Monday, January 30, 2012

Mimbar Umum, Desember 2011


Sastra Yang Men-Dunia
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Suatu Hari, Dunia Mencari Indonesia?
             Indonesia bisa saja pesimis masalah kesejahteraan, namun optimistik harus dibangun pada sastra. Bisalah dikatakan Jhon H. Mcglynn bahwa budaya dan sastralah penggeraknya. Jhon merupakan penulis asal Amerika Serikat yang saat ini mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Indonesia mengembangkan dan memperkenalkan sastra dan budaya Indonesia di tingkat internasional.  Melalui www.lontar.org, Jhon menawarkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki kreativitas berkarya lewat tulisan. Sehari itu, tanggal 7 Desember 2011, seminar internasional yang diadakan penyelenggara JILFEST (Jakarta International Literary Festival) menampilkan Jhon dari Amerika sebagai pembicara. Dikatakannya, beberapa buku sastra Indonesia telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, diantaranya: Never the Twain karya Abdul Muis, Shackles oleh Armin Pane, the fall and the heart oleh S. Rukiah, Mirah of Banda oleh Hanna Rambe, Family Room oleh Lili Yulianti Farid, And The War is Over oleh Ismail Marahimin, The Pilgrim oleh Iwan Simatupang, Siti Nurbaya oleh Marah Rusli, Telegram oleh Putu Wijaya, Supernova oleh Dewi Lestari, dan masih banyak lagi.
            Lebih jauh, Jhon dalam makalahnya di ajang Jilfest, mengungkapkan: “Walaupun Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, pengetahuan di luar negeri mengenai Indonesia masih sangat terbatas. Di luar bidang akademik, informasi yang dapat diperoleh di luar negeri mengenai Indonesia pada umumnya terbatas pada artikel berita yang muncul di Koran atau acara berita yang ditayangkan di televisi.  Dan apa yang dimunculkan di situ kalau bukan berita mengenai pemboman teroris di Bali dan Jakarta, gempa bumi di Yogya, tsunami di Aceh, penembakan orang di Papua, masalah hak asasi manusia, korupsi, dan lain sebagainya. Masalah-masalah tersebut memang terjadi dan perlu diberitakan. Namun demikian, sangat disayangkan bahwa meningkatnya profil Indonesia sebagai sumber berita bencana bagi pemirsa global tidak dibarengi dengan usaha menyeimbangkan informasi tersebut dengan berita tentang kehidupan budaya dan intelektual Indonesia.”

