Di Kota Santana
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Santana
pernah mengutarakan keinginannya, namun ayah dan ibunya hanya tersenyum lalu
berkata, “Nanti, kau akan mengerti, apa itu kota!”
***
Pagi itu Santana pergi tanpa
diketahui oleh siapa pun. Hanya ada malam yang lagi-lagi gerimis menemani
langkahnya. Sementara, Anggita telah siap menunggunya di bawah pohon cemara.
“Hebat.
Ini menjadi petualangan luar biasa,”
kata Anggita mengerucutkan mulutnya dan mengepalkan satu tanganya ke langit. Santana
justru tampak gemetar, gerimis mengepulkan dingin dan membalut sekujur
tubuhnya. Ketika melangkah pergi, ia masih sempat menatap kampungnya dengan
perlahan, sangat perlahan. Kalau bukan karena Anggita menarik tangannya, ia
memilih untuk tidak bertindak sebodoh ini.
“Kita
mau ke mana?”
“Sudah,
jangan banyak tanya!”
***
Pada
malam gerimis, kota selalu tampak manis. Ada saja lampu-lampu yang memungut
awan mendung kemudian satu persatu jatuh bagai tirai air.
“Lihat,
lihat Santana! Hujan di kota lebih bercahaya!”
Namun,
Santana justru menunjukkan raut wajah yang berbeda. Wajahnya tampak merah biru,
gugup dalam malam.
“Anggita...
aku ingin pulang! Aku tidak nyaman!”
Anggita
tidak memperdulikan Santana. Ia hanya berjalan dan tersenyum kagum dengan
lampu-lampu di tengah kota. Ia masih berpikir, bagaimana mungkin ada hujan yang
jatuhnya tak sampai ke tanah itu. Ia terus mengamati cahaya itu. Hingga ssstttt....
“Santana!”
“?”
Tak
lama mereka berlari, berlari begitu cepat. Tidak jelas ke mana. Yang pasti
mereka sangat gelisah. Entahlah, ini terkesan begitu cepat untuk menyambut
kedatangan mereka. Ada bunyi seperti desis ular yang siap mengejar mereka. Bunyi
itu begitu jelas di telinga. Bahkan, seolah-olah akan menerkam-seketika.
“Kau
dengar itu?”
“Bukankah
ini kota?”
“Aku
tak mengerti!”
Pembicaraan
itu sekilas dan tergesa. Mereka berpikir ada hal yang tak biasanya.
“Kau
tahu dari mana ini kota? Pergi saja belum pernah!”
Mereka
bersembunyi di balik semak pohon di sekitar taman kota. Lantas bergidik dengan
kejar mengejar, berkali-kali ketakutan mendengar suara desis ular. Seolah,
desis itu ingin menanam bisa di tubuh mereka.
“Anggita,
sudah aku bilang. Ini bukan kota! Ini mirip dongeng yang kau ciptakan!”
Anggita
diam tak percaya. Lalu ia mengingat pesan lelaki yang pernah ditemuinya kalau
di kota terdapat banyak makanan lezat. Lantas, Anggita kembali menarik tangan
Santana untuk mencari makanan. Namun, mereka tak melihat apa-apa melainkan
olahan menjijikan yang dimakan beberapa orang di sekeliling mereka.
“Lihat
Anggita! Mereka memakan cacing mentah. Bahkan di kampung kita cacing itu harus
dimasak!”
Mereka
pun tak bertahan lama. Mereka pergi untuk menjauh dari orang-orang pemakan
cacing.
“Sudahlah,
kita pulang saja!”
“Sebentar,
Santana! Aku ingat kalau kata lelaki itu, di kota ada tempat tidur yang
menyenangkan, empuk, bagai istana!”
Benar
saja! Mereka melihat gedung dengan cahaya kelap-kelip memenuhi ruang malam. Walaupun
mereka tak melihat tempat tidur di sana, tak lama Anggita dan Santana pun masuk
ke dalam gedung itu. Sekilas, Anggita dan Santana tampak senang dan kagum
dengan banyaknya cahaya di dalam gedung itu. Cahaya-cahaya itu bahkan bergoyang
seperti pelangi yang berduyun-duyun. Di beberapa sisi ada iringan musik.
