Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Medan Bisnis, 25 April 2010


SERONA JALANAN AKSARA
Karya: Ria Ristiana Dewi

            Tidak ada alasan tuk menyerahkan takdir mengambang sunyi. Seribu, dua ribu adalah jerih payah. Yah…tetap hasil dari apa yang dipertaruhkan. Apa pun namanya, gengsi, prestise, semua hanyalah guol belaka. Yang ada adalah perut yang kelaparan dan napas yang terus berdetak di seluk-beluk penghidupan.
            Tentu tidak salah kusebut si Jangkung adalah sekisah dari asap jalanan kota. Tawaran dari perut mengiba dan tangan menganga. Simpul-simpul dari wajah tampan yang mewarna itu sekeriput usia senja. Aku sendiri tak mengerti, kenapa? Jikalau sunyi, kusempatkan menyampaikan makna pada wajahnya. Muda tapi tua, tegar namun lemah. Sudahlah, haruskah aku membahas bagaimana matanya menatapku? Sepertinya aku masih belum yakin.
***
            Ada sebait kisah dari jalanan aksara hari ini. Di tengah-tengah berpos si baju bertuliskan “POLISI”. Dari balik kacanya kulihat sorotan mata mulai meraba-raba jalanan kala itu. Tentu saja sorotan itu pertanda waspada. Kulihat lagi dua yang lain dari mereka sedang mengatur lalu lintas simpang empat.
            Sempat kutitip rasa khawatir kalau kulihat ada beberapa wanita berkendaraan tanpa pengaman, kusebut itu adalah alasan membebaskan tanpa pesan. Siang itu, dalam terik menetes keruh asam keringat, cahaya terus menyengat. Kuperhatikan dengan gairah sorotan waspada yang menggelimang di sudut-sudut pengendara. Kusetir mataku menuju sepasang sodako merah bernomor 121 dan  dibaliknya 125. Kutelunjukkan tangan bernomor 125.
            Di balik kaca sodako itulah tak lama kugenggam ingatan kembali menatap matanya. Mata itu adalah mata kelelahan. Mereka hadir di sela-sela lampu merah. Mereka seakan menganggap merah itu tak saatnya menyerah pada tangis dan lelah. Lalu, kuarahkan tangan meletakkan seribu rupiah ke gelas plastik bekas air mineral dan si Jangkung itu mengangguk-angguk lalu menitip kata-kata seraya berucap
“Terimakasih semua…”
            Aku hapal dengan semua gelagat mereka. Si Jangkunglah yang paling menyolok karena aku sudah paham bagaimana ia melantunkan lagu-lagu indah itu. Selagu penghibur lara, niatnya ketulusan. Tapi, aku belum juga menemukan apa arti tatapannya padaku. Aku sendiri tak percaya hingga akhirnya kuputuskan menyentuh melodi dari setiap petikan gitar dan nyanyian yang ia sampaikan tiga menit terkadang dua menit dan semenit seperti yang disampaikan lampu merah kala lelah terusik.
Si Jangkung tentulah memiliki tubuh yang jangkung, wajah tampan, terutama matanya yang menyorot tajam dan setiap ia memetik gitarnya  ada sepesan kuali sendu. Ia mau berbagi dan ia nyanyikan bersama asap jalanan aksara setiap harinya. Begitulah yang kuingat dari melodinya, melodi dari sepesan jiwa yang ia alirkan pada instrumen berharga di tangannya.
***
Dari kampus menuju rumah, saat lampu merah tak menyuruhku menemukan si Jangkung, sekilas tanpa hasil kucoba terus melihat wajah tampannya. Menurutku, wajah itu belum mencapai usia berkepala dua, dan menurutku si Jangkung ini korban dari peliknya sandiwara perkotaan. Aku tak paham dengan pasti. Yang kutahu hari ini aku rindu mendengarkan melodi yang meluncur dari tangannya. Kuingat tatapannya, tapi ku belum juga menemukan artinya.
***
Pagi ini. Kulakukan seperti kemarin. Mencarinya. Dan…seperti yang  kusangka, tak ada tatapan itu, tak ada melodi itu. Wajah itu, wajah di antara peliknya serona jalanan aksara, wajah penuh optimisme. Yang jika melihatnya aku ingat diriku, aku ingat wajahku sendiri. Saat bercermin, aku selalu bersyukur Tuhan memberi wajah di bawah renungan meraih masa depan. Jenjang kehidupanku tak sama dengannya yang bersembunyi di balik perkotaan bersama panas yang menemani, asap yang menyelimuti, dan gitar sebagai satu-satunya jalan. Tentu itulah dirinya saat berada diantara panas dan asap.
