Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Medan Bisnis (Rentak), 22 Mei 2011


PETI   ES
Karya: ria ristiana dewi

Kini aku mulai memahamimu, titipan terindah di perjalanan. Dalam setiap relung yang merasuk hingga detik-detik jejak senyum sapamu. Takkan sanggup tangan ini melepas buah hatinya. Persis di sebelah ranjangku kau menangis merintih, “Ayah…!”
            Anakku, raung yang menggema di ruang hatiku kian menyadarkan langit-langit jiwaku yang sejak kemarin petang kau sapa namun mati rasa. Darah ini mengalir berliku kelu menusuk hingga arah saraf paling lindap. Korneaku berusaha melirik ke arah keningmu yang sejak petang pula kau sandar di lengan kananku. Jemarimu terkadang meliuk-liukkan jemariku yang kaku, juntai rambutmu ikut pula menyentuh kulitku yang mati. Lalu mereka yang berpakaian putih menyeretmu, melepaskan segenap genggeman di lengan kananku. Tapi kenapa? Kenapa tak mereka biarkan saja anakku mengikuti tubuh tak berdaya ini agar aku dapat selalu menatap bulu matanya yang selalu berkunang-kunang.
            Semakin lama suaranya semakin hilang termakan ruang yang menjaraki. Kemanakah mereka akan membawaku? Entahlah…, tapi aku akan kembali ke ruang itu lagi untuk menjumpainya dan saat itu takkan kubiarkan ia menjatuhkan sebutir embun dari matanya yang indah. 
Sejenak batinku merasakan jeritannya, “AYAH…, AYAH…, AYAH…!” Ah…sampai kapan juga aku tak ingin menebak karena sudah kuputuskan untuk memejam mata ini. Anakku, tunggulah…! Kita kan bersama lagi. Aku akan memenuhi segenap harimu dengan tawa tiada tara.
Disini yang bermain padaku hanya batin dan jiwa yang rapuh, semakin detiknya kurasakan darah membeku, otakku yang telah rusak juga ikut membeku. Rasanya akan pecah dan takkan mungkin lagi untuk merasakan indahnya bernapas. Jantung ini ikut melemah sedikit membuatku nyaris menyerah. Tapi lagi-lagi aku mendengarkan jeritan itu, “AYAH…, AYAH…, AYAH…!”
Pertama kali aku sampai ke tempat yang dipenuhi es ini, aku tertidur bagaikan berada di ranjang empuk. Mereka membawaku dari jalanan.  Ketika itu yang kuingat kepalaku terantuk keras hitam hampir membunuhku. Otakku sedikit menyerobot keluar dari tempurung, mataku terpejam hebat, darah di sekujur hidung, mulut hingga tubuh mengalir deras, kaki kanan tiba-tiba tak merasakan tanda-tanda bergerak. Lalu semua pudar, suara berisik klekson mobil pula orang-orang yang menjerit ikut pudar. Tubuhku terasa terombang-ambing tak berguna. 
Dari sini, sejak batin berperang hebat cahaya mulai menerangi jalanan gemerlap pada tubuh. Segala ranting mulai tumbuh bertunas membawa harapan hidup. Bibit  napas pula mulai tumbuh kembang seiring daun yang juga merayap menapaki rerantingnya. Ah…anakku, tunggulah hingga segala akar kehidupan merambat ke permukaan, kan ku warnai duniamu dengan segenang kehijauan pada jalanannya.
Hari yang kuhabiskan di pembaringan hanya merasakan dingin tiada tara membuat tubuh pun terpacu deras untuk berdetak dan jantung kian memelan, tapi untunglah peralatan canggih yang menusuk hampir di sekujur tubuh membantuku tetap bernapas. Terkadang seluruhnya terasa ngilu, dinginnya hingga ke tulang-tulang paling dalam.
Setelah dinginnya ruangan itu, aku merasakan tempat yang begitu indah. Tubuhku tercampak berjalan pelan diantara bunga-bunga di taman indah. Sampai-sampai keharuman tiada tara di sekelilingnya.
Di sudut taman terdapat bangku-bangku taman. Di sebelahnya, tepatnya di depan bangku tersebut melintang jernih sungai bersama ikan-ikan kecil di dalamnya. Perjalananku terhenti setelah melihat  Idira duduk di salah satu bangku. Lekas kupercepat langkah menuju tatapan sendu yang tergambar jelas di wajahnya.
“Idira…kau sedang apa, Nak?”
Aku tak tahu kenapa Idira hanya menatapku saja. matanya, mata ibunya. Sekarang aku jadi ingat Laras, perempuan tegar itu. Bagaimana keadaannya?
Laras menemaniku tanpa keluh dari bibirnya. Dahulu aku meminangnya hanya bermodalkan uang dua juta rupiah. Itu kesepakatannya untuk senantiasa mendampingiku hingga akhir hayat dan Ia lakukan dengan hati yang lapang. Aku yakin dan aku memang masih ingat saat ini seharusnya Laras sedang mengandung anak ketiga kami, adiknya Idira dan Jamila. Berita ini baru saja kudengar saat akan berangkat ke perkebunan kelapa sawit tempat aku bekerja selama ini. Sesaat sebelum kecelakaan terjadi, Laras menelpon dan memberitahukan kehamilannya.