Walaupun mereka tak terlalu suka dengan
iringan musik itu, mereka tetap menikmatinya. Beberapa orang di sana tampak
menatap mereka dengan pandangan yang menjijikkan.
“Hallo...
kenapa ada pengemis yang bisa masuk ke sini!?”
Sejenak,
Anggita dan Santana justru tak menggambarkan mereka sebagai manusia melainkan
buaya yang siap menerkam. Raut wajah mereka pun
terkejut bukan main. Bahkan ada tanda tanya besar yang membekas di benak
Anggita dan Santana. Bagaimana bisa di tempat menyenangkan ini, ada buaya? Ah,
lama-lama mereka seperti berada di dunia Jumanji saja!
“Lari,
Santana! Ayo, kita lari!” katanya, kali ini mereka sangat tergesa.
Anggita
melihat buaya itu siap mengepakkan buntutnya yang liar. Dengan kulitnya yang
tebal belang menakutkan, tatapannya tak lepas barang sejenak kepada mereka berdua.
Seolah, mereka adalah santapan yang luar biasa siap untuk menjadi hidangan. Dalam
hitungan detik, Santana dan Anggita telah berada di tempat yang sangat jauh.
Jauh. Mereka sangat kelelahan. Wajah mereka saling memandang tak percaya.
“Untunglah
kita cepat!” kata Santana dengan napas yang perlahan tampak lebih tenang.
Santana
menarik tangan Anggita. Lalu mengajaknya bergegas cepat. Semantara Anggita
masih ingin tahu. Ia menahan tarikan itu dan mencoba merayu Santana kembali.
“Tunggu!
Kalaupun kita pulang, perjalanan kan sangat jauh. Lebih baik kita tidur
di sini! Satu malam saja.”
Santana
tampak berpikir dan pula ia tak habis pikir lagi dengan siasat Anggita
selanjutnya.
“Bagaimana?”
“Baiklah.
Untuk satu malam ini!”
Mereka
kembali berjalan mencari tempat untuk tidur. Mereka hanya melihat rumput di
taman begitu menyenangkan. Meskipun di kampung mereka bahkan mereka tidak tidur
di rerumputan. Mereka tetap tidur di sana.
Dalam
tidurnya, Santana terus merasa gelisah. Ia berkali-kali mencoba untuk tidur,
namun ia tak bisa memejamkan matanya. Hingga setelah beberapa jam kemudian, ia
pun tertidur. Dalam tidurnya itulah, Santana melihat ada harimau-harimau
mengelilingi mereka. Jumlahnya tak terkira. Santana tak mampu lagi
berkata-kata. Malam itu, malam gerimis. Wajahnya basah bercampur air mata. Ia
memanggil-manggil ibu dan ayahnya berkali-kali. Ia ingin pulang, namun ia tak
mampu lagi beranjak dari tempat yang telah dikelilingi harimau itu. Tangisnya
tak pernah berhenti. Tangisan itu bak lautan di sekeliling mereka. Tangisan itu
memberi kesadaran pada Santana.
“Santana!
Santana! Santana!”
Ia
terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Lalu di depannya, ada wanita
yang sangat dikenalnya tengah tersenyum.
“Ibu,
aku ingin jadi seperti Ibu. Sungguh, aku ingin!”
Ia
mengucapkan kalimat itu dengan sangat jelas. Walaupun ibunya belum paham. Lalu ia
memeluk ibunya erat, seerat ikatan lidi. Ia tak mampu lagi berpisah dengan
ibunya bahkan dengan kampungnya itu. Ah, bahkan malam gerimis telah berlalu.
Santana pun siap untuk menuruti perintah ayah dan ibunya demi kebiasaan leluhur
yang mereka cintai. Ya, ia sungguh ingin menikah di kampung ini saja. Tentu,
dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Serambi Kompak, 7 April 2013