Sunday, November 30, 2014

Jantung Cerita yang Dipenggal/2



Orang-orang di jalan yang kau temui, mengerlingkan matanya di sekujur tubuhmu. Beberapa tampak menuangkan mimik menyedihkan. Namun, ada yang menatap wajah hitam itu dengan penuh rasa tanda tanya. Kau tampak tak peduli dengan apapun yang terjadi sepanjang jalan itu. Kau biasa menerimanya dan sudah biasa mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dari ini. Tidak ada yang istimewa dengan berbagai macam tatapan di tengah jalan, menurutmu.
            Untuk kesekian kalinya, orang-orang menyumpahimu dengan kata sampah seperti membenarkan apa yang selama ini kau lakukan di setiap tong pinggir jalan. Entah apa yang ada di benakmu kini. Kau tetap berjalan, mengikuti irama kehidupanmu. Dan tak pernah menyadari kata-kata hina mengekor, mengikuti langkahmu.
            Orang-orang menamakanmu Delima. Itu memang bukan nama aslimu, namun kau terbiasa seperti biasa kata-kata sampah mengalir di telinga. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa. Orang-orang menyebutmu Delima, bukan tanpa alasan. Alasan-alasan yang bisa diterima adalah kau berasal dari sudut gang bernama gang Delima. Kau menyebutnya kandang, sementara jika orang-orang bertanya kau sebut ia adalah surga. Entah apa maumu.
            Kau tetap berjalan, berjalan menjemput harimu dengan sungging tawa yang terpaksa. Itu terlihat saat kau mengorek-ngorek sampah sepanjang Jalan Kenanga. Jalan yang tak jauh dari Gang Delima. Tangismu pecah dan kau tak mampu menyembunyikannya.
            “Tak bertemu, tak ada waktu, tak ada harapan!”
            “Kau mencari apa adik kecil?” seorang lelaki berjanggut, mendekatinya. Dengan pakai jubah dan sorban, ia menatap Delima dengan anggun.
            “Bukan urusan Anda!” ia  tak sudi membalikan wajahnya. Ia hanya berkata tanpa mampu berpikir jernih. Seperti biasa, tidak ada yang istimewa.
            “Kau mencari ini?” ia menyodorkan sebuah lembaran tiket pesawat ke hadapan Delima. Tanpa pikir panjang, Delima menarik lembaran itu dari tangan lelaki sorban.
            “Jika kau kehilangan,

Jantung Cerita yang Dipenggal/1



Kau menatapku dengan cemas yang penuh tanda tanya. Membidik mataku dan memaksa kehidupan untuk berbicara tentang kita. Ada palung yang kau simpan saat pertama kali pertanyaanmu menderu-deru di telingaku. Siasatmu untuk mengetahui banyak hal hari ini menjadi alasanku untuk segera pergi menjauh, selamanya.
kau menarik tanganku.
“takkan aku lepaskan!”

Friday, August 8, 2014

Klik "Bisik Rindu "Angin Kerinduan" Ria Ristiana Dewi" karya Eva Juliyanti @aNALISA.

http://analisadaily.com/news/read/bisik-rindu-angin-kerinduan-ria-ristiana-dewi/51436/2014/08/03
 
