Wednesday, February 1, 2012

Analisa, November 2011


Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu
Sastrawan Indonesia Ke-4
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Panas Dingin Komunitas Penulis di  TSI-4
            Perbincangan ini tidak lagi baru, akan tetapi menghasilkan benih-benih baru. Begitulah adanya seminar tentang komunitas yang diangkat dalam salah satu perbincangan hebat di kalangan sastrawan Indonesia pada perhelatan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 yang dilaksanakan di Ternate, 24-28 Oktober 2011 lalu. Saat saya sebagai salah satu peserta yang mewakili Sumatera Utara selain tentunya Maulana Satrya Sinaga yang hadir  mengetahui seminar tentang komunitas ini akan dilaksanakan, menjadi ruh tersendiri. Apalagi mengingat di Sumatera Utara marak komunitas berdiri akhir-akhir ini.
“Di Sumatera Utara terdapat beberapa komunitas, diantaranya: Kontan, Kompak, Kompensasi, Koma, KSI, FLP, Home Poetry, Komunitas Puisi, Garputala, dan lainnya,” papar saya saat sesi bertanya yang pertama pada seminar tersebut. Ternyata pernyataan ini mendapat sambutan yang luar biasa. Baik dari penonton maupun dari pembicara saat itu, yaitu: Firman Venayaksa dari Komunitas Rumah Dunia (Banten), Bandung Mawardi dari Buletin Pawon (Solo), Azhari dari Komunitas Tikar Pandan (Aceh), dan Sofyan Daud dari Komunitas  Garasi Genta (Ternate). Seminar yang dimoderatori Benny Arnas itu berlangsung hangat.
Awalnya Bandung Mawardi memaparkan bahwa buletin Pawon atau dapat juga dikenal kumpulan penulis-pembaca di Solo telah berusaha menghidupi kepenulisan itu sendiri dengan selalu bersyukur dan tidak mengeluh. Ah! Mungkin beliau ingin mengatakan bahwa jangan sesekali berbicara soal apa untung rugi dalam mendirikan militansi untuk dunia kepenulisan. Seperti yang sudah banyak diketahui oleh sastrawan sendiri, komunitas penulis tidak memiliki banyak ruh dukungan dari kebanyakan pemerintah di daerah akhir-akhir ini. Komunitas ini mengedepankan tugas mulia, akan tetapi selalu dianggap masih belia. Atas dasar sebuah kemuliaan itu pula Pawon telah menebus segala ketakutan banyak sastrawan selama ini yang erat akan kepenulisan itu sendiri. Lalu Pawon bersikeras untuk membuat buku-buku yang buku-buku itu sendiri diberikan secara gratis kapan, dimana, dan dengan siapapun itu. Seperti dituliskan pula dalam makalah Bandung Mawardi, konklusi pendek atas kiprah dan ulah pawon, buletin dan kumpulan penulis-pembaca, selama sekian tahun diajukan oleh Saifur Rohman, kritikus sastra dan pengajar sastra di Universitas Semarang dan Universitas Negeri Jakarta. Saifur mengomentari Pawon menjadi inspirasi akan tetapi Pawon juga menjawab bahwa semua itu dilakoni tidak peduli meski dana selalu mepet karena tak mau mengemis dan tak kapok miskin. Akhirnya Pawon menjadi penggerak yang hebat bagi sastrawan di Solo.  
Komunitas di Ternate juga tak kalah menarik. Komunitas Garasi Genta yang terdapat di Ternate saat ini diakui masih begitu berusia muda. Namun keyakinannya untuk membuat majalah dan komunitas Gerasi Genta begitu menjadi momentum luar biasa. Pada akhirnya komunitas ini pula yang mampu memberikan kenyakinan pada beberapa pihak agar Temu Sastrawan Indonesia ke-4 mampu terlaksana di Ternate tahun ini. Tentu ini menjadi gerak semangat bagi para sastrawan.
Berlanjut pada komunitas rumah dunia. Seperti yang tertulis pula pada makalah Firman Venayaksa, pada tahun 2002 Rumah Dunia sebagai komunitas literasi ikut ambil bagian dalam pengembangan kesusastraan. Komunitas ini didirikan oleh suami istri yang berpredikat penulis (Gol A Gong dan Tias Tatanka) sebagai respons dan persoalan kampung mereka, yang dalam pandangan mereka, jauh dari kehidupan literasi. Namun, sebagai orang yang tak jauh dari wilayah literasi, Gong memiliki jejaring yang saling terhubungkan, seperti dunia sastra, media massa, penerbitan, komunitas literasi, dan seterusnya. Gong berhasil memanfaatkan jejaring tersebut sehingga Rumah Dunia, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, bisa dimanfaatkan oleh orang banyak. Namun, yang paling menarik dan menjadi perhatian saya adalah bagaimana Rumah Dunia membentuk taman bacaan yang menyediakan lebih kurang 8000 buku untuk diakses masyarakat luas. Terkait hal ini Firman mengutarakan kepada peserta: mengapa budaya membaca masyarakat rendah? Sesungguhnya justru buku-buku yang dibutuhkan atau ingin didapatkan oleh masyarakat sendiri masih tergolong pula rendah.  
