Komitmen Budaya Sumut dalam Cerpen
“Hari ini”
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Ekstrinsik
dalam Cerita Pendek (Cerpen)
Cerpen
dalam khazanah sastra Indonesia adalah
jenis prosa yang memiliki keterikatan unsur-unsur ekstrinsik. Tentu, sebagai
salah satu alat berbahasa, dalam hal ini, bahasa dengan sastra sebagai
impelementasinya merupakan wadah mengungkapkan nilai-nilai yang terumus dalam
kehidupan masyarakat. Jika memandang cerpen dari sisi ini, ruang “udara” tidak
pernah “tawar” dari perdebatan. Ia senantiasa berwarna, menemukan gejolak yang
merekam jejak sosial, budaya, politik, pendidikan, agama, dan masih banyak
lagi.
Beberapa
cerpen yang merekam jejak kehidupan sosial serupa pula dengan apa yang
diungkapkan oleh Ratna Indraswari Ibrahim, “Penulisan cerpen dapat dikatakan
adalah sebuah proses panjang terhadap kehidupan saya. Saya merasa punya kebun
kecil yang saya minati terus-menerus, karena di sana ada bunga warna-warni, ada
cinta, ketakutan, dan kejahatan juga mimpi-mimpi kita bersama tentang sebuah dunia.”
(Siswanto, 2008: 127).
Pengungkapan
Ratna tersebut sejalan dengan pengertian cerpen yaitu cerita yang diemban oleh
pelaku-pelaku tertentu, dengan peranan, latar serta tahapan dan rangkaian
cerita tertentu yang bertolak dari imajinasi pengarangnya (dan kenyataan)
sehingga menjalin suatu cerita. (Siswanto, 2008:128). Melihat keterikatan ini, tidak salah apabila
di kemudian cerpen tidak pernah lepas dari pribadi sosial dan budaya pengarang.
Sastra Sumut Merebak Gemilang
Pengarang-pengarang
Sumut, sebut saja pengarang era tahun 50-an sampai 80-an. Tokoh-tokoh itu adalah Chairil Anwar yang dilahirkan di
Medan, Hamka dengan novel-novel pertamanya terbit di Medan, Aoh K Hadimadja dan
H. B. Jassin pernah bermukim di Medan (Antilan
Purba, 2007: 20). Selain beberapa nama ini, masih banyak lagi nama-nama
pengarang yang memiliki keterikatan erat dengan Sumut. Tetapi pertanyaannya,
sudah bisakah tokoh-tokoh tadi mewakili sastra Sumatera Utara?
Memandang
pertanyaan tersebut, sastra Sumatera Utara sesungguhnya terus berproses dan
berupaya mengembangkan Sumut dengan melakoni lokalitas dalam setiap
karya-karyanya. Beberapa tahun terakhir,
sebut pula nama-nama seperti Ilham Wahyudi, Muhammad Pical Nasution, Wahyu Wiji
Astuti, Sartika Sari untuk pengarang Sumut dengan rentang usia 20 sampai 30
tahun. Selain tentunya, Hasan Al Banna, Afrion, Jones Gultom, Raudah Jambak dan
masih banyak lagi untuk usia 30 sampai 40 tahun. Mereka berkarya sejak era
tahun 2000-an sampai kini (Y.S Rat, Analisa, 2011). Bahkan hal yang paling
menarik adalah cerpen-cerpen Hasan Al-Banna yang terangkum dalam buku antologi
cerpen “Sampan Zulaiha” yang memuat budaya Sumut.
Perkembangan
sastra Sumatera Utara dari berbagai era ini terus saja hidup dan menjadikan
Sumatera Utara sebagai salah satu ladang sastra yang paling diperhitungkan.
Kebudayaan Sumut, Sejauh Mana?
R.
Linton dalam bukunya yang berjudul The
Cultural background of personality menyatakan bahwa kebudayaan adalah
konfigurasi dari sebuah tingkah laku dan hasil laku, yang unsur-unsur
pembentuknya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu (Habib
Musthopo, 1983). Sementara itu, kebudayaan Sumut dalam hal ini selain diartikan
adat, juga merupakan kebiasaan-kebiasaan
yang tercermin di masyarakat Sumatera Utara.