Eva Julianti. Karya sastra dijadikan oleh pengarang sebagai wadah untuk mengekspresikan perasaan yang sedang dialami atau pengalaman kehidupan pengarang.
Pengarang mengangkat fenomena yang terjadi dalam kehidupannya. Baik suka maupun duka ke dalam karya sastra. Dengan membubuhi kata-kata indah, menjadi sebuah hasil karya yang apik. Luapan emosi akan menambah nilai dari hasil sebuah karya sastra. Pada hakikatnya karya sastra, karya dari luapan emosi si pengarang.
Banyak produk yang dihasilkan dari luapan emosi tersebut. Baik itu puisi, prosa fiksi (novel dan cerpen) dan drama. Pengarang melukiskan isi hati atau hal yang sedang dan pernah dialami kepada para pembaca melalui ketiga karya sastra tersebut.
Pengarang dalam melukiskan pengalaman hidupnya baik suka ataupun duka dengan berbagai cara. Ketiga produk tersebut akan mempunyai nilai jika bermanfaat dan membuat pembaca ikut terbawa emosi tersebut.
Di dalam sebuah prosa fiksi atau drama, pengarang selain memaparkan cerita atau kisah tentang pengalaman hidup baik dirinya maupun pengalaman hidup orang lain, pengarang juga menyelipkan pesan untuk pembacanya. Pengarang dalam menciptakan tokoh-tokoh dan alur cerita yang apik, akan membawa pembaca ikut larut dalam emosi yang disampaikan. Sebuah karya sastra dikatakan baik jika dapat menimbulkan emosi bagi pembacanya.
Bukan saja pada prosa atau drama, pengarang juga dapat meluapkan emosi jiwanya ke dalam sebuah puisi. Pengarang bermain kata-kata indah, sarat makna dalam menciptakan sebuah puisi. Puisi yang identik dengan kata khiasan ini menambah nilai dan ketertarikan para pembacanya, namun untuk memahami puisi ini butuh teori dan pemahan tentang analisis sebuah karya sastra melalui pendekatan-pendekatan dalam karya sastra.
Seperti halnya dalam antologi puisi Angin Kerinduan karya Ria Ristiana Dewi ini. Dia meluapkan rasa rindunya melalui kata-kata yang indah, sehingga membuahkan 116 puisi. Di dalam antologinya pengarang banyak menceritakan tentang kehidupan dan fenomena yang sedang terjadi. Pengarang begitu merindukan sosok pembimbing dan pendamping dalam menjalani hidupnya.
Kerinduan Ria Ristiana Dewi terhadap sosok Ayah begitu kental di dalam antologi puisi Angin Kerinduan. Misalnya pada puisi berjudul Kerinduan Ria melukiskan kerinduan terhadap sosok Ayah yang telah meninggalkannya. Ayah Ria Ristiana Dewi telah meninggalkan dunia ini, wajar saja jika Ria rindu sosok Ayah.
Kerinduan
Sebentuk paling rapuh dibelai ombak terantuk karang
Keyakinan
Bergeser, berpeluh pasir-pasir, mataku mulai tercungkil
Rupa malaikatmu
Kuberguru pada langit tentang kau menempuh deru rindu
Jantungku dihentak jantungmu
Adakah seruling pengantar tiup nyiur papah telapakmu di
Mungilnya jemariku?
Kau membelai dari derasnya abrasi kasih sayang saat bibir
Mungil ini memanggilmu…” Ayah…”
(Hal:106)
Terlihat jelas pada puisi di atas, Ria begitu merindukan sosok Ayah. Usaha yang dialakukan Ria untuk berjumpa dan mengucapkan rasa rindu terhadap Ayahnya terlihat pada larik /Bergeser, berpeluh pasir-pasir, mataku mulai tercungkil/Rupa malaikatmu/ dari larik tersebut tergambar, untuk mengucapkan rasa rindu kepada Ayah Ria harus bertarung kepada sosok malaikat.
Kerinduan Ria tidak cukup pada puisi Kerinduan saja, terdapat juga pada puisi yang berjudul Jawaban Rindumu dan Semacam Rindu. Pada kedua puisi tersebut Ria Ristiana Dewi mengungkapkan kerinduannya. Bukan saja terhadap Ayah, melainkan kepada Ibunya juga. Seperti halnya pada puisi Kerinduan Ria sangat merindukan sosok keduanya yang telah mendidik dan membimbingnya menjadi sosok wanita yang tegar dan penuh senyum sekarang ini.
Sosok Ayah dan Ibu memang tidak dapat tergantikan oleh siapapun itu, kepergiannya dari sisi kita akan membuat ragi kita hambar atau kosong. Keduanya sangatlah hebat, penuh kesabaran dan dedikasi yang tinggi dalam mendidik anak-anaknya. Tidak ada kata “mantan Ayah atau Ibu” sekalipun salah satu di antara mereka meninggalkan anak-anaknya, baik karena kematian maupun perceraian.
Peran Ayah dan Ibu sangatlah berpengaruh dalam perkembangan anak-anaknya. Dalam puisi-puisi, Ria ini ingin mengungkapkan kepada para pembaca.
Ria sangat merindukan sosok Ayah dan Ibu yang penuh kasih dan sayang dalam mendidik anak-anaknya. Kerinduan ini dapat dilihat, saat ini sosok pelindung bahkan satu-satunya tempat anak-anaknya menyandarkan kepalanya tega menyakiti dan mendorong anak-anaknya ke jurang penistaan.
Kekerasan pada anak saat ini sangat marak. Baik kekerasan seksual maupun fisik. Lebih mirisnya lagi, kekerasan tersebut dilakukan oleh Ayah atau Ibunya. Usia anak-anak yang mengalami kekerasaan mayoritas masa kanak-kanak yang masih belum mengerti tentang masalah hidup. Masa ceria anak-anak seakan punah dan sirnah, keceriaan itu sirnah akibat tindakan orang tua yang semena-semana.
Kekerasan pada anak, khususnya kota Medan menjadi daerah tertinggi dalam hal tindak kekerasan terhadap anak di wilayah Sumatera Utara, dengan jumlah korbannya mencapai 72 orang. Urutan kedua adalah Kabupaten Deli Serdang dengan 29 korban, disusul Kabupaten Serdang Bedagai.
Dari sisi pendidikan para korban, untuk tingkat SMA mencapai 74 korban, SMP 66 korban dan SD 36 korban. Usia yang paling rentan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak yang paling dominan di usia 15-16 tahun mencapai 60 korban dan usia 17-18 tahun mencapai 56 korban. Kasus kekerasan yang menimpa anak masih sangat banyak dan tidak terungkap ke permukaan.
Realita ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, bahkan mengerikan, karena menimpa anak-anak yang notabenenya generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa.
Negara harus menjamin hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi setiap anak, sebagaimana yang diamanatkan UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002.  Kita tidak dapat menutup mata terhadap masalah yang menimpa anak-anak.
Kasus-kasus pencabulan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, eksploitasi, trafiking dan lainnya harus segera dituntaskan dan menghukum pelakunya semaksimal mungkin.
Untuk memberikan efek jera bagi pelaku maupun orang yang mempunyai niat jahat, jangan sampai ada tebang pilih.(KPS)
Banyak faktor yang mengakibatkan kekerasan pada anak. Salah satunya adalah lunturnya kasih sayang. Kasih sayang merupakan salah satu atom yang telah hilang dalam diri orang tua. Orang tua telah sibuk dengan kesibukkannya sendiri tanpa memikirkan perasaan dan perkembangan anak-anaknya. Kasih sayang orang tua sangat diharapakan dan berperan penting bagi perkembangan anak. Rasa kasih sayang terhadap sesama ini harus dilakukan seperti sabda Rasulullah Saw:
“Sayangilah orang-orang yang ada dibumi, supaya engkau disayangi oleh yang di langit (para maaikat). (HR. Thabrani).
Tiada lagi tempat perlindungan anak-anak saat ini, orang tua sebagai benteng perlindungan saja sudah runtuh.
Seperti pepatah mengatakan, Harimau saja sangat melindungi anak-anaknya dari marabahaya bahkan rela menaruhkan nyawanya demi keselamatan anak-anaknya.
Dalam antologi puisi Angin Kerinduan karya Ria Ristiana Dewi mengingatkan kita bahwa bentuklah kepribadian dan saling mengasihi satu sama lain. Seperti halnya yang dikatakan oleh Afrion dalam sampul antologi puisi Angin Kerinduan karya Ria Ristiana Dewi berikut:
“Angin Kerinduan” karya Ria Ristiana Dewi. Memahami dan merasakan kerinduan pada puisi Ria Ristiana Dewi, menjadi cara membentuk kepribadian dalam memotivasi diri.
Ketika pengalaman hidup dijadikan cermin, maka keyakinan pada diri memunculkan penguatan baru dalam jiwa. Puisi Angin Kerinduan ini juga berkisah tentang filsafat hidup, ikhlas menerima kenyataan dan saling berbagi cinta kasih

Wednesday, August 6, 2014

Cerpen, Medan Bisnis, 3 Agustus 2014

Kawasan Hati dan Api

Berita Sore
Di kawasan yang cukup dekat dengan pemukiman warga, awan panas mengancam nyawa. Pemirsa! Satu orang terpanggang api, pohon-pohon mati, tanah habis diselimuti debu. Mari kita lihat! Rumah-rumah juga ditutupi debu. Warga yang jaraknya 3 km dari gunung api direlokasi ke kawasan yang lebih jauh.
SIAPA yang tahu, ketika akhirnya kematian lelaki itu di bawah genggaman kaki gunung. Ketika itu awan tebal mengejarnya dan yang ada di dekatnya ingin berlari, namun pohon tak mampu berlari. Mungkin, jika pepohonan diperintahkan untuk berlari, maka ia akan berlari, berlari, berlari ke mana saja. Tapi hanya lelaki itu yang dapat berlari, maka ketika pepohonan hendak teriak minta pertolongan, bersamaan dengan itu lelaki yang mampu berlari juga berteriak, berteriak pun tak ada yang mampu menolongnya. Kecuali, ia berhasil menemui akhir dengan cara yang dikehendaki-Nya.

Tepat satu minggu pasca meletusnya gunung, lelaki itu ditemukan dalam keadaan berpeluk di sebuah pohon yang telah kering. Keduanya seperti benar meminta pertolongan. Satu sama lain terlihat memelas dengan sangat kasihan.

