Meracik Cerpen Selezat Coklat
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Mari kita mencicipi sedikit coklat yang kita nilai memiliki kelezatan. Dan mari kita nikmati kelezatan itu sebagai cara kita melepas lelah dan penat. Nah! Coklat memang banyak diakui mampu membenahi manusia dari pikiran-pikiran kusut, buah dari rutinitas kita. Coklat menjadi teman baik kita seakan coklat mampu bersosialisasi, dan mengerti psikologis seseorang.
Seperti halnya cerpen mampu mengerti keinginan kita. Kegelisahan kita selama ini mampu diwadahi dengan menuliskannya. Semakin banyak yang ditulis bahkan semakin asyik dan semakin terasa kelezatannya. Setelah mencicipi kegiatan menulis, kenyataannya kita dibuat ketagihan. Tergila-gila bahkan menikmati sensasinya.
Sebenarnya saya sudah tidak sabar menjelajahi dunia fantasi cerpen ini. Tapi kita harus mengetahui aliran apa saja yang terdapat dalam cerpen agar tidak turut hanya mengekor. Sama halnya dengan mencicipi coklat, pertama kita hendak membaca racikan apa saja hingga terjadilah kelezatannya.
Memilih Aliran Cerpen Seperti Memilih Rasa Coklat
Pada situs http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/03/07/ saya menemukan beberapa aliran yang menarik untuk dipelajari. Aliran dalam konteks ini diartikan sebagai suatu keyakinan atau paham. Dalam dunia seni, termasuk seni sastra, keyakinan atau paham tersebut akan terpancar dalam seluruh hasil penciptaan, baik dalam aspek bentuk maupun isi. Bahkan tidak jarang aliran tersebut juga mempengaruhi gaya dan sikap pengarang.
Romantisme adalah aliran kesenian-kesusastraan yang mengutamakan perasaan. Pengarang berusaha mengidealisasikan kehidupan dan pengalaman manusia dengan menekankan pada hal yang lebih baik, lebih enak, lebih indah, dan serba menyenangkan.
Realisme adalah aliran dalam kesusastraan (seni pada umumnya) yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya. Para tokoh aliran ini berpendapat bahwa tujuan seni adalah untuk menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif.
Pengarang naturalisme juga melukiskan dengan cermat dan teliti apa yang dapat dilihat dan dirasa oleh pancaindra. Hal yang membedakannya, dalam aliran naturalisme, umumnya, para pengarang terutama memusatkan perhatian pada alam, pada manifestasi kebendaan dari kehidupan manusia.
Sebagai sebuah aliran kesenian, simbolisme muncul sebagai reaksi terhadap realisme dan naturalisme. Dalam realisme dan naturalisme seorang pengarang atau sastrawan melukiskan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif. Sebaliknya, dalam aliran simbolisme mementingkan hadirnya simbol atau lambang sebagai media pengungkapan sesuatu. Yang ingin ditampilkan secara simbolis adalah pengalaman batin.
Aliran absurdisme muncul sebagai suatu bentuk respon untuk menggambarkan kehidupan manusia modern yang seringkali sukar dipahami. Kehidupan manusia modern dengan segala problematikanya yang serba membingungkan, sulit dipahami, dan simpang siur.
Sebenarnya dari beberapa aliran di atas, kita juga sedang mencicipi kelezatan coklat. Kita memilih coklat biasanya sesuai permintaan sekarang ini yaitu coklat dengan racikan terbaru seperti menambahi rempah-rempah lada, vanilla, atau lainnya. Up to date atau terbaru ini pula yang digemari pada cerpen. Kenyataannya penulis-penulis top sekarang lebih tertarik pada cerpen yang beraliran absurdisme. Absurb ini memiliki keunggulan terkait perkembangan imajinasi seorang penulis. Bahkan untuk koran-koran nasional banyak ditemui cerpen dengan aliran ini. Namun, saya menemuinya pula di koran lokal pada tanggal 3 oktober 2010 lalu, tepatnya di Koran Medan Bisnis. Cerpen berjudul “Putri Kahyangan yang Turun dari Awan Gemawan” karangan Bersihar Lubis mampu membuat kita menyelami dunia khayangan itu. seperti halnya absubdisme merupakan cerita yang problematikanya serba membingungkan dapat ditemui pada cerpen Bersihar. Berikut kutipan cerpen ini,
“Kami duduk dibatasi meja yang kecil sehingga jemariku dan jemarinya saling mengusap. Kutatap wajahnya dalam-dalam dan berusaha mengenang yang indah-indah saja. Kukira Sonia juga, mungkin karena kami berpisah dulu dengan cara yang… ah. Mana ada perselingkuhan yang berakhir ke pelaminan jika masing-masing saling mencintai pasangannya. Aku menyayangi istriku dan ia juga menyayangi suaminya.”
Ya! Bukankah kutipan ini saja sudah membingungkan? Inilah yang menarik dari cerpen aliran absurdisme bahwasanya pengarang dapat sesuka hati liar dengan imajinasinya. Pengarang bahkan mampu lepas dari aturan-aturan yang membelenggu si tokoh.