Laras mengaku bahagia hidup bersamaku. Selama ini ia hidup dengan ayah tirinya yang sangat kejam. Aku kerap memergoki matanya yang merah setiap kali kami bertemu. Saat itu aku dan Laras belum menikah, ia memaksa untuk mempercepat rencana itu. Untunglah ayah tirinya memenuhi niat kami.
Atas kesetiaan dan kesabaran, aku bertekad membahagiakannya. Hal itu terwujud saat aku diterima sebagai salah satu staff di salah satu perkebunan sawit milik pemerintah. Kehidupan kami meningkat, anak-anak mendapatkan makanan dan pakaian yang layak. Begitu pun Laras tetap berhemat dan melanjutkan pendidikan S2.
Idira sudah kelas I SD dan Jamila berusia 3 tahun. Idira dan Jamila adalah harta kami yang paling berharga. Aku dan Laras bekerja bahu membahu menghidupi Idira dan Jamila. Mungkin seluruh kisah yang aku ingat di pembaringan bersuhu rendah ini adalah yang paling berharga hingga tanpa sadar aku merasakan air mengalir kecil di sekitar pipi.
Ah…ya, aku ingat masi di tempat ini. Tiba-tiba darah terpompa dengan dahsyat. Mungkin sebentar lagi aku akan memimpin langkah ke pembaringan terakhir, kematian. Tapi tidak sekarang, setelah lembaran cahaya kerinduan tertulis jelas hingga menyimpan cerita harapan. Aku akan hidup dan akan membawa Laras bangkit dari tangisnya, menutup lembaran perih selama ini. Penungguan sejati tersimpan jelas di telapak yang membentang.
Lalu dari taman indah, kini aku melihat Laras, Idira, dan Jamila melambai-lambai dengan senyum mengembang membuat iringan tangis menyiram segenap rindu itu.
“Tunggu…Laras, Idira, Jamila. Ayah akan pulang,” cepat-cepat suaraku bergema memenuhi ruang taman indah. Sekian lama mereka melambai dengan lambat menyisir awan yang menutupi segalanya.
Jantungku tiba-tiba tak karuan, darah meluncur deras dari mulut, orang-orang sudah mengerubungi aku. Ntah dari mana mereka datang, mereka mengguncang tubuhku membuka mata sambil memberi cahaya melihat tanda-tanda kehidupan, dan memberikan alat pacu jantung di dadaku. Aku merasakan begitu dekat dengan ajal. Yah…kematian yang kian menjemput. Semakin lama semakin membuat dada terasa sesak. Awan yang tadi menghilangkan Laras, Idira, dan Jamila pun aku telusuri. Aku berjalan sangat jauh, tak tahu arah yang ditunjukkan lorong penuh awan ini membawaku.
Namun, aku tak lagi menemukan mereka. Belum sempat kupeluk Idira dan Jamila dan kuputuskan melangkah berbalik arah dengan rasa bimbang, takut, cemas. Angin berpusar menampar tubuh, kian membumbung bagai melewati lorong waktu. Ada suara berbisik pelan, menggumam tangis, memecah renungan.
“Ayah…kembalilah!  Kami masih disini menunggu Ayah.”
Itu suara Idira. Suara yang menyelimuti hari-hariku di pembaringan, tapi aku tak melihat raganya. Idira….Raga yang mungil, kecil menanti perlindungan. Apa daya tubuh tak sanggup mengarung sungai kehidupan, memimpin sampan perjalanan, menempuh cita dan cinta. Laras pun terlukis goyah di benak. Laras kian menyampaikan pesan padaku, “demi anakmu, bangunlah...!”
Suara itu, pesan itu, memupuk langkahku yakin untuk menjemput mereka dan aku berlari kembali melewati lorong awan membiarkan tubuh terbenam dalam pelarian panjang. Aku melihat mereka, akhirnya. Mereka tersenyum padaku dan membentang tangannya. Kini aku menanggapi dengan berjalan pelan sambil tersenyum pula. Awan kian menipis membawa sekujur taman beriring mengiring langkah ini. Pandangan mulai kabur setelah tanganku meraih tangan Idira. Laras memimpin langkah kami bertiga menuju pintu yang dipenuhi awan hingga kami terlelap.
Lantas kembali kubuka pula mataku pelan-pelan, rasanya perih, sakit seperti telah disengat listrik berkepanjangan. Jantung berdetak pasti, napas mulai teratur dan jemari pun mulai kugerakkan. Tubuh kian menghangat sembari pembaringan es kemarin telah sirna. Mimpi itu bungkam.
Aku lihat seorang anak kecil lucu tersenyum padaku. Entah siapa dia dan Entah siapa wanita yang ada disampingnya. 

Serambi KOMPAK, 5 November 2010

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...