Apa kau pernah melihat sebuah adegan paling menyedihkan ketika seorang lelaki terbunuh dan benar-benar tragis dalam bayangan seorang perempuan? Bayangan itu mencabik-cabik dagingnya yang habis terpanggang.

Beberapa yang tertinggal hanyalah kenangan. Lelaki itu bahkan masih menggenggam hati yang paling dirindukan seorang wanita. Di sebuah tempat pengungsian, seorang wanita lainnya mencari dengan wajah penuh gelisah. Ia sekonyong-konyong menyaksikan sebuah tubuh dalam keadaan ingin memeluk, di sekujurnya masih lengket debu putih bekas debu yang dilontarkan oleh gunung api. Namun wajahnya begitu hitam, mulutnya sedikit ternganga, ada perih yang masih disimpan.

"Dita!"
"Aku baru tahu bahwa orang baik bisa meninggal dengan begitu tragis!" katanya tersedu di samping jenazah sang kekasih. Entah kapan ia mulai memutuskan untuk mencintai, entah kapan pula ia memutuskan lelaki itu adalah yang terbaik di matanya. Kini, ketika yang di hadapannya hanyalah seonggok tubuh yang tak mampu memberikannya apa-apa, ia baru menyadarinya.

Sementara, wanita itu menangis secara tidak sengaja, meskipun ia mengutuk dengan sumpah serapah. Biarlah... biarlah kematiannya begitu tragis.
"Dita! Aku tahu, ini sangat memukul hatimu. Tapi, masih banyak yang harus kau lakukan."

"Aku tahu! Selagi aku masih bernapas..." Ia berhenti sejenak, "Aku tahu!" Lalu membuang napas secara perlahan.

"Dita, ada yang harus kau ketahui tentangnya!"
Dita menolehkan pandangannya dari tubuh yang teronggok itu. Kini, ia menatap mata lelaki yang tadi di belakang pandangannya - ia mencari tahu sesuatu dari mata itu. Lelaki itu adalah salah seorang teman baik Redra. Entah bagaimana mereka memutuskan untuk datang ke tempat ini. Ian, teman Redra, berhasil selamat dengan sepeda motornya. Namun, motor yang dikendarai Redra justru mogok dan menumpahkan satu nyawa tepat di hadapan awan panas. Nyawa yang menyerah di usia 28 tahun.

"Katakan, Ian... katakan apa yang harus aku ketahui!"
"Kami sengaja ke tempat ini karena sebuah surat yang Redra ceritakan padaku! Awalnya, aku menganggap itu hanyalah lelucon, namun setelah kejadian ini, aku jadi semakin percaya dengan apa yang dikatakannya!"

"Apa?" Mata itu menyala dengan penuh tanda tanya. Ia menatap mata Ian dengan lekat dan masih menunggu dengan tidak sabar, itu terlihat benar dari gerakan tubuh yang gelisah.

"Satu hari sebelum ini kau dan Redra sempat bertengkar. Aku tahu itu! Ya... sebab Redra telah menceritakannya padaku." Ia membalas tatapan yang dipenuhi tanda tanya itu lebih lekat. Tak lama sambil menarik napas, ia melanjutkan cerita.
"Apa hubungannya dengan peristiwa ini?"

"Ini!" Ian menyodorkan sebuah kertas dengan begitu sadar, lalu ia melanjutkan jawaban atas pertanyaan yang semakin terlihat jelas di mata Dita.

"Kertas itu adalah surat Redra untukmu. Saat itu ia letakkan kertas di dalam tasku. Aku terpaksa membaca surat itu usai peristiwa yang menimpanya. Bukankah itu wajar? Maaf bila aku lancang!"

Tanpa panjang cerita, Dita membuka surat itu dengan gerakan yang tidak mampu dibendungnya lagi. Matanya bergerak dengan cepat ke kanan dan ke kiri. Seiring itu ia menarik napas satu persatu, berusaha untuk percaya dengan apa yang dibacanya.

Aku memutuskan hidupku, dan kau memutuskan hidupmu. Biar pun aku lelaki yang kau kutuk menjadi daging yang terpanggang. Aku baru menyadarinya, betapa kau mencintai sekaligus membenciku. Tapi, apakah itu masih begitu penting?

Tarikan napasnya semakin kuat, ia menceritakan apa yang terjadi - pertengkaran antara dia dan Redra kepada Ian.

"Aku membencinya. Sejak dulu aku tahu ia coba memancing banyak wanita untuk di dekatnya! Aku selalu bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Mengapa? Tapi, ia hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa ia lelaki bebas, bebas memilih.

Lalu bagaimana dengan aku, wanita itu, itu, dan itu? Wanita untuk dilindungi? Kau percaya? Sekarang, surat ini? Menjijikkan! Pengakuan yang menjijikkan! Kau tahu? Suatu hari, takkan ada lagi wanita yang benar-benar menikmati hidup! Semua yang ada di hadapan kalian, kalian ubah untuk menyulap kami! Mengubahnya menjadi hewan buas! Kemarahan yang penuh tanda tanya."
"Kau cantik, Dita! Bisakah kita lebih tenang?"

"Menurutmu, kecantikan terbuat dari apa? Dan apalah artinya!"
Saat ia mengatakan itu, ada sebuah gerakan luar biasa yang mengguncang tubuh mereka berdua. Tidak! Tidak mereka berdua, namun seluruh yang ada di dekat pengungsian. Tapi sungguh! Guncangan itu bukan datang dari degupan jantung atau darah mereka yang mengalir cepat, namun dari bumi, bumi yang sedang marah.

"Allahuakbar... Allahuakbar..."
Beberapa orang mengucapkan nama besar Allah dengan berteriak. Beberapa lainnya berlari ke segala arah, mencari anak-anak mereka, nenek, ayah, ibu, saudara.

"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini!"
"Aku takkan pergi! Kau harus dengar!"
"Sudahlah! Tidak ada lagi masalah, yang ada hanyalah permintaan maaf! Aku tahu, kau begitu mencintai Redra, tapi aku mohon hentikan semua kebencianmu itu!"

"Lalu, ia akan mati dengan tenang?"
"Hentikan, Dita! Kemarahanmu di luar batas!"
"Kau mengatakannya karena kau juga lelaki yang suka mempermainkan perasaan wanita!"

"Hentikan!"
"Sebab, kemarahan seorang wanita adalah..."
Di luar tenda, warga pengungsian berteriak "awan panas" dan "awas", "awan panas" dan "awas". Begitu seterusnya hingga sayup-sayup menghilang di telan angin. Tenda mulai berguncang hebat, seonggok tubuh yang tadi ditatap Dita, kini tampak menggulung di tanah. Dita dan Ian saling berpegangan erat.
"Sebaiknya kau hentikan amarahmu!"

