Saturday, September 10, 2011

Cerpen, Suara Pembaruan, 9 Januari 2011


Puisi Tahun Baru
Ria Ristiana Dewi

            Dalam deretan tahun ini aku menerima titipan puisi yang begitu panjang. Anggap saja deretan peristiwa yang menggenang dibekuk dalam satu tahun.
Tahun ini, aku banyak mendapat pengalaman. Setelah satu tahun menunda ibu akhirnya memutuskan untuk berjualan mie. Sepertinya ia merasa bersalah akibat berhutang banyak kepada pihak bank demi menyekolahkanku. Ibu sampai harus menjadikan rumah sebagai jaminannya. Tahun ini, aku harus tamat kuliah karena tahun esok aku akan menikah, memenuhi amanah ibu dan bapak. Tahun ini, aku harus mendapat gelar dokterku. Dan tahun ini pula aku harus bekerja. Ibu kerap menasehati agar aku tidak lekas memikirkan uang karena ibu yang akan memikirkan. Namun, akhir tahun ini pula hutang-hutang ibu harus segera dibayarkan. Sayangnya, ibu hanya mampu berjualan karena selama ini ayah-lah andalan kami.
“Puisi merupakan apa yang kau rasakan, lalu kecup dan reguk-lah dalam segala situasi. “ Itulah sedikit potongan kata-kata saat jiwa kutumpahkan dalam secakup buku penebar diksi. Barangkali itu hanya kata-kata, namun didalamnya aku paham banyak nafas kehidupan. Ternyata kehidupan harus dinikmati. Begitulah yang kucoba raba maknanya.
Aku bukan penulis! Aku calon dokter. Mungkin aku hanya saudagar kata-kata, penyimpan makna, penebar jiwa. Dokter pun mampu berpuisi. Ia akan berpuisi melalui caranya mengobati pasien. Keselamatan pasien adalah segalanya, begitu pun kualitas metafor dan diksi pada puisi menjadi tanggung jawab seorang penyair. Aku berpuisi lewat selaksana cita-cita. Pernah satu kali ibuku memberikan aku satu buah puisi semacam sutil dipasang dengan wajan yang tak kan pernah menjadi hidangan, bila tak tersedia keduanya. Lalu bawang, cabai, minyak makan, telur, dan lainnya sebagai langkah lanjutan bahwa aku sedang mencoba memasang kerangka, semacam aba-aba siap sebelum berpuisi. Namun, aku tidak sedang berpuisi bersebab aku bukan seorang penyair. Aku adalah seorang anak penjual mie, temaku adalah penjual mie, iramaku adalah wajah ibuku, syairku adalah tangan ibuku, bait-baitnya adalah kaki ibuku. Karena ibuku adalah tubuh puisiku.
            Banyak orang suka berpuisi, cinta pada puisi. Kalau begitu, aku sungguh suka, sayang, cinta pada ibuku. Aku kerap menemani ibu bertempur dengan rempah-rempah, dan wajan, sutil, kompor adalah alat perangnya. Jiwanya difokuskan tercebur menyelam bersama rasa, nikmat telah diramu dan jelas akan memuaskan lidah saat pelanggan ibuku membelinya. Perlahan ia membuang keringat dengan lengannya, sambil merajang bawang, meracik bumbu, ibu terkadang menyanyikan lagu-lagu Ebiet G. Ade. Tentunya dengan volume yang cukup kecil sehingga takkan banyak yang tahu. Terkadang ia bernyanyi pula dari dalam hati.
Ibuku berkata, “rasa adalah kunci sukses bisnis, pelanggan pula adalah raja. Jadi, kau betul-betul-lah melayani. Jangan kecewakan pelanggan kita. Kau dengar itu, Cahya!”
“Ya…, Bu!” jawabku jelas sambil masih tertegun membaca deretan kata-kata di salah satu majalah fiksi. Ini yang selalu kulakukan saat akan menemani ibu berjualan. Ibu berjualan tepat di depan gang. Rumahku sendiri berada di dalam gang. Kami menyewa sebuah warung berukuran empat kali empat meter. Setidaknya cukup untuk mencari nafkah setelah ayah meninggal beberapa tahun yang lalu. Syukurlah, dibalik gang ini ada sebuah universitas yang mahasiswanya kerap melongok jajanan di sepanjang jalan sekitar universitas. Jalanannya tidak terlalu luas juga tak terlalu sempit. Cukup ramai pula apabila mahasiswa mulai berganti jam mata kuliah.
Jika pelanggan sudah mulai ramai barulah aku beranjak dari duduk, menyimpan majalah sembari terhenyak dalam melayani para pelanggan. Ibu akan sangat sibuk memasak mie, lalu aku akan membungkuskan mie tersebut. Kadangkala bila ada yang makan di warung, maka aku bersiap-siap menyediakan minuman. Mulai dari air kosong sampai dengan teh manis dingin, serta berbagai macam jus.
