Sunday, November 30, 2014

Jantung Cerita yang Dipenggal/2



Orang-orang di jalan yang kau temui, mengerlingkan matanya di sekujur tubuhmu. Beberapa tampak menuangkan mimik menyedihkan. Namun, ada yang menatap wajah hitam itu dengan penuh rasa tanda tanya. Kau tampak tak peduli dengan apapun yang terjadi sepanjang jalan itu. Kau biasa menerimanya dan sudah biasa mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dari ini. Tidak ada yang istimewa dengan berbagai macam tatapan di tengah jalan, menurutmu.
            Untuk kesekian kalinya, orang-orang menyumpahimu dengan kata sampah seperti membenarkan apa yang selama ini kau lakukan di setiap tong pinggir jalan. Entah apa yang ada di benakmu kini. Kau tetap berjalan, mengikuti irama kehidupanmu. Dan tak pernah menyadari kata-kata hina mengekor, mengikuti langkahmu.
            Orang-orang menamakanmu Delima. Itu memang bukan nama aslimu, namun kau terbiasa seperti biasa kata-kata sampah mengalir di telinga. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa. Orang-orang menyebutmu Delima, bukan tanpa alasan. Alasan-alasan yang bisa diterima adalah kau berasal dari sudut gang bernama gang Delima. Kau menyebutnya kandang, sementara jika orang-orang bertanya kau sebut ia adalah surga. Entah apa maumu.
            Kau tetap berjalan, berjalan menjemput harimu dengan sungging tawa yang terpaksa. Itu terlihat saat kau mengorek-ngorek sampah sepanjang Jalan Kenanga. Jalan yang tak jauh dari Gang Delima. Tangismu pecah dan kau tak mampu menyembunyikannya.
            “Tak bertemu, tak ada waktu, tak ada harapan!”
            “Kau mencari apa adik kecil?” seorang lelaki berjanggut, mendekatinya. Dengan pakai jubah dan sorban, ia menatap Delima dengan anggun.
            “Bukan urusan Anda!” ia  tak sudi membalikan wajahnya. Ia hanya berkata tanpa mampu berpikir jernih. Seperti biasa, tidak ada yang istimewa.
            “Kau mencari ini?” ia menyodorkan sebuah lembaran tiket pesawat ke hadapan Delima. Tanpa pikir panjang, Delima menarik lembaran itu dari tangan lelaki sorban.
            “Jika kau kehilangan,

Jantung Cerita yang Dipenggal/1



Kau menatapku dengan cemas yang penuh tanda tanya. Membidik mataku dan memaksa kehidupan untuk berbicara tentang kita. Ada palung yang kau simpan saat pertama kali pertanyaanmu menderu-deru di telingaku. Siasatmu untuk mengetahui banyak hal hari ini menjadi alasanku untuk segera pergi menjauh, selamanya.
kau menarik tanganku.
“takkan aku lepaskan!”

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...