Awan setinggi bayangan tubuhmu, menghunjam, memeluk dan berkata "selamat datang". Apakah kau juga merasakannya dalam tidurmu, sayang? Meskipun begitu, aku tak menolak jika cinta ini milikmu. Namun,Tenda rusak. Warga mengosongkan lokasi. Dua orang ditemukan tewas saling berpelukan. Terpanggang, tubungnya lekat berwarna hitam, matanya memerah, debu di sekujur, pohon-pohon berdoa, memanjatkan pengampunan.

Pernahkah kau mendengar kisah sepasang kekasih yang saling mengkhianati, lalu ia terkena kutukannya sendiri? Pernahkah kau memperhatikan sepasang merpati di depan rumahmu? Matanya merah, sayapnya gelisah, kakinya ingin melangkah.

Dan jika kau memperhatikan mereka, tak ada yang mampu menduga kalau keduanya telah berselingkuh. Ditemukan dalam keadaan kelaparan dan saling berpelukan. Dita, aku ingin kau membaca surat ini saat kondisimu telah membaik. Kondisi di mana kau begitu membenci seorang lelaki. Hentikanlah kebencianmu, dan jika tidak, kau menerima kepergianku.

Berita pagi ini.
Telah ditemukan tiga mayat dalam sebuah bencana dahsyat akibat awan panas gunung api tadi malam. Ketiga mayat itu ditemukan dalam keadaan terpanggang. Dua mayat, wanita dan lelaki, saling berpelukan, satunya lagi, lelaki yang lain, memegang tangan wanita itu. Oh! Bukan! Pemirsa! Maaf ternyata, ada empat mayat! Ya! lebih tepatnya mayat lelaki yang satunya tadi memegang tangan wanita lainnya, tepat di sebelahnya! Itu artinya telah ditemukan empat mayat, dua wanita, dua lelaki. Oh! Begitu romantis!
Sekian berita dari saya!
...maafkan aku Dita, aku mencintaimu, sangat! Tapi itu sebelum aku bertemu dengan wanita pilihanku! Dan kini, dalam pencarianku, ia mencariku, kini, ya, kini, pencariannya - yang menurutku sudah sangat terlambat! Dita hiduplah dengan tenang di sampingku dan tanpaku. Sekali lagi, maafkan aku!
Serambi Kompak, Maret 2013

Saturday, July 26, 2014

Bagaimana kau memaknai cita-citamu?

Dulu, saat kau masih memiliki hidung yang lucu, kau sering ditanya oleh ibumu, apa cita-citamu? lantas, kau menjawabnya dengan ringan, dengan bibirmu yang merah, dengan senyummu, tawa, canda yang menghiasi hari-hari ibu. Apa kau pernah merasa bahwa apa yang kau katakan akan menjadi kenyataan? aku rasa ya jika kau merasa begitu yakin bahwa Tuhan mendengarkan hatimu, selalu. Tuhan teramat mencintaimu, ia akan mengabulkan doamu--yakinlah!

Dan, apakah kau pernah mencoba untuk bernegosiasi dengan Tuhan untuk sedikit mempertimbangan apa-apa yang engkau inginkan selagi itu adalah jalan yang diridhai oleh Allah? dan aku rasa juga begitu! katakanlah, dulu kau pernah memiliki cita-cita menjadi seorang guru karena kau suka membaca, suka menuliskan sesuatu, walau sesuatu itu sesuai dengan keinginan hatimu saja, kau suka memberi penjelasan yang baru saja kau temui ia di sebuah  petunjuk. Kau suka melihat gurumu, kau suka gayanya membawa buku dan menerangkan sesuatu dari buku itu. Kau suka saat ia menasihatimu, memberi peringatan kepadamu, memperhatikanmu. Kau mulai bernegosiasi dengan Tuhan, "Ya Allah, aku ingin jadi guru!"

Lantas, ketika kau dewasa, kau mulai menyukai sesuatu yang baru saja kau temui. Katakanlah, matematikawan, akuntan, seorang pekerja kantoran sebab kau suka, ya! kau suka melihat orang lain mengotak-atik komputer dan kau mencobanya meskipun kau sendiri tak sepandai itu. Kau berkata pada Tuhan, "Ya Allah, saya suka akuntan, saya ingin menjadi kaya, memegang uang banyak, lantas saya akan membeli banyak." Jika saja, kau menambahkan negosiasimu pada Tuhan bahwa kau juga ingin kaya karena kau sudah tidak memiliki ayah lantas ingin membahagiakan ibumu, kau ingin mensejahterakan saudaramu, ingin membantu banyak anak yatim, ingin menjadi berguna dengan harta itu. Kau ingin bahagia bersamaan dengan kebahagian orang lain.

Saat kau menyadari bahwa kau tak memliki kemampuan yang cukup untuk menentang kekuasaan manusia di dunia, lantas kau merasa Tuhan tak mampu mengabulkannya. Begitulah! hingga kau memutuskan untuk tidak lagi bernegosiasi, lalu menerima saja takdirmu. Padahal, saat itu Tuhan berupaya menolongmu.
Lalu apa jadinya ketika kau meraung merasa terpaksa menemukan momentum yang paling kau benci, kau merasa Tuhan tidak begitu adil, lantas kau ingin keluar! di situlah, kau menatap mata ibumu. Tuhan menyentuh hatimu dan seolah-olah mencoba memberikanmu peringatan. Lantas, kau coba mencintai apa-apa yang selama ini tak kau cintai, demi ibumu.

Selama-lama tak kau sadari bahwa kau menjadi orang yang berhasil melawan pertikaian hatimu, meskipun ya! sekli lagi kau terus berusaha mencintai hidupmu dan ingatlah! Tuhan memperkaya langkahmu dengan beberapa pertimbangan. Lantas Tuhan Yang Maha Kaya menjadikanmu kaya dengan ilmu. Kau sepakati dengan Tuhan bahwa kau akan menjadi anak yang berbakti, bahwa kau takkan membiarkan ibumu menangis lagi meskipun beberapa kehidupan membuatmu harus menghadapinya dengan tangisan. Lantas Tuhan memberikanmu beberapa ayat Al-Quran untuk mencapai kodratmu sebagai perempuan, sebagai pejuang di masyarakat, sebagai kebanggaan keluarga, dan tentu Tuhanmu.

Kau tinggalkan cita-cita awalmu, kau menangis, tapi apa yang mesti kau tangisi jika itu adalah ayat Allah SWT, jika itu adalah jalan-Nya, jika itu berkah yang tak terkira nikmatnya, jika saat ayah dan cita-citamu untuk menjadi seorang yang berpendidikan setinggi-tingginya lenyap di tangan sebuah ayat: "Menikahlah kamu jika kamu telah mampu!", "Bantulah saudara-saudaramu jika kau memiliki rezekin yang lebih.",

Saya percaya Tuhan pasti tersenyum dan, memintalah kepadanya bahwa hal yang tal kau duga-duga akan datang dengan sendirinya.

Sunday, June 29, 2014

Tanjung Pinang, Yuk!