 “Mampu” Memperkenalkan Indonesia
            Peluang memperkenalkan Indonesia ke tingkat global ini sedang terjadi pada dunia sastra. Pada akhirnya kebudayaan Indonesia yang begitu beranekaragam optimis menjadi bahan, dan sastra adalah alatnya. Saat seminar yang berlangsung di Hotel Milenium Jakarta tanggal 7 Desember 2011 itu, ruang-ruang terbuka membicarakan sastra yang memperkenalkan budaya Indonesia diperhelatkan. Seorang budayawan Sujiwotejo berseteru bahwa sebaiknya puisi-puisi berbahasa daerah tidak serta merta ditikam mati, sebab pada dasarnya puisi berbahasa daerah memiliki kekuatan makna dan kelangkaan kosa kata. Selain itu, bunyi yang dihasilkan juga berbeda. Hal ini diungkapkan atas dasar sastra yang kemudian hanya memakai bahasa Indonesia dari waktu ke waktu. Beberapa karya yang berbahasa daerah tidak begitu mendapatkan antusias sebab lebih banyaknya karya daerah yang hendaknya tetap memakai bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Perkenalan budaya yang terjadi di kemudian hari adalah budaya Indonesia yang tidak mencerminkan “Bhineka Tunggal Ika”.
            Hal ini memang terkait sastra lama dan sastra modern. Belakangan ini sastra modern lebih banyak mendominasi, dan budayawan seperti Sujiwotejo menilai perkembangan sastra ini justru tidak memberi dampak berarti untuk mempertahankan keaslian kebudayaan daerah masing-masing di nusantara. Diperpanjang pula dengan pihak yayasan lontar yang diasuh Jhon H. Mcglynn menerjemahkan beberapa karya sastra Indonesia yang modern tadi. Hal ini membuat beberapa budayawan mempertanyakan apakah budaya modern dapat mewakili kebudayaan lama yang notabene adalah kebudayaan asli beberapa daerah di Indonesia.
            Jhon mengatakan, puisi-puisi pada umumnya memiliki pemaknaan yang sangat bergantung pada kosa kata dan keluaran bunyi yang dihasilkan pada puisi. Apabila kemudian bahasa-bahasa daerah ini diterjemahkan ada kemungkinan makna dan bunyinya tidak sampai, pembaca akan kesulitan dan tidak memahami maksudnya. Ini adalah pekerjaan yang hampir dikatakan sia-sia.
            Pada umumnya hambatan-hambatan yang kerap terjadi pada penerbitan buku-buku sastra terjemahan tidak jauh berbeda. Yayasan Lontar juga mengalami banyak sekali hambatan. Di dalam dunia penerbitan, khususnya penerbitan sastra terjemahan, hambatan macam-macam, termasuk kualitas karya dan ongkos penerbitan, namun yang paling mendasar itu sesungguhnya adalah visi dari pihak pemerintah.
Medan Mau Ke mana?
            Di Medan, visi pemerintah ini juga hanya menjadi bayangan bagi penulis lanjutan. Mau di bawa kemana penulis kita? Bila melihat beberapa pekan ini, ada banyak sekali muncul perlombaan-perlombaan di Medan, akan tetapi perlombaan ini hanya sebatas pada tingkat pelajar, sementara di sudut sana di tempat yang entah, Medan memiliki generasi yang dahulu pelajar semakin lama semakin menua, semakin lama semakin membutuhkan ruang. Namun, perhatian pemerintah hanya sepanjang galah. Penulis-penulis itu diundang baik menjadi peserta maupun pembicara membawa nama Medan dengan tanpa dukungan pemerintah Medan. Mereka itu menguras uangnya sendiri demi Medan, Medan yang tercinta! Sudah selayaknya pemerintah memberi ruang bagi sastrawan senior agar mampu mengembangkan sayapnya, agar mampu meneruskan usaha-usaha Chairil Anwar.
            Belakangan pemerintah juga kerepotan untuk mencairkan dana-dana sastra ini, belakangan pemerintah mengeluh minimnya pemasukan, entahlah apakah itu benar, jadi apa mungkin Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia nihil dana untuk sastra?
            Beberapa buku di Medan akhir-akhir ini kurang diperhatikan, beberapa penulis akhir-akhir ini lagi-lagi menguras uangnya. Namun beberapa pihak akhir-akhir ini pula sedang berupaya menilik terus pemerintah dan terus menerus berkarya agar kelak akhirnya percaya usaha para penulis/sastrawan itu tidak sia-sia. Beberapa jelang ke depan, pesta danau toba digelar, para sastrawan Medan akan menghadirinya. Beberapa telah bersiap pula menegakkan penanya untuk memperkenalkan budaya Sumatera Utara. Pemerintah mesti bergegas mendukung para sastrawan muda dan senior ini.
Buku Anak Medan Tertatap ke Internasional?
            Ya, akhirnya apabila cita-cita sastrawan Medan itu tercapai, keseriusan ini akan diteruskan dengan mengundang beberapa sastrawan internasional. Saya sangat berharap kelak  Yayasan Lontar tadi juga melirik ketertarikan pada Medan dan menawarkannya ke tingkat Internasional setelah sebelumnya yayasan ini juga memperkenalkan budaya Jawa, maka Sumatera Utara adalah selanjutnya!