Jadi, perlu bagi komunitas selain berkumpul, bedah karya, membuat buku, juga menyediakan taman baca yang memuat banyak buku-buku bacaan sebagai konsumsi masyarakat yang mudah dijangkau. Bila saya melihat, hal ini boleh jadi memfungsikan komunitas secara lebih konkret dan optimal. Ada nilai-nilai militansi, pengabdian, sekaligus kekuatan kebaikan intelektual di sini. Lalu pertanyaannya dari mana modal dalam arti modal uang maupun modal niat untuk mengembangkan niat baik ini?
Inilah yang saya pertanyakan sesungguhnya dalam perbincangan komunitas di atas. Bila Pawon sendiri mengeluarkan modal dari anggotanya, beberapa komunitas yang terbilang masih belia di Medan juga melakukan hal yang sama. Akan tetapi apakah kemudian ini menyamadengankan semuanya dengan bisnis “ada uang ada barang”? Nah! Militansi inilah yang dibutuhkan. Cari! Dan cari! Dimanapun sumbernya. Tidak dari anggota, boleh jadi menjual tulisan. Maka dari itu beberapa komunitas juga terkadang menyarankan anggotanya yang telah lebih royal karya, honornya diseberapa persenkan untuk komunitas. Bukankah ini akan menjadi bala bantuan yang lebih terhormat daripada membuat proposal dan berdiri di pintu-pintu gedung pemerintah untuk kemudian disebut “sipeminta-minta”. Oh, tragisnya si penjual intelektualisme di negeri kita ini.
Bersama beberapa teman, saya mengalami kepahitan menelan kenyataan ini. Terkait pula dengan peringatan sumpah pemuda beberapa minggu lalu, pemuda kita bahkan masih kurang diperhatikan. Beberapa orang mengaku kualahan dan memilih mundur mengurusi hal ini. Tak pemerintah, tak masyarakat mengaku arogan dengan semua ini. Terlebih di Medan, dengan segudang acaranya di sana sini. Mulai dari hotel sampai lapak rumput sekalipun ternyata kurang diperdengarkan ke luar daerah. Hal ini terjadi saat saya berbincang dengan beberapa sastrawan dan kira-kira mereka akan membuat pertanyaan, “Di Medan, jarang ada acara ya?”
Inilah tugas beberapa komunitas di Medan. Mengapa kemudian beberapa komunitas yang seharusnya memberi ruang lebar, kemudian kita sendiri tak mampu menampung aspirasi dari luar. Saya mulai menyadari ada eksklusivitas pada komunitas yang ada di Medan. Sehingga kita selalu melakukan sesuatu yang tak membawa dampak luas, terhampar hingga pulau terluar.
Dan masih mengenai komunitas bersama taman baca. Seperti apa sebenarnya?
Taman Baca bagi Komunitas Penulis
            Terkait taman baca bagi komunitas yang telah pula kita singgung sedikit di atas tadi sebenarnya masih dalam kondisi mempertanyakan banyak hal. Hal menarik kemudian saya ambil garis mengapa komunitas penulis kemudian berkomunitas?
            Semenjak seminar tentang komunitas diperhelatkan pada Temu Sastrawan Indonesia ke-4 di Ternate, Firman dari komunitas Rumah Dunia banyak memperbincangkan tentang kelangsungan komunitas ini. Firman mengatakan dalam media jejaring sosial bahwa terkait diskusi “komunitas sastra” di Ternate, ia kemudian menawarkan agar sastrawan ketika membuat komunitas, juga menyelenggarakan Taman Bacaan yang bisa diakses oleh masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan hendak membuat workshop Taman Bacaan. Selanjutnya apabila berminat akan diberi honor dan transport. Tentu saja semuanya tergiur. Tapi kemudian saat saya mengatakan komunitas kami tidak memiliki taman baca, akan tetapi kami sangat ingin membuat taman baca. Maka semua seperti semula. Tadinya saya berpikir komunitas di Medan akan terbang untuk berbagi apa yang menyebabkan kami tak mampu membuat taman baca dan apa kiat yang mereka lakukan saat membuat taman baca pada acara ini. Saya hanya mampu berdoa.

Oleh-Oleh Ternate-Medan, 2 November 2011
Penulis Peserta TSI-4 dan Mahasiswa Universitas Negeri Medan

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...