Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Medan Bisnis, 19 Desember 2010


BROSS BERBALUT MERAH DARAH
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Satu menit. Kau melihat bibirku yang bergetar. Aku ingin serta dalam cerah gelombang matamu, mengalir hingga membuat napasku terisak memaksa mengucap gelisah yang tersimpan. sambil berbalik, kau memaksa tanganmu yang tadi tersimpan di kantong celana melayangkan mawar merah hingga sampai di tanganku. "ini, kenakan di jilbabmu dan aku harus melihat itu nanti saat kukembali.".
***
Bunga-bunga mulai berguguran padahal belum saatnya musim berganti. Kupu-kupu pun belum puas menikmati harum. Saat semi kian membenam, rumput jepang tak lagi menghijau, langit gerah dan matahari berserak entah kemana arah.
            Cintia belum bergegas. Ia duduk bersandarkan dinding, berlantaikan ranjang. Raganya terpaku seakan bingkai yang terpajang. Jiwa kian deras menerjang namun ia tetap tak beranjak. Ia terus memutar-mutar bross berwarna merah darah di tangannya, sembari berbaring matanya lekat memperhatikan setiap sudut bross, motif mawar merah darah yang begitu indah, sedikit bulu-bulu halus untuk kumbang bermadu di kelopaknya, indah seindah cinta mereka. Bahkan sesekali ia kecup sebelum mengakhiri ritual itu. Waktu sudah tak cukup untuk berdiam, maka ia berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Ia menyiram wajahnya dengan air, dicucinya tangan dan kaki, lalu sudah. Ia bergegas mencari seragam sekolah. Setelah berpakaian tak lupa diolesnya bibir dengan lipstik, dipakainya bedak tak lupa berbagai pewangi. Ah…tentu setelah memakai jilbab ia kenakan bross tadi.
            “Cintia pamit, Ma!” jeritnya di sela mama yang sedang sarapan. Itu membuat mama kaget, lalu bangkit mengejar langkah Cintia.
            “Eh…, Cintia belum makan kan sayang?”
            Cintia tak menoleh, ia langsung berlari ke arah jalan raya. Tak perduli mama berteriak. Sampai di pertengahan jalan raya, sebuah mobil bermerek entah, berkaca silau, dengan BK merah, dan kecepatan tinggi menuju ke tubuh Cintia.
“Brukkkkkk…!”
Tubuh Cintia terseret lima meter, darah berkucur di sekujur. Ah…mama menangis melihat di depan kepala lalu pingsan. Daun-daun terlihat berserak bahkan menutup sebagian jalan raya, bunga-bunga berjatuhan lebih banyak, Orang-orang lalu lalang, sebagian lain menghampiri tubuh Cintia. Dari dalam mobil, seorang laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja berlengan panjang dimasukkan ke dalam jas hitam, sepatu hitam, rambut sedikit acak-acakan menampakkan wajah.
“Hei…bagaimana ini? Kau harus bertanggung jawab,” kata salah seorang diantara keramaian.
“Tenang Pak, Saya akan bertanggung jawab,” katanya dengan wajah lusuh, cemas, namun berusaha tegas.
Tubuh Cintia langsung digotong ke dalam mobil. Lain pula dengan mama Cintia yang kemudian dibawa warga ke rumah sakit dan dengan terburu-buru salah seorang dari mereka yang juga tetangganya memberitahukan kejadian itu kepada papa Cintia yang tadi masih berada di kamar mandi tersentak kaget, tanpa perlu pikir sendu papa langsung menyusul.
Mama Cintia pun menangis sejadi-jadinya berpelukan erat dengan papa. Lalu mereka memutuskan akan menunggu Cintia di depan ruang tempat Cintia sedang ditangani dokter dan suster handal.
Pada malam yang mencekam mama terbangun menyudahi mimpinya buruknya. Ah…ternyata mama tertidur lelap di samping papa. Masih di lorong ruang tunggu, pada barisan sofa panjang. Cukuplah untuk papa dan mama menyimpan lelah.
“Dimana Cintia, Pa?” dengus mama dengan raut ketakutan.
“Cintia belum sepenuhnya sadar. Mama bersabarlah…,” kata papa berusaha menenangkan mama. Papa merangkul kepala mama dan menyandarkannya ke bahu berusaha membenam gelisah. Lampu lorong mulai remang-remang. Papa dan mama melewatinya tanpa menutup mata sedikitpun. Tak lama Papa menegakkan kepala mama, beranjak dari duduknya, berjalan mengekori arah lorong. Mama hanya bimbang tak perduli sewaktu papa mengatakan, “sebentar akan keluar mencari makanan.”