Serambi KOMPAK, 10 Desember 2011

Medan Bisnis, 21 November 2011

Omong-Omong Sastra Medan Debat Soal Puisi
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Dalam buku berjudul Puisi dan Bulu Kuduk karangan Acep Zamzam Noor, dalam pembuatan puisi, seharusnya penyair tidak sekadar memberikan keterangan kepada pembaca tentang apa yang ingin disampaikan melalui puisi, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya. Perlu di sadari, memang perdebatan mengenai puisi ini masih belum juga usai. Walaupun seutuhnya kita mengetahui puisi selalu erat dengan pro dan kontra. Hal ini menjadi tanda seru untuk kelangsungan puisi bahwa puisi juga bisa menjadi keterangan penting sebuah kehidupan: ya, puisi selalu bisa!
            Dalam omong-omong sastra yang berlangsung di rumah cahaya, julukan bagi sekretariat Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Utara ini panas dengan perbincangan bagaimana sebenarnya puisi yang hakiki. Seperti halnya yang dikatakan langsung oleh pembicara omong-omong sastra, 13 November 2011 pukul 10.00 WIB ini, Ali Yusran Datuk Majoindo yang terkenal dengan sastra lisannya bahwa puisi yang baik adalah puisi yang pemakaian kata-katanya tidak melompat-lompat. Misalnya, apabila kita menggambarkan sebuah lautan di bait pertama lalu dibait kedua jutru menggambarkannya dengan obat-obatan, tumbuhan, dan lainnya yang tidak selaras dengan bait pertama kemungkinan hal ini menjadi acuan yang salah. Lain halnya dengan Damiri Mahmud yang tidak setuju atas hal ini. Damiri mengatakan bahwa kondisi puisi yang melompat-lompat itu justru sebuah kreativitas dan justru sebuah bentuk keliaran imajinasi dari si penulis. Menurutnya, hal ini sah-sah saja. Nah! Bila dibandingkan dengan pernyataan dalam buku Acem Zamzam Noor tadi, bolehlah kita menduga kalau acuan puisi ini sungguh luas dan tak elok bila kita hanya menanamkannya pada satu topik pembicaraan yaitu pemakaian kata yang sesuai dan sinkron atau berhubungan satu sama lain.
            Perdebatan ini masih belum cukup dengan beberapa pertanyaan dan pernyataan yang kemudian digelar panjang lebar oleh moderator yaitu Fadli selaku ketua FLP sumut sendiri. Sesi pertama yang kemudian dibuka dengan pertanyaan Maulana Sastrya Sinaga mengenai bagaimana sesungguhnya jam terbang dari para sastrawan zaman dahulu yaitu zamannya penyair sumut, Damiri Mahmud dan Ali Yusran Datuk  Majoindo. Keduanya menjawab sama, yaitu penulis-penulis Medan dahulu juga sudah banyak berkeliaran bahkan hingga ke tingkat nasional dan yang paling digemari saat itu selain tentunya di tingkat lokal, di tingkat nasional adalah majalah Horison yang tak lain majalah sastra yang telah berusia cukup tua di dunia khazanah sastra Indonesia. Lalu memang inilah yang kemudian mencairkan pertanyaan dari Ari Azhari Nasution di sesi berikutnya mengenai apa yang terjadi sebenarnya dengan puisi-puisi sastrawan dahulu yang justru dalam puisinya liar dengan  pemakaian kata-kata melompat-lompat tadi jika memang puisi adalah penyelarasan antara satu pemakaian acuan kata dengan kata yang lain. Nah! Ari ingin penjelasan dari sastrawan dahulu yang saat itu tentunya telah memilik banyak pengalaman.
            Untuk hal ini, sastrawan Medan, Afrion mengatakan bahwa memang puisi-puisi yang dianggap menyalah itu adalah puisi-puisi yang gejolak dukungannya berasal dari orang-orang terdekat mereka sementara yang lainnya belum tentu mengatakan ini benar. Jadi, Afrion menegaskan sebaiknya kita bertanya dahulu siapa sebenarnya pihak-pihak yang setuju atas puisi-puisi yang teknik pembuatannya tidak selaras itu.
            Lepas dari perdebatan yang terbentang dalam Omong-Omong Sastra tentu saja kita ingat bahwa keluasan puisi tidak hanya menyangkut hakikat puisi itu namun juga ternyata puisi terbagi atas beberapa macam. Acem Zamzam Noor sendiri mencontohkan adanya puisi lirik dan puisi narasi walaupun sesungguhnya ada lebih dari itu untuk kategori macam-macam puisi ini. Dan bila inilah yang terjadi maka kita hendaknya duduk dan mulai berbincang kembali apa yang sebenarnya mesti kita setujui mengenai puisi?
            Dan bila kita setuju bahwa puisi adalah bahasa yang indah dan memiliki teknik kuat yang khas dalam pembuatannya, lebih baik kita menjadikannya kata-kata yang lembut yang tentunya lain dari kebiasaan orang-orang di luar para penyair. Penyair memiliki lebih daya tarik, memiliki keunikan dalam bahasanya dan memiliki kepekaan yang mampu membuat orang lain menyejuk batin. Sederhananya saat orang lain meremehkan bahasa sebab bahasa adalah hal yang biasa, penyair selalu dapat membuatnya menjadi kejuatan luar biasa.

