Wednesday, August 6, 2014

Cerpen, Medan Bisnis, 3 Agustus 2014

Kawasan Hati dan Api

Berita Sore
Di kawasan yang cukup dekat dengan pemukiman warga, awan panas mengancam nyawa. Pemirsa! Satu orang terpanggang api, pohon-pohon mati, tanah habis diselimuti debu. Mari kita lihat! Rumah-rumah juga ditutupi debu. Warga yang jaraknya 3 km dari gunung api direlokasi ke kawasan yang lebih jauh.
SIAPA yang tahu, ketika akhirnya kematian lelaki itu di bawah genggaman kaki gunung. Ketika itu awan tebal mengejarnya dan yang ada di dekatnya ingin berlari, namun pohon tak mampu berlari. Mungkin, jika pepohonan diperintahkan untuk berlari, maka ia akan berlari, berlari, berlari ke mana saja. Tapi hanya lelaki itu yang dapat berlari, maka ketika pepohonan hendak teriak minta pertolongan, bersamaan dengan itu lelaki yang mampu berlari juga berteriak, berteriak pun tak ada yang mampu menolongnya. Kecuali, ia berhasil menemui akhir dengan cara yang dikehendaki-Nya.

Tepat satu minggu pasca meletusnya gunung, lelaki itu ditemukan dalam keadaan berpeluk di sebuah pohon yang telah kering. Keduanya seperti benar meminta pertolongan. Satu sama lain terlihat memelas dengan sangat kasihan.

Apa kau pernah melihat sebuah adegan paling menyedihkan ketika seorang lelaki terbunuh dan benar-benar tragis dalam bayangan seorang perempuan? Bayangan itu mencabik-cabik dagingnya yang habis terpanggang.

Beberapa yang tertinggal hanyalah kenangan. Lelaki itu bahkan masih menggenggam hati yang paling dirindukan seorang wanita. Di sebuah tempat pengungsian, seorang wanita lainnya mencari dengan wajah penuh gelisah. Ia sekonyong-konyