Saturday, December 29, 2012

Mimbar Umum, 5 Januari 2013(dengan Pengeditan)/Juara 1 Lomba Artikel KBSI Universitas Sumatera Utara, 5 Desember 2012


Komitmen Budaya Sumut dalam Cerpen “Hari ini”
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Ekstrinsik dalam Cerita Pendek (Cerpen)  
            Cerpen dalam  khazanah sastra Indonesia adalah jenis prosa yang memiliki keterikatan unsur-unsur ekstrinsik. Tentu, sebagai salah satu alat berbahasa, dalam hal ini, bahasa dengan sastra sebagai impelementasinya merupakan wadah mengungkapkan nilai-nilai yang terumus dalam kehidupan masyarakat. Jika memandang cerpen dari sisi ini, ruang “udara” tidak pernah “tawar” dari perdebatan. Ia senantiasa berwarna, menemukan gejolak yang merekam jejak sosial, budaya, politik, pendidikan, agama, dan masih banyak lagi.
            Beberapa cerpen yang merekam jejak kehidupan sosial serupa pula dengan apa yang diungkapkan oleh Ratna Indraswari Ibrahim, “Penulisan cerpen dapat dikatakan adalah sebuah proses panjang terhadap kehidupan saya. Saya merasa punya kebun kecil yang saya minati terus-menerus, karena di sana ada bunga warna-warni, ada cinta, ketakutan, dan kejahatan juga mimpi-mimpi kita bersama tentang sebuah dunia.” (Siswanto, 2008: 127).
            Pengungkapan Ratna tersebut sejalan dengan pengertian cerpen yaitu cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu, dengan peranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari imajinasi pengarangnya (dan kenyataan) sehingga menjalin suatu cerita. (Siswanto, 2008:128).  Melihat keterikatan ini, tidak salah apabila di kemudian cerpen tidak pernah lepas dari pribadi sosial dan budaya pengarang.

Sastra Sumut Merebak Gemilang
            Pengarang-pengarang Sumut, sebut saja pengarang era tahun 50-an sampai 80-an. Tokoh-tokoh  itu adalah Chairil Anwar yang dilahirkan di Medan, Hamka dengan novel-novel pertamanya terbit di Medan, Aoh K Hadimadja dan H. B. Jassin  pernah bermukim di Medan (Antilan Purba, 2007: 20). Selain beberapa nama ini, masih banyak lagi nama-nama pengarang yang memiliki keterikatan erat dengan Sumut. Tetapi pertanyaannya, sudah bisakah tokoh-tokoh tadi mewakili sastra Sumatera Utara?
            Memandang pertanyaan tersebut, sastra Sumatera Utara sesungguhnya terus berproses dan berupaya mengembangkan Sumut dengan melakoni lokalitas dalam setiap karya-karyanya.  Beberapa tahun terakhir, sebut pula nama-nama seperti Ilham Wahyudi, Muhammad Pical Nasution, Wahyu Wiji Astuti, Sartika Sari untuk pengarang Sumut dengan rentang usia 20 sampai 30 tahun. Selain tentunya, Hasan Al Banna, Afrion, Jones Gultom, Raudah Jambak dan masih banyak lagi untuk usia 30 sampai 40 tahun. Mereka berkarya sejak era tahun 2000-an sampai kini (Y.S Rat, Analisa, 2011). Bahkan hal yang paling menarik adalah cerpen-cerpen Hasan Al-Banna yang terangkum dalam buku antologi cerpen “Sampan Zulaiha” yang memuat budaya Sumut.
            Perkembangan sastra Sumatera Utara dari berbagai era ini terus saja hidup dan menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu ladang sastra yang paling diperhitungkan.