Serambi KOMPAK, 14 November 2011

Sinar Harapan, 24 Desember 2011


Punggung Terkoyak

Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Lepas ketukan air di tepi danau, sepasang mata mencegat sampan yang tertambat. Sampan seperti sandal jepang bergaya penari bandal menepuk-nepuk hamparan, sepasang kayu seperti sutil di atas wajan semakin menambah eksotisme di tengahnya. Seakan burung yang terjebak perangkap, memiliki sayap yang mengepak-ngepak tak berdaya untuk bergerak. Sampan itu menumpahkan awaknya di pinggir danau. Seseorang dengan raga yang tinggi tegak dan bertampang legam menantang di puncak malam. Ia menerangi dengan senter dua orang yang telah menunggu sejak beberapa jam lalu itu. “Jangan gelisah, pelan saja,” bisik lelaki tinggi tegak, bertampang legam sambil menerangi dengan senter dua orang menaiki sampan mungil kepunyaannya.
            Danau yang meminggirkan beberapa desa. Danau berparas api menyala kecil-kecil pertanda lampu-lampu benderang, namun kini telah berganti bakaran rumah yang marak di sana sini. Danau yang kini menjadi saksi tragisnya hati nurani. Beberapa perempuan tampak menyiramkan kain putih yang ternoda, beberapa lelaki tampak pula merentangkan tangan di atas rumputan, lega sorak bahagia, merasa sangat berhasil memenggal perawan anak-anak remaja di desa entah berantah.  Sementara malam semakin perkasa di gumpalan asap kepahitan. Hanya mereka yang berhasil, dua orang bersama seorang lelaki tinggi tegak dan legam.
            Lelaki legam tampak mendayung dengan salah satu ciyau1, dan seorang lelaki berambut cepak, dengan tubuh tidak terlalu tinggi menggunakan ciyau yang satunya. Sang wanita menerangi hamparan air yang akan mereka lalui. Sela itu, suara seperti petasan memekak di belakang. Beberapa lelaki berpakaian hitam mendekat di pinggir danau. Mereka pun mengencangkan ciyau, lampu-lampu menyoroti mereka, lelaki legam menyingsingkan matanya dari sorotan itu. Namun, mereka tak berhenti mendayung hingga sebuah tikungan danau menelan jejak dan mereka tampak sedikit lega.
            “Tak ada yang kena tembakan?” tanya lelaki legam dan dua yang lainnya menggelengkan kepala.
            “Apa kita berhasil lari?” tanya wanita itu membulatkan mulutnya di hadapan lelaki legam.
            “Belum. Kita harus sampai di pinggir danau. Aku yakin mereka akan terus mencari kita,” kata lelaki legam itu.
            “Percayalah. Kita akan selamat,” kata lelaki berambut cepak sambil menggenggam tangan kanan wanita itu menggunakan tangan kirinya. Kini mereka saling berhadapan. Tampaknya, malam itu hujan merintik subur di tengah danau, katak-katak memekakan malam, dan ikan-ikan tampak berkecipak di kedalaman yang tak terlampau.
            Wanita itu tak mampu menahan gejolak mata, ia meneteskan air dan lelaki berambut cepak mengusapnya.
            “Tenanglah… kita akan berhasil menyelamatkan kehormatan leluhur. Ayah dan ibumu pasti bangga,” kata lelaki berambut cepak masih sambil mengayuh kembali ciyau.
            Sementara, beberapa rumah yang terbuat dari kayu ubin dan beratapkan daun-daun kelapa di bakar seperti sampah. Warga yang melawan diseret dan dibunuh. Para lelaki yang berupaya menyelamatkan anak dan istrinya di penggal dan kepalanya dijadikan hiasan pagar. Selain para remaja yang dihabisi keperawanannya, ibu-ibu yang sudah lebih tua disuruh mengerjakan makanan yang lezat tanpa cacat. Mereka bersenjata lengkap, entah berasal dari beberapa pengusaha atau preman-preman di desa adat?
            Anak-anak lelaki yang masih terlalu muda disuruh pula bekerja tanpa upah. Beberapa di antaranya telah bermimpi menikahi surga. Pernah suatu waktu, salah seorang dari pemuda itu berupaya melarikan diri. Ia akan membawa amanat besar dari desa adat. Menjadi tulang punggung kehormatan bila mampu mengucapkan sepatah saja kepada  orang-orang di kota terdekat, tentang tangis, tentang lapar, tentang hak-hak yang teraniaya tanpa seorangpun menduga di luar sana. Pemuda itu dikuliti dan digantung di atas pohon trambesi, ditonton oleh ibu kandungnya dan pemuda itu masih sempat mengucapkan,”Aku bersumpah akan mengoyakkan punggungku demi leluhur!” katanya tetap lantang mengucapkan kalimat yang sering dipakai para lelaki pemberani dalam adat mereka, walaupun darah semakin menetes deras dari tubuhnya.
