Friday, February 24, 2012

Mimbar Umum, 25 Februari 2012


Cerpen.
Gua Rahasia dan Penulis yang
Ingin Bunuh Diri
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            “Ini kemarahan, Sam!”
            “Aku tahu!”
            “Dan kamarahan bukanlah belas kasihan!”
            “Aku paham.”
            “Kau paham? Paham apa? Tahumu berdiri di balik ketiak orang lain!”
            “Menurutmu aku bahagia? Ra, Sudah berapa lama kau menjadi penulis? Kau tak pernah mengeluh. Kau tak pernah mengungkapkan akan melakukan ini. Hentikan Ra! Buang pisau itu!”
            “Gampangnya kau!”
            “Aku minta maap. Kau tak pernah begini sebelumnya. Aku tahu. Ini bukan kau yang sesungguhnya.”
            “Inilah aku yang sebenarnya, Sam! Jadi, jika selama yang kau kenal aku tak pernah mengungkapkan akan melangkahi ajal, itu semualah kebohongan. Aku ingin mati Sam! Ingin! Sangat!”
            “Hentikan! Hentikan!”
            Kurun dua jam menunggu, Sam semakin panik. Ambulan di depan rumah begitu mengilu di telinga Sam. Suara orang-orang berdatangan seperti pengkhianat. Kucing yang mengeong seperti malaikan maut, sementara itu kelender yang tergantung di dinding kamar seperti menebas punggungnya dengan belati, suara jam berdentang pertanda neraka terbuka lebar. Api menyala-nyala seperti gas meledak mengenai sekujur tubuhnya, terbakar tak sempat berdarah-darah. Walaupun begitu ia sempat memergoki doa-doa pengajian yang terucap di inti ruang rumah ini sebagai rasa iri dibalik iba. Mereka iri dengan Ra. Mereka iri, begitu, begitulah Sam menikmati rasa bersalahnya.
            Aku yang salah Ra, tak mengerti keinginanmu.
            Sam menikungi segala kebiadaban pikiran ini. Ia berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan yang terus berusaha melukainya di balik kematian Ra. Sam gila, lebih tepatnya hampir gila memikirkan Ra. Sam merasa kesalahan terletak padanya. Di balik punggung rumah itulah. Rumah yang sekarang ini penuh dengan masyarakat: polisi, ibu bapak Ra, saudaranya. Di situlah Ra sempat meminta satu hal pada Sam. Malam itu mereka sempat bercakap-cakap. Ya, Ra ingin agar Sam bercerita, namun Sam menolak hanya karena sebuah pertengkaran yang itu dan itu lagi. Oh, entahlah...
            Suara radio di channel 109,4 seperti jaringan setan malam itu. Setelah sebelumnya ia menutup percakapan, Ra dengan gilanya memenuhi pikiran Sam. Namun, itulah yang lagi-lagi mengiang di telinga Sam. Meskipun Ra tak sedang berada di sampingnya, ia merasa dihantamkan dahan-dahan dari pepohonan di depan rumah. Akh, Ra! Tega kau meninggalkan aku seperti ini, dengan semua pikiran-pikiran ini.
            Sam sedang terus mengganti-ganti channelnya—105,4—cambuk  yang mampu melukai Sam, 100,2—menyiksanya untuk cepat-cepat masuk ke liang kubur. Dan 103,2—Sam baru sadar ia mendengar sebuah teriakan keras, sangat keras. Semuanya berasal dari ingatan-ingatan indah sekaligus menyebalkan bersama Ra.
            Zzzzttttttt....
            Sam akhirnya benar-benar gila. Beberapa hari kemudian ia meniduri rumah sakit yang dipenuhi orang-orang calon penghuni surga. Begitulah Sam menganggapnya. Setidaknya ia juga menganggap bahwa dengan memasuki tempat orang-orang gila, ia juga adalah calon penghuni surga. Ia bahagia karena dengannya tak perlu memikirkan lagi perihal kelender yang tertawa terbahak-bahak, setiap kali, setiap ia melakukan kesalahan lagi kepada Ra. Ia tak mampu merubahnya hingga batas waktu yang Ra berikan sendiri. .
