Kawasan Hati dan Api
Berita Sore
Di
kawasan yang cukup dekat dengan pemukiman warga, awan panas mengancam
nyawa. Pemirsa! Satu orang terpanggang api, pohon-pohon mati, tanah
habis diselimuti debu. Mari kita lihat! Rumah-rumah juga ditutupi debu.
Warga yang jaraknya 3 km dari gunung api direlokasi ke kawasan yang
lebih jauh.
SIAPA yang tahu, ketika akhirnya kematian lelaki itu di
bawah genggaman kaki gunung. Ketika itu awan tebal mengejarnya dan yang
ada di dekatnya ingin berlari, namun pohon tak mampu berlari. Mungkin,
jika pepohonan diperintahkan untuk berlari, maka ia akan berlari,
berlari, berlari ke mana saja. Tapi hanya lelaki itu yang dapat berlari,
maka ketika pepohonan hendak teriak minta pertolongan, bersamaan dengan
itu lelaki yang mampu berlari juga berteriak, berteriak pun tak ada
yang mampu menolongnya. Kecuali, ia berhasil menemui akhir dengan cara
yang dikehendaki-Nya.
Tepat satu minggu pasca meletusnya gunung,
lelaki itu ditemukan dalam keadaan berpeluk di sebuah pohon yang telah
kering. Keduanya seperti benar meminta pertolongan. Satu sama lain
terlihat memelas dengan sangat kasihan.
Apa kau pernah melihat
sebuah adegan paling menyedihkan ketika seorang lelaki terbunuh dan
benar-benar tragis dalam bayangan seorang perempuan? Bayangan itu
mencabik-cabik dagingnya yang habis terpanggang.
Beberapa yang
tertinggal hanyalah kenangan. Lelaki itu bahkan masih menggenggam hati
yang paling dirindukan seorang wanita. Di sebuah tempat pengungsian,
seorang wanita lainnya mencari dengan wajah penuh gelisah. Ia
sekonyong-konyong menyaksikan sebuah tubuh dalam keadaan ingin memeluk,
di sekujurnya masih lengket debu putih bekas debu yang dilontarkan oleh
gunung api. Namun wajahnya begitu hitam, mulutnya sedikit ternganga, ada
perih yang masih disimpan.
"Dita!"
"Aku baru tahu bahwa
orang baik bisa meninggal dengan begitu tragis!" katanya tersedu di
samping jenazah sang kekasih. Entah kapan ia mulai memutuskan untuk
mencintai, entah kapan pula ia memutuskan lelaki itu adalah yang terbaik
di matanya. Kini, ketika yang di hadapannya hanyalah seonggok tubuh
yang tak mampu memberikannya apa-apa, ia baru menyadarinya.
Sementara,
wanita itu menangis secara tidak sengaja, meskipun ia mengutuk dengan
sumpah serapah. Biarlah... biarlah kematiannya begitu tragis.
"Dita! Aku tahu, ini sangat memukul hatimu. Tapi, masih banyak yang harus kau lakukan."
"Aku tahu! Selagi aku masih bernapas..." Ia berhenti sejenak, "Aku tahu!" Lalu membuang napas secara perlahan.
"Dita, ada yang harus kau ketahui tentangnya!"
Dita
menolehkan pandangannya dari tubuh yang teronggok itu. Kini, ia menatap
mata lelaki yang tadi di belakang pandangannya - ia mencari tahu
sesuatu dari mata itu. Lelaki itu adalah salah seorang teman baik Redra.
Entah bagaimana mereka memutuskan untuk datang ke tempat ini. Ian,
teman Redra, berhasil selamat dengan sepeda motornya. Namun, motor yang
dikendarai Redra justru mogok dan menumpahkan satu nyawa tepat di
hadapan awan panas. Nyawa yang menyerah di usia 28 tahun.
"Katakan, Ian... katakan apa yang harus aku ketahui!"
"Kami
sengaja ke tempat ini karena sebuah surat yang Redra ceritakan padaku!
Awalnya, aku menganggap itu hanyalah lelucon, namun setelah kejadian
ini, aku jadi semakin percaya dengan apa yang dikatakannya!"
"Apa?"
Mata itu menyala dengan penuh tanda tanya. Ia menatap mata Ian dengan
lekat dan masih menunggu dengan tidak sabar, itu terlihat benar dari
gerakan tubuh yang gelisah.
"Satu hari sebelum ini kau dan Redra
sempat bertengkar. Aku tahu itu! Ya... sebab Redra telah menceritakannya
padaku." Ia membalas tatapan yang dipenuhi tanda tanya itu lebih lekat.
Tak lama sambil menarik napas, ia melanjutkan cerita.
"Apa hubungannya dengan peristiwa ini?"
"Ini!"
Ian menyodorkan sebuah kertas dengan begitu sadar, lalu ia melanjutkan
jawaban atas pertanyaan yang semakin terlihat jelas di mata Dita.
"Kertas
itu adalah surat Redra untukmu. Saat itu ia letakkan kertas di dalam
tasku. Aku terpaksa membaca surat itu usai peristiwa yang menimpanya.
Bukankah itu wajar? Maaf bila aku lancang!"
Tanpa panjang cerita,
Dita membuka surat itu dengan gerakan yang tidak mampu dibendungnya
lagi. Matanya bergerak dengan cepat ke kanan dan ke kiri. Seiring itu ia
menarik napas satu persatu, berusaha untuk percaya dengan apa yang
dibacanya.
Aku memutuskan hidupku, dan kau memutuskan hidupmu.
Biar pun aku lelaki yang kau kutuk menjadi daging yang terpanggang. Aku
baru menyadarinya, betapa kau mencintai sekaligus membenciku. Tapi,
apakah itu masih begitu penting?
