Di Luar Masih Basah
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Di luar masih basah, air mata pun ikut rebah. Kita jadi bersalah. Padahal kita hanya saling tersenyum menatap bintang di teras kamar yang langsung menghadapkan mata pada langit.
“Mungkin hatimu perlu diperbaiki,” kata Andi dengan menawarkan senyum sekuntumnya. Dan di luar tentu saja masih akan basah.
Kini aku duduk, Andi membelai rambutku dengan pelan, diambilnya kepalaku yang kemudian pasrah di bahunya. Jam dinding memandang, ternyata sudah malam. Aku masih belum mampu beranjak.
“Kita berjanji kan, tidak akan saling menyukai,” katanya lagi sambil menggenggam tanganku dan nada suaranya terdengar sangat berbisik.
“Tentu!” kataku.
“Dan kita akan berpisah,” katanya semakin mengeratkan genggaman. Kepalaku masih di bahunya, hidungku merasakan parfum di pakaiannya, dan telingaku tentu begitu dekat dengan detak jantungnya. Aku merasa ia begitu gugup. Tapi tidak! Lebih tepatnya ia bahagia atau justru aku atau mungkin kami sangat, ya! berbahagia.
Dan aku pulang. Aku, ditempatku dan ia, di tempatnya.
***
Akhir-Akhir ini di Jakarta masih saja basah, dinding-dinding terkena rembesan sisa air yang tak mampu dibendung genteng, rumput-rumput mulai melambaikan tangan dalam genangan, tentara cacing naik ke permukaan, lembab tanah meresahkan kelompok semut di dalamnya, sementara pohon-pohon merintik fajar hingga senja, sapuan angin masih kencang walaupun sedikit demi sedikit daun-daun pun terlihat semakin pasrah. Di depan rumah, pagar yang baru saja ayah cat telah rusak, lelehan hitam menggenangi air yang masih tangguh dalam kubangan becek jalanan. Warga mulai resah.
Aku masih meramalkan bulan ini, tanpanya dan juga tanpanya. Bulan demi bulan kini terus saja basah. Aku jadi ingat saat aku dan ia duduk dengan pasti akan berpisah, telah dua tahun yang lalu, namun terus tergenggam dalam pikiranku. Jika ada yang lebih penting daripada menangguhkan perasaan dan ingatan yang genting ini?
Mungkin begini saja, di luar sana, lihatlah! Ada seorang nenek yang duduk dengan susah payah sebab banjir sedang berteman akrab di Jakarta. Hampir sepanjang trotoar tergenang air, belum lagi pintu-pintu toko akan tertutup rapat, teras mereka ditinggikan, para gepeng atau yang sering disebut pengemis di jalan raya terlihat mengeratkan tangannya mengais-ngais dinding pintu, menahan gejolak air yang kian menyeret meter, ketinggian menyerah, naik terus menerus. Mereka mulai bingung, yang di dalam sudah pasti sempat minum, setidaknya bersih. Gepeng-gepeng itu terus tampak merinding, menggigil—untuk tidur mereka tak kuasa berpikir lagi apalagi duduk menikmati teh hangat.
Aku jadi ingat! Ia pernah bercerita tentang rakyat kegemaranya. Saat itu matanya begitu tajam di depan mataku. Aku menyimak kata hatinya. Tapi terlalu dramatis bila aku mengatakan ia meneteskan air mata saat itu, walaupun kenyataannya itu benar. Entahlah, mengapa ia begitu mencintai tanah air kami. Apakah itu perlu, meskipun kotoran semakin terserak di puing-puing kebangsaan. Hmm, ia begitu dalam menasihatiku. Awal mulanya aku mengatakan bahwa aku merindukan kotaku. Lantas ia mengatakan, “Jangan merindukan kotamu!”
Sebagai akibat aku tidak mengerti, aku memandanginya terus. Ini satu alasan untuk membalas tatapannya.
“Itulah yang membuat kita hancur. Kecintaan yang berlebihan pada daerah masing-masing,” katanya masih dengan nada datar.
“Itu sebabnya aku ingin lebih lama di sini, di kota yang mempertemukan kita,” katanya saat kami sama-sama tahu Yogyakarta memang teramat sulit untuk dilupakan. Hari itu Yogyakarta memang terlalu basah seperti saat ini, di Jakarta.
“Lihatlah! Jika sampai ada yang menyakiti rakyat kegemaranku, aku di barisan paling depan begitu juga di sini, Yogyakarta dan juga kotamu, Jakarta,” katanya dengan penuh yakin. Ini bukan seperti cintanya kepadaku. Tak sama sepertinya.
Ia mencintai bangsanya, dan kemudian di deretan yang entah, mungkin! Ya, dia mencintaiku. Tapi jangan menganggap aku terlalu percaya diri. Lagipula aku masih menduganya.
Tapi mari, tetaplah melihat kembali ke arah nenek yang masih berdiri seakan menunggu saja air yang semakin memuncak. Gumpalan kain telah siap di tangannya. Bila aku adalah peramal, mungkin saja dalam hatinya, apabila air makin tak terbendung ia akan memanjat naik ke atas atap. Meskipun aku lebih yakin dengan kondisinya yang tua renta, ia tak memiliki lebih banyak tenaga untuk memanjat. Dan tentu saja aku ataupun kau yang melihatnya bersedia akan menolongnya.
Aku masih terus memandang hujan dari lantai dua. Menurutku, air telah mencapai satu meter dan aku berdoa hujan akan memaksa untuk berhenti saja. Lihatlah! Aku yakin nenek itu lebih was-was dan lebih hikmah berdoa. Sementara aku masih mencari bintang di malam ini.