Kebudayaan Sumut, Sejauh Mana?
            R. Linton dalam bukunya yang berjudul The Cultural background of personality menyatakan bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari sebuah tingkah laku dan hasil laku, yang unsur-unsur pembentuknya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu (Habib Musthopo, 1983). Sementara itu, kebudayaan Sumut dalam hal ini selain diartikan adat,  juga merupakan kebiasaan-kebiasaan yang tercermin di masyarakat Sumatera Utara.
Kebudayaan Sumatera Utara seperti kebudayaan Batak dan Melayu Deli adalah kebudayaan yang melekat erat. Namun, tidak menutup kemungkinan kebudayaan Sumut itu ada kaitannya dengan multikulturalisme budaya yang membangun Sumut itu sendiri. Yaitu, dengan adanya budaya pendatang seperti Jawa, Minang, Aceh, dan lainnya. Hal ini terkait tingginya tingkat penyebaran masyarakat di era orde baru hingga reformasi. Sejauh ini, multikulturalisme terus menjadi perbincangan dalam aspek kehidupan masyarakat perkotaan. Di Jakarta, multikulturalisme bahkan diperbincangkan secara global seperti yang terangkum dalam seminar Jakarta International Literary Festival-II tahun 2011 lalu. Sementara itu di Sumatera Utara, khususnya kota Medan, multikulturalisme juga tercermin dalam aspek penulis dengan karya sastranya. Fenomena yang paling menonjol akhir-akhir ini tentu terangkum dalam cerpen-cerpen Hasan Al Banna, seorang penulis sastra yang memiliki latar belakang kelahiran suku Minang. Kini, cerpen-cerpen: Rumah Amangboru, Gokma, Parompa Sadun Kiriman Ibu, Pasar Jongjong, Tiurmaida, Horja, Rabiah terantologi sebagai Buku “Kumpulan Cerpen Sampan Zulaiha” yang banyak diminati sampai ke tingkat nasional.