Tarikan napasnya semakin kuat, ia menceritakan apa yang terjadi - pertengkaran antara dia dan Redra kepada Ian.
"Aku
membencinya. Sejak dulu aku tahu ia coba memancing banyak wanita untuk
di dekatnya! Aku selalu bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Mengapa?
Tapi, ia hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa ia lelaki bebas, bebas
memilih.
Lalu bagaimana dengan aku, wanita itu, itu, dan itu?
Wanita untuk dilindungi? Kau percaya? Sekarang, surat ini? Menjijikkan!
Pengakuan yang menjijikkan! Kau tahu? Suatu hari, takkan ada lagi wanita
yang benar-benar menikmati hidup! Semua yang ada di hadapan kalian,
kalian ubah untuk menyulap kami! Mengubahnya menjadi hewan buas!
Kemarahan yang penuh tanda tanya."
"Kau cantik, Dita! Bisakah kita lebih tenang?"
"Menurutmu, kecantikan terbuat dari apa? Dan apalah artinya!"
Saat
ia mengatakan itu, ada sebuah gerakan luar biasa yang mengguncang tubuh
mereka berdua. Tidak! Tidak mereka berdua, namun seluruh yang ada di
dekat pengungsian. Tapi sungguh! Guncangan itu bukan datang dari degupan
jantung atau darah mereka yang mengalir cepat, namun dari bumi, bumi
yang sedang marah.
"Allahuakbar... Allahuakbar..."
Beberapa
orang mengucapkan nama besar Allah dengan berteriak. Beberapa lainnya
berlari ke segala arah, mencari anak-anak mereka, nenek, ayah, ibu,
saudara.
"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini!"
"Aku takkan pergi! Kau harus dengar!"
"Sudahlah!
Tidak ada lagi masalah, yang ada hanyalah permintaan maaf! Aku tahu,
kau begitu mencintai Redra, tapi aku mohon hentikan semua kebencianmu
itu!"
"Lalu, ia akan mati dengan tenang?"
"Hentikan, Dita! Kemarahanmu di luar batas!"
"Kau mengatakannya karena kau juga lelaki yang suka mempermainkan perasaan wanita!"
"Hentikan!"
"Sebab, kemarahan seorang wanita adalah..."
Di
luar tenda, warga pengungsian berteriak "awan panas" dan "awas", "awan
panas" dan "awas". Begitu seterusnya hingga sayup-sayup menghilang di
telan angin. Tenda mulai berguncang hebat, seonggok tubuh yang tadi
ditatap Dita, kini tampak menggulung di tanah. Dita dan Ian saling
berpegangan erat.
"Sebaiknya kau hentikan amarahmu!"
Awan
setinggi bayangan tubuhmu, menghunjam, memeluk dan berkata "selamat
datang". Apakah kau juga merasakannya dalam tidurmu, sayang? Meskipun
begitu, aku tak menolak jika cinta ini milikmu. Namun,Tenda rusak. Warga
mengosongkan lokasi. Dua orang ditemukan tewas saling berpelukan.
Terpanggang, tubungnya lekat berwarna hitam, matanya memerah, debu di
sekujur, pohon-pohon berdoa, memanjatkan pengampunan.
Pernahkah
kau mendengar kisah sepasang kekasih yang saling mengkhianati, lalu ia
terkena kutukannya sendiri? Pernahkah kau memperhatikan sepasang merpati
di depan rumahmu? Matanya merah, sayapnya gelisah, kakinya ingin
melangkah.
Dan jika kau memperhatikan mereka, tak ada yang mampu
menduga kalau keduanya telah berselingkuh. Ditemukan dalam keadaan
kelaparan dan saling berpelukan. Dita, aku ingin kau membaca surat ini
saat kondisimu telah membaik. Kondisi di mana kau begitu membenci
seorang lelaki. Hentikanlah kebencianmu, dan jika tidak, kau menerima
kepergianku.
Berita pagi ini.
Telah ditemukan tiga mayat dalam
sebuah bencana dahsyat akibat awan panas gunung api tadi malam. Ketiga
mayat itu ditemukan dalam keadaan terpanggang. Dua mayat, wanita dan
lelaki, saling berpelukan, satunya lagi, lelaki yang lain, memegang
tangan wanita itu. Oh! Bukan! Pemirsa! Maaf ternyata, ada empat mayat!
Ya! lebih tepatnya mayat lelaki yang satunya tadi memegang tangan wanita
lainnya, tepat di sebelahnya! Itu artinya telah ditemukan empat mayat,
dua wanita, dua lelaki. Oh! Begitu romantis!
Sekian berita dari saya!
...maafkan
aku Dita, aku mencintaimu, sangat! Tapi itu sebelum aku bertemu dengan
wanita pilihanku! Dan kini, dalam pencarianku, ia mencariku, kini, ya,
kini, pencariannya - yang menurutku sudah sangat terlambat! Dita
hiduplah dengan tenang di sampingku dan tanpaku. Sekali lagi, maafkan
aku!
Serambi Kompak, Maret 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jangan Terlalu Percaya Diri!
Jangan jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...
-
Jabat Erat Komunitas Penulis Pada Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 Oleh: Ria Ristiana Dewi Panas Dingin Komunitas Penulis di TSI-4 ...
-
Allah adalah alasan mengapa kita di sini. Lantas, mengapa kamu harus takut. Padahal Ia selalu ada untukmu. sejatinya, Tuhanmu tidak pernah ...
-
Sam, akan aku kabarkan padamu tentang angin lalu yang tiba-tiba berbaik hati dan menurut. Jangan salah sangka, Sam! bukan menurut padaku, ta...
No comments:
Post a Comment