Sunday, September 25, 2011

Cerpen, Waspada, 25 September 2011


Buku Hatiku dan Dia
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Sebuah bilik tentang hatimu dan hatiku perlahan terbuka semakin lebar. Di dalam ruang-ruang kerinduan itu, aku terus memalsukan senyummu seperti bintang malam ini. Aku terduduk mencatat jumlah bintang dan kau bisa liat betapa aku semakin bodoh, sebab jumlahnya memang tak terhingga seperti hanya penantian yang nisbi atau kosong. Langitnya terlampau cerah sehingga di sana aku mampu menenun wajahmu, Daraku yang tersimpan dalam buku hati.
            Aku membuka buku di tanganku, buku hati tempat kita selalu saja menorehkan tinta demi tinta cerita berdua. Suatu waktu yaitu di bulan puasa, kita harus mencatatnya dengan perbanyak diam, dengan banyak mengkoreksi diri, dengan banyak sebanyak-banyaknya beribadah, mencari kunci atas bait-bait kebahagiaan kita kelak. Aku memang pernah berjanji hal ini, memang!
            Kuaktifkan handphone dari bawah sorotan rembulan, mungkin saat ini kau bisa saja marah, tapi sungguh aku lebih berharap sebaliknya. Walaupun aku sudah menerima kemungkinan kau akan meledak-ledak menyuruhku lekas kembali. Aku ketik sms yang kira-kira membuat hatimu tenang.
            Adinda, selamat berbuka puasa ya
            Satu jam telah berlalu, namun sms itu belum juga menempuh jawaban. Maka kutinggalkan bulan dan bintang. Aku tutup buku hati dan aku beranjak untuk melaksanakan shalat tarawih. Handphone kembali kunonaktifkan. 
***
Hatiku berkelanjut bila terus menenun wajahnya, selesai dari masjid yang terletak lumayan jauh. Sekitar sepuluh menit ditempuh dengan sepeda motor, aku pulang dengan bekal hati perlahan tenang. Telah aku bagi dalam doa-doaku tadi. Aku aktifkan kembali Handphone. Ia membalas smsku.
            Ya, abangda! Selamat berbuka puasa juga.
            Ia membalasnya tanpa amarah. Ini bulan puasa, ia masih ingat akan menjaga kesucian bulan ini, maka aku senang. Aku tulis kembali pada buku hati.
            Adindaku senang, maka aku bahagia.
            Aku terus mencatatnya hingga masuk ke liang mimpi, ia tersenyum dan menggelar tangannya menuju puncak tertinggi. Melihat hamparan pantai yang biru, menyoroti lambaian daun-daun pohon kelapa, ataupun menikmati deburan-deburan ombak. Terus ditunjuknya lagi hutan bakau di pesisir itu dan ia memperlihatkan betapa senang ikan-ikan di sana. Entah! Akupun tak tahu maksudnya. Aku menduga ia ingin menunjukkan biarlah aku dan dia menikmati ciptaan Tuhan satu malam ini. Melihat betapa besar kekuasaan Tuhan. Aku lebih menduga kalau ia ingin menyuruhku mencatat dalam buku hatiku dan dia, bahwa memang dengan kekuasaan Tuhan, bukan tidak mungkin penantian kami akan berakhir bahagia. Tentu!
            ”Wan... Gunawan! Bangun!” Uwak melihatku yang tertidur sambil senyum-senyum. Spontan saja uwak membangunkan aku.
            Aku masih belum percaya, ada cahaya yang perlahan memantul pada kornea. Aku menatap wajah uwak yang bertanya-tanya di hadapanku.
            ”Kau gak apa kan, Wan? Ayo lekas, kita akan sahur!”
            ”Ah... ia Uwak!” Kataku dengan pikiran yang masih kaku, seakan aku sehabis terjatuh ke jurang, tubuh terasa berat namun terus aku bawa menuju kamar mandi. Aku beranjak seperti yang disarankan uwak untuk sahur. Malam telah terlipat fajar. Aku memilih berselonjor di teras rumah. Aku tinggal berdua di tempat ini, sebuah rumah yang dibangun kepala desa dan diberikan secara gratis kepada penduduk. Aku yang masih baru menjadi penduduk di sini, tentu saja aku merasa cukup terbantu. Terlebih aku kemari untuk mencari rezeki yang kukira akan dapat membantu keluargaku. Keluarga yang menungguku sebagaimana aku anak tertua dan menjadi tugasku membantu ayahku mencukupi keenam adik-adikku.
            Buku hati. Ini buku hatiku yang sempat kutorehkan. Tentang betapa indahnya menjalani tugas-tugas ini, tentang betapa indahnya menenun wajahmu, Dara! Aku sudah mengukirnya pada tunas-tunas daun yang bila ia gugur akan terhempas kepadamu, lantas akan kau baca dengan penuh kebahagiaan. Mampirlah di antara sunyiku, menelurkan warna-warna di hidupku, mematri langit-langit mimpiku. Apabila memang kata-kata bukanlah yang cukup menganakemaskan hatimu, maka dengan doalah perhiasan itu mendulang pada tuntunan para hati.
            Apa pernah adinda, kau mendengar kisah Nabi Muhammad dengan istrinya Khadijah? Tapi, sudahlah aku tak mau egois. Aku tahu kau akan berusaha menuntun hati dan pikiranmu ke arah yang sebenar-benarnya arah bulan suci. Aku lebih yakin itu.