Budaya Sumut dalam Cerpen-Cerpen Pengarang Sumut “Hari Ini”
            Hari ini adalah kita dengan berbagai macam rencana dan revisi masa lalu. Hari ini adalah gerak yang nyata, perlu dijalani dengan sungguh-sungguh. Menarik, apabila kita “menyisir” kembali bagaimana budaya Sumut di masa lalu. Budaya di masa lalu dan hari ini memiliki analogi yang berbeda. Budaya dahulu, seperti apa yang dikatakan Sujiwotejo dalam seminar international di Jakarta 2011 (Jilfest-II) adalah wujud cerminan adat istiadat yang memiliki keterikatan secara emosional, memakai bahasa daerah, dan dimaknai sebagai kekayaan “ciri khas” masyarakat dari daerahnya masing-masing yang, tidak dapat dicampuri unsur-unsur keindonesiaan. Kisah atau cerita yang terangkum dalam bentuk-bentuk sastra lama: legenda, mitos, hikayat, dan fabel adalah contoh-contoh kebudayaan yang hidup di masa lalu.
            Seiring perkembangan zaman, kebudayaan dalam sastra “hari ini” dimaknai sebagai bentuk penyatuan “ciri khas” daerah itu dalam kebhinekaan Indonesia yang berlandaskan satu gerbang kebudayaan, yakni kebudayaan Indonesia. Apabila di kemudian budaya dalam cerpen yang dimaksudkan adalah kebudayaan yang seperti ini, maka kita akan meninggalkan sejenak cerita-cerita budaya Sumut yang memakai bahasa Batak dan Melayu dalam mendokumentasikan naskahnya. Masyarakat kekinian diajak “menyebrangi” budaya sebagai dasar yang hanya perlu diketahui, bukan dikaji, lalu dikuasai.
            Bila kita hendak mengkaji sastra Sumut, dalam hal ini cerpen di masa lalu, rasanya akan sangat sulit untuk menemukan seluruh bahkan sebagian karya tersebut. Hitunglah ia sebagai budaya di era sebelum kemerdekaan sampai dengan era tahun 60-an. Namun, menelusuri problema ini sesungguhnya tidak begitu sulit. Mari kita membahas saja cerpen-cerpen “hari ini” yang dalam kandungannya memiliki sebuah komitmen untuk mengembangkan budaya Sumut. Meski, sekali lagi, komitmen budaya Sumut yang bagaimana? 
            Cerpen “Margala” karya Sartika Sari memberikan satu dari banyak contoh cerpen yang memaknai kebudayaan sumut “hari ini”.  Penggunaan bahasa yang kental dengan konotasi-konotasi baru juga kerap dipakai. Misalnya terlihat pada narasi cerpen Margala berikut ini:
Keduanya melahap malam dalam gigil di atas ranjang tua, di luar sana Opung Boru dan Opung Doli sudah berkawan dengan kepulan asap tungku dan asap tembakau. Ya, malam belum sudah. Dan pagi juga masih balita. Tetapi keduanya telah menjejak nafas pada lembaran waktu yang baru.
             “Opung Boru” dalam cuplikan cerpen “Margala” di atas sesungguhnya memiliki makna ganda opung sebutan untuk kakek dan Boru sebutan untuk perempuan atau nama opung  (kakek)? Dalam adat Batak yang, apakah sengaja dituliskan atau justru sebaliknya. Namun, terlepas dari kesalahan tersebut Cerpen “Margala” ini akhirnya memikat juri pada perlombaan cerpen mahasiswa se-Indonesia di Purwokerto yang sesungguhnya tengah diduduki untuk mewakili cerpen bertema lokalitas dari Sumatera Utara. Sartika Sari yang memiliki latar belakang ras Jawa-Medan ini telah meminjam sedikitnya, persepsi bahwa konsep budaya yang dibawakannya hendak mewakili budaya Sumut. Inilah contoh bahwa budaya dalam konsep pengarang “hari ini” telah menarik ulur budaya Sumut dari budaya di masa lalu.
            Cerpen “Rumah Amangboru” karya Hasan Al-Banna juga memiliki nilai-nilai lokalitas budaya Sumut. Berikut ini adalah cuplikan cerpennya.
            Belakangan, tak mudah bagi Haji Sudung membongkar timbunan peristiwa silam di bilik kenangannya. Peristiwa-peristiwa itu tak ubahnya barang rongsokan. Semacam lempengan-lempengan besi tua yang menelungkup dan berkarat. Ya, usia begitu tangguh menyusutkan tubuh, mengangsurkan penyakit demi penyakit, termasuk melumpuhkan ingatan.
            Membaca cuplikan  tersebut, sepertinya harus diingat kembali bahwa, telah disebutkan dalam perdebatan bedah buku Hasan Al-Banna di kantin Taman Budaya Sumut oleh Yulhasni,  cerpen ini tampak berani dengan meletakkan budaya sebagai tumpuan utama. Padahal, seperti yang sudah diketahui, Hasan Al Banna merupakan penulis yang memiliki latar belakang suku Minang. Dan cerpen tersebut menunjukkan kegigihan Hasan mengangkat budaya Sumut dari sudut pandang suku Minang.
            Namun, sudahkah pula ditunjukkan komitmen budaya Sumut di dalamnya?
            Komitmen, dalam hal ini kesungguhan. Sementara itu, budaya Sumut  memiliki dasar-dasar nilai yang lebih dari sekadar menunjukkan adanya sebutan-sebutan bagi orang batak. Bagi Hasan Al Banna, budaya Sumut itu sendiri terlepas dari adat istiadat yang melekat erat seperti yang dikatakan Sujiwotejo. Kebudayaan bisa saja diartikan sebagai kebiasaan orang batak yang tercermin dengan cara-cara mereka mencari penghasilan, berkeluarga, memandang kehidupan. Namun, apabila kemudian kita telaah kembali cerpen “hari ini” memang senantiasa menjerumuskan budaya Sumut dalam kebiasaan-kebiasaan orang Sumut di masa sekarang dan harapan-harapan di masa yang akan datang.
            Garis merah yang bisa kita ambil dari komitmen budaya Sumut dalam cerpen “Hari ini” adalah terdapat dua konsep budaya yang berbeda. Budaya Sumut dahulu, di masa sebelum sumpah pemuda, diartikan adat istiadat yang kental dengan bahasa, cara berkesenian, cara ber-narasi dan ber-eksplorasi suku Batak dan Melayu asli. Sementara itu, di zaman setelahnya, budaya Sumut diartikan kebiasaan orang-orang Sumut yang berusaha mengubah proses hidupnya dari yang primitif ke arah yang lebih modern. Sepertinya, begitulah “hari ini”.
Medan,  November 2012