            “Bersumpahlah di alam baka!” jawab salah satu lelaki bersenjatakan laras panjang sambil menggoyang-goyangkan tali dan mencambuk kembali tubuh pemuda itu.
            Sementara kembali, sampan ketiga orang tadi telah tertambat di tepi yang jauh dari desa adat. Ketiganya menarik sampan itu hingga di bawah pepohonan dan ditutupi daun-daun. Merasa lebih yakin, mereka berjalan mengembangkan langkah harapan. Perlahan, cahaya mengintip di sela dahan, matahari menyingsing pun tergiring air yang bias ke atas danau. Mata lelaki legam menyoroti masih dengan tajam sekitar pepohonan yang mereka lalui. Lelaki yang satunya terus memegang tangan wanita tadi. Mereka menginjakkan ranting-ranting yang guguran di antara pohon. Daun-daun yang menumpangkan ulat-ulat di musim penghujan semakin marak terlihat. Seiring cahaya yang semakin luas, jalanan telah tampak di depan mereka. Jalan yang biasanya tempat beberapa mobil dan motor lalu lalang, masih terlihat begitu sepi. Mereka menunggu dan tumpangan pun datang.
            “Ke kota, antarkan kami ke media terkedat, tolonglah!” kata lelaki legam tersebut saat ditanya pemilik mobil hendak ke mana. Sang pemilik mobil tak mengerti maksudnya. Ia masih terus menatap ke tiga orang aneh di depannya. Dua di antaranya menggunakan pakaian hasil tenunan berwarna hitam, putih, merah. Seorang wanita tampaknya gemetar dan lainnya sangat tajam melongok ke kanan dan kiri, menyusuri situasi.
            “Kau lihat apa? Ayo cepat berangkat!”
            “Oke… oke!”
            Pemilik mobil tampak justru gemetar, sepertinya ia melihat gelagat yang tak lazim, dalam hatinya apakah ia bawa saja ke polisi setempat? Namun bila ketiganya sampai tahu, mungkin juga parang yang sejak tadi ia pandang di tangan lelaki tinggi dan legam itu menggorok di lehernya. Ah, sungguh merinding ia membayangkan itu.
            “Jangan takut, kami bukan orang jahat selagi kau yakin,” kata lelaki legam itu lagi yang pakaiannnya masih lebih baik dengan celana dan kaos panjang, sementara yang lainnya memakai pakaian tanggung seperti hendak menari tradisional di depan istana presiden.  
            “Boleh bertanya dan boleh tertawa, santailah… kami membutuhkan bantuan dan orang yang bisa kami percaya saat ini. Apa kau paham?” katanya lagi lebih menyakinkan.
            “Memangnya kalian dari mana? Sedang apa?”
            “Masa kau tak tahu mereka ini. Ah, ya, kalau aku tentu pernah tinggal di kota. Tapi kedua orang yang di sampingmu ini belum. Mereka bahkan tak mengetahui apa yang kita katakan.”
            “Maksudmu? Mereka itu….”
            “Mereka masyarakat adat yang tak pernah sekalipun pergi beranjak dari desanya. Keseharian mereka hanya menyembah leluhur,” katanya sedikit berbisik, mendekatkan mulut ke arah telinga pemilik mobil.
            “Sudah berapa lama kau jadi sopir truk?”
            “Apa pertanyaan itu penting untukmu? Bukankah kau hanya ingin aku mengantarkan kalian ke tempat media terdekat?”
            “Ya… kau benar. Itu tak penting. Antarkan saja, aku hanya mau mereka tertolong,” katanya lagi dengan memaniskan dagunya.
            Beberapa jenis pepohonan pinus terlewati, suara jangkrik mulai padam dalam berang siang, jati-jati tampak mengembangkan sayap-sayap daun, suara burung-burung di kedalaman hutan mengisi perjalanan ini, siulan merpati yang tak sengaja bertengger di atas dahan pohon durian menetaskan tawa di sunggingnya wanita itu, ia tampak senang melihat dunia yang akan ditinggalkannya beberapa jam lagi. Saat matahari semakin bertiang tegak di atas kepala, lelaki legam dan cepak bersama wanita ini telah turun dari truk menuju sebuah stasiun.