Tiba-tiba, ia menyuruhku untuk berganti pakaian, membawa beberapa pakaian ganti, cukuplah untuk satu malam. Lalu ia menghidupkan sepeda motor, menelpon beberapa temannya, aha! perjalanan ini memang terjadi tiba-tiba. Kami akan ke Tanjung Pinang, sebab pekerjaan yang baru selesai pukul 16.00, maka kami baru dapat berangkat pukul 16.45 usai beres-beres. Astaga, kapal terakhir akan berangkat pukul 17.00.

Sampai di pelabuhan Tanjung Piayu yang dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari Batam Cetre, kami memasukkan kendaraan ke dalam ruang penitipan bermalam, lantas berlari menuju tempat pembelian tiket. Wah! Ternyata pemberangkatan terakhir pukul 18.00. Yap! kalau begitu kami dapat menunggu.Namun, ada kapal yang akan berangkat pukul 17.45. maka kami langsung saja masuk ke dalam area pemberangkatan. Oya, harga tiket Batam-Tanjung Pinang saat ini (27 Juni 2014) Rp 55.000;/orang dan boarding pass Rp 10.000.




Oke dech! usai naik kapal, kami tenang karena sudah mendapatkan tempat duduk. Ternyata, untuk membeli tiket kapal juga bisa dilakukan saat kita berada di dalamnya. Oke, karena kami sudah aman, maka kami berdoa semoga sampai dalam kondisi selamat. Hem... doa saya semakin kencang saat ombak kencang menerjang kapal kami, bahkan air lautnya sampai setengah kapal di lihat dari jendela. Wow! saya raya lebih menakutkan ini dari pada naik pesawat. Hadeh...

Kami pun sampai di Tanjung Pinang dalam waktu 45 menit. langit sudah gelap, jam menunjukkan pukul 18.30. Saya dan suami berjalan ke luar pelabuhan dan menuju kota. Oya, di Tanjung Pinang, kotanya langsung ke pelabuhan, jadi yang mau jalan-jalan ke kota tak perlu khawatir sebab keluar dari pelabuhan, kita sudah langsung berjalan memasuki Kota Tanjung Pinang. Kota ini menghadap langsung ke laut, jadi jangan khawatir soal pemandangannya.

Kami memutuskan shalat di Mesjid Raya Kota Tanjung Pinang yang tak jauh ditempuh dengan berjalan kaki dari pelabuhan. Setelah itu, kami mencari hotel yang cukup terjangkau. Kami masuk ke Hotel Surya yang rata-rata harga sewa kamarnya 100ribu.an. Ada yang memakai kipas angin dan ada yang memakai AC. Kami pun meletakkan barang-barang terlebih dahulu, berganti pakaian di kamar dan memutuskan untuk mencari makan. Kami makan di depan KFC yang terletak tak jauh dari Hotel dan Mesjid Raya. Saya dan suami melahap dengan lapar nasi goreng spesial dan nasi capcay. Harganya cukup mahal juga sekitar 53ribu dua porsi. Lalu kami berjalan untuk membeli sandal dan yah! harganya juga cukup mahal. Kalau di Batam harganya 30ribu, di sini dihargai 45ribu. Setelang kenyang dan badan terasa lelah, kami memutuskan untuk menonton TV di hotel dan menghabiskan malam pertama di Kota Tanjung Pinang dengan sangat nyenyak.




Oke, Fren! Kami bangun pagi-pagi. Usai shalat subuh, saya dan suami bergegas ke dermaga untuk naik pompong ke arah Pulau Penyengat. Pulau ini masih dalam wilayah Tanjung Pinang, namun harus menyebrang dengan Pompong untuk menuju ke sana. Harga pompong sekali menyeberang cukup Rp 6000;/orang. Lantas, saya dan suami pun menuju ke Pulau Penyengat. Di pulau ini, kami memutuskan untuk shalat dhuha di Mesjid Raya Pulau Penyengat, Mesjid peninggalan raja-raja melayu ini masih terlihat keasliannya.







Di Pulau Penyengat, kita bisa naik sepeda motor dengan harga Rp 25.000/jam. Dan sejak pukul 09.00,  kita pun dapat menyewa sepeda dengan harga Rp 10.000/jam. Oya, jangan khawatir dengan jalanannya karena sudah diaspal dengan sederhana di keliling pulau ini. Saat itu, kami memutuskan untuk naik sepeda motor dan ternyata untuk berjalan-jalan di sekitar pemakaman kerajaan, istana, mesiu, kami memerlukan waktu 2 jam. Kami juga membeli oleh-oleh seperti gelang, gantungan kunci gonggong, baju kaus bertuliskan Pulau Penyengat plus tulisan gurindam dua belas yang diciptakan raja-raja terdahulu Melayu yang terkenal dengan gurindamnya.



Usai berjalan-jalan di Pulau Penyengat, kami kembali ke pusat Kota Tanjung Pinang dengan pompong. Di wilayah Tanjung Pinang, saya dan suami kembali ke hotel, mandi, check out dan bergegas untuk ke Pantai Trikora. Namun ternyata kami urungkan niat ke sana untuk perjalanan kali ini berhubung kami tak ingin ketinggalan kapal. Maka kami memutuskan berfoto di sepanjang Kota Tanjung Pinang dan tak lupa makan durian dengan 1 durian seharga Rp 40.000. Tentu tergantung ukuran dan jenisnya. Hem.. yap! Mungkin sampai di sini saja jalan-jalan kita hari ini. Tanjung Pinang? Why Not? Lets GO!!










Wednesday, June 4, 2014

Ingin kuabadikan-real

Memasuki pertengahan tahun pernikahan, aku belajar:
Menggantikan kata-kata dengan detak yang paling kencang
Atas nama cintaku kepada suamiku, atas nama perempuan
Yang menangis di dermaga menunggu bertahun-tahun
Dan engkau menggantinya dengan senyum yang jarang kutemui
Terduduk, menundukkan problema, menyatakan lapang, di hatiku tanah begitu terasa lapang. Suamiku, aku terlahir di matamu tanpa perawakan yang didambakan duniawi, tanpa hati yang didambakan surgawi, tanpa ada yang peduli, tanpa mampu belajar, tanpa pengalaman cinta yg familiar, tanpa dan tanpa. Aku dengan kekuranganku dan engkau dengan senyum yang paling kasih, merentangkan tanganmu. Aku takkan pernah menggantinya dengan catatan-catatan kebodohan. 

Di dalam genggaman tanganmu aku berjalan menuju Allah SWT. Dengan tanpa dan tanpa, kau mengajariku, menuntunku, membimbingku, dengan senyummu, dengan emosimu yang paling kucintai, dengan ݪªª! Dengan sabar yang sangat kau kuasai... 

Aku takkan pernah lupa pernah memiliki janji kepada Allah, jika nanti Kau pertemukan aku dengan lelaki yang menuntunku, jika Kau pertemukan dengan yang sederhana dan paling menghargai wanita, aku akan menjaganya dan akan menjadi istri yang paling didambakan seorang suami. Kini, aku akan memenuhi janjiku setelah Allah memberikannya. 

