira mereka... tapi tidak! Ibu memutuskan menerima tawaran ayahmu untuk menikah,” katanya padaku dan seketika aku menjadi hitam. Ibu pun terjatuh dan aku mulai bingung, tanpa berpikir panjang aku justru berlari sangat kencang menuju ke stasiun kereta api. Tapi terlambat, Saron telah pergi sementara itu ia pasti telah tahu lebih duhulu dariku sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan aku dan ibu.
Ayahku meninggal akibat serangan jantung saat melihat Sarah mengalami kecelakaan. Dan aku baru sadar saat itu ayah sempat bercerita mengenai ibu kami yang telah ia temukan. Lalu ibu telah menikah lagi. Dan ternyata selain pertemuan kita yang tak sengaja, Sarah pernah satu sekolah denganmu. Usia kalian memang terpaut dua tahun. Tapi Yana, kalian begitu akrab. Kata Sarah, kau adik kelasnya yang manis.
Aku kaku dengan surat yang kuingat dititipkannya pada ibu. Lantas diberikan padaku saat terakhir kalinya aku membiarkan ibu tanpa napas. Sambil lalu aku melihat sebuah tubuh di tengah rel mengayun kencang dikejar kereta, seperti sedang pasrah. Hingga momok gerbong membuat tubuh itu terpental. Amis darah terakhir sejenak tercium olehku, ternyata darahku. Kapan aku meninggal? Aku tak ingat.
Serambi KOMPAK, 27 Agustus 2011.
No comments:
Post a Comment