            “Sampai sini saja, bukannya aku tak mau mengantarkan kalian, tapi untuk ke pusat kota, truk tak bisa masuk. Carilah kendaraan di sini, tenang saja, di sini mereka baik-baik. Percayalah…”
            “Oke. Terima kasih!”
            Wanita itu memutarkan tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Menengadahkan kepalanya agar terlihat ujung gedung itu di angkasa. Setelah akhirnya lelaki berambut cepak menyeret tangannya menuju sebuah mobil sewa yang sejak tadi terus memandangi mereka berdua.
            “Kalian tertinggal bus pembawa penari-penari istana? Kalian mau aku bawakan ke istana?”
            “Maap. Saya hanya mau ke media, tempat melaporkan berita,” kata lelaki legam itu.
            “Oh… mau syuting ya?”
            “Bawa saja! Aku tak minta komentar!”
            Sopir mobil sewa yang kemudian menyadari sebuah parang tergenggam di tangan lelaki legam itu, langsung meng-iyakan dan menyuruh mereka masuk.
            Setelah sampai di tujuan, lelaki legam langsung dicegat salah seorang satpam. Lelaki legam itu tampak geram. Ia menggoyakan parang yang membuat satpam lainnya pun datang.
            “Saya hanya mau ke dalam. Ada berita penting, mereka ini datang dari jauh,” katanya membentak-bentak satpam itu.
            “Lalu Bapak kenapa mengancam dengan parang?”
            “Parang?”
            Lelaki legam yang menyadari langsung menurunkan parang yang sudah tegak di depan wajah satpam. Lantas ia menurunkan sedikit dan mengatakan, “Maap.”
            “Tunggu di sini. Saya akan memanggil bos saya,” kata satpam itu lagi, namun ia berbalik.
            “Bisa Bapak tak membawa parang saat bertemu bos saya ataupun nanti saat Bapak masuk ke dalam?”
            “Oh.. ya… bolehlah,” katanya agak malu dan buram.
            Sementara, lelaki cepak dan wanita itu tampak tak tahu harus berkata apa, mereka bahkan tak mampu menerka maksud pembicaraan lelaki legam dengan beberapa orang sejak tadi. Sesekali ia bertanya, dan sesekali lelaki legam itu menjawab dengan senyuman.
            “Kau bilang kami akan aman, kan? Aku dan ia akan bertemu Tuhan kan?”
            “Sudah pasti. Kalian akan bertemu Tuhan dan mengabarkan kegelisahan masyarakat adat! Tenanglah…”
            “Aku rela bila punggungku terkoyak,” kata lelaki berambut cepak itu lagi setelah sejak awal ia terus mengatakannya dan membuat lelaki legam itu tampak bosan. Dalam hati lelaki legam, entah apa yang dimaksudnya punggung terkoyak? Entahlah….
            Setelah akhirnya beberapa orang kru media mendapatkan mereka, mereka langsung diwawancarai. Lelaki legam itu tampak sibuk sebagai penterjemah.
***
Selama ini tugasnya menuliskan pesan-pesan di buku hasil penelitiannya tentang masyarakat adat yang teraniaya di desa sendiri telah lengkap di ujung hasil. Ia masih membayangkan akan membawa beberapa orang di bukunya ke media bila memang benar dugaannya masih ada yang tersisa dari mereka sebab sampai sekarang belum diketahui apa masih ada dari mereka yang berhasil hidup. Ia menuliskan pesannya bangunlah dari tulisanku dan jadilah sepasang yang melahirkan kembali anak-anak adat.
Beberapa berita tampak telah marak. Buku-buku itu terjual habis dan menjadi best seller. Lelaki legam membuatkan judul spesial yang kerap dikatakan lelaki cepak dan wanita itu dalam imajinya. “Punggung Terkoyak, terima kasih telah menjadi tulang punggung pengantar awal ceritaku. Takkan pernah kulupakan hari-hari kita dalam imaji mengelabui para pembunuh itu. Dalam hatiku, kalian masih terus hidup,” katanya di depan banyak kamera yang menyoroti. Beberapa wartawan tampaknya menatap aneh ke arah penulis buku yang banyak dibicarakan pernah mengetahui lebih banyak tentang masyarakat yang teraniaya itu. Tetapi, sungguh! Penulis itu tidak sedang menikmati kilau kamera yang berdatangan mengambil gambarnya ataupun beberapa pembaca yang meminta tanda tangannya, melainkan kepuasan mendatangkan dua orang itu sampai di depan media pun memberikan kenyataan pahit leluhur mereka. Tentu, melalui apa yang tengah semua orang baca.

