KAN TERUS MENYONGSONG
Kepada Pak Antilan P.
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Harapanmu, langit cerah dipenuhi bintang masa depan
Lembaran-lembaran bulan dan sinarnya
yang itulah sedikit dari banyak doamu kepada penguasa langit
Kepadamu, jalanan semakin benderang
Memberikan masa yang cerah menyongsong arah citacita
Segalanya masih di sini, perpanjangan tanganmu melebar
Melalui langkah kaki kami, juangmu kan terus hidup
Tak banyak likaliku jalanan yang kau ciptakan,
Justru kelurusan kisah masa depan.
Dan itu kan terus!
AKU MASIH INGAT/1
Kepada Pak Antilan P.
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Aku masih ingat, wajah teduh dengan mimik sejuk
Dan raut akrab kau yang kupanggil “Pak!”
Tanpa keluh menahan sengat panas
Duduk berdamping jalanan penuh kerikil yang diciptakan
Untuk arah jalan kami
Dengan raut itu pula kau gandeng tangan kami
Tak pernah jemu mengantarkan ke pintu gerbang
Tak pernah kau kata “bumi terlalu curang dengan panasnya
Atau pepohonan terlalu pelit dengan desir anginnya.”
Dan serupa arah yang kau beri pada kami
Adalah menuju ketulusan dan kesetian hati berada di dekat jantungnya
AKU MASIH INGAT/2
Kepada Pak Antilan P.
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Aku masih ingat
Kata-kata “Gak enak” itu
Yang terlampau seru dibincangkan pelangi
Dengan Warna-warna yang membentuk satu tujuan
Namun, tetap kau sejarahkan padanya
Tentang dasar terbentuknya rintikan air dalam cahaya
Itu lebih bermakna, begitulah….
INGIN KUKATAKAN TENTANG METAFORA
Kepada Pak Antilan P.
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Metafora, perpindahan bukan apa-apa menjadi apa-apa
Perihal pertumbuhan anak manusia
Ataupun tentang pesan garis tangan manusia
Berada pada bara dengan senyawa api menggelegak
Lihatlah sastra yang mekar dan kian harum
Pada barisan siap merajut mimpi tak sekadar mimpi
Lantas kan terukir kisah juang tak henti-henti
Di belahan jiwa kami yang tak ubahnya irama perintis
Laci KOMPAK, 3 Februari 2011
No comments:
Post a Comment