            Di kamar itu, Sam melilitkan tali demi tali untuk mempraktekkan sebuah kematian hingga ia tak sadar ia hampir saja menghabisi nyawanya sendiri sebelum akhirnya beberapa perawat memergokinya. Beberapa kali waktu, ia sempat menyadari dan mengatakan banyak hal kepada dinding-dinding polos di kamarnya.
            Jika saja aku tak merahasiakannya. Jika saja aku mengatakannya pada Ra. Jika saja saat itu aku tak marah dan aku berhasil mengungkapkan apa yang perlu aku ungkapkan padanya. Mungkin ia masih hidup. Ia akan bahagia menjadi seorang penulis seperti keinginannya selama ini.
            Esoknya, Sam  pulang. Ia telah  mampu  mengingat perihal kematian itu. Kematian satu lawan satu, saat ia tak mampu menghentikan Ra menyembelih urat nadinya sendiri. Mungkin kenyataan berat hingga Sam menganggap seakan bumi akan menelannya hidup-hidup. Ia gugup, masih tampak cemas berkeliaran di wajahnya. Sampai akhirnya tak sengaja ia menonton berita di televisi menayangkan peristiwa kematian, kematian sembilan orang ditabrak mentah-mentah oleh seorang pecandu narkoba, kecelakan bus dengan sopir sedang kondisi mengantuk, belum lagi akhirnya Sam  menemukan berita kematian seorang wanita bunuh diri: akibat kondisi ekonomi, akibat diputusi pacar, akibat tekanan orang tua. Akibatnya, Sam sendiri menyadari luapan di sekitar cekung mata adalah kewajaran. Ia tak mampu membendungnya kali itu.  Sewaktu-waktu apabila akhirnya kenyataan adalah jalan kehidupan. Sam menganggapnya telah wajar, wajar.
            Sam... Sam... ceritakanlah padaku walau hanya dalam mimpi.
            Mimpi?
            Sam, mimpi itu seperti nyata
            Nyata?
            Ceritakan padaku, waktu kita tak banyak.
            Baiklah.... Ra, ini tak sesederhana yang kau pikirkan, namun dengarlah! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Beberapa gua di sekitar sungai yang sempat aku singgahi di daerah Dairi. Kau tahu Ra cerita ini tak pernah aku ungkapkan karena aku berjanji pada seseorang yang sangat aku hormati, maka simpanlah baik-baik.
            Aku tahu. Lanjutkanlah!
            Baiklah.... Begini, gua itu diyakini memiliki ribuan rahasia. Warga telah banyak menceritakanya. Dahulu penduduk di sana memiliki kepercayaan apabila gua itu terbuka, maka akan banyak sekali warga yang tertolong. Mereka yakin apapun isi di dalam gua tersebut mampu membuat mereka terhindar dari kemiskinan. Namun, saat beberapa menganggap ada harta karun di dalam gua itu, beberapa yang lain percaya pula bahwa di dalamnya tak lain adalah jin yang sedang beribadah dan hendak menyampaikan pesan pada Tuhannya bahwa ia sangat ingin ada kemakmuran di daerah ini. Selain itu... apa yang ada di gua itu mampu menghidupkan orang mati.
            Sam aku ingin ke sana. Bawa aku ke sana.
            Tapi, tapi bagaimana caranya?
            Sam... lekaslah!
            Ra, kau di mana
            Sam bawa aku!
            Ra... Ra....
            Beberapa puluh jam terlewati setelah kejadian itu, Sam terlalu sering untuk diam. Ia masih berpikir bagaimana caranya membawa Ra pergi sampai ke tempat itu walaupun dengan sebuah kenyataan bahwa kemarin hanyalah mimpi. Biarpun mimpi, biarlah pula mimpi yang menyelesaikannya. Sam ingin tidur dua puluh empat jam tanpa ada yang membangunkannya. Ia harus bermimpi panjang. Dan hari itu Sam memutuskan mengunci pintu kamar lalu tidur dengan menelan obat tidur.
            Sam, bawa aku dengan sebuah amplop.
            Ra, aku tak mengerti
            Tulislah namaku di sebuah kertas, ceritakan apa yang sedang terjadi padaku dalam kertas itu
            Maksudmu?
            Masukkan ke dalam amplop dan bawa amplop yang berisikan kertas kematianku itu ke gua yang kau ceritakan. Aku perlu itu!
            Apa kau yakin Ra?