Serambi KOMPAK, 18 Desember 2011

Keterangan:
Ciyau   : Alat pengayuh sampan

Medan Bisnis, 11 Desember 2011


Di Luar Masih Basah
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Di luar masih basah, air mata pun ikut rebah. Kita jadi bersalah. Padahal kita hanya saling tersenyum menatap bintang di teras kamar yang langsung menghadapkan mata pada langit.
            “Mungkin hatimu perlu diperbaiki,” kata Andi dengan menawarkan senyum sekuntumnya. Dan di luar tentu saja masih akan basah.
Kini aku duduk, Andi membelai rambutku dengan pelan, diambilnya kepalaku yang kemudian pasrah di bahunya. Jam dinding memandang, ternyata sudah malam. Aku masih belum mampu beranjak.
            “Kita berjanji kan, tidak akan saling menyukai,” katanya lagi sambil menggenggam tanganku dan nada suaranya terdengar sangat berbisik.
            “Tentu!” kataku.
            “Dan kita akan berpisah,” katanya semakin mengeratkan genggaman. Kepalaku masih di bahunya, hidungku merasakan parfum di pakaiannya, dan telingaku tentu begitu dekat dengan detak jantungnya.  Aku merasa ia begitu gugup. Tapi tidak! Lebih tepatnya ia bahagia atau justru aku atau mungkin kami sangat, ya! berbahagia.
            Dan aku pulang. Aku, ditempatku dan ia, di tempatnya.
***
            Akhir-Akhir ini di Jakarta masih saja basah, dinding-dinding terkena rembesan sisa air yang tak mampu dibendung genteng, rumput-rumput mulai melambaikan tangan dalam genangan, tentara cacing naik ke permukaan, lembab tanah meresahkan kelompok semut di dalamnya, sementara pohon-pohon merintik fajar hingga senja, sapuan angin masih kencang walaupun sedikit demi sedikit daun-daun pun terlihat semakin pasrah. Di depan rumah, pagar yang baru saja ayah cat telah rusak, lelehan hitam menggenangi air yang masih tangguh dalam kubangan becek jalanan. Warga mulai resah.
            Aku masih meramalkan bulan ini, tanpanya dan juga tanpanya. Bulan demi bulan kini terus saja basah. Aku jadi ingat saat aku dan ia duduk dengan pasti akan berpisah, telah dua tahun yang lalu, namun terus tergenggam dalam pikiranku. Jika ada yang lebih penting daripada menangguhkan perasaan dan ingatan yang genting ini?
Mungkin begini saja, di luar sana, lihatlah! Ada seorang nenek yang duduk dengan susah payah sebab banjir sedang berteman akrab di Jakarta. Hampir sepanjang trotoar tergenang air, belum lagi pintu-pintu toko akan tertutup rapat, teras mereka ditinggikan, para gepeng atau yang sering disebut pengemis di jalan raya terlihat mengeratkan tangannya mengais-ngais dinding pintu, menahan gejolak air yang kian menyeret meter, ketinggian menyerah, naik terus menerus. Mereka mulai bingung, yang di dalam sudah pasti sempat minum, setidaknya bersih. Gepeng-gepeng itu terus tampak merinding, menggigil—untuk tidur mereka tak kuasa berpikir lagi apalagi duduk menikmati teh hangat.
            Aku jadi ingat! Ia pernah bercerita tentang rakyat kegemaranya. Saat itu matanya begitu tajam di depan mataku. Aku menyimak kata hatinya. Tapi terlalu dramatis bila aku mengatakan ia meneteskan air mata saat itu, walaupun kenyataannya itu benar. Entahlah, mengapa ia begitu mencintai tanah air kami. Apakah itu perlu, meskipun kotoran semakin terserak di puing-puing kebangsaan. Hmm, ia begitu dalam menasihatiku. Awal mulanya aku mengatakan bahwa aku merindukan kotaku. Lantas ia mengatakan, “Jangan merindukan kotamu!”
            Sebagai akibat aku tidak mengerti, aku memandanginya terus. Ini satu alasan untuk membalas tatapannya.
            “Itulah yang membuat kita hancur. Kecintaan yang berlebihan pada daerah masing-masing,” katanya masih dengan nada datar.
            “Itu sebabnya aku ingin lebih lama di sini, di kota yang mempertemukan kita,” katanya saat kami sama-sama tahu Yogyakarta memang teramat sulit untuk dilupakan. Hari itu Yogyakarta memang terlalu basah seperti saat ini, di Jakarta.
            “Lihatlah! Jika sampai ada yang menyakiti rakyat kegemaranku, aku di barisan paling depan begitu juga di sini, Yogyakarta dan juga kotamu, Jakarta,” katanya dengan penuh yakin. Ini bukan seperti cintanya kepadaku. Tak sama sepertinya.
            Ia mencintai bangsanya, dan kemudian di deretan yang entah, mungkin! Ya, dia mencintaiku. Tapi jangan menganggap aku terlalu percaya diri. Lagipula aku masih menduganya.
            Tapi mari, tetaplah melihat kembali ke arah nenek yang masih berdiri seakan menunggu saja air yang semakin memuncak. Gumpalan kain telah siap di tangannya. Bila aku adalah peramal, mungkin saja dalam hatinya, apabila air makin tak terbendung ia akan memanjat naik ke atas atap. Meskipun aku lebih yakin dengan kondisinya yang tua renta, ia tak memiliki lebih banyak tenaga untuk memanjat. Dan tentu saja aku ataupun kau yang melihatnya bersedia akan menolongnya.
