Sunday, May 26, 2013

Waspada, 26 Mei 2013



Bunga
     Oleh: Ria Ristiana Dewi

Seberapa besar kau perkenalkan
Bunga kelopak merah
Yang menangis pada masa fajar
Meringis pinta dipeluk
Dan kau kecup ia tepat di keningnya

Seberapakah kau hitung keringat, air mata, lari,
genggam, tidur, dan hidupmu
Untuk siapakah?
Bunga, melati, atau kamboja di perkuburan tua
Atau...
Mawar yang merah harum,
Yang dihinggap kumbang

Siapakah ia?
Merah dan putih
Kelabu atau senja di matamu

Bunga
Bunga-bunga pada masa fajar
Yang pinta dikecup di keningnya
Rangkaian bangga, yang kau sebut
Indonesiamu.


Lihatlah Mereka
     Oleh: Ria Ristiana Dewi

Menikahlah dengan surya
Yang menggenang di matamu
Bersinar ceria, bercerita
Masa anak-anak
Yang berdiri di jajakan
Emperan peminta-minta

Menikahlah dengan surya
Hingga pada suatu masa
Kau melihat dengan kepala
Ia tengah bersandar di benakmu
Menunggu dicarikan matahari
Terlihatkah?

Sunday, May 19, 2013

Medan Bisnis, 19 Mei 2013



Di Kota Santana
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Santana pernah mengutarakan keinginannya, namun ayah dan ibunya hanya tersenyum lalu berkata, “Nanti, kau akan mengerti, apa itu kota!”
***
            Pagi itu Santana pergi tanpa diketahui oleh siapa pun. Hanya ada malam yang lagi-lagi gerimis menemani langkahnya. Sementara, Anggita telah siap menunggunya di bawah pohon cemara.
            “Hebat. Ini menjadi petualangan  luar biasa,” kata Anggita mengerucutkan mulutnya dan mengepalkan satu tanganya ke langit. Santana justru tampak gemetar, gerimis mengepulkan dingin dan membalut sekujur tubuhnya. Ketika melangkah pergi, ia masih sempat menatap kampungnya dengan perlahan, sangat perlahan. Kalau bukan karena Anggita menarik tangannya, ia memilih untuk tidak bertindak sebodoh ini.
            “Kita mau ke mana?”
            “Sudah, jangan banyak tanya!”
***
            Pada malam gerimis, kota selalu tampak manis. Ada saja lampu-lampu yang memungut awan mendung kemudian satu persatu jatuh bagai tirai air.
            “Lihat, lihat Santana! Hujan di kota lebih bercahaya!”
            Namun, Santana justru menunjukkan raut wajah yang berbeda. Wajahnya tampak merah biru, gugup dalam malam.
            “Anggita... aku ingin pulang! Aku tidak nyaman!”
            Anggita tidak memperdulikan Santana. Ia hanya berjalan dan tersenyum kagum dengan lampu-lampu di tengah kota. Ia masih berpikir, bagaimana mungkin ada hujan yang jatuhnya tak sampai ke tanah itu. Ia terus mengamati cahaya itu. Hingga ssstttt....
            “Santana!”
            “?”
            Tak lama mereka berlari, berlari begitu cepat. Tidak jelas ke mana. Yang pasti mereka sangat gelisah. Entahlah, ini terkesan begitu cepat untuk menyambut kedatangan mereka. Ada bunyi seperti desis ular yang siap mengejar mereka. Bunyi itu begitu jelas di telinga. Bahkan, seolah-olah akan menerkam-seketika.
            “Kau dengar itu?”
            “Bukankah ini kota?”
            “Aku tak mengerti!”
            Pembicaraan itu sekilas dan tergesa. Mereka berpikir ada hal yang tak biasanya.
            “Kau tahu dari mana ini kota? Pergi saja belum pernah!”
            Mereka bersembunyi di balik semak pohon di sekitar taman kota. Lantas bergidik dengan kejar mengejar, berkali-kali ketakutan mendengar suara desis ular. Seolah, desis itu ingin menanam bisa di tubuh mereka.
            “Anggita, sudah aku bilang. Ini bukan kota! Ini mirip dongeng yang kau ciptakan!”
            Anggita diam tak percaya. Lalu ia mengingat pesan lelaki yang pernah ditemuinya kalau di kota terdapat banyak makanan lezat. Lantas, Anggita kembali menarik tangan Santana untuk mencari makanan. Namun, mereka tak melihat apa-apa melainkan olahan menjijikan yang dimakan beberapa orang di sekeliling mereka.
            “Lihat Anggita! Mereka memakan cacing mentah. Bahkan di kampung kita cacing itu harus dimasak!”