            Aku sangat yakin!
            Beranjak dari tidurnya, suara burung hantu berkeliaran di telinga bersambutan jangkrik-jangkrik yang enggan berpindah. Seperti ada peluit mendekat persis dari arah bawah tempat tidur, namun Sam tak peduli. Sebuah jas tua berwarna daun gugur tampak tergantung di dinding kamar, Sam mengambilnya dengan buru-buru. Lalu ia melihat sebatang pena mengeles hendak dipungut dan Sam mulai menuliskan apa yang Ra perintahkan. Di dalam lemari, sebuah amplop pasrah digenggam Sam, lalu Sam menjilati ujungnya. Setelah memasukkan kertas tadi, ia mengeratkan penutup amplop. Ia merasa tak perlu membaca ulang dan ia tahu harus cepat-cepat ke tempat itu sebelum matahari terbangun esok pagi.  
            Gua itu akan menghidupkan kekasihmu. Gua itu akan menghidupkan kekasihmu.
            Ini gila. Perkataan Romo, seorang warga tetua di Dairi itu mendesak-desak di telinganya, menyerang seluruh saraf-sarafnya. Seluruhnya mengalir dan membuatnya terdorong mengetahui lebih banyak. Walaupun satu dua menit saja ia melihat Ra hidup kembali, ia akan melakukannya. Ia hanya meminta beberapa waktu agar cerita itu mengalir di telinga Ra.
            Sungai mengalir deras menampar-nampar bebatuan, ikan-ikan bersembunyi di baliknya, sebuah gua yang menganga elok di depan sana. Sam mesti menyebrang sungai—ia melompat-lompat di bebatuan yang lumayan rapat. Kakinya terjerembab ke air, air deras memelintir tubuhnya dan menyangkut di bebatuan yang lain. Ia bangkit dan tak perduli—meski tenaganya terkuras dalam. Ia merangkak penuh hati-hati, gua itu mulai tampak dan ia akan masuk. Ia sudah tak sabar mengetahui sesuatu di dalam gua itu. Ia beruntung gua itu terbuka—kemarin beberapa orang warga tak sempat berhasil memergoki gua itu terbuka bahkan hampir dipastikan gua itu tak terlihat saat-saat tertentu.
            Kau harus hati-hati Sam. Jin di dalam gua itu belum tentu mampu menolongmu.
            Perkataan Romo yang satu itu terngiang lebih jelas saat ia telah berada di dalam gua. Ia tak tahu apakah peralatan dalam tas di bahunya seluruhnya berguna, namun ia bersyukur senter yang dibawanya tidak rusak dan berhasil dinyalakan. Sejauh lima meter Sam berjalan, ia menemukan beberapa tengkorak manusia, dan Sam mendadak kaget namun tak berteriak. Ia mesti tenang. Ia berjalan terus memenuhi arah tikungan yang hanya ada satu jalan. Tidak ada jalan-jalan yang lain seperti dalam permainan petak umpet. Sam tahu ia harus menemukan ujung dari gua ini. Dan di sanalah Sam melihat cahaya seperti api menyala-nyala, di ujung gua.
            “Aku tahu kenapa kau kemari! Bawa amplop itu ke padaku!”
            Sam tak tahu mengapa dapat semudah ini. Ia tak tahu harus memberikannya pada siapa sebab di depannya hanya ada nyala api dan suara yang tak tahu dari mana asalnya. Ia meletakkan amplop ke lantai, lalu nyala api itu mengangkatnya. Amplop itu terbakar dan habis. Sam terperangah—giginya menyala memenuhi ruangan. Lalu di depannya seorang wanita berdiri sambil tersenyum.
            “Ra, kau Ra? Aku tak percaya!”
            Wanita itu hanya diam. Sam kemudian mendekatinya. Namun, sebuah suara yang tak dikenalnya mengatakan, “Jangan menyentuhnya, ceritakanlah apa yang ingin kau ceritakan!”
            “Tapi, aku tak perlu lagi menceritakannya!”
            “Apa maksudmu?”
            “Cerita itu telah terbongkar! Aku ingin menceritakan hal ini. Rahasia ini, rahasia kematian dan kehidupan kembali.”
            Belum dalam hitungan menit, sebuah pusaran hebat mencampakkan Sam ke dataran yang jauh dari tempat itu dan ia berdiri pun tak mengerti apa yang terjadi.
