Monday, January 30, 2012

Medan Bisnis, 21 November 2011

Omong-Omong Sastra Medan Debat Soal Puisi
Oleh: Ria Ristiana Dewi

            Dalam buku berjudul Puisi dan Bulu Kuduk karangan Acep Zamzam Noor, dalam pembuatan puisi, seharusnya penyair tidak sekadar memberikan keterangan kepada pembaca tentang apa yang ingin disampaikan melalui puisi, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya. Perlu di sadari, memang perdebatan mengenai puisi ini masih belum juga usai. Walaupun seutuhnya kita mengetahui puisi selalu erat dengan pro dan kontra. Hal ini menjadi tanda seru untuk kelangsungan puisi bahwa puisi juga bisa menjadi keterangan penting sebuah kehidupan: ya, puisi selalu bisa!
            Dalam omong-omong sastra yang berlangsung di rumah cahaya, julukan bagi sekretariat Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Utara ini panas dengan perbincangan bagaimana sebenarnya puisi yang hakiki. Seperti halnya yang dikatakan langsung oleh pembicara omong-omong sastra, 13 November 2011 pukul 10.00 WIB ini, Ali Yusran Datuk Majoindo yang terkenal dengan sastra lisannya bahwa puisi yang baik adalah puisi yang pemakaian kata-katanya tidak melompat-lompat. Misalnya, apabila kita menggambarkan sebuah lautan di bait pertama lalu dibait kedua jutru menggambarkannya dengan obat-obatan, tumbuhan, dan lainnya yang tidak selaras dengan bait pertama kemungkinan hal ini menjadi acuan yang salah. Lain halnya dengan Damiri Mahmud yang tidak setuju atas hal ini. Damiri mengatakan bahwa kondisi puisi yang melompat-lompat itu justru sebuah kreativitas dan justru sebuah bentuk keliaran imajinasi dari si penulis. Menurutnya, hal ini sah-sah saja. Nah! Bila dibandingkan dengan pernyataan dalam buku Acem Zamzam Noor tadi, bolehlah kita menduga kalau acuan puisi ini sungguh luas dan tak elok bila kita hanya menanamkannya pada satu topik pembicaraan yaitu pemakaian kata yang sesuai dan sinkron atau berhubungan satu sama lain.
            Perdebatan ini masih belum cukup dengan beberapa pertanyaan dan pernyataan yang kemudian digelar panjang lebar oleh moderator yaitu Fadli selaku ketua FLP sumut sendiri. Sesi pertama yang kemudian dibuka dengan pertanyaan Maulana Sastrya Sinaga mengenai bagaimana sesungguhnya jam terbang dari para sastrawan zaman dahulu yaitu zamannya penyair sumut, Damiri Mahmud dan Ali Yusran Datuk  Majoindo. Keduanya menjawab sama, yaitu penulis-penulis Medan dahulu juga sudah banyak berkeliaran bahkan hingga ke tingkat nasional dan yang paling digemari saat itu selain tentunya di tingkat lokal, di tingkat nasional adalah majalah Horison yang tak lain majalah sastra yang telah berusia cukup tua di dunia khazanah sastra Indonesia. Lalu memang inilah yang kemudian mencairkan pertanyaan dari Ari Azhari Nasution di sesi berikutnya mengenai apa yang terjadi sebenarnya dengan puisi-puisi sastrawan dahulu yang justru dalam puisinya liar dengan  pemakaian kata-kata melompat-lompat tadi jika memang puisi adalah penyelarasan antara satu pemakaian acuan kata dengan kata yang lain. Nah! Ari ingin penjelasan dari sastrawan dahulu yang saat itu tentunya telah memilik banyak pengalaman.
            Untuk hal ini, sastrawan Medan, Afrion mengatakan bahwa memang puisi-puisi yang dianggap menyalah itu adalah puisi-puisi yang gejolak dukungannya berasal dari orang-orang terdekat mereka sementara yang lainnya belum tentu mengatakan ini benar. Jadi, Afrion menegaskan sebaiknya kita bertanya dahulu siapa sebenarnya pihak-pihak yang setuju atas puisi-puisi yang teknik pembuatannya tidak selaras itu.
            Lepas dari perdebatan yang terbentang dalam Omong-Omong Sastra tentu saja kita ingat bahwa keluasan puisi tidak hanya menyangkut hakikat puisi itu namun juga ternyata puisi terbagi atas beberapa macam. Acem Zamzam Noor sendiri mencontohkan adanya puisi lirik dan puisi narasi walaupun sesungguhnya ada lebih dari itu untuk kategori macam-macam puisi ini. Dan bila inilah yang terjadi maka kita hendaknya duduk dan mulai berbincang kembali apa yang sebenarnya mesti kita setujui mengenai puisi?
            Dan bila kita setuju bahwa puisi adalah bahasa yang indah dan memiliki teknik kuat yang khas dalam pembuatannya, lebih baik kita menjadikannya kata-kata yang lembut yang tentunya lain dari kebiasaan orang-orang di luar para penyair. Penyair memiliki lebih daya tarik, memiliki keunikan dalam bahasanya dan memiliki kepekaan yang mampu membuat orang lain menyejuk batin. Sederhananya saat orang lain meremehkan bahasa sebab bahasa adalah hal yang biasa, penyair selalu dapat membuatnya menjadi kejuatan luar biasa.

Serambi KOMPAK, 14 November 2011

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...