Ini akan selalu terjadi sepulang kuliah jam satu siang. Lalu, setelah rehat sejenak, mengisi perut di rumah barulah aku membantu ibu berjualan. Dari situ aku belajar banyak racikan dengan ibu. Barangkali ibu mulai mengajarkan ilmunya padaku sedikit demi sedikit. Yah…,resep istimewa ibu benar-benar tak tertandingi.
Jika kau melihat ada seorang pemain sepak bola berposisi sebagai penyerang, ibuku-lah itu dan aku adalah posisi pertahanannya. Sedangkan wasitnya adalah para pelanggan. Jika taktik yang ibu dan aku siapkan di lapangan cukup matang, maka wasit akan meniupkan peluit kemenangannya. Jadi, aku dan ibu adalah satu tim.
Suasan warung kembali lenggang. Aku dan ibu kali ini beristirahat sejenak duduk di kursi pelanggan. Sementara aku membuka-buka majalah.
“Cahya…bagaimana kuliahmu, Nak! Lancar, kan!”
“Iya…, ibu tenang saja. Cahya akan banyak belajar.”
“Ah…Nak, ibu bersalah. Kenapa kau harus berada disini sementara kau harus belajar di rumah,” kata ibu dengan wajah mendung.
“Sudahlah, Bu…! Cahya bisa belajar sepulang jualan,” tegasku menyakinkan ibu terlebih untuk menenangkan.
Jalanan terlihat ramai. Gelap mulai jatuh ke badan bumi sementara burung-burung di langit gelisah. Hujan rintik-rintik menyeret aku kembali termenung tumpah pada majalah fiksi di atas meja. Setelah itu, aku mulai sibuk melayani pelanggan yang satu per satu berdatangan. Mempersiapkan meja agar tetap bersih, mengambil gelas dan piring kotor segera setelah pelanggan selesai makan. lalu membawanya ke cucian piring.
“Sudah sana kau pulang-lah, shalat sebentar nanti biar gantian dengan ibu,” sambar ibu sewaktu aku sedang mencuci piring di samping warung, dekat dengan bawah pohon yang terletak persis di samping badan jalan pula, parit yang melintang memisahkan tempatku berdiri dengan jalan menjadi wadah pembuangan air kotor bekas cuci piring lantas sampahnya akan dimasukkan ke dalam plastik untuk kemudian di buang ke tempat sampah di pinggiran kota. Biasanya aku dan ibu akan mengendari kereta selama lima menit untuk sampai ke lokasi pembuangan sampah itu.  Dan itu baru dapat kami lakukan setelah selesai berjualan tepat jam sebelas malam.
Suara adzan bergema hebat mengantarkan burung-burung ke sangkarnya, menyerang pula jenakku tuk rehat sementara para pelanggan pula akan menunggu sembari ibu bergantian shalat denganku. Malam tak berarti hambar, justru para awak jualanan ibu mulai berdatangan.
“Mbak, mie tiaw satu.”
“Sebentar ya… Mbak, ibu saya sedang shalat,” kataku padanya, salah satu pelanggan.
Kerumunan jangkrik mulai melantangkan suara, suara motor yang lalu lalang pula semakin semarak, sesekali kilau dari arah badan motor menyentak benakku. Aku menunggu ibu yang belum hadir hingga satu jam lamanya. Seharusnya waktu sudah tidak wajar lagi.  Malam mulai gelisah.
“Mbak, saya bisa nitip warung saya sebentar,  mau memanggil ibu saya,” kataku agak ragu-ragu padanya.
“Baiklah. Jangan lama-lama ya, Mbak!” Katanya ramah hingga membuatku sedikit nyaman. 
Tergopoh-gopoh ku bawa tubuh, kepanikan terjerat di benakku. Seakan malam kian mengancam, jantungku berdegup, batinku terhentak oleh semilir angin yang mengekori langkah kaki. Ku perhatikan rumahku yang tak jauh lagi. Lampu di seluruh ruangan menyala. Pintu tertutup rapat, saat kubuka ternyata tidak terkunci. Ibu pasti di dalam, batinku menyakinkan.
“Bu…bu…!”
Tidak ada jawaban. Sunyi senyap pun semakin perkasa, pada ruang tamu aku tak menemukan ibu, kupercepat menuju dapur juga tidak ada. Ah…seharusnya di dalam kamar jika shalat, tapi sudah sejam yang lalu. Aku putar tubuhku ke arah kamar ibu arah ruang depan rumah. Pintu kamar tertutup setengah.
Krieekkk.
“Bu…!”
Tepat. Mataku tepat melihat tubuh ibu sedang bersujud, namun tak ada gerakan lagi. Aku menuju ke tubuhnya.
“Bu…!” Panggilku pelan seraya mencoba mengoyangkan tubuh ibu.
Bruukkk.
Tubuh ibu jatuh tak berdaya, begitu ringkih, rapuh tanpa tanda-tanda kehidupan. Kupasang telunjuk tangan tepat di depan hidungnya. Tidak ada nafas disana.
