Fakta dalam Fiksi pada Cerpen
(Cerpen Pilihan Kompas 2010)
Penulis : Seno Gumira Adjidarma, dkk.
Tahun : Cetakan ke I, Juni 2011
Penerbit : Kompas, Penerbit Buku
Tebal : xiv+210 hlm, 14 cm X 21 cm
Pengungkapan awal pihak pemilih cerpen terbaik kompas yang terangkum dalam buku ini adalah tema yang diungkap dalam cerpen yang terbit di Koran minggu kompas lebih kepada karya-karya yang berhasil mentransformasikan realitas empirik ke dalam realitas sastra. Karya-karya jenis ini akan mempunyai basic realitas yang kuat untuk kemudian muncul sebagai karya dengan daya jelajah dan imajinasi yang mumpuni. Cerpen berjudul Dodolitdodolitdodolibret terpilih sebagai terbaik berdasarkan beberapa hal. Salah satunya mampu menceritakan hal-hal yang berbau metafisis (sufi) dalam bahasa sederhana yang bahkan mengandung ironi. Memang sindiran yang mengena, ketika seseorang yang merasa dirinya sebagai guru sufi memberi pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup kepada orang-orang di sebuah pulau terpencil, tetapi pada akhirnya ia harus melihat kenyataan bahwa justru orang-orang di pulau itulah yang lebih memahami realitas sesungguhnya.
Berlanjut pada cerpen-cerpen setelahnya seperti cerpen S. Prasetyo Utomo berjudul pengunyah sirih yang mana pada cerpen ini kemudian disinggung masalah pembelian tanah yang seharusnya merupakan tanah yang tidak untuk diperjualbelikan. Ada perdebatan bagaimana tanah yang seharusnya untuk pemakaman, kemudian dijual dan akan didirikan pabrik. Beberapa cerpen yang lain seperti cerpen Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap (Timbul Nadeak), Ada yang Menangis Sepanjang Hari… (Agus Noor), Menjaga Perut (Adek Alwi), Di Kaki Haraira Dua Puluh Tahun Kemudian (Martin Aleida), Tukang Obat itu Mencuri Hikayatku (Herman RN) terdapat beberapa sindiran politik dan masalah-masalah sosial yang sering terjadi di masyarakat. Penceritaan fakta dan dikaji secara fiksi inilah yang kental diangkat dalam cerpen-cerpen tadi. Herman RN dalam cerpennya Tukang Obat itu Mencuri Hikayatku terlihat ingin mengutarakan bagaimana sindiran tentang orang-orang yang suka mencuri milik orang lain yang mana orang itu justru orang yang dipercayanya dan pernah ditolongnya. Dalam paragraf akhir hal itu tertera begitu jelas: Beberapa minggu kemudian, lelaki kurus yang pernah tinggal bersamaku dua bulan yang lalu jadi terkenal di kotaku. Dalam setiap acara baik dikampung maupun kecamatan, dia selalu hadir sebagai pembawa hikayat. Semua hikayat yang pernah kuceritakan padanya dijadikan sebagai pencari rezeki dan nama. Kini dia semakin terkenal, bahkan sampai ke ibu kota provinsi. Oh, lelaki itu telah mencuri hikayatku dan menjadi orang yang sangat terkenal. Sementara itu aku semakin tua.
Beberapa cerpen juga memperkenalkan budayanya masing-masing. Seperti Cerita di Kedai Tuak Martohap (Timbul Nadeak) yang menceritakan budaya batak, Ordil Jadi Gancan (Gde Aryantha Soethama) menceritakan budaya Bali.
Tidak hanya masalah hal-hal ekstrinsik yang terlihat istimewa dari cerpen-cerpen ini, namun juga unsur intrinsik di dalamnya memiliki keunikan dan daya khas yang beragam. Pada cerpen ordil jadi Gancan karangan Gde Aryantha Soethama, narasi yang kerap memukau dipakai hampir di seluruh isi cerita. Contohnya saja pada paragraf awal, sebagai pembuka yang mampu memikat, “Dari bawah pohon sawo di sudut alun-alun, ordil menatap bade tumpang sembilan itu dengan pandang berseri-seri, tetapi juga dengan perasaan memuncak dengki. Dia girang, niat melampiaskan dendam sebentar lagi terpenuhi. Pada saat sama, kebencian membakar rongga dadanya, karena jenazah orang yang paling ia musuhi memperoleh kehormatan dibakar dengan menara megah bertumpang Sembilan.”
Pemakaian majas-majas juga ramai digunakan, misalnya metafora, personifikasi, dan masih banyak lagi. Salah satu contoh yaitu: “Saat warna merah di ujung langit. Desa itu senyap. Begitu hening dan pulas. Meski lampu-lampu mulai dinyalakan, nyaris tak ada desah keluar. Suara bisu desir angin yang berbisik di celah hutan bamboo, mencekam. Batu-batu jalanan desa seperti tahu bahwa tidak seharusnya suara menjadi penguasa saat senja mulai datang, dan kesedihan tanpa terasa saling menyapa di antara awan yang berwarna jingga”.
Meskipun begitu cerpen-cerpen di dalamnya termasuk kisah yang mengandung nilai filsafat yang cukup tinggi. Tidak jarang bahasa-bahasanya cukup sederhana, namun ceritanya membuat pembaca harus menelusuri berulang-ulang. Namun, hal yang memang sedikit mengecewakan mengapa proses kreatif Seno Gumira Adjidarma saja yang ditunjukkan di dalamnya, sementara memang ada banyak sekali cerpen-cerpen lain yang perlu dibuatkan proses kreatifnya. Selain itu, kumpulan cerpen itu tentunya sudah cukup membuktikan ada nilai sosial yang cukup tinggi dan perlu untuk diketahui banyak orang. Selamat membaca!
Serambi KOMPAK, 9 Januari 2012
Penulis bernama asli Ria Ristiana Dewi, Mahasiswa UNIMED, Anggota KOMPAK.
No comments:
Post a Comment