            “Ra... Ra... Ra....”
            “Sam....”
            Sam berbalik. Seorang wanita keluar dari dalam rumahnya dan berjalan menuju dirinya.
            “Sam, aku sudah tahu! Aku tahu kenapa selama ini aku tak menemukan cerita yang menarik untuk aku ceritakan! Sam aku hanya terlalu ambisi. Padahal kisahku akan datang sendiri! Sam, aku tak perlu khawatir lagi selama kau ada di sisiku. Kau adalah kisahku!”
            “Ra... ini, apa?”
            “Kau dari mana saja? Lima hari kau tak pulang. Katanya kau hanya sehari ke Dairi untuk melihat kebunmu. Ah, payah....”
            “Tapi...”
            “Oya, Sam, sekarang ceritakan padaku tentang gua rahasia di Dairi itu. Bisa, kan? Aku ingin menulis. Aku sudah tak penat lagi.”
           
Serambi KOMPAK, 5 Februari 2011
             

Wednesday, February 22, 2012

Lintas Gayo, 20 Februari 2012

Cerpen.
Riwayat Pemuja Hujan
Oleh: Ria Ristiana Dewi

             Pada lapangan tengah kota terdapat taman dengan sejuta warna angin. Terbangunlah gedung-gedung menua dengan stasiun kereta api berikut pula kantor pos bekas masa kolonial Belanda yang mengelilinginya.  Dia duduk di pendopo taman itu, mencoba sekadar kenal dengan wajah kriput dari tubuh tembok bangunan yang kokoh, bangunan yang begitu ringkih dengan sambungan jam berdetak di dahinya. Menghitung setiap langkah untuk setidaknya, mengenang yang sudah-sudah. Kesudahan masa kaki-kaki kuda menghentak lalu penunggang menggeluarkan bunyi pentungan kayu, daun-daun bersemi dan angin berhembus menerpa wajah-wajah penghuni kota. Anak-anak menghinggapi becekan dan menangkap kecebong. Hingga bunyi kelintingan sepeda tua bekas kota yang menua.
Kini semuanya menjelma gedung pencakar langit, saluran gas tertanam, air bersih sulit terjangkau, hingga udara menjadi racun, suara klekson mobil bersaing menyongsong derita langit yang erat dengan cahaya menungkik ke seluruh penjuru kota. Kotaku, kotamu. Lalu hujan kini tinggal derita.
Suatu waktu, hujan menggerimis seperti rambutmu yang terberai indah membentuk hujan yang membasah, berlinang pada pori-pori mahkota di kepalamu, lusuh pun kuyup. Hingga ia bergitu lembab menemani lekuk dahi, pipi, dagu, hidung, dan matamu. Maka aku memanggilmu, ”Hujan....”
            Hujan yang dicintainya.
            ”Berapa lama kau bermain hujan?”
            ”Selama hujan pernah mendekapku untuk mengenang itu.”
            ”Ah... lama-lama, Kau sudah seperti penyair saja.”
            Dia tak luput memandangmu. Hujan mengguyur kalian hingga suatu kesempatan, kalian meneduhkan tubuh dalam pendopo lapangan. Dan kalian saling menebar senyum ke hadapan hujan. Tiba-tiba saja kilat berkeredap hingga membuat kau mengalihkan pandang, detik kemudian guntur menggelegar hingga membenturmu mendekap dia begitu erat. Hujan cemburu dan menampar-nampar lantai pendopo, membuat kalian harus begitu merapat dengan lebih rapat. Hingga malam larut, kalian pulang dengan bersimbah hujan dan mencumbu benih-benih awan hitam.
            “Simpan hujan hari ini dalam hatimu!” Katamu kepadanya dengan senyum yang membuncah dunia laki-laki. Kau tak sadar telah diemban hujan hingga kesadaranmu benar-benar hujan.
            “Kau terlalu memuja.”
            ”Ah... kau yang terlalu.”
            Tapi dia tak mengerti, semakin tak mengerti terhadapmu. Seakan-akan otakmu dipenuhi hujan, mengembangbiakkan hujan, membuat sesunggihan hujan, ataupun menuliskan hujan dalam imaji yang kau terka-terka. Dia kalut menatap punggungmu saat kau berjalan dengan berbalik pandang, kau membentangkan tangan seakan menyambut ritual atas hujan.