            Mereka pun tak bertahan lama. Mereka pergi untuk menjauh dari orang-orang pemakan cacing.
            “Sudahlah, kita pulang saja!”
            “Sebentar, Santana! Aku ingat kalau kata lelaki itu, di kota ada tempat tidur yang menyenangkan, empuk, bagai istana!”
            Benar saja! Mereka melihat gedung dengan cahaya kelap-kelip memenuhi ruang malam. Walaupun mereka tak melihat tempat tidur di sana, tak lama Anggita dan Santana pun masuk ke dalam gedung itu. Sekilas, Anggita dan Santana tampak senang dan kagum dengan banyaknya cahaya di dalam gedung itu. Cahaya-cahaya itu bahkan bergoyang seperti pelangi yang berduyun-duyun. Di beberapa sisi ada iringan musik. Walaupun  mereka tak terlalu suka dengan iringan musik itu, mereka tetap menikmatinya. Beberapa orang di sana tampak menatap mereka dengan pandangan yang menjijikkan.
            Hallo... kenapa ada pengemis yang bisa masuk ke sini!?”
            Sejenak, Anggita dan Santana justru tak menggambarkan mereka sebagai manusia melainkan buaya yang siap menerkam. Raut wajah mereka pun  terkejut bukan main. Bahkan ada tanda tanya besar yang membekas di benak Anggita dan Santana. Bagaimana bisa di tempat menyenangkan ini, ada buaya? Ah, lama-lama mereka seperti berada di dunia Jumanji saja!
            “Lari, Santana! Ayo, kita lari!” katanya, kali ini mereka sangat tergesa.
            Anggita melihat buaya itu siap mengepakkan buntutnya yang liar. Dengan kulitnya yang tebal belang menakutkan, tatapannya tak lepas barang sejenak kepada mereka berdua. Seolah, mereka adalah santapan yang luar biasa siap untuk menjadi hidangan. Dalam hitungan detik, Santana dan Anggita telah berada di tempat yang sangat jauh. Jauh. Mereka sangat kelelahan. Wajah mereka saling memandang tak percaya.
            “Untunglah kita cepat!” kata Santana dengan napas yang perlahan tampak lebih tenang.
            Santana menarik tangan Anggita. Lalu mengajaknya bergegas cepat. Semantara Anggita masih ingin tahu. Ia menahan tarikan itu dan mencoba merayu Santana kembali.
            “Tunggu! Kalaupun kita pulang, perjalanan kan sangat jauh. Lebih baik kita tidur di sini! Satu malam saja.”
            Santana tampak berpikir dan pula ia tak habis pikir lagi dengan siasat Anggita selanjutnya.
            “Bagaimana?”
            “Baiklah. Untuk satu malam ini!”
            Mereka kembali berjalan mencari tempat untuk tidur. Mereka hanya melihat rumput di taman begitu menyenangkan. Meskipun di kampung mereka bahkan mereka tidak tidur di rerumputan. Mereka tetap tidur di sana.
            Dalam tidurnya, Santana terus merasa gelisah. Ia berkali-kali mencoba untuk tidur, namun ia tak bisa memejamkan matanya. Hingga setelah beberapa jam kemudian, ia pun tertidur. Dalam tidurnya itulah, Santana melihat ada harimau-harimau mengelilingi mereka. Jumlahnya tak terkira. Santana tak mampu lagi berkata-kata. Malam itu, malam gerimis. Wajahnya basah bercampur air mata. Ia memanggil-manggil ibu dan ayahnya berkali-kali. Ia ingin pulang, namun ia tak mampu lagi beranjak dari tempat yang telah dikelilingi harimau itu. Tangisnya tak pernah berhenti. Tangisan itu bak lautan di sekeliling mereka. Tangisan itu memberi kesadaran pada Santana.
            “Santana! Santana! Santana!”
            Ia terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Lalu di depannya, ada wanita yang sangat dikenalnya tengah tersenyum.
            “Ibu, aku ingin jadi seperti Ibu. Sungguh, aku ingin!”
            Ia mengucapkan kalimat itu dengan sangat jelas. Walaupun ibunya belum paham. Lalu ia memeluk ibunya erat, seerat ikatan lidi. Ia tak mampu lagi berpisah dengan ibunya bahkan dengan kampungnya itu. Ah, bahkan malam gerimis telah berlalu. Santana pun siap untuk menuruti perintah ayah dan ibunya demi kebiasaan leluhur yang mereka cintai. Ya, ia sungguh ingin menikah di kampung ini saja. Tentu, dengan lelaki pilihan orang tuanya.