Kebudayaan Sumatera
Utara seperti kebudayaan Batak dan Melayu Deli adalah kebudayaan yang melekat
erat. Namun, tidak menutup kemungkinan kebudayaan Sumut itu ada kaitannya
dengan multikulturalisme budaya yang membangun Sumut itu sendiri. Yaitu, dengan
adanya budaya pendatang seperti Jawa, Minang, Aceh, dan lainnya. Hal ini
terkait tingginya tingkat penyebaran masyarakat di era orde baru hingga
reformasi. Sejauh ini, multikulturalisme terus menjadi perbincangan dalam aspek
kehidupan masyarakat perkotaan. Di Jakarta, multikulturalisme bahkan
diperbincangkan secara global seperti yang terangkum dalam seminar Jakarta
International Literary Festival-II tahun 2011 lalu. Sementara itu di Sumatera
Utara, khususnya kota Medan, multikulturalisme juga tercermin dalam aspek penulis
dengan karya sastranya. Fenomena yang paling menonjol akhir-akhir ini tentu
terangkum dalam cerpen-cerpen Hasan Al Banna, seorang penulis sastra yang memiliki
latar belakang kelahiran suku Minang. Kini, cerpen-cerpen: Rumah Amangboru,
Gokma, Parompa Sadun Kiriman Ibu, Pasar Jongjong, Tiurmaida, Horja, Rabiah
terantologi sebagai Buku “Kumpulan Cerpen Sampan Zulaiha” yang banyak diminati
sampai ke tingkat nasional.
Budaya Sumut dalam Cerpen-Cerpen
Pengarang Sumut “Hari Ini”
Hari ini adalah kita dengan berbagai
macam rencana dan revisi masa lalu. Hari ini adalah gerak yang nyata, perlu
dijalani dengan sungguh-sungguh. Menarik, apabila kita “menyisir” kembali bagaimana
budaya Sumut di masa lalu. Budaya di masa lalu dan hari ini memiliki analogi
yang berbeda. Budaya dahulu, seperti apa yang dikatakan Sujiwotejo dalam
seminar international di Jakarta 2011 (Jilfest-II) adalah wujud cerminan adat
istiadat yang memiliki keterikatan secara emosional, memakai bahasa daerah, dan
dimaknai sebagai kekayaan “ciri khas” masyarakat dari daerahnya masing-masing
yang, tidak dapat dicampuri unsur-unsur keindonesiaan. Kisah atau cerita yang
terangkum dalam bentuk-bentuk sastra lama: legenda, mitos, hikayat, dan fabel
adalah contoh-contoh kebudayaan yang hidup di masa lalu.
Seiring
perkembangan zaman, kebudayaan dalam sastra “hari ini” dimaknai sebagai bentuk
penyatuan “ciri khas” daerah itu dalam kebhinekaan Indonesia yang berlandaskan
satu gerbang kebudayaan, yakni kebudayaan Indonesia. Apabila di kemudian budaya
dalam cerpen yang dimaksudkan adalah kebudayaan yang seperti ini, maka kita
akan meninggalkan sejenak cerita-cerita budaya Sumut yang memakai bahasa Batak
dan Melayu dalam mendokumentasikan naskahnya. Masyarakat kekinian diajak “menyebrangi”
budaya sebagai dasar yang hanya perlu diketahui, bukan dikaji, lalu dikuasai.
Bila
kita hendak mengkaji sastra Sumut, dalam hal ini cerpen di masa lalu, rasanya
akan sangat sulit untuk menemukan seluruh bahkan sebagian karya tersebut.
Hitunglah ia sebagai budaya di era sebelum kemerdekaan sampai dengan era tahun
60-an. Namun, menelusuri problema ini sesungguhnya tidak begitu sulit. Mari
kita membahas saja cerpen-cerpen “hari ini” yang dalam kandungannya memiliki
sebuah komitmen untuk mengembangkan budaya Sumut. Meski, sekali lagi, komitmen
budaya Sumut yang bagaimana?