Aku masih terus memandang hujan dari lantai dua. Menurutku, air telah mencapai satu meter dan aku berdoa hujan akan memaksa untuk berhenti saja. Lihatlah! Aku yakin nenek itu lebih was-was dan lebih hikmah berdoa. Sementara aku masih mencari bintang di malam ini.
“Aku benci hujan di malam hari sebab bintang tampak enggan benderang,” katanya saat itu masih aku ingat. Dan aku setuju dengannya. Aku benci hujan di malam hari. Sungguh!
Namun, baru sejenak aku memandang ke atas, air telah berubah jadi lautan. Oh! Lihatlah! Tetaplah melihat ke arah nenek itu! Tolonglah aku untuk menolongnya! Aku akan cepat ke bawah, maka bantulah aku memantau sampai di mana ia akan bergerak. Pintu kamarku, aku lupa tidak menguncinya, percuma saja berlama-lama dengan kunci ini. Aku akan ke bawah, tunggulah Nek! Aku sedang menuruni tangga. Tapi, sudah pasti air akan masuk.
“Kau mau kemana, Sya? Tetaplah di atas! Air makin tinggi!” kata ayah bingung menaikkan barang-barang kami. Sementara tidak ada banyak waktu.
“Ayah….”
“Ya?”
Ah, sudahlah! Aku harus ke bawah. Di mana pelampung? Di mana tali? Ya! Aku dapat! Aku naik lagi ke atas. Aku yakin bisa ke bawah. Aku turun perlahan. Seperti film-film yang setara James Bones, aku berhasil menuruni dinding dari jendela kamar lantai dua dan berenang dengan pelampung. Aku terkejut dapat berenang dengan baik, padahal aku selalu payah dalam pelajaran olahraga. Tapi tentu saja aku masih akan mampu mengatasi ini. Dimana nenek itu? Beritahukan sesuai pantauan tadi! Please….
Ini terlalu dalam. Begitu dalam sampai-sampai kakiku sudah tak lagi menyentuh tanah. Bila dibandingkan satu jam yang lalu, ketinggian air aku perkirakan mencapai tiga meter, itupun bila aku tak salah meramalkan. Sudah tidak ada waktu lagi, bila ketinggian nenek itu hanya mencapai satu setengah meter, bisa dipastikan ia telah tenggelam atau….
Aku terus berusaha berenang susah payah. Aku meraba-raba dinding rumah, mataku hati-hati menyusuri air. Bangunan ruko yang rapat membuat air terjebak sangat pasti. Pagar di depan ruko kami juga hilang ditikam air. Tak jauh dari aku berada ada pula pusaran air yang deras dan mengarah ke sungai yang tak jauh dari jalan rumahku. Aku mulai jauh berenang dan saat sampai pada jarak sekitar tiga rumah dari rumahku, aku melihat gumpalan kain yang tadi digenggam sang nenek. Dadaku tak karuan, tentu saja aku semakin bimbang, dimanakah gerangan nenek itu? Mungkinkah air telah menghabisi napasnya? Dengan tampak lebih berani, aku mamasukkan kepalaku ke dalam air. Mata kubuka lebar-lebar, airnya tak seperti di kolam renang, tentu saja berpasir dan menyulitkanku untuk memantau di mana nenek itu.
Saat aku meraba-raba di sekitar, sebuah tubuh kutemukan. Nenek? Kuangkat perlahan, tentu saja aku takkan sanggup. Tali tadi telah aku persiapkan. Aku ikatkan perlahan sementara kami semakin dekat dengan pusaran air itu. Aku semakin cemas, sebagai akibatnya kakiku menyangkut pada suatu benda. Tapi aku selesai mengikatkan nenek itu. Kakiku yang payah membuat semuanya semakin kacau. Oh! Aku ingin menjerit dan merasa menyesal tak menceritakan ini pada ayah.
Napasku akan habis, aku merasa akan gagal. Tak karuan, namun sebuah tangan mencapai pergelangan, tangan itu menarikku dengan cepat. Sangat! Ia gelisah menatapku, tubuhnya basah dalam pandanganku yang masih dilimpah air sehingga mengganggu penglihatan.
“Di luar masih basah, aku tak mau Kau keluar lagi,” katanya saat aku mulai bisa melihatnya dengan jelas. Akibat terlalu resah, ia memelukku begitu erat.
***
Aku bangun, tubuhku sudah kering. Cahaya juga tergiring, menyesak masuk dari jendela kamar hingga aku terpaksa meletakkan tangan di kening sambil memipihkan mata. Jakarta telah terang, aku berdiri dan melongok ke luar rumah. Dari lantai dua, aku melihat ke bawah. Nenek itu, ia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya.
“Kini Kau mampu merasakan sebuah cinta, kan?”
Aku berbalik. Ia tersenyum padaku.
“Andi! Kenapa bisa kemari?”
“Apa menurutmu aku selalu ada saat Kau perlu? Aku sedang menjadi relawan mencegah banjir Jakarta.”
“Oh…” kataku pura-pura.
“Aku mencintai Papua, juga Jakarta. Kau juga begitu! Apa kita sepakat?”
“Ya!”
“Jadi, jagalah Jakarta, aku akan pergi dan…” ia berhenti lalu melanjutkan,”Jangan merindukanku,” katanya sambil tersenyum seakan kali ini takkan bertemu. Mungkin!
***
Masalahnya, kejadian itu sekitar dua tahun yang lalu. Ia menyelamatkanku saat aku ingin menyelamatkan seorang nenek. Namun, saat aku keluar dan ingin memandang malam bersama bintang di Jakarta. Hujan masih deras. Ternyata, di luar masih basah.

Serambi KOMPAK, 16 November 2011

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...