            Namun, suara malam kali ini tak bersabat untukmu. Kewanitaanmu mendapat sambutan yang berjalan ditempat. Orang tuamu marah dan kau diusir dengan alasan yang tak bersebab. Sesungguhnya! Bila kau dapat menjelaskan perihal riwayat hujan hari ini, mungkin ini hanya tinggal sepah ketakutan. Kau kucurkan air mata dan berbaur pada tubuh hujan, mengendap-endap di antara dagu dan dadamu, mengalir perlahan ke seluruh bagianmu. Kau gigil ia dengan menerkam cakrawala malam.
            ”Hujan... ini hujan rumahku!”
            Betapa senang kau menjerit-jerit dengan dirimu sendiri. Kau buat tanganmu semakin membentang. Hingga dia melihatmu bermandi hujan, melepas dusta. Dilarikannya diri menuju kau.
            ”Awas hujan...”
            ”Aku suka hujan.”
            ”Jangan gila! Nanti sakit.”
            ”Biar saja! Sebab hujan itu adalah kau, hujan adalah aku, hujan adalah kita,” katamu dengan menderu-deru menjelaskan seakan kau periwayat hujan yang tangguh.
            ”Beginilah hujan,” Katamu menatap matanya begitu pasti dengan bulu mata masih membasah dari pandangan. Seketika hujan bergaris-garis di hadapanmu. Lalu kau melanjutkan, ”Aku sudah pernah mengenal sang periwayat hujan, jadi kau salah bila menganggapku periwayatnya. Ia adalah penyair yang begitu kukagumi.
            Sekilas ia tak mampu menerkanerka apa yang kau layangkan itu. Seakan kau ingin membuktikan keahlianmu ini. Kaulah periwayat hujan itu? Ia tak mampu lagi mendugaduga kalau sudah begini. Bahkan kau begitu erat dengan hujan.
            ”Baiklah... sekarang aku ingin waras. Mungkin tadi aku yang sedang tak waras.” Dia masih terus membenam kecurigaan-kecurigaan. Dia tak ingin kau terjatuh pada ketidakwarasan.
            ”Aku tahu bahwa hujan adalah kekasihmu, iya kan?” Katanya menyeimbangkanmu. Sejenak justru menggelisahkan.
Suara guntur lebih menggelegar dan langit sungguh memerah, pucat dihadapanmu dan dia. Kalian berlari dengan saling berpegang tangan. Dia mendekap erat telapak tangan kananmu menggunakan tangan kirinya. Kau dibawanya berlari menempuh derai-derai hujan yang lembut meniraikan tubuhnya di tubuhmu. Kalian berlari dan sampai tak tahu kalau kota akan hancur seketika. Hujan akan membadai di kotamu, kotanya. Perlahan namun pasti, stasiun yang kalian lewati menerbangkan seng-seng tua yang enggan terganti dan kantor pos yang baru saja kalian sambangi rubuh dengan bentuknya seperti jas tua yang koyak berwarna coklat. Gedung baru dekat kantor pos itu sekejap gelap, lampu-lampu yang biasanya mewarnai langit malam kini padam.  Sungai menggeli-geli kaki kalian, ia mengamuk dan menyeret dalam daratan kota. Kantor walikota bahkan sudah tak terlihat. Entah karena hujan, entah karena air, entah karena petir yang menyambar. Suara klekson mobil tenggelam akibat riuh ombak air yang terbuat bergulung-gulung. Lalu kalian tak lagi sadar telah berada di lautan. Mungkinkah namanya lautan Medan? Kalian hanya berdua. Tiada satupun siapa-siapa dan memang kota tengah kosong saat kalian akan meminta pertolongan. Lalu kalian berdoa hingga bumi berputar. Malam sungguh pekat! Hujan merintik.
***
            ”Hujan...”
            ”Aku menunggumu bangun,” katanya saat kau membuka mata setelah mengatup seraya tertidur di sampingnya tadi malam. Lantas dia memipih, menerka kegalauan di wajahmu.
            ”Tadi malam...”
            ”Tadi malam hujan begitu deras hingga kita tak bisa pulang,” katanya meredam kalutmu.