Serambi Kompak, 7 April 2013

Tuesday, May 14, 2013

Catatan 7-9 Mei 2013

Memeluk Dunia dari Para Semut


               Memeluk dunia adalah kepastian yang datang dalam angan-angan. Meskipun, tidak sedikit orang yang telah mewujudkannya dalam kehidupan nyata mereka. Begitulah pemaparan yang saya temukan dari setiap tulisan 25 orang penulis di dalam buku Semut Merah 75, Kisah Pelajar Indonesia di 7 Benua 5 Samudra. Awalnya saya merasa bahwa acara ini adalah acara launching buku, ya launching buku seperti biasanya. Namun, menyaksikan video PPI dan kala membaca buku berkisah inspiratif mahasiswa yang kuliah di luar negeri, membius saya setidaknya, bahwa ini dapat menjadi tolak ukur: mereka perlu menorehkan hitam di atas putih sebagai bentuk kesaksian mereka atas dunia. Saya salut dengan kerja keras Mbak Wenny yang bersungguh-sungguh mengembangkan kepenulisan pelajar Indonesia di luar negeri ini, dan tentu saja tim-tim lainnya yang turut berperan. Ini bisa menjadi langkah yang menggemparkan dunia pelajar Indonesia dan kepenulisan Indonesia itu sendiri.
               Dalam acara launching yang berlangsung 8 Mei 2013 ini, bertepatan dengan hari ulang tahun mbak Wenny selaku direktur komunitas semut merah75, saya memang tidak menemukan beberapa penulis yang sering saya temui pada acara-acara kepenulisan lainnya. Tidak heran! sebab acara kali ini lebih fokus untuk menggugah pelajar Indonesia itu sendiri agar menyaksikan perjuangan pelajar Indonesia di luar negeri. Saya tidak menemukan nama-nama seperti Jamal D. Rahman, Joni Ardiadinata, Guntur Alam, Helvy Tiana Rosa, Habiburahman, dan lainnya. Bisa dipastikan aliran sastra hanya akan melekat pada diri saya dan teman saya Tiflatul Husna di dalam ruangan Auditorium RRI kala itu.

              Untuk masalah membacakan puisi, Tiflatul Husna memang tidak bisa diragukan lagi. Ia adalah gadis yang tangguh dan penuh mimpi. Saat acara launching, bahkan pembacaan puisi dari Husna, mampu membius para penonton yang merupakan teman-teman dari mbak wenny, mahasiswa, ataupun ketua komisi dua DPR RI, Bapak Agun Gunanjar sendiri sebagai ayah dari Mbak Wenny.
             Sebuah kesempatan saya untuk mendengarkan sendiri kesaksian beberapa orang mahasiswa yang telah tamat hingga jenjang s2 seperti Akhso, telah lulus s1 dan s2 di Hindia, yang mana ternyata merupakan warga kota Medan dan kebetulan mantan siswa di tempat saya mengajar saat ini. Ia menceritakan beberapa kisahnya dan tentu saja, meskipun lulusan luar negeri, bukan perkara mudah untuk melanjutkan perjuangan. Itulah yang saya dengar sendiri dari mereka.
              Belum lagi kisah perjuangan Mbak Wenny yang sempat merasa terguncang di China sebab ternyata ia harus membayar sejumlah uang tak terduga. Biaya untuk kuliah di Peking University, universitas nomor satu di Asia ini memang terbilang tidak sedikit. Mbak Wenny harus mencari tempat untuk memecahkan masalah itu sendirian di China. Namun, kenyataannya ia tak sendirian, ternyata kisah itu juga dilalui oleh beberapa warga negara Indonesia di China. Ya! Belum lagi kisah dari Ade Irma Elvira, yang mana merupakan mantan mahasiswa UISU dan melanjutkan kuliah di Rusia. Ade sampai harus berjuang mati-matian mendapatkan beasiswa, bekerja sambil kuliah di Rusia. Tentu, masih banyak lagi kisah lainnya.
              Dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa launching buku ini adalah keberadaan langka yang harus terus digalakkan. Perjuangan tidak sebatas ini kawan! Terkadang kita merasa menjadi manusia paling menyedihkan, namun ternyata dunia ini begitu luas untuk terus kita jajaki. Teruslah mencari mimpi! Teruslah! hingga ke negeri China.