            Biar saja fajar menghempas senyummu dan akan kututup sementara buku hati kita. Nanti, setelah ini aku berharap kau sempat menorehkan sedikit tinta-tintamu di buku ini. Aku akan datang kembali. Aku akan bekerja untuk orang-orang yang aku cintai. Bukan untuk baju kemeja dinas kantor, bukan untuk sepatu hitam bermerek, bukan untuk sebuah sepeda motor berbodi aduhai. Tapi, untuk meminjam anugerah Tuhan sembari membelai cinta Tuhan, untuk ridha-Nya kepadaku, dan kepadamu. Aku tak ingin meninggalkan benang-benang kusut di wajah saudara-saudaraku. Maka lihatlah aku adinda. Lihatlah!
            ”Uwak... Wan pergi dulu ya!”
            ”Iya, Wan... hati-hati ya Kau, Nak!”
            Mungkin hanya uwak yang tahu. Setiap malam ia mengajarkan ilmu sabar padaku Bukannya aku tak tahu mengenai ilmu itu. Tentu! Tentu aku tahu, ibu dan ayahku pasti saja tak lupa membenahiku. Apalagi guru-guruku hingga aku beranjak ke jenjang universitas. tapi aku masih terus perlu disambut saran dan ayoman orang lain. Terlebih uwak, ia mengerti benar tentang hal-hal hati dan pikiranku bahkan itu tentangmu, Dara!
***
            Memang malam ini, seperti biasa aku memilih selonjor di teras rumah. Tadinya aku membawa buku yang mampu menggenapi hari-hariku di sini. Aku sedang menimbang kalau-kalau di tempat ini singgasana ingatanku akan mata kuliah hempas oleh sibak pohon coklat, sawit, cabai, entahlah....
            “Uwak menyarankan agar Kau terus bersabar. Uwak yakin kalau Kau tetap konsisten, Kau akan kembali melanjutkan kuliahmu!”
            Aku yang masih mencermati huruf-huruf buku kuliah, berbalik menatap uwak. Tersenyum seakan ingin kuberi saksi atas hatiku bahwa aku mampu memikul hari-hari ke depan. Walaupun hanya Tuhan yang tahu!
            ”Wan tahu Uwak, semakin hari Wan semakin bisa...”
            Tak mampu aku  meneruskan, aku jadi melayang jenak ke arah keluargaku: Ayah, ibu, adik-adik yang menungguku menuai hasil, membawa kami beranjak ke permukaan. Aku masih belum percaya untuk sekian kali harus merantau dan jauh dari mereka.
            ”Dan Uwak juga paham kalau Kau anak yang berbakti,” lanjut uwak seakan ingin melengkapi kalimatku yang masih sumbang. Kulihat ia menghisap rokoknya dan mengepulnya ke langit-langit, lalu melanjutkan, ”Setiap yang bersabar akan mendapat rahmat berlimpah.”
            Buku hati. Dara! Bagaimana denganmu? Akankah kau setuju tentang hal ini. Akankah kau mengisi hari-hariku penuh peluh hangat semangat yang membara. Seperti Khadijah kepada Nabi Muhammad.
            Ah... tidak sama itu. Tidak! Jangan samakan Nabi Muhammad padaku. Aku belum apa-apa. Baginda Rasul  lebih baik dariku. Tentu aku belum apa-apa.
***
            Selamat malam adinda. Met tidur ya....
            Iya abangda. Bagaimana pekerjaannya?
            Ah senangnya hati ini. Belum sempat aku menebak senyum pun rengutnya dahulu aku menenun semangatnya. Betapa senang aku Dara! Betapa senang aku membaca sms ini.
            Baik berkat adinda.
            Abangda bisa saja. Jangan lupa adinda akan selalu menunggu.
            Sekian hari yang saling mendorong, menguber, menyelidik perihal rahasia waktu. Aku masih mencatat buku hati. Buku yang dindingnya adalah keputusan Tuhan. Aku dan dia yang merangkainya. Sembilu lara telah kutanam dalam-dalam jelang hari H. Aku akan menceritakan buku hati ini pada dunia. Hari itu semakin menampakkan lambaian tangannya. Seakan pesisir yang pernah kami kunjungi dalam liang mimpi, memanggil-manggil dan menunggu kami untuk bersimpah dalam pelukan sahabat angin sejuk. Dibuatkan oleh keyakinan diri kami, semakin mengukir dengan pasti pada seonggok karang tempat para ikan bermain layang-layang, tentang ubur-ubur yang mengindah di permukaannya menjadi permainan laut, bergelombang menyembunyikan berjuta tong kekuasaan Tuhan.  
            Aku pulang.
            ”Selamat siang Adinda!”
            Senyumnya menyungging di balik pagar rumah. Ia membukakan pintu. Menyalamaiku. Ia masih belum percaya. Aku memang masih merahasiakan kedatangan ini. Kami mengambil posisi duduk satu-satu seperti biasa di ruang tamunya yang menawarkan foto-foto keluarga.
            ”Kenapa datang tak bilang-bilang?”
            ”Bukannya abang sudah bilang!”
            ”Kapan?”
            ”Lewat doa, lewat kepercayaanmu!”
            Ia belum percaya. Ia masih terlihat malu sekaligus senang menurutku. Padahal aku masih akan mengatakan padanya, ”Besok abang akan pergi. Mungkin lebih jauh, jadi siapkanlah kekuatan hatimu, Adinda!”
            Dan aku sudah menduga yang bersemi di kelopak matanya. Namun, ia lengkapi dengan senyuman.
            ”Tak apa! Hati-hati saja ya,” katanya menimpa senyum dengan senyum yang lebih senyum.
            Sementara, aku komakan buku hati ini,
Buku Rindu, 4 Agustus 2011.
           

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...