            ”Lalu...”
            ”Lalu aku menelpon ibumu dan ia paham. Entah keberanianku dari mana,” katanya sambil terus menatapmu, memasuki lorong yang jauh dalam korneamu. Kau menyibakkan jaket coklatnya dan tersenyum walaupun  kau tahu hidupmu sedang galau dan kau ingin terus bermandi hujan dalam mimpi-mimpi yang bergasing di tidurmu. Selanjutnya pada senyummu, kau begitu senang atas ritual hujan yang kau riwayatkan tadi malam. Lagi-lagi walaupun kau tahu saat ia menyuruhmu lekas ke dalam pendopo untuk berteduh, kau tetap nakal dengan imajimu dan kau bentangkan tanganmu begitu terbentang. Lalu kau dekapkan tubuhmu pada tubuh hujan. Hingga kau terjatuh dan ia membawamu dengan kalutnya, menidurkanmu seraya memegang keningmu. Mengungkap tanya: Akankah kau kembali.
***
            Kau menimpai pikiranmu dengan menjelajahi riwayat hujan, setiap malam, selalu mengingat hujan. Padahal kau tahu betul ia telah lama menenggelamkan harapanmu terhadapnya. Kemudian setelah itu, kau dan dia berpisah di pendopo. Hingga walaupun kau berulang meneteskan air mata, ia tak hendak berbalik. Mungkin matahari mulai menggelisahkan pikirannya. Walaupun kau tahu, pastilah ia ingat tentang riwayat hujan dan siapa sang periwayat hujan yang sesungguhnya.
Hujan yang dicintainya.
Semenjak tubuh-tubuh cerita masa lalu merasuki keputusan hidupmu. Kau biarkan ia sepertimu membentangkan tangan dan berjalan ke arah hujan, lalu pergi selamanya mencari hujan.
Kau tahu ia adalah hujanmu, namun kau lebih tahu kalau ia sedang mencari hujannya. Akankah kau tak tahu? Ia telah menjadi periwayat hujan.
            Aku, aku memerintahkanmu sebagai periwayat hujan yang sebenarnya. Kau akan tahu bahwa kau lahir dari tubuh-tubuh pena penyair terkenal. Kini kaulah yang kuterlurkan di atas kertas, yang lahir atas kerelaan para penyair meriwayatkan hujan.
            Pula kau harus tahu namamu lahir atas serpihan tinta emas ribuan penyair. Dan kini kaulah yang kuanggap paling tangguh. Maka jangan pernah menatap hujan terlalu lama. Aku menyuruhmu bangkit dan berjalan segera ke arah bait-bait kehidupanmu.
            Kehidupanmu hendaknya dijalani sebagai upaya menekan ruang-ruang sendu, menciptakan wajah-wajah bercahaya. Dan aku jadi ingat saat kau mengatakan hal yang sama padanya tentang hal ini. Lalu dia untuk sekian kali menyakinimu bahwa kau adalah periwayat hujan yang sesungguhnya. Mengapa justru sekarang kau menjadi penuh peluh air hujan. Maka kau, dengarlah aku:
Bukankah hujan selalu menghampiri bila panas menenggelamkan bumi dan bila sudah saatnya hujan turun, ribuan periwayat hujan membuat ritual hujan. Suatu waktu saat kau menemukan hujan, berjalanlah tanpa membentangkan tanganmu, tanpa kau harus mendekapnya dan tanpa kau harus membasahi rambutmu yang terberai lalu tersimbah pada lekuk hidung, dagu, pipi, kening, dan matamu. Maka teruslah kau lalui tanpa menoleh ke manapun. Sebab hujan adalah atas keputusan Tuhan maka aku ingin kau menyerahkan hujan hanya kepada Tuhan.  
            Walaupun begitu kau masih ingat tentang hujan yang sempat kita perbincangkan dipojokan tulisan yang aku buat antara kau dan dia:
Laki-laki itu berjalan sangat cepat. Ia hampir menghilangkan jejaknya sendiri terhadap wanita yang sejak tadi mengejar-ngejarnya.
”Coba pejamkan matamu!”
Dan wanita itu menurut.
”Apa yang kau mau?”
”Aku tak tahu!”
