Saturday, February 18, 2017

Esai sederhana tentang karya dan komunitas



Ketika Berkarya, Berkomunitas, “Itu” Perlu.
(Berawal dari sebuah pandangan sederhana)

Berkarya, Lazim dalam Era Globalisasi
                Berkarya sesungguhnya bukan hal yang rumit, buat pusing, atau bahkan berdarah-darah. Berkarya sejatinya adalah hal yang cukup sederhana. Jadilah orang yang mampu membuat sesuatu, sesederhana apapun sesuatu itu. Namun terkadang, kita sebagai manusia pekarya tak mampu unjuk diri sekadar mempromosikan hasil karya. Misalnya saja, ada seorang anak SD hadir di hadapan saya selaku guru, lalu berkata, “Bu, saya suka menulis, saya punya beberapa tulisan, tapi saya malu.”
                Kata-kata yang sering terdengar itu pula tidak hanya dilisankan oleh seorang anak SD, namun seorang mahasiswa atau guru sekalipun. Mereka akan mengatakan hal yang sama. Padahal, bagi seorang manusia yang diberi kemampuan, kita harus berani menunjukkan hasil karya terlepas dari bagaimana cara orang lain memandangnya. Terkait dengan cara pandang orang lain, saya memiliki pengalaman yang menarik. Mari kita telaah satu persatu cara pandang seseorang terlebih dahulu, cara pandang yang baik atau justru sebaliknya. Pada umumnya, ada empat cara pandang orang lain pada diri kita. Pertama, cara pandang positif tetapi tak berkelanjutan. Kedua, cara pandang positif tetapi berkelanjutan. Ketiga, cara pandang biasa dan bisa dibilang sama sekali tidak mau tahu. Keempat, cara pandang negatif.
                Cara pandang positif yang tak berkelanjutan umumnya terjadi saat kita menunjukkan hasil karya kita kepada orang lain, namun orang tersebut hanya berkata, “Wah, keren ini.” Tapi, sudah, begitu saja cukup. Lantas orang itu akan membanggakan kita di hadapan orang lain seolah-olah kita adalah teman sejawat yang sudah lama sama-sama berkarya. Cara pandang positif berkelanjutan justru akan menawarkan sesuatu pada kita. Ia akan meminta kita untuk membuat lebih banyak dan bersedia untuk mempromosikan hasil karya kita. Orang seperti ini biasanya sangat paham bagaimana rasanya menjadi seorang pekarya. Dan biasanya pula orang seperti ini adalah contoh orang yang tulus dan rela membantu. Tapi jangan salah! Yang saya maksud di sini, bukan membantu karena ada maksud terselubung, namun benar-benar hanya ingin membantu karena ia juga pernah merasakan sakitnya perjuangan seorang pekarya.  Namun terkadang, justru ada pekarya yang sudah dibantu malah akan mundur perlahan, lagi-lagi karena putus asa. Seharusnya pekarya mamanfaatkan semaksimal mungkin dukungan itu. Jangan melulu mendengarkan kata-kata negatif orang yang tidak suka dengan kita. Nah, di sinilah hadir cara pandang ketiga dan keempat, cara pandang ketiga senantiasa tak mau tahu karena ia sendiri memiliki dunianya saja. Dan, cara pandang orang keempat inilah yang harus kita hindari. Cara pandang negatif yang seharusnya sudah ditinggalkan jauh-jauh sebelum hari ini, hari yang penuh tuntutan globalisasi. Terkadang, cara pandang ini datang dari orang yang sepele dengan hasil karya kita, merasa sombong, atau justru iri dan tidak suka dengan perkembangan kita. Orang-orang seperti ini harus dihindari jauh-jauh. Terkadang, memilih orang yang pantas kita tanyai tentang karya kita, itu juga perlu. Kalau tidak, bisa-bisa bangsa ini jauh dari hasil karya.