Bimbinglah kami ݪªª Allah...
Kini, kusyukuri, segala yang Allah berikan
Beribadah, menuju rumah Allah..
Bersama suamiku.

Kini, aku belajar yang sesungguhnya kehidupan
Dari apa yang dikurangkan dari masa laluku-aku yang dungu-
Yang kekanak-kanakan-yang konyol-yang aneh-yang riya-yang penuuh dengan tanpa... 

Hanya doa yang aku bisa setelah tanpa
Dan Allah berikan segala-galanya.
Suamiku. I LoVe U. 

Sunday, June 1, 2014

Cerpen, Batam Pos, 1 Juni 2014

PERISAI
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Wanita itu menjerit-jerit ke arah seluruh mata yang sejak tadi melihatnya.
“Juri pasti sudah buta! Perlombaan apa ini? Semuanya hanya kebohongan!” lalu ia berusaha untuk membanting kursi plastik di depannya. Setelah puas menjerit-jerit dan melampiaskan kemarahannya, ia pergi membelakangi seluruh mata itu. Seorang anak perempuan berusia kira-kira 14 tahun mengikutinya dari belakang. Anak itu tampak menangis dan tak mampu menahan rasa sedihnya. Hujan gerimis turun sore itu setelah dua bulan lebih hujan menjadi hal yang dirindukan penduduk Batam. Dengan derai air mata yang bercampur hujan, mereka pergi dan meninggalkan kekecewaan mendalam.Wanita itu mengendarai sepeda motornya dengan rasa gugup dan amarah yang masih kental di urat saraf.
“Jangan menangis! Sudahlah, Nak! Kau lupakan perlombaan itu!” katanya masih sempat menenangkan perasaan Indie.

Indie, nama yang ia berikan, hasil pertengkaran kecilnya dengan Hasan dulu. Ya, Hasan, suaminya!
Setidaknya, dalam beberapa pekan ini ia dan Indie sudah berkomitmen, agar melupakan masa lalu dan menatap masa depan, yang masih terus menunggu di depan rumah mereka. Rumah itu, ia hampir lupa kalau pihak bank sudah memberi teguran, baik lewat telepon, surat, maupun datang ke rumah. Mereka atau bahkan ia, Syafira dan Indie tentu berharap akan ada pertolongan yang datang, setidaknya mampu memberikan tunggakan 3 bulan angsuran rumah. Entah sampai kapan ia harus mempercayai
kenyataan. Ia benar-benar ingin melupakannya.
“Lihat! Lihat, Nak!  Kalau sampai bunga anggrek di depan rumah berhenti mekar, kau harus siap mempercayai kondisinya.”
Indie, sekali lagi, nama itu ia buat karena tak ada yang dapat dilakukannya. Hasan nama ayahnya, syafira nama ibunya. Ketika satu bunga tengah mekar dan bunga yang lainnya juga harum di lain ruang, ketika itulah sebuah bunga harus tunas dan menyatukan perbedaan. Entahlah, mengapa Syafira mempercayainya ketika itu. Ia merasa harusmenjadikan Indie berbeda darinya, maupun dari ayahnya. Ia merasa dengan kewanitaan yang dimilikinya bahwa Indie memang telah berbeda. Itu terlihat dari kebiasaan yang dilakukannya.
Ya!
***
Hari itulah Indie berjalan dengan tergesa. Baru pertama kalinya ia merasakan cemas seperti itu. Tak ada kata-kata yang mampu diungkapkannya lagi.
“Kau mau apa lagi! Ibuku telah tiada! Ia telah tiada!”
Ia benar-benar harus menghadapi kenyataannya. Di depannya, seorang ayah yang sudah sangat tua—atau lebih tepatnya seorang kakek menatap penuh arti. Saat ia memandang Indie dengan caranya yang menahan tangis,  saat itulah bunga anggrek di depan rumah tidak lagi mekar. Entah sejak kapan!
“Aku yang akan menjaga adik-adikku! Kau tahu, ah, entahlah, siapa dirimu! Aku hampir tak kenal. Tapi, aku memang tak kenal kamu!”
Kakek itu tak berani memulai kata-katanya, apalagi mendengar amarah yang tergesa dan tak henti
dari gadis di depannya itu. Tapi ia harus mengatakannya.
“Kakek hanya ingin kau dan adik-adikmu tidak merasa kalian sendirian!”
“Tapi kenyatannya aku dan adik-adikku sendirian. Kenyataannya begitu!”
“Dan kau berusaha untuk menjadi ayah sekaligus adik bagi adik-adikmu?”
“Ya!”
“Kau tak kasihan melihat adik-adikmu?”
Mendengar kalimat terakhir itu, Indie tak mampu lagi membalas kata-kata kakeknya.
“Bawalah mereka ke tempatmu! Berilah makanan dan minuman untuk mereka! Tapi biarkan aku di kota ini, Batam!
Di sini aku dilahirkan!”
“Tapi, Nak! Tempatmu bukan di sini! Kau cucuku dan kita akan pulang ke Padang!”
“Jangan paksa aku! Cucumu? Sejak kapan? Sejak kapan kau merestui ayah dan ibuku? Sejak kapan kau percaya bahwa aku adalah cucumu? Tapi,” ia menahan sedikit emosinya, “Kumohon, jagalah mereka!” Ia pergi meninggalkan kakeknya dan adik-adiknya. Rumah yang masih beraroma arwah itu ia tinggalkan begitu saja. Dan ia tahu, rumah itu akan disita oleh pihak bank.
“Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau!” batinnya.
***
Di sekolah itu, ia masih ingat! Seorang ibu menjerit-jerit dan berkata bahwa anaknya adalah yang terbaik.
Seorang ibu yang melampiaskan seluruh energi dan cintanya. Mungkin seluruh mata yang memandang mereka kala itu menganggap ia dan ibunya sudah gila. Tidak bisa menerima kekalahan, tidak bisa memahami keputusan, tidak bisa menghadapi kenyataan!
“Aku akan menghadapi kenyataannya!”
Indie. Entah mengapa ia kini terlihat lebih dewasa. Ia memegang sapu dan pel, menggunakannya secara bergantian. Begitulah setiap harinya yang ia tekuni di tempat itu, di sekolah itu, di tempat ia memandang banyak gadis cantik, berpakaian rapi, kaki mereka berjenjang, rambutnya lurus, sebagian berwarna merah akibat cat rambut, sebagian lagi hitam legam dan menarik untuk dipandang lelaki manapun.
Indie. Tak ada yang pernah bertanya kepadanya, apakah ia bersekolah? Di mana ayahnya? Di mana ibunya? Di mana rumahnya? Tidak ada! Tidak ada!Kulitnya tampak lebih gelap dua tahun terakhir. Ia bahkan tak pernah memperdulikan hal itu. Saat hari mulai gelap, ia beranjak dengan langkah keyakinan ke tempat yang selalu menjadi tempat baginya menuangkan amarah. Ia bermain teater. Entah sejak kapan? Mungkin sejak ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia harus menghadapi kenyataan. Ia tak memiliki handphome. Ah, ia tak perdulikan itu. Ia hanya ingin berjalan dan setiap berjalan, ia selalu percaya akan ada jalan. Ia tak pernah percaya bahwa ia memerlukan handphone, meskipun untuk menghubungi adik-adiknya saat ini.
“Selesaikanlah kuliahmu! Aku yang akan menanggungnya. Tapi setelah kau tamat, aku hanya meminta satu hal, ya, hem... tentu kau tahu. Sanggar ini harus ada yang menjaganya! Harus ada yang meneruskannya!”
Lelaki itu bernama Azi, Azi Suyitno. Sudah lama ia mendirikan sanggar ini. Dan ia melihat seorang gadis dengan penuh keputusasaan berjalan di depan sanggar, menangis, meronta, menutup wajahnya dengan kedua lipatan lutut kaki. Saat ditanya, ia baru menyadari bahwa gadis itu seorang pemain teater. Ia percaya bahwa tangisannya itu bukan sekadar tangisan orang biasa. Tapi tangisan seseorang yang penuh kepercayaan diri. Tangisan seorang yang memiliki karekter kuat.
***
Sejak itulah. Sejak ia memenangkan keyakinan, ia kembali ke Padang menemui adik-adiknya. Ia bertanya pada kakeknya, Andi sudah kelas berapa? Lalu adiknya yang bungsu Buyong, sudah kelas berapa pula?
“Andi sudah kelas 3 SMP, Buyong sudah kelas 6 SD. Lalu kau, Indie, bagaimana sekolahmu? Aku mengkhawatirkanmu, tapi baru kini kau mengunjungiku!”
“Aku sudah tamat kuliah, S2 di Fakultas Seni, aku memiliki sanggar, aku juga memiliki murid, aku memenangkan banyak penghargaan, aku mendapatkan uang yang cukup untuk adik-adikku! Aku ingin kau menerimanya, Kakek!”
“Sejak kapan kau percaya bahwa aku ini kakekmu!”
“Sejak kakek membawa adikku, menjaga mereka, membesarkan, menyekolahkan dan menjadi perisai dalam hidup mereka!”
“Aku tak percaya ini! Tapi, In, anakku, cucuku, kaulah perisai itu! Kau melindungi keluargamu, kau melindungi dirimu dari kekalahan! Kau membuktikan bahwa dirimu pemenangnya!”
Mereka berdua tertawa, tertawa menatap diri mereka. Menatap masa depan, menatap kehidupan, merasakan napas, merasakan langkah. Hingga mereka tak menyadari bahwa kata-kata mereka terlalu formal untuk konteks antara kakek dan cucu. Entahlah...