Wednesday, December 26, 2012

Medan Bisnis, 4 November 2012


Lelaki dalam Cerita
Oleh: Ria Ristiana Dewi
            Setiap malam, ketika wajahnya remang dalam sinar rembulan, ia mengatakan padaku bahwa itu hanyalah cerita. Cerita yang mengibaratkan masalah-masalah dalam hidupnya. Si Bibir Merah Berair, aku menyebutnya. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Setiap kali ia ingin menuliskan ceritanya di sebuah buku, kertas, ataupun laptop kesayangannya, ia tak alpa mengoles bibirnya dengan lipstik merah sekaligus pelembab bibir hingga berair. Aku tak tahu apa pula alasannya—barangkali sebuah ritual kebahagiaan. Ya! si Bibir Merah Berair itu terus berceloteh seolah  kisah “Tukang Obat” yang sukses karena sebuah cerita. Tetapi ia bukan tukang obat, melainkan seorang wanita cantik yang pintar, terdidik—begitulah sebutan orang-orang kepadanya. Aku mendengar hal itu setiap kali orang-orang membaca atau mendengar cerita yang terlontar dari bibir merah wanita ini.
            Pada setiap ceritanya, ia mengutarakan kejenuhan. Aku tak paham mengapa terlontar jenuh itu. Terkadang ia ingin pamit dari dunia cerita, namun ia tak mampu berkata-kata. Cerita telah menjadi kehidupan, memberikannya sesuap harapan, menanak kerinduan yang sulit terlukis di kehidupan nyata. Nyata! Ini memang ada, selalu menyulam cerita dalam secarik kertas yang perlahan menjadi tumpukan sampah. Ah, kenapa si Bibir Merah Berair itu membuang kertas-kertas yang setiap saat menjadi saksi. Lalu, satu kali lagi, ia pernah menceritakan kembali hal yang sama. Terkadang aku mulai merasa bosan setelah ia terus mengutarakannya tiga hingga... ah, terakhir kali ia mengatakan itu tumpukan kertas sampah tak mampu kuhitung. Aku bosan dengan cerita wanita itu.
            Oh, aku mohon jangan menceritakan kisah kehidupannya dengan seorang lelaki sebab aku takkan tahan.  Namun, suatu saat seorang lelaki dan wanita tengah berceloteh  tentang si Bibir Merah Berair. Mereka mengatakan bahwa wanita ini tengah dilanda asmara. Asmara yang sekian lama dalam kehidupannya baru dirasakan setelah menginjak masa matang sebagai seorang pekerja—setelah ia tamat kuliah, ingin meniti karir—lantas ia meneruskan S2 di sebuah universitas ternama di ibu kota. Syahdan, wanita ini mendapatkan kesempatan emas menjadi seorang dosen di universitas tersebut berkat prestasinya yang gemilang. Ia semakin tak dapat berkata-kata—menuturkan ungkapan bahagia atau justru sebaliknya. Kedua orang tersebut terkadang menggelengkan kepala kala mengingat tingkah wanita ini dalam setiap cerita-ceritanya. Cerita-cerita itu bahkan berpindah dari satu orang ke satu orang yang lain.
            Kini, cerita itu berada di tangan salah seorang sahabat baiknya. Wanita yang juga berprofesi sebagai dosen. Seorang sahabat yang lebih sering bercerita tentang keunikan-keunikan tingkah kedua anaknya di rumah atau tentang gelagat mengesankan dari sang suami saat pulang dari kantor. Ah, ia ingin mengganti ceritanya dengan cerita sahabatnya, namun ia seperti tengah dihadiahkan pena yang khusus untuk satu cerita saja. Terkadang, si Bibir Merah Berair mengutarakan padaku bahwa benar! Ia bosan dengan semua ceritanya sendiri. Saat ia menceritakan seorang lelaki dengan sahabatnya, ternyata sahabatnya telah mengetahui cerita itu dari dua orang teman. Si Bibir Merah Berair merasa kesal sebab cerita itu telah dicuri dari pemiliknya.