Monday, May 13, 2013

NONE-NONE KE JAKARTA, 7-9 Mei 2013



JAKARTA PART 2

Ini memang bukan perjalananan pertama saya ke Jakarta. Namun, tetap ada yang berkesan. Mengingat kedatangan saya kali ini tidak dalam jadwal padat dan mendesak seperti sebelumnya. Meskipun tetap saja masih dalam koridor kepentingan kepenulisan. Kali ini, untuk menghadiri lunching buku komunitas semut merah 75 yang notabene adalah komunitas yang didirikan mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Meskipun launching buku yang saya hadiri kali ini bukanlah buku dengan genre sastra, tetapi proses pembuatan dan kreatifitas yang dibangun penulis-penulis di dalam buku ini mampu memotivasi.

NGapain aja saya di Jakarta?
Selain untuk menghadiri launching buku, keistimewaan ibukota Indonesia ini adalah merupakan kota perdagangan, pemerintahan, dan masih banyak lagi. Kota Jakarta memang selalu sibuk. Kota ini merupakan wujud persaingan nyata manusia yang memiliki berbagai kepentingan. 

Saat itu, saya hadir di bandara Soekarno Hatta bersama Tiflatul Husna (Penyair muda berbakat kota Medan). Dengan penerbangan Lion Air, kami hadir sekitar pukul 21.30 WIB. Bandara yang besar dan memiliki kesibukan lebih dari pada bandara-bandara lainnya yang ada di Indonesia, tentu saja, akan tampak selalu ramai hingga seolah-olah takkan ada bedanya siang maupun malam. Sampai di bandara dan mengambil bagasi, kami langsung menunggu bus ke arah stasiun Gambir. Meskipun saya sungguh ragu-ragu untuk naik bus, kalau bukan karena harga naik taksi ke Jakarta Pusat 200.000 rupiah sedangkan naik bus damri hanya 25.000 rupiah, saya ogah naik bus, sebab Jakarta sangat rawan perampokan, kota yang tak pernah tidur. Ya! karena keterbatasan dana, maka saya memberanikan diri untuk kali ini naik damri. Untunglah sebelumnya saya sudah pernah punya pengalaman naik damri di Jakarta. Kalau tidak? Nehi!

Maka, saya hanya mampu berdoa!
Sampai di stasiun gambir. Kami menuju depan stasiun dan mencari bajai atau taksi untuk pergi ke jalan Sabang, menuju Maxone Hotel, yang sebelumnya telah dibooking oleh mbak Weni, direktur Komunitas Semut Merah, yang juga merupakan gadis sunda sedang mengecap pendidikan S2  di Peking University, Beijing, China. Mbak Wenny inilah yang tengah menunggu kami di hotel. Setelah bertemu dengan beliau, kali bergegas ke kamar 217. Interior hotel ini sungguh menarik, dengan gambar ondel-ondel di pintu masuk lift dan dinding-dindingnya. Sampai di kamar, saya juga masih terpesona dengan interior kamarnya. Meskipun kamar ini tak seluas kamar di hotel Milenium Sirih, yang sebelumnya saya dan Sartika sempat menginap di sana saat acara Jilfest 2, namun Hotel Maxone punya keistimewaan praktis dan pas untuk dua orang. Akan tetapi, saya tak mendapatkan telpon di kamar ini. Ini menyulitkan kami untuk memesan makanan ke resepsionist ataupun menanyakan beberapa hal lainnya. selain itu, tak ada lemari pakaian. Ah, tak masalah buat kami. Lagipula perbandingan harganya juga masuk akal. Di hotel milenium saya tahu dari web agoda, kisaran harga kamar permalam adalah 700ribu paling murah. Sementara di maxone hotel masih tersedia harga 350ribu/malam. Hem... 

Oya, esok paginya kami cukup lapar, maka saya dan Husna ke bawah untuk menanyakan apakah di hotel ini tersedia pula sarapan pagi gratis. Ternyata tidak! Meskipun begitu, kami takkan kelaparan sebab di sebelah hotel ini adalah pasar kuliner yang menyediakan berbagai macam makanan. Bahkan kami sampai bingung mau makan apa. Huhui...

Oya! saya mau bilang dulu, kalau kita berniat untuk mencari makanan lezat, kualiatas baik, terjaga dan chef terkenal, maka tempatnya adalah di Hotel Milenium Sirih. Apalagi kopinya... Hem... 

oke! kita tinggalkan sarapan pagi. 
Saya dan Husna langsung bergegas untuk lari pagi ke monas. Kabarnya aja sih dekat, alangkah dekatnya kami berjalan seolah-olah kami tengah berupaya untuk menguruskan badan sehabis sarapan pagi. Alahai.. jauh untuk pelajan kaki seperti kami ui... tapi, tak apalah. Lecet-lecet dikit aja.