Serambi Kompak, Batam, Maret 2014

Sunday, May 18, 2014

Nongsa, He Nongsa! Aku Bicara padamu, ya! Nongsa!

Pantai Nongsa merupakan salah satu pantai yang ada di Pulau Batam. Dahulu, pantai ini terkenal dengan keindahan lautnya dan pemandangannya. Untuk ke Pantai Nongsa, hanya memerlukan waktu 25 menit dari Batam Centre. Jaraknya yang tak jauh dan juga tidak terlalu dekat sebab memang, untuk ke wilayah ini kita takkan menemukan kondisi lalu lintas yang macet, berkelok, dan lainnya. Namanya yang cukup terkenal membuat saya tertarik ke tempat ini. Sampai di area memasuki pantai, kami membayar 3000 rupiah, parkir 5000 rupiah. Di dekat dari pantai terdapat tugu yang dibuat untuk memberikan simbolis adanya kampung Melayu di wilayah ini. Meskipun tempat ini tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan Barelang. Namun, yang terkejutnya saya adalah ketika melihat pantai ini sangat kotor, berlumpur, sangat tidak terawat--sampah juga terlihat di hampir setiap sudut.

Tapi mari, jika Anda ingin menikmati Pantai Nongsa yang sesungguhnya, pergilah ke resort-resort yang terletak di sekeliling Pantai Nongsa. Namun sekali lagi untuk pantai yang indah, di sini terdapat harga yang juga bersaing. Harga termurah untuk bisa menginap di resort adalah 1 juta rupiah. Meskipun saya ingin merekomendasikan kepada Anda yang memiliki cukup uang untuk mencoba fasilitas golf sekaligus resort yang sangat mewah di dekat sana dengan harga 4,5 juta rupiah.




Puisi, Medan Bisnis, 11 Mei 2014, Art n Culture

Tampakku, Februari

Tampakku, februari fajar
kaki-kaki berjalan di garis tangan
Dan melangkah dengan lenggang
Meski runtuh mata, tak lekang kata-kata

Tampakku, bulan menganga
Malam turun di singgasana
Hati terenyuh, bibir bergerigi, langkah terhenti
Mestinya, aku dan kamu menemu jam

Yang detak di februari
Adalah yang turun dari ranting
Gugur ketika masih fajar
Dan berdiri dalam masa yang matang

Tampakku, februari bicara lantang
Menegur, membangunkan,
Dan, tampakku
Aku rindu februari tahun-tahun lalu
Meski,

Batam, 3 Februari 2014



Sam, Katanya itu Bulan

Sam, katanya itu Bulan!
Tapi matanya jalang
Dan tatapnya menetap dengan gagap
Jantungku detak satu dua

Sam, katanya itu Bulan
Adalah rindu yang tunai di ladang kita
Dan peristiwa beberapa tahun silam
Tapi, Sam seluruh adalah alam

Dan alam adalah jam
Yang ada adalah pasti!
Katakan, Bulan yang mana
Mesti kupercaya...

Batam, 3 Februari 2014

Sunday, April 6, 2014

Resensi Buku "Orang-Orang Tanah", Medan Bisnis, 6 April 2014

 Anak-Anak dalam Sisi Kemanusian yang Digugat
 Oleh : Ria Ristiana Dewi
 
Kita tak akan menemukan hal-hal yang sederhana, melainkan ketakutan, darah, manusia, dan lingkungan yang semakin tak bersahabat. Buku ini menceritakan sekaligus mengingatkan dari mana kita berasal. Tanah? Ya! Ada beberapa ekspresi yang akan timbul dari raut wajah pembaca, kerutan kening kerap menghiasi. Kerutan itu akan semakin jelas ketika kita sampai pada cerpen terakhir dalam buku ini, "Orang-Orang Tanah". Beberapa cerpen lainnya berakhir pula dengan begitu tragis. Cerpen "Bulan Merah" menceritakan hubungan kehidupan hewan dan manusia, kehidupan yang penuh ketakutan sekaligus keberanian. Dalam cerpen ini, seorang merasa khawatir akan beberapa hal-salah satunya kehancuran alam berikut manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari lingkungan di sekitar-barangkali, karena ia selalu dikurung di gudang setiap malam oleh ibunya. Ia tidak tahu mengapa ada tekanan seperti itu? Tapi ada sebuah keyakinan lain dalam dirinya. Hingga pada akhirnya ia melihat sendiri kehancuran itu berasal dari dirinya sendiri. Belakangan, ia baru menyadari bahwa ia tidak diizinkan menatap bulan merah oleh ibu, karena perubahan pada dirinya-perubahan dari manusia menjadi seekor serigala yang siap memangsa siapapun itu. Ah, itu dia, anak-anakkah?