Cerpen
“Margala” karya Sartika Sari memberikan satu dari banyak contoh cerpen yang memaknai
kebudayaan sumut “hari ini”. Penggunaan
bahasa yang kental dengan konotasi-konotasi baru juga kerap dipakai. Misalnya
terlihat pada narasi cerpen Margala berikut ini:
Keduanya melahap malam dalam gigil di atas ranjang
tua, di luar sana Opung Boru dan Opung Doli sudah berkawan dengan kepulan asap
tungku dan asap tembakau. Ya, malam belum sudah. Dan pagi juga masih balita.
Tetapi keduanya telah menjejak nafas pada lembaran waktu yang baru.
“Opung Boru” dalam cuplikan cerpen “Margala”
di atas sesungguhnya memiliki makna ganda opung sebutan untuk kakek dan Boru
sebutan untuk perempuan atau nama opung (kakek)? Dalam adat Batak yang, apakah sengaja
dituliskan atau justru sebaliknya. Namun, terlepas dari kesalahan tersebut Cerpen
“Margala” ini akhirnya memikat juri pada perlombaan cerpen mahasiswa
se-Indonesia di Purwokerto yang sesungguhnya tengah diduduki untuk mewakili
cerpen bertema lokalitas dari Sumatera Utara. Sartika Sari yang memiliki latar
belakang ras Jawa-Medan ini telah meminjam sedikitnya, persepsi bahwa konsep
budaya yang dibawakannya hendak mewakili budaya Sumut. Inilah contoh bahwa
budaya dalam konsep pengarang “hari ini” telah menarik ulur budaya Sumut dari
budaya di masa lalu.
Cerpen
“Rumah Amangboru” karya Hasan Al-Banna juga memiliki nilai-nilai lokalitas
budaya Sumut. Berikut ini adalah cuplikan cerpennya.
Belakangan, tak mudah bagi Haji
Sudung membongkar timbunan peristiwa silam di bilik kenangannya. Peristiwa-peristiwa
itu tak ubahnya barang rongsokan. Semacam lempengan-lempengan besi tua yang
menelungkup dan berkarat. Ya, usia begitu tangguh menyusutkan tubuh,
mengangsurkan penyakit demi penyakit, termasuk melumpuhkan ingatan.
Membaca
cuplikan tersebut, sepertinya harus
diingat kembali bahwa, telah disebutkan dalam perdebatan bedah buku Hasan
Al-Banna di kantin Taman Budaya Sumut oleh Yulhasni, cerpen ini tampak berani dengan meletakkan
budaya sebagai tumpuan utama. Padahal, seperti yang sudah diketahui, Hasan Al Banna
merupakan penulis yang memiliki latar belakang suku Minang. Dan cerpen tersebut
menunjukkan kegigihan Hasan mengangkat budaya Sumut dari sudut pandang suku Minang.
Namun,
sudahkah pula ditunjukkan komitmen budaya Sumut di dalamnya?
Komitmen,
dalam hal ini kesungguhan. Sementara itu, budaya Sumut memiliki dasar-dasar nilai yang lebih dari
sekadar menunjukkan adanya sebutan-sebutan bagi orang batak. Bagi Hasan Al
Banna, budaya Sumut itu sendiri terlepas dari adat istiadat yang melekat erat
seperti yang dikatakan Sujiwotejo. Kebudayaan bisa saja diartikan sebagai
kebiasaan orang batak yang tercermin dengan cara-cara mereka mencari
penghasilan, berkeluarga, memandang kehidupan. Namun, apabila kemudian kita
telaah kembali cerpen “hari ini” memang senantiasa menjerumuskan budaya Sumut
dalam kebiasaan-kebiasaan orang Sumut di masa sekarang dan harapan-harapan di
masa yang akan datang.
Garis
merah yang bisa kita ambil dari komitmen budaya Sumut dalam cerpen “Hari ini”
adalah terdapat dua konsep budaya yang berbeda. Budaya Sumut dahulu, di masa
sebelum sumpah pemuda, diartikan adat istiadat yang kental dengan bahasa, cara
berkesenian, cara ber-narasi dan ber-eksplorasi suku Batak dan Melayu asli. Sementara
itu, di zaman setelahnya, budaya Sumut diartikan kebiasaan orang-orang Sumut
yang berusaha mengubah proses hidupnya dari yang primitif ke arah yang lebih
modern. Sepertinya, begitulah “hari ini”.
Medan, November 2012