***
Sore ini. Kutemukan si Jangkung. Ada yang lain pada wajah itu. Lebih banyak jerawat dan warna kulitnya lebih hitam. Padahal baru dua hari yang lalu kulihat wajah cerah dengan berbinar-binar, optimis, penuh percaya diri. Bintik-bintik di wajah itu menyubur bersama keluh dari senyumnya. Aku tak setuju senyum yang kini pun tak hadir. Aku rindu senyum itu. Walau sejenak dan tak tahu apakah itu asli dari rasa di hatinya, aku tetap suka dengan senyuman itu, menambah percaya diriku bahwa si Jangkung akan baik-baik saja. Dan kuanggap itu bagian dari pesan yang kembali disampaikannya. Seperti biasa.
Seperti biasa pula kusodorkan seribu rupiah. Ia menatapku lagi, lebih tajam, dan kuberi sedikit senyum, malu-malu kusempatkan mengangguk padanya setelah dia mengangguk sebagai ucapan terimakasih. Mungkinkah senyum itu akan hadir besok. dan aku tetap menantinya.
Kembali kuingat bagaimana wajah kusamnya hari ini. Aku ingat jika ku sedang patah hati, wajahku akan muram, banyak pekerjaan kampus bertubi-tubi juga akan muram, apalagi menjelaskan pada hatiku sendiri membagi semuanya dengan teliti hingga akhirnya kulepas tengah shalat. Tapi, muramnya si Jangkung tak serupa wajahku saat-saat muram. Dan kuingat lagi wajahnya saat cerah yang kuanggap itu adalah saat-saat keoptimisan dirinya. Kuanggap senyuman di kala cerah itu pertandanya takkan membalik ke masa kelam. Hingga saat ku meraih tatapan itu seakan ia ingin menjerit padaku. Ada yang ingin ia sampaikan padaku.
Benarkah yang kuduga. Si Jangkung punya lebih daya tarik, jika yang lain memetik gitar adalah materi, maka si Jangkung memetiknya untuk pelampiasan. Ia ingin bercerita banyak hal padaku. Lebih dari semenit yang diberikan lampu merah, wajahnya menunjukkan sebulan atau dua bulan tak cukup untuk mendengarkan baik-baik kisahnya. Tapi, kutetap hati-hati dalam setiap menit itu. Dia bagian dari pandanganku pada serona jalanan aksara. Tempatku lalu-lalang setiap harinya. Kuyakin sedetik senyumku di sela menit itu adalah harapan pada wajahnya yang kan kembali mengembang senyum.
***
Setelah dua hari muramnya membeku diingatanku, akhirnya kudapati ia tersenyum padaku. Kusimpan baik-baik senyuman itu. Dan kulihat kali ini ada sebintik jerawat membesar tepat di bawah bibirnya. Kujaga hati-hati dalam ingatanku. Sebuah senyuman disertai bintik membesar. Seperti harapan yang juga melebar, si Jangkung tetap setia memberi melodinya. Lagu “Jangan Menyerah” yang biasa dinyanyikannya juga diganti dengan lagu “Selir Hati.” Petikan gitarnya terasa lebih indah, menyentuh, membuatku semakin yakin suasa hatinya. Suasana yang belum kudapatkan kemarin. Kali ini ia memaknai hidupnya lebih baik lagi. Aku percaya dia belajar banyak dari serona jalanan aksara. Kuyakin kini ia mulai paham jalannya. Kutatap penuh hayat. Si Jangkung terlihat lebih menghayati lagu itu. Tentu saja seluruh penumpang sodako hari itu kembali tersentuh dan tergugah menyempatkan seribu rupiah. Si Jangkung tetap dengan wajahnya yang kemarin, tidak ada yang berubah selain sorotannya padaku. Kali ini sorotan itu lebih lembut, tidak setajam pertama kali aku menatapnya.
Dan kini aku balas sorotan itu dengan lembut pula. Kusemai indah, kudoakan senyum itu adalah miliknya dan milikku di kala hidup menjemput dan kan kujaga hati-hati sorotan si Jangkung bersama masa depan di penghujung jalan hidup. Jalan yang pantasnya tak kubawa dengan kata-kata keluh, jalan itu menunjukkan caranya untuk bersikap. Aku takkan paham tanpa menyempatkan memaknai wajah si Jangkung. Dan aku bersyukur karena jalanku menyempatkan waktu menatap sorotannya, mewarnai bintik-bintik wajahnya, dan tak lupa kuucapkan terimakasih padanya. Membuatku tidak untuk melemah. Hidup lebih bermakna bersama simbol dari perjuangannya, perjuangan yang ia ajarkan pada jalanku.

Serambi KOMPAK, 12 April 2010

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...