Orang-orang yang tertekan dan diasingan dari lingkunganya juga terjadi pada cerpen "Jendela". Seorang anak diceritakan hanya diberi kebebasan untuk mendengar segala siksaan ayah tirinya terhadap sang ibu. Ia dikurung dan hanya dapat menatap jendela satu-satunya yang mengeluarkan cahaya, cahaya yang mampu menerawang wajahnya di dalam ruangan tersebut. Anak! Ya, ini juga terjadi dalam cerpen "Pelarian"-cerpen yang mengisahkan bagaimana seorang anak kekurangan kasih sayang dari ibunya-sebab ia adalah anak yang tidak diinginkan. Namun, belakangan anak itu baru menyadari bahwa yang terjadi justru pengorbanan sang ibu. Begitulah cerita tentang seorang anak dan hal-hal yang membuatnya ingin berlari dari semua tekanan dan siksaan batin, dari orang tuannya, orang-orang di sekelilingnya.

Anak-anak bisa menjadi apapun, tentu diluar konteks pemikiran orang dewasa. Ketika usia, kehidupan, perjalanan untuk terus bertahan darinya, hidup itu, maka ketika itu sisi kemanusiaan benar-benar dihilangkan dari anak-anak. Anak itu juga mengatakannya dalam gerimis yang tertekan, itu terlihat dalam salah satu kutipan cerpen "Pelarian": Aku sedang bertugas membersihkan taman dapur sambil menimbang-nimbang siapa di antara teman-temanku yang lebih kupercaya untuk kubagi rahasia...; "Apa salahku?" aku bertanya dengan suara gemetar; "Apakah ibuku ada bersama Dayang Kepala?"; "Apakah mereka kelihatan marah?".

Hingga anak-anak pun menjadi remaja, ketika remaja itu, orang tua tetap menjadi orang tua, dan anak-anak remaja menjadi seperti mereka lebih cepat. Cerpen yang menangkap kisah anak remaja itu terlihat pada judul "Lelaki Tua dan Tikus". Berikut adalah kutipannya: "Kamu pernah kuliah sebentar, Sari," kata Bu Haji dulu, sewaktu pertama kali menerimaku menjadi pegawai toko kelontongnya. "Kamu harus cari pekerjaan yang lebih layak".

Jelas, buku kumpulan cerpen ini layak menyampaikan pesan batin anak-anak kepada orang tuanya. Setelah membacanya, pembaca akan mengendurkan sedikit kerutan di kening dan menimbang-nimbang cara untuk memperlakukan sisi kemanusiaan anak-anak. Lalu, adakah orang-orang tanah itu anak-anak? Bacalah!
(Serambi Kompak, Batam, Maret 2014).

Keterangan Buku
Judul Buku : Orang-Orang Tanah
Penulis : Poppy D. Chusfani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 200
Cetakan : Pertama
Kota/Tgl Terbit : Jakarta, Agustus 2013

Friday, April 4, 2014

Terbangun Sendiri

Napasku sudah hampir lebih tenang, kepala perlahan damai, namun ada yang membangunkanku Aku berjalan di atas air, bertahan di ruang hampa, menata kembali hal demi hal. Ada guguran daun, ada kenikmatan menatap bulan yang sendirian malam ini. Napasku kembali terenyuh kuat, gerakan demi gerakan aku ciptakan dan ada hal-hal yang belum selesai. Lantas ada yang membangunkanku dan berkata, ucapkan hal terakhir yang dapat kau ucapkan sebelum gerakan yang harus membimbing pikiranmu esok. Lalu aku menerka-nerka, membalikkan tubuh, menggenggam erat tangan suamiku, erat!

Daun-daun berguguran, kata-kata terkesiap. Piring dan gelas di dapur retak dua, daun-daun gugur dua lagi. sungguh romantis dan aku kira juga tidak ada yang istemewa, Tuhan....

Jam terus berjalan, nada tetap berdentang, kata-kata tetap akan diucapkan, tidak ada tokoh kecuali aku, tidak ada alur, tidak ada konflik, tidak ada bahasa yang konyol, tidak ada kopi di sampingku, tidak ada! ketiak!


Tuesday, January 28, 2014

Mengunjungi Pulau Galang, Kepulauan Riau.



 Pulau Galang merupakan pulau yang bisa kita tempuh 1,5 jam dari Kota Batam. Pulau ini dihubungkan dengan jembatan Barelang sehingga dapat dengan mudah menyebranginya.

 Apabila menatap pemandangannya, pulau ini memang terkenal dengan hutan lindungnya. Sehingga tidak heran ada banyak monyet.
Yang lebih menarik lagi, pulau ini pernah menjadi tempat pengungsian warga Vietnam yang pergi dari negaranya akibat perang saudara. Perang tersebut awalnya merupakan bentuk kekalahan Amerika terhadap Vietnam Utara, sehingga Vietnam Utara yang dikenal dengan aliran komunisnya memperluas kekuasaan dengan cara menyiksa warga Vietnam Selatan. Sejarah inilah yang kemudian membuat Pulau Galang menjadi tempat baru bagi warga Vietnam--yang disediakan pemerintah Indonesia dan PBB kala itu (1975). Namun, sejak tahun 1995, pemerntah Indonesia merasa perlu mengembalikan kembali mereka (pengungsi) ke Vietnam. Meskipun banyak di antaranya yang tidak ingin dipulangkan ke Vietnam. Maka, beberapa ada yang bunuh diri di Pulau ini. Beberapa lainnya mencari suaka di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Australia. Beberapa lainnya bersedia dipulangkan. Sehingga, sejak tahun 1996, Pulau Galang telah dikosongkan. Meskipun begitu, pulau ini akhirnya menjadi tempat wisata di Batam dan sekitarnya. Jika kita masuk ke dalam area bekas pengungsian di pulau ini, kita masih dapat melihat fasilitas pengungsi seperti tempat ibadah, sekolah, tempat kesehatan, dan beberapa rumah, serta kapal peninggalan pengungsi yang ingin melarikan diri. Memang, mereka sengaja diisolasi untuk mencegah kemungkinan melanggar hak-hak batas teritorial Indonesia dan sekitarnya.








Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...