Orang-orang di jalan
yang kau temui, mengerlingkan matanya di sekujur tubuhmu. Beberapa tampak
menuangkan mimik menyedihkan. Namun, ada yang menatap wajah hitam itu dengan
penuh rasa tanda tanya. Kau tampak tak peduli dengan apapun yang terjadi
sepanjang jalan itu. Kau biasa menerimanya dan sudah biasa mendapatkan
perlakuan yang lebih buruk dari ini. Tidak ada yang istimewa dengan berbagai
macam tatapan di tengah jalan, menurutmu.
Untuk
kesekian kalinya, orang-orang menyumpahimu dengan kata sampah seperti membenarkan
apa yang selama ini kau lakukan di setiap tong pinggir jalan. Entah apa yang
ada di benakmu kini. Kau tetap berjalan, mengikuti irama kehidupanmu. Dan tak
pernah menyadari kata-kata hina mengekor, mengikuti langkahmu.
Orang-orang
menamakanmu Delima. Itu memang bukan nama aslimu, namun kau terbiasa seperti
biasa kata-kata sampah mengalir di telinga. Sekali lagi, tidak ada yang
istimewa. Orang-orang menyebutmu Delima, bukan tanpa alasan. Alasan-alasan yang
bisa diterima adalah kau berasal dari sudut gang bernama gang Delima. Kau menyebutnya
kandang, sementara jika orang-orang bertanya kau sebut ia adalah surga. Entah
apa maumu.
Kau
tetap berjalan, berjalan menjemput harimu dengan sungging tawa yang terpaksa.
Itu terlihat saat kau mengorek-ngorek sampah sepanjang Jalan Kenanga. Jalan yang
tak jauh dari Gang Delima. Tangismu pecah dan kau tak mampu menyembunyikannya.
“Tak
bertemu, tak ada waktu, tak ada harapan!”
“Kau
mencari apa adik kecil?” seorang lelaki berjanggut, mendekatinya. Dengan pakai
jubah dan sorban, ia menatap Delima dengan anggun.
“Bukan
urusan Anda!” ia tak sudi membalikan
wajahnya. Ia hanya berkata tanpa mampu berpikir jernih. Seperti biasa, tidak
ada yang istimewa.
“Kau
mencari ini?” ia menyodorkan sebuah lembaran tiket pesawat ke hadapan Delima.
Tanpa pikir panjang, Delima menarik lembaran itu dari tangan lelaki sorban.
“Jika
kau kehilangan,
No comments:
Post a Comment