JAKARTA PART 2
Ini memang bukan perjalananan pertama saya ke Jakarta. Namun, tetap ada yang berkesan. Mengingat kedatangan saya kali ini tidak dalam jadwal padat dan mendesak seperti sebelumnya. Meskipun tetap saja masih dalam koridor kepentingan kepenulisan. Kali ini, untuk menghadiri lunching buku komunitas semut merah 75 yang notabene adalah komunitas yang didirikan mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Meskipun launching buku yang saya hadiri kali ini bukanlah buku dengan genre sastra, tetapi proses pembuatan dan kreatifitas yang dibangun penulis-penulis di dalam buku ini mampu memotivasi.
NGapain aja saya di Jakarta?
Selain untuk menghadiri launching buku, keistimewaan ibukota Indonesia ini adalah merupakan kota perdagangan, pemerintahan, dan masih banyak lagi. Kota Jakarta memang selalu sibuk. Kota ini merupakan wujud persaingan nyata manusia yang memiliki berbagai kepentingan.
Saat itu, saya hadir di bandara Soekarno Hatta bersama Tiflatul Husna (Penyair muda berbakat kota Medan). Dengan penerbangan Lion Air, kami hadir sekitar pukul 21.30 WIB. Bandara yang besar dan memiliki kesibukan lebih dari pada bandara-bandara lainnya yang ada di Indonesia, tentu saja, akan tampak selalu ramai hingga seolah-olah takkan ada bedanya siang maupun malam. Sampai di bandara dan mengambil bagasi, kami langsung menunggu bus ke arah stasiun Gambir. Meskipun saya sungguh ragu-ragu untuk naik bus, kalau bukan karena harga naik taksi ke Jakarta Pusat 200.000 rupiah sedangkan naik bus damri hanya 25.000 rupiah, saya ogah naik bus, sebab Jakarta sangat rawan perampokan, kota yang tak pernah tidur. Ya! karena keterbatasan dana, maka saya memberanikan diri untuk kali ini naik damri. Untunglah sebelumnya saya sudah pernah punya pengalaman naik damri di Jakarta. Kalau tidak? Nehi!
Maka, saya hanya mampu berdoa!
Sampai di stasiun gambir. Kami menuju depan stasiun dan mencari bajai atau taksi untuk pergi ke jalan Sabang, menuju Maxone Hotel, yang sebelumnya telah dibooking oleh mbak Weni, direktur Komunitas Semut Merah, yang juga merupakan gadis sunda sedang mengecap pendidikan S2 di Peking University, Beijing, China. Mbak Wenny inilah yang tengah menunggu kami di hotel. Setelah bertemu dengan beliau, kali bergegas ke kamar 217. Interior hotel ini sungguh menarik, dengan gambar ondel-ondel di pintu masuk lift dan dinding-dindingnya. Sampai di kamar, saya juga masih terpesona dengan interior kamarnya. Meskipun kamar ini tak seluas kamar di hotel Milenium Sirih, yang sebelumnya saya dan Sartika sempat menginap di sana saat acara Jilfest 2, namun Hotel Maxone punya keistimewaan praktis dan pas untuk dua orang. Akan tetapi, saya tak mendapatkan telpon di kamar ini. Ini menyulitkan kami untuk memesan makanan ke resepsionist ataupun menanyakan beberapa hal lainnya. selain itu, tak ada lemari pakaian. Ah, tak masalah buat kami. Lagipula perbandingan harganya juga masuk akal. Di hotel milenium saya tahu dari web agoda, kisaran harga kamar permalam adalah 700ribu paling murah. Sementara di maxone hotel masih tersedia harga 350ribu/malam. Hem...
Oya, esok paginya kami cukup lapar, maka saya dan Husna ke bawah untuk menanyakan apakah di hotel ini tersedia pula sarapan pagi gratis. Ternyata tidak! Meskipun begitu, kami takkan kelaparan sebab di sebelah hotel ini adalah pasar kuliner yang menyediakan berbagai macam makanan. Bahkan kami sampai bingung mau makan apa. Huhui...
Oya! saya mau bilang dulu, kalau kita berniat untuk mencari makanan lezat, kualiatas baik, terjaga dan chef terkenal, maka tempatnya adalah di Hotel Milenium Sirih. Apalagi kopinya... Hem...
oke! kita tinggalkan sarapan pagi.
Saya dan Husna langsung bergegas untuk lari pagi ke monas. Kabarnya aja sih dekat, alangkah dekatnya kami berjalan seolah-olah kami tengah berupaya untuk menguruskan badan sehabis sarapan pagi. Alahai.. jauh untuk pelajan kaki seperti kami ui... tapi, tak apalah. Lecet-lecet dikit aja.
Sampai di sana dengan kondisi masih pakai baju tidur dan melewati kantor-kantor, akhirnya kami berfoto ala turis di monas. Kami juga tak menghilangkan kesempatan membeli oleh-oleh gantungan kunci monas. Aduhai... ternyata Husna pandai menawar. Dengan modal kegadisan, katanya, kami bisa dapatkan bonus plus-plus. Hihihihi...
Yap! setelah puas, kami kembali ke hotel, mandi, ngetik, upload foto, dan bersiap untuk acara launching malam harinya.
Hem... cek.
Oya, selain monas, Jakarta sebagai pusat perdagangan tentu saja tak kami sia-siakan
esoknya kami pergi ke pasar senen. Di pasar senen inilah saya tergila-gila dengan tas-tas harga murah. Di Medan saya hanya mendapatkan satu tas dompet untuk seratus ribu rupiah, di sini saya dapatkan 3 tas dompet dengan harga yang sama.. Hem...
Setelah ke pasar senen, kami ke tanah abang, ya! memang tanah abang terkenal dengan grosir paling murah di Indonesia. Belanja di sini perlu membawa uang hingga jutaan rupiah. Harga baju yang saya beli seharga seratus ribu rupiah di Medan, di sini hanya 35 ribu saja. Gila kan!
Usai belanja, kami berniat mencari makanan khas Jakarta yang bisa kami bawa untuk oleh-oleh. Namun alangkah kecewanya ketika tak ada satupun yang bisa kami bawa. Saat ditanya pada para pedagang, mereka mengaku tak tahu atau bahkan tak ada makanan khas yang bisa kami bawa. Di Medan, orang-orang dari luar kota bisa membawa bika ambon untuk oleh-oleh, di Siantar dengan roti ganda-nya, di tanjung pura dengan dodolnya. Namun, di sini kami hanya bisa belanja pakaian, dan tas. Hem...
Akan tetapi, saya sudah cukup puas dengan dompet merah Prada dengan harga murah yaitu 35ribu.
^_^
Sekian. Bubyeeee....


No comments:
Post a Comment