Lalu laki-laki itu menciptakan awan hitam dalam sekejap. Wanita yang masih memejamkan matanya tiba-tiba saja mendengar bunyi petir.  Bunyinya berawal dari sebelah kiri lalu berjalan ke sebelah kanan. Begitu seterusnya. Hingga laki-laki itu menyuruhnya membuka mata. Awan menjadi benar-benar hitam. Wanita itu terpatung dengan begitu mendungnya. Hujan kini turun perlahan gerimis, sebentar lagi sangat deras. Laki-laki itu telah jauh dan melambaikan tangannya sambil tersenyum dari kejauhan.
”Sudah lama aku tak merasakan ini,” katamu padanya saat berada di pendopo itu bahkan persis seperti yang kau ceritakan padaku saat ini. Apa mungkin terus begini? Kau menjadi pemuja hujan. Sementara ia telah berkalana sangat jauh melewati banyak musim, menerjang banyak salju, menggoreskan banyak sejarah musim semi, hingga mengatasi terik matahari. Kau tetap saja pada cerita hujanmu.
Di pendopo tempat kau bercerita, lagi-lagi kau siarkan bahwa hujan akan turun dan memang seperti itu. Hujan perlahan gerimis sebentar lagi deras lalu gerimis lagi dan sebentar lagi deras lagi.
”Aku heran, mengapa setiap aku bertemu kau, hujan selalu turun.”
Kau diam saja justru menyahut kata-kataku dengan senyuman yang berlimpah. Terkadang begitu, aku bercerita padamu betapa indahnya musim salju di puncak Gunung Fuji, namun tetap kau begitu dengan lakumu memuja hujan. Aku menceritakan padamu tentang musim semi di Swiss, begitu memukau menjadikan hujan hanya sebuah renungan lama, tentang musim panas di Afrika yang menawan bersama rusa, zebra, gajah, dan singa-singa lapar memenuhi hari-hariku, atau mungkin tentang keindahan gurun pasir di timur tengah saat aku menantang anginnya bersama seekor unta. Ah... entahlah!
Mungkinkah kau hanya memberikan sesimpul senyum saat aku menceritakannya padahal aku berharap akan ada tunas-tunas bunga yang tumbuh di siung pipi dan dagumu.
Dan, Mungkinkah kau ditakdirkan sebagai wanita hujan. Akankah keputusan Tuhan?
Serambi KOMPAK, Agustus 2011- Februari 2012


Friday, February 17, 2012

Medan Bisnis, 12 Februari 2012


Fakta dalam Fiksi pada Cerpen
Judul                     : Dodolitdodolit-dodolibret     
                              (Cerpen Pilihan Kompas 2010)
Penulis                 : Seno Gumira Adjidarma, dkk.
Tahun                   : Cetakan ke I, Juni 2011
Penerbit              : Kompas, Penerbit Buku
Tebal                     : xiv+210 hlm, 14 cm X 21 cm

                Pengungkapan awal pihak pemilih cerpen terbaik kompas yang terangkum dalam buku ini  adalah tema yang diungkap dalam cerpen yang terbit di Koran minggu kompas lebih kepada karya-karya yang berhasil mentransformasikan realitas empirik ke dalam realitas sastra. Karya-karya jenis ini akan mempunyai basic realitas yang kuat untuk kemudian muncul sebagai karya dengan daya jelajah dan imajinasi yang mumpuni. Cerpen berjudul Dodolitdodolitdodolibret terpilih sebagai terbaik berdasarkan beberapa hal. Salah satunya mampu menceritakan hal-hal yang berbau metafisis (sufi) dalam bahasa sederhana yang bahkan mengandung ironi. Memang sindiran yang mengena, ketika seseorang yang merasa dirinya sebagai guru sufi memberi pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup  kepada orang-orang di sebuah pulau terpencil, tetapi pada akhirnya ia harus melihat kenyataan bahwa justru orang-orang di pulau itulah yang lebih memahami realitas sesungguhnya.