“Aku benci hujan di malam hari sebab bintang tampak enggan benderang,” katanya saat itu masih aku ingat. Dan aku setuju dengannya. Aku benci hujan di malam hari. Sungguh!
Namun, baru sejenak aku memandang ke atas, air telah berubah jadi lautan. Oh! Lihatlah! Tetaplah melihat ke arah nenek itu! Tolonglah aku untuk menolongnya! Aku akan cepat ke bawah, maka bantulah aku memantau sampai di mana ia akan bergerak. Pintu kamarku, aku lupa tidak menguncinya, percuma saja berlama-lama dengan kunci ini. Aku akan ke bawah, tunggulah Nek! Aku sedang menuruni tangga. Tapi, sudah pasti air akan masuk.
“Kau mau kemana, Sya? Tetaplah di atas! Air makin tinggi!” kata ayah bingung menaikkan barang-barang kami. Sementara tidak ada banyak waktu.
“Ayah….”
“Ya?”
Ah, sudahlah! Aku harus ke bawah. Di mana pelampung? Di mana tali? Ya! Aku dapat! Aku naik lagi ke atas. Aku yakin bisa ke bawah. Aku turun perlahan. Seperti film-film yang setara James Bones, aku berhasil menuruni dinding dari jendela kamar lantai dua dan berenang dengan pelampung. Aku terkejut dapat berenang dengan baik, padahal aku selalu payah dalam pelajaran olahraga. Tapi tentu saja aku masih akan mampu mengatasi ini. Dimana nenek itu? Beritahukan sesuai pantauan tadi! Please….
Ini terlalu dalam. Begitu dalam sampai-sampai kakiku sudah tak lagi menyentuh tanah. Bila dibandingkan satu jam yang lalu, ketinggian air aku perkirakan mencapai tiga meter, itupun bila aku tak salah meramalkan. Sudah tidak ada waktu lagi, bila ketinggian nenek itu hanya mencapai satu setengah meter, bisa dipastikan ia telah tenggelam atau….
Aku terus berusaha berenang susah payah. Aku meraba-raba dinding rumah, mataku hati-hati menyusuri air. Bangunan ruko yang rapat membuat air terjebak sangat pasti. Pagar di depan ruko kami juga hilang ditikam air. Tak jauh dari aku berada ada pula pusaran air yang deras dan mengarah ke sungai yang tak jauh dari jalan rumahku. Aku mulai jauh berenang dan saat sampai pada jarak sekitar tiga rumah dari rumahku, aku melihat gumpalan kain yang tadi digenggam sang nenek. Dadaku tak karuan, tentu saja aku semakin bimbang, dimanakah gerangan nenek itu? Mungkinkah air telah menghabisi napasnya? Dengan tampak lebih berani, aku mamasukkan kepalaku ke dalam air. Mata kubuka lebar-lebar, airnya tak seperti di kolam renang, tentu saja berpasir dan menyulitkanku untuk memantau di mana nenek itu.
Saat aku meraba-raba di sekitar, sebuah tubuh kutemukan. Nenek? Kuangkat perlahan, tentu saja aku takkan sanggup. Tali tadi telah aku persiapkan. Aku ikatkan perlahan sementara kami semakin dekat dengan pusaran air itu. Aku semakin cemas, sebagai akibatnya kakiku menyangkut pada suatu benda. Tapi aku selesai mengikatkan nenek itu. Kakiku yang payah membuat semuanya semakin kacau. Oh! Aku ingin menjerit dan merasa menyesal tak menceritakan ini pada ayah.
Napasku akan habis, aku merasa akan gagal. Tak karuan, namun sebuah tangan mencapai pergelangan, tangan itu menarikku dengan cepat. Sangat! Ia gelisah menatapku, tubuhnya basah dalam pandanganku yang masih dilimpah air sehingga mengganggu penglihatan.
“Di luar masih basah, aku tak mau Kau keluar lagi,” katanya saat aku mulai bisa melihatnya dengan jelas. Akibat terlalu resah, ia memelukku begitu erat.
***
Aku bangun, tubuhku sudah kering. Cahaya juga tergiring, menyesak masuk dari jendela kamar hingga aku terpaksa meletakkan tangan di kening sambil memipihkan mata. Jakarta telah terang, aku berdiri dan melongok ke luar rumah. Dari lantai dua, aku melihat ke bawah. Nenek itu, ia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya.
“Kini Kau mampu merasakan sebuah cinta, kan?”
Aku berbalik. Ia tersenyum padaku.
“Andi! Kenapa bisa kemari?”
“Apa menurutmu aku selalu ada saat Kau perlu? Aku sedang menjadi relawan mencegah banjir Jakarta.”
“Oh…” kataku pura-pura.
“Aku mencintai Papua, juga Jakarta. Kau juga begitu! Apa kita sepakat?”
“Ya!”
“Jadi, jagalah Jakarta, aku akan pergi dan…” ia berhenti lalu melanjutkan,”Jangan merindukanku,” katanya sambil tersenyum seakan kali ini takkan bertemu. Mungkin!
***
Masalahnya, kejadian itu sekitar dua tahun yang lalu. Ia menyelamatkanku saat aku ingin menyelamatkan seorang nenek. Namun, saat aku keluar dan ingin memandang malam bersama bintang di Jakarta. Hujan masih deras. Ternyata, di luar masih basah.
Serambi KOMPAK, 16 November 2011
No comments:
Post a Comment