Ini masih dalam memilih racikan. Sekarang saatnya kita meracik sendiri cerpen yang ingin kita lahap.
Racikan Cerpen Paling Sederhana
Akan sederhana sekali meracik cerpen. Kebesaran dalam pemikiran kita ada saat kita mampu membesarkan pikiran kita setelah mencicipi rasa paling lezat dari sebuah cerpen. Ada baiknya kita mengkonsumsi cerpen penulis-penulis senior sebab biasanya memiliki fokus cerita yang baik, plot yang jelas, konflik yang unggul, serta pemilihan judul yang menarik. Mari sedikit kita lahap kutipan cerpen Eko Triono (Kompas, 15 Mei 2011) berjudul Ikan Kaleng berikut,
“Hari tadi tercatat dua puluh satu siswa mendaftar jadi angkatan baru, sekaligus kelas baru buat sekolah itu. Usia mereka beragam. Hari berjalan, minggu silih berganti, dan bulan menumpang tindih. Tepat memasuki bulan Agustus, keganjilan itu muncul kembali. Meski sebelumnya pernah terjadi, tapi kali ini semakin sering.
Di tempat ini, terlihat: barisan dayung-dayung yang digantung, tombak bermata tajam, sebuah perahu di tengah ruangan, jala, pisau, sebuah titik-titik dengan cangkang karang, yang kemudian Sam tau itu rasi bintang di langit. Lelaki Lat menjelaskan lagi dengan bahasa alihkode semi kacau, bahwa di sinilah sekolah yang ia dirikan. Sekolah yang diberinama Lat: sesuai nama suku”.
Kelezatan yang dapat dirasakan pada kutipan ini adalah narasi dan deskripsi yang mencolok, berwarna, tidak jemu, dan memiliki ikatan keindahan seni tersendiri. Sekilas mengartikannya tak bisa dengan sekali baca dan kita perlu memahami betul lokasi yang kita imajinasikan sehingga mendapat gambaran jelas bagi pembaca.
Ini sederhana. Memang! Sebab narasi dan deskripsi memiliki nilai penting bagi seorang penulis baik pemula maupun yang sudah top. Justru dengan inilah cerpen-cerpen terbaik itu akan lahir. Penting bagi penulis untuk mencicipi banyak rasa dari cerpen. Artinya ada baiknya membaca banyak cerpen dan memilih sendiri selera kita.
Selain itu sebelum memulai memenuhi pembuatan cerpen perlu pula bagi penulis menentukan judul paling menarik. Judul ini lahir saat kita sendiri tahu apa isi terpenting yang ingin disampaikan dalam cerpen, siapa sasaran pembacanya, bahkan pemilihan kosa kata langka juga perlu dipertimbangkan. Saat saya sendiri memilih judul cerpen “Puisi Tahun Baru” yang telah terbit di Koran Suara Pembaruan, 9 Januari 2011. Yang terpikir saat itu adalah tema Tahun Baru, kombinasi kehidupan yang diramu dalam puisi dan kesesuaian isi ceritanya. Lalu hal kedua yang menjadi kendala adalah menentukan paragraf awal. Maka saya jadi ingat resep Joni Lis Efendi saat sekolah online cerpen. Dalam makalahnya dikatakan kemudahan itu timbul saat kita ambil satu atau beberapa kata yang ada pada judul dan meletakkannya pada kalimat awal paragraf pertama,
“Dalam deretan tahun ini aku menerima titipan puisi yang begitu panjang. Anggap saja deretan peristiwa yang menggenang dibekuk dalam satu tahun.
….
Simbolis tentang puisi sendiri dapat terlihat pada paragraf- paragraf selanjutnya berikut ini:
Aku bukan penulis! Aku calon dokter. Mungkin aku hanya saudagar kata-kata, penyimpan makna, penebar jiwa. Dokter pun mampu berpuisi. Ia akan berpuisi melalui caranya mengobati pasien. Keselamatan pasien adalah segalanya, begitu pun kualitas metafor dan diksi pada puisi menjadi tanggung jawab seorang penyair. Aku berpuisi lewat selaksana cita-cita. Pernah satu kali ibuku memberikan aku satu buah puisi semacam sutil dipasang dengan wajan yang tak kan pernah menjadi hidangan, bila tak tersedia keduanya. Lalu bawang, cabai, minyak makan, telur, dan lainnya sebagai langkah lanjutan bahwa aku sedang mencoba memasang kerangka, semacam aba-aba siap sebelum berpuisi. Namun, aku tidak sedang berpuisi bersebab aku bukan seorang penyair. Aku adalah seorang anak penjual mie, temaku adalah penjual mie, iramaku adalah wajah ibuku, syairku adalah tangan ibuku, bait-baitnya adalah kaki ibuku. Karena ibuku adalah tubuh puisiku”.
Saat melakukan peracikan ini, hal yang paling dinikmati adalah sensasi pembuatannya. Seperti pertama kali yang telah saya jelaskan. Membuat cerpen memang selezat kita memakan coklat. Maka, rasakanlah kenikmatannya!
Serambi KOMPAK, 17 Juni 2011
No comments:
Post a Comment