Di lorong paling gelap, berlantai keramik putih, di tiang penyanggahnya terdapat sebuah telepon umum, berderet kursi tunggu yang  biasa dipakai para pasien ataupun keluarga pasien untuk menunggu dipanggil namanya, menyajikan obat dari resep yang telah diberikan dokter. Papa yang melintas menemukan sosok berdiam sendiri, duduk dengan layar Handphone menyala di tangannya. Ia kerap mengotak-atik seakan melimpah gelisah di ujung jemari. Jika ada seekor kecoa yang menyelinap di bawah kakinya akan terlihat wajahnya berlumuran air mata.
“Kenapa disini anak muda?” tegur papa dengan lembut menatap lekat wajah yang tadi dibayangi nyala Handphone. Kini, wajah itu terlihat tidak begitu jelas. Namun suaranya memperpanjang cerita.
“Om…!”
Ah…papa begitu kaget dengan suara itu. Lalu papa pergi meninggalkannya dengan sumpah serampah yang entah udah keberapa ia ucap sepanjang lorong.
“Kenapa, Pa?” tanya mama melihat wajah papa yang berubah sangar seakan akan ada parang memberang di pundaknya.
“Tidak,” jelas papa tanpa ingin memperpanjang cerita tadi.
Dari dalam ruangan suara suster memanggil nama kedua orang tua tersebut. Mereka berlari tanpa menunggu cemas dan gelisah, ingin segera memastikan nanti saat dokter menjelaskan panjang lebar.
Syukurlah Cintia sudah bangun. Tapi mama kerap meneteskan air mata dan papa terpaksa harus menahannya karena seakan menyediakan wadah untuk mama meluapkan segala sedih dan gundah itu.
Di atas ranjangnya, Cintia yang telah bangun, dapat berbicara walau terbata-bata, pipinya terlihat banyak garis-garis merah yang tumbuh akibat aspal yang mengoyak. Mata itu pun merah namun tak ada air asam di pipi.
“Ma…, Pa…!” katanya dengan setengah-setengah. Ia menyimpan seluruh tenaganya hari itu. Barangkali ia ingin meluapkannya hingga esok hari, lusa, atau lusanya lagi. Ah…barangkali pula untuk seminggu mendatang, sebulan, setahun, bertahun-tahun. Tak cukup tuk mengakhiri kenangannya. Ia kerap meraung pula meminta agar jangan kakinya yang diambil. Sebelah kanan, diamputasi habis hingga lutut.
Mendengar raungan Cintia, seorang laki-laki yang tadi disebut dengan sumpah serapah berusaha masuk kedalam ruangan tanpa pamit. Ia mencemaskan hal-hal yang sudah ia jaga sejak kemarin dibenaknya. Lalu ia mundur lagi setelah langkah keempat, namun kelima seharusnya ia sudah sampai. Ia berpikir sejenak, ragu-ragu mengeluarkan sebuah bross berwarna merah darah. Dalam hatinya seakan baru kemarin ia menyerahkan itu kepada Cintia sebagai tanda keseriusan. Ya…walau hanya sebuah bross. Setaunya bross itu selalu dikenakan Cintia. Sekarang, bross itu sudah berwarna serupa dengan darah yang sebenarnya karena dari sudut bross itu darah Cintia yang deras mengalir hingga menutupi hampir seluruhnya. Walaupun tadi, laki-laki itu berusaha membersihkan darahnya tetap ia tak mendapat warna yang kemarin. Sama, tapi tetap berbeda karena yang kemarin bross itu menyatu dengan cinta mereka berdua. Kini, bros itu telah bercampur pula dengan kebencian yang akan timbul.
Setelah lama ia berdiam bersama bross itu, tanpa meninggalkan kata, laki-laki itu kini pergi. Ia tetap tak berani melawan arus kebencian. Tadinya ia ingin mengembalikan bross itu kepada Cintia walau entah apa yang akan terjadi, namun kini ia bawa pergi meninggalkan segalanya tentang cinta dan kebencian. Padahal belum tentu darah itu berarti kebencian. Padahal belum tentu bross itu akan berubah warna karena jika dengan kasat mata, bross itu tetap terlihat berwarna merah darah. Seperti sedia kala.

Serambi KOMPAK, 2 Desember 2010

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...