Dulu, saat kau masih memiliki hidung yang lucu, kau sering ditanya oleh ibumu, apa cita-citamu? lantas, kau menjawabnya dengan ringan, dengan bibirmu yang merah, dengan senyummu, tawa, canda yang menghiasi hari-hari ibu. Apa kau pernah merasa bahwa apa yang kau katakan akan menjadi kenyataan? aku rasa ya jika kau merasa begitu yakin bahwa Tuhan mendengarkan hatimu, selalu. Tuhan teramat mencintaimu, ia akan mengabulkan doamu--yakinlah!
Dan, apakah kau pernah mencoba untuk bernegosiasi dengan Tuhan untuk sedikit mempertimbangan apa-apa yang engkau inginkan selagi itu adalah jalan yang diridhai oleh Allah? dan aku rasa juga begitu! katakanlah, dulu kau pernah memiliki cita-cita menjadi seorang guru karena kau suka membaca, suka menuliskan sesuatu, walau sesuatu itu sesuai dengan keinginan hatimu saja, kau suka memberi penjelasan yang baru saja kau temui ia di sebuah petunjuk. Kau suka melihat gurumu, kau suka gayanya membawa buku dan menerangkan sesuatu dari buku itu. Kau suka saat ia menasihatimu, memberi peringatan kepadamu, memperhatikanmu. Kau mulai bernegosiasi dengan Tuhan, "Ya Allah, aku ingin jadi guru!"
Lantas, ketika kau dewasa, kau mulai menyukai sesuatu yang baru saja kau temui. Katakanlah, matematikawan, akuntan, seorang pekerja kantoran sebab kau suka, ya! kau suka melihat orang lain mengotak-atik komputer dan kau mencobanya meskipun kau sendiri tak sepandai itu. Kau berkata pada Tuhan, "Ya Allah, saya suka akuntan, saya ingin menjadi kaya, memegang uang banyak, lantas saya akan membeli banyak." Jika saja, kau menambahkan negosiasimu pada Tuhan bahwa kau juga ingin kaya karena kau sudah tidak memiliki ayah lantas ingin membahagiakan ibumu, kau ingin mensejahterakan saudaramu, ingin membantu banyak anak yatim, ingin menjadi berguna dengan harta itu. Kau ingin bahagia bersamaan dengan kebahagian orang lain.
Saat kau menyadari bahwa kau tak memliki kemampuan yang cukup untuk menentang kekuasaan manusia di dunia, lantas kau merasa Tuhan tak mampu mengabulkannya. Begitulah! hingga kau memutuskan untuk tidak lagi bernegosiasi, lalu menerima saja takdirmu. Padahal, saat itu Tuhan berupaya menolongmu.
Lalu apa jadinya ketika kau meraung merasa terpaksa menemukan momentum yang paling kau benci, kau merasa Tuhan tidak begitu adil, lantas kau ingin keluar! di situlah, kau menatap mata ibumu. Tuhan menyentuh hatimu dan seolah-olah mencoba memberikanmu peringatan. Lantas, kau coba mencintai apa-apa yang selama ini tak kau cintai, demi ibumu.
Selama-lama tak kau sadari bahwa kau menjadi orang yang berhasil melawan pertikaian hatimu, meskipun ya! sekli lagi kau terus berusaha mencintai hidupmu dan ingatlah! Tuhan memperkaya langkahmu dengan beberapa pertimbangan. Lantas Tuhan Yang Maha Kaya menjadikanmu kaya dengan ilmu. Kau sepakati dengan Tuhan bahwa kau akan menjadi anak yang berbakti, bahwa kau takkan membiarkan ibumu menangis lagi meskipun beberapa kehidupan membuatmu harus menghadapinya dengan tangisan. Lantas Tuhan memberikanmu beberapa ayat Al-Quran untuk mencapai kodratmu sebagai perempuan, sebagai pejuang di masyarakat, sebagai kebanggaan keluarga, dan tentu Tuhanmu.
Kau tinggalkan cita-cita awalmu, kau menangis, tapi apa yang mesti kau tangisi jika itu adalah ayat Allah SWT, jika itu adalah jalan-Nya, jika itu berkah yang tak terkira nikmatnya, jika saat ayah dan cita-citamu untuk menjadi seorang yang berpendidikan setinggi-tingginya lenyap di tangan sebuah ayat: "Menikahlah kamu jika kamu telah mampu!", "Bantulah saudara-saudaramu jika kau memiliki rezekin yang lebih.",
Saya percaya Tuhan pasti tersenyum dan, memintalah kepadanya bahwa hal yang tal kau duga-duga akan datang dengan sendirinya.
Saturday, July 26, 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...