                Berlanjut pada cerpen-cerpen setelahnya seperti cerpen S. Prasetyo Utomo berjudul pengunyah sirih yang mana pada cerpen ini kemudian disinggung masalah pembelian tanah yang seharusnya merupakan tanah yang tidak untuk diperjualbelikan. Ada perdebatan bagaimana tanah yang seharusnya untuk pemakaman, kemudian dijual dan akan didirikan pabrik.   Beberapa cerpen yang lain seperti cerpen Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap (Timbul Nadeak), Ada yang Menangis Sepanjang Hari… (Agus Noor), Menjaga Perut (Adek Alwi), Di Kaki Haraira Dua Puluh Tahun Kemudian (Martin Aleida), Tukang Obat itu Mencuri Hikayatku (Herman RN) terdapat beberapa sindiran politik dan masalah-masalah sosial yang sering terjadi di masyarakat. Penceritaan fakta dan dikaji secara fiksi inilah yang kental diangkat dalam cerpen-cerpen tadi. Herman RN dalam cerpennya Tukang Obat itu Mencuri  Hikayatku terlihat ingin mengutarakan bagaimana sindiran tentang orang-orang yang suka mencuri milik orang lain yang mana orang itu justru orang yang dipercayanya dan pernah ditolongnya. Dalam paragraf akhir hal itu tertera begitu jelas: Beberapa minggu kemudian, lelaki kurus yang pernah tinggal bersamaku dua bulan yang lalu jadi terkenal di kotaku. Dalam setiap acara baik dikampung maupun kecamatan, dia selalu hadir sebagai pembawa hikayat. Semua hikayat yang pernah kuceritakan padanya dijadikan sebagai pencari rezeki dan nama. Kini dia semakin terkenal, bahkan sampai ke ibu kota provinsi. Oh, lelaki itu telah mencuri hikayatku dan menjadi orang yang sangat terkenal. Sementara itu aku semakin tua.
                Beberapa cerpen juga memperkenalkan budayanya masing-masing. Seperti Cerita di Kedai Tuak Martohap (Timbul Nadeak) yang menceritakan budaya batak, Ordil Jadi Gancan (Gde Aryantha Soethama) menceritakan budaya Bali.
                Tidak hanya masalah hal-hal ekstrinsik yang terlihat istimewa dari cerpen-cerpen ini, namun juga unsur intrinsik di dalamnya memiliki keunikan dan daya khas yang beragam.  Pada cerpen ordil jadi Gancan karangan Gde Aryantha Soethama, narasi yang kerap memukau dipakai hampir di seluruh isi cerita. Contohnya saja pada paragraf awal, sebagai pembuka yang mampu memikat, “Dari bawah pohon sawo di sudut alun-alun, ordil menatap bade tumpang sembilan itu dengan pandang berseri-seri, tetapi juga dengan perasaan memuncak dengki. Dia girang, niat melampiaskan dendam sebentar lagi terpenuhi. Pada saat sama, kebencian membakar rongga dadanya, karena jenazah orang yang paling ia musuhi memperoleh kehormatan dibakar dengan menara megah bertumpang Sembilan.”
                Pemakaian majas-majas juga ramai digunakan, misalnya metafora, personifikasi, dan masih banyak lagi. Salah satu contoh yaitu: “Saat warna merah di ujung langit. Desa itu senyap. Begitu hening dan pulas. Meski lampu-lampu mulai dinyalakan, nyaris tak ada desah keluar. Suara bisu desir angin yang berbisik di celah hutan bamboo, mencekam. Batu-batu jalanan desa seperti tahu bahwa tidak seharusnya suara menjadi penguasa saat senja mulai datang, dan kesedihan tanpa terasa saling menyapa di antara awan yang berwarna jingga”.
                Meskipun begitu cerpen-cerpen di dalamnya termasuk kisah yang mengandung nilai filsafat yang cukup tinggi.  Tidak jarang bahasa-bahasanya cukup sederhana, namun ceritanya membuat pembaca harus menelusuri berulang-ulang. Namun, hal yang memang sedikit mengecewakan mengapa proses kreatif Seno Gumira Adjidarma saja yang ditunjukkan di dalamnya, sementara memang ada banyak sekali cerpen-cerpen lain yang perlu dibuatkan proses kreatifnya. Selain itu, kumpulan cerpen itu tentunya sudah cukup membuktikan ada nilai sosial yang cukup tinggi dan perlu untuk diketahui banyak orang. Selamat membaca!

Serambi KOMPAK, 9 Januari 2012


Penulis bernama asli Ria Ristiana Dewi, Mahasiswa UNIMED, Anggota KOMPAK.

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...