Aku berlari, berlari, dan terus berlari menuju keluar rumah. Langkahku berbelok ke rumah Pak Sawiji, tetangga kami. Sampai di depan terasnya aku memencet bel lantas memanggil-manggil penghuni rumah. Nafasku menggantung di tenggorokan, perlahan kuperbaiki hingga menghirup kembali rasa tenang itu.
“Ada apa Cahya?”
“Ibu tidak bernafas Pak?
“Apa? Dimana?”
“Di rumah. Selesai shalat, dalam keadaan sedang sujud,” kataku sambil terisak-isak. Ibu Sawiji turut menenangkan dengan merangkulku dan mengelus-elus kepalaku.
“Sabar, Cahya!”
Aku tak sanggup lagi. Kubiarkan Pak Sawiji yang mengurusnya. Tak sanggup lagi batinku melihat Ibu dalam keadaan seperti itu.
***
            Setelah ibu pergi. Hutang-hutang masih satu bulan lagi harus dibayar. Sedangkan uang sewa warung juga harus dibayarkan. Syukurnya, uang duka sepeninggalan ibu cukup untuk memenuhi semua itu. Tapi, aku tak tahu apakah akan melanjutkan kuliah dan apakah aku dapat menikah tahun esok.
            Tanpa pikir panjang, kuputuskan untuk berjualan sendirian. Tidak kusangka, alangkah sulitnya mendapatkan rasa seperti rasa yang ibuku buat. Aku tak pandai meramu, meracik seperti ibu. Aku tak lihai selihai ibu, dan tentu saja aku tak dapat bernyanyi seperti ibu bernyanyi di kala lelah merubung tubuh dan pikirannya. Aku begitu lelah. Baris hidupku jadi semakin runyam, iramanya sudah tak seindah irama yang ibu ciptakan, bait-baitnya telah banyak amburadul.
            Puisi itu telah lenyap.
            Tapi aku pula bukan seorang calon dokter lagi, entah bagaimana aku menyambung nafas sementara di tanganku hanya ada alat perang tanpa awaknya. Hanya ada kertas tanpa penanya. Hanya ada kata-kata namun tanpa ilmu, tanpa semangat lagi.
            Tahun Baru tiba.
            Suara petasan ada dimana-mana. Aku terdiam beku dalam angin yang terasa angin, dingin. Di bawah bulan dan bintang, diantara pepohonan rindang, kusambut ibu terpatri di langit-langit.
            Ah…semakin malam saja. “Keterlaluan! Aku tak boleh menyerah”
            Aku beranjak ke dalam rumah setelah lama berada di halaman. Lantas aku masuk ke kamar ibu, kosong.  Sewaktu aku meremas kenangan ibu di dalam kamar, malam sebelum esok akan dimakamkan, aku melihat secarik kertas berisi resep masakan ibu. Resep rahasia yang dahulu pernah ibu pesankan agar aku bawa dan kupelajari setelah ia meninggal nanti. Kelak, ia ingin aku meneruskan perjuangannya. Aku simpan, aku siap meneruskan perjuangannya.
Bila seorang penyair mengatakan bahwa dalam puisi harus ada makna yang dibuahkan, maka ibuku adalah sosok sarat makna itu. Melalui mata katupnya ibu berpesan semangat juang kepadaku, melalu pipi dinginnya saat aku menyentuh untuk terakhir kali, ia menggenggam cita-citaku, melalui senyum terakhirnya pula ibu seakan mengajarkan hidupku baru dimulai. Dan melanjutkan bait-bait kehidupan yang kelak dititipkannya.
            Di ruang tamu, aku termenung lagi, membaca berkali-kali puisi tentang ibu di salah satu majalah. Itu puisiku, judulnya ‘Ibu’. Aku buatkan untuk ibu khusus di hari ibu, tapi belum sempat ibu membacanya. Sengaja kurenggangkan waktu mengirimnya ke majalah yang selama ini selalu kubaca. Entahlah…,mungkin hanya untuk mencari bait-bait kehidupan di wajahnya.
            Kriiiinggg.
            Masih di ruang tamu, pukul 08.15.
            “Hallo!”
            “Cahya…, ini Abang. Abang mau bilang tahun esok tepat empat puluh hari ibumu. Tanggal 23 januari 2011 ibu telah menyetujui pernikahan kita.
            “Benarkah?” Tanyaku tentu dengan rasa senang, kebahagiaan yang menjadi-jadi.
            “Cahya…, abang mau kau tak menganggap kalau kau sendiri sekarang ini. Nanti kita pikirkan lagi kuliahmu. Tenanglah…!”
            “Jadi…”
            “Jadi, kau hanya perlu mempersiapkan mental sebagai istriku.”
            Telpon tertutup. Pembicaraan selesai. Aku bahagia. Puisi tahun baruku telah hadir, calon suamiku. Ia akan menjadi temaku, ia adalah irama hidupku, ia juga yang akan menyambung tiap bait-baitnya.

Serambi KOMPAK, lepas Tahun 2010

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...