Berkarya lalu Berkomunitas
                Pentingkah berkomunitas? Kalau saya ditanyai hal tersebut, saya jawab, itu penting. Namun, berkomunitas itu tidak hanya datang, duduk, lantas senang dipuji saat kita berhasil berkarya, atau justru sebaliknya, kita datang, duduk, dan mendengar orang lain dipuji, saja. Berkomunitas berarti kita sama-sama duduk untuk melihat, mendengar-menyimak, berbicara, pun kita mesti saling mendukung karya kawan-kawan. Ada kalanya, kita hadir di sebuah komunitas, kita mencoba mencari apresiasi dari teman-teman yang konon juga pekarya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Karya kita tidak dianggap apa-apa, bahkan justru kita hanya dusuruh mendengar hasil karya mereka dan menjadi peserta yang baik budi. Inilah cara berkomunitas yang salah tafsir.  Ada pula orang-orang yang hadir di komunitas, konon katanya ingin pandai berkarya, namun ia tidak memulainya dengan cara terbaik. Ia hanya datang berharap orang lain memberikan sesuatu padanya, tapi ia sendiri tak memberikan sumbangsih apapun terhadap komunitas berikut anggotanya. Orang seperti ini hanya akan mau untung dan untung-untung kalau beruntung. Namun, ia sendiri tak mau mengapresiasi karya orang lain, yang konon orang lain itu ia minta untuk mengajari. Alahai…
                Saya sesungguhnya memiliki pengalaman pribadi. Begini, saya pernah berkenalan dengan seorang penulis terkenal. Saat itu, saya habis-habisan memuji beliau karena saya tahu beliau seseorang yang produktif berkarya. Tidak salah kalau saya puji kan. Lantas, saya tanya dengan beliau, saya sangat ingin memiliki bukunya, apakah beliau membawakan bukunya ke kota ini. Lalu beliau dengan wajah menyelidik mengatakan bahwa bukunya akan dijual dalam pameran buku nanti, ketika acara seminar dimulai. Oh, ya, dalam hati saya, saya pasti membelinya, bukan memintanya. Mungkin, beliau berpikir saya sama dengan para pengagum gratisan. Tapi saya katakan tidak! Sebab saya juga pekarya yang tahu bagaimana rasanya hasil karya yang kita bangga-banggakan justru dihargai gratisan. Padahal, untuk mencetak bukunya saja tidak gratis. Saya justru senang cara cerdas beliau menanggapinya. Saya sendiri tak mampu melakukannya. Kalau diminta gratis, saya suka luluh. Terkadang berkata, malas ah buat buku lagi.
                Oke, kita kembali lagi dengan berkomunitas. Jadi, saya anggap berkomunitas itu penting. Mengapa? Jawabnya, tentu karena tanpa ada komunitas kita tidak tahu berapa banyak peta persaingan, berapa banyak orang yang sama dengan kita, siapa yang mengapresiasi buku kita, dan sebenarnya di mana saat ini posisi kita. Kenyataannya, kita enggan berkomunitas yang sehat. Sehat di sini, maksudnya adalah datang dengan fair, menunjukkan keinginan untuk belajar, dan mau tahu serta bertanya. Atau mungkin, di lain posisi, kita menempatkan diri untuk memberikan motivasi kepada teman-teman yang belum berkarya, kita dorong mereka untuk mencoba. Sesekali perlu kita beri mereka tantangan dan kritikan, selagi kritikan ini tujuannya untuk membuat mereka sadar bahwa mereka juga bukan hanya sekadar nimbrung di komunitas. Jangan sungkan untuk mengkritik demi kebaikan orang lain. Jadi, kalau kamu hanya diam di rumah, duduk manis, dan menikmati saja hasil karya orang lain. Dan, ya, nunggu gratisan, jangan lagi deh. Kita ubah budaya seperti ini untuk kemajuan bangsa kita sendiri. Mari…
Oleh: Ria Ristiana Dewi
KGBM-18 Februari 2017

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...