Sampai di sana dengan kondisi masih pakai baju tidur dan melewati kantor-kantor, akhirnya kami berfoto ala turis di monas. Kami juga tak menghilangkan kesempatan membeli oleh-oleh gantungan kunci monas. Aduhai... ternyata Husna pandai menawar. Dengan modal kegadisan, katanya, kami bisa dapatkan bonus plus-plus. Hihihihi... 

Yap! setelah puas, kami kembali ke hotel, mandi, ngetik, upload foto, dan bersiap untuk acara launching malam harinya. 

Hem... cek.


Oya, selain monas, Jakarta sebagai pusat perdagangan tentu saja tak kami sia-siakan
esoknya kami pergi ke pasar senen. Di pasar senen inilah saya tergila-gila dengan tas-tas harga murah. Di Medan saya hanya mendapatkan satu tas dompet untuk seratus ribu rupiah, di sini saya dapatkan 3 tas dompet dengan harga yang sama.. Hem...

Setelah ke pasar senen, kami ke tanah abang, ya! memang tanah abang terkenal dengan grosir paling murah di Indonesia. Belanja di sini perlu membawa uang hingga jutaan rupiah. Harga baju yang saya beli seharga seratus ribu rupiah di Medan, di sini hanya 35 ribu saja. Gila kan!

Usai belanja, kami berniat mencari makanan khas Jakarta yang bisa kami bawa untuk oleh-oleh. Namun alangkah kecewanya ketika tak ada satupun yang bisa kami bawa. Saat ditanya pada para pedagang, mereka mengaku tak tahu atau bahkan tak ada makanan khas yang bisa kami bawa. Di Medan, orang-orang dari luar kota bisa membawa bika ambon untuk oleh-oleh, di Siantar dengan roti ganda-nya, di tanjung pura dengan dodolnya. Namun, di sini kami hanya bisa belanja pakaian, dan tas. Hem...

Akan tetapi, saya sudah cukup puas dengan dompet merah Prada dengan harga murah yaitu 35ribu. 
^_^

Sekian. Bubyeeee....


Saturday, May 4, 2013

Waspada, 5 Mei 2013



Kemarin Malam
                Oleh: Ria Ristiana Dewi

Kemarin malam
Kau adalah rindu di daun gugur
Dan ranting patah
Kemarin
Dan malamnya
Adalah cempaka berpeluk angin
Lalu ingin—peluk erat bara dan apinya
Kau, membakar di tiap-tiap kelamku
Seperti kemarin malam

Medan Bisnis, 5 Mei 2013



Ketika itu, Aliya...
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Sebelum ada canda
kau janji
akan mekar bak bunga
di hadapanku

Aliya..
seperti api
yang habis melahap bara
--seperti itulah--  
debar di jantungku

atau matahari
yang menggelegak
di kulit putihmu
dan di antara porimu
akulah
yang merayap
dengan ringkih


Serambi Kompak, 17 Januari 2013

Katakan, “Indonesia!”
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Inilah daging yang merah itu
seperti degupan bumi
yang tak ada sudah

aku menghibur diri
dan memang segalanya
Adalah air menetes persis di atas wajahku
kau tahu aku
tentang tangis yang terus menerus
bak banjir di dadaku

Kita mesti beristirahat
barang sejenak dua
lantas berdoa dengan ketinggian langit
Katakanlah untuk Indonesia di kemudian.

Serambi Kompak, 17 Januari 2013

Pilihan untukmu, Puja
            Oleh: Ria Ristiana Dewi

Puja, ingin kubagi jeruk matang di tanganmu.
Lalu pilihan serupa garis-garis
meliuk-merengkuh-geliat-gelisah di telapakmu.
Begitulah: ketika hak manusia menjelma air liar
di tengah kota yang padat lagi arif
di hadap peradaban

Puja, ini balada dari negeri mirip dongeng
lantas kita bebas bermain-main.
Denganya-lah ada beludru
yang sering kita beli
sewaktu ibunda tengah berperan sebagai dirinya
—hendak memberi satu dua nasihat.

Kemudian, apa yang kita buat?
Entah...
Namun, aku jadi tahu
 ketika itu, ada air di pipi kita
Hendak sesal atau apa?

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...