            Ia pernah pula bertengkar dengan ibunya demi membela cerita yang ia agung-agungkan itu. Ia juga pernah terang-terangan mengungkapkan bahwa ceritanya lebih berharga, namun ia tak berani meneruskan kepada ibunya bahwa sesungguhnya cerita itu telah melebihi rasa cintanya kepada ibu. Sungguh! Ia sendiri tak mau melakukan itu. Tak terbersit sedikitpun dalam hidupnya untuk menggantikan surga yang berada di bawah kaki ibunya. Ia tahu, ia paham bahwa ibu takkan tergantikan meskipun ia tengah tergila-gila dengan ceritanya sendiri.
            Cerita-cerita itu perlahan menjadi lembar kesaksian hidupnya yang kini menginjak usia 29 tahun. Beberapa hari yang lalu, ia diberi kejutan sebuah pesta kecil di villa yang sengaja ia beli beberapa tahun terakhir ini. Tentu bukan saja untuk menjadi tempat kecil baginya, juga mencari lembaran-lembaran yang hilang—tentang kisah ibu, kakak, adik, anak, atau suami walaupun aku tahu ia belum memiliki suami dan anak—meski itu masih dalam harapan besarnya. Selain alasan tersebut, si Bibir Merah Berair bercerita dalam usianya yang merindukan sosok lelaki—ia ucapkan itu dalam satu permintaan tertunda saat usia berencana ini. Dan saat pesta kecil yang berlangsung di keluarganya itu selesai, ia mengucapkan kembali permintaan itu dalam doa sebelum ia tertidur. Ia mencoba khusyuk seperti selama ini ia berdoa agar mendapatkan karir cemerlang, membelikan ibunya rumah, mendirikan villa untuk berkumpul bersama keluarga, dan tentu saja agar ia bisa selalu melanjutkan ceritanya. Aku tak paham, tetap tidak bisa benar-benar memahami mengapa ia punya keinginan melanjutkan cerita, yang, menurutku, hanya untuk membuat batinnya jatuh pada kelemahan pribadi semata. Namun, kali ini ia benar-benar ingin khusyuk dalam doanya.
            “Amin.”
Serambi Kompak, 30 Okt 2012
Penulis adalah guru di SMP Al-Azhar Medan

Thursday, November 1, 2012

Waspada, 14 Oktober 2012


Peristiwa Kau dan Aku

Peristiwa itu bermula di kemudian,
Sebab itu aku pernah mengatakan saran
Namun kau tak mengindah
Itulah aku berpindah, dari satu unit perangkat kerinduan

Peristiwa yang belum pernah kau kian,
Aku mengatakan jangan gegabah menyatakan sunyi
Berharap kau mendengar
Sudahlah apa terjadi, aku tetap.

Peristiwa itu kita di hari kini dan ke depan
Yang  sama tumbuh kemudian gugur

, 6 April 2012



Sepiring Nasi di Malam Hari

Sepiring nasi di malam hari hingga aku terlalu dungu
Perutku buncit melulu

Di atasnya merica cabai, bumbu-bumbu cemburu
Mirip rengut kala aku memeluk rindu

Hem...
Sepiring nasi di malam hari hingga aku lapar selalu
Ayah ceracau sebab aku biru bekas digigit kutu

Sepiring nasi di malam hari, lega kasih beradu cumbu
Namun aku takkan begitu

Serambi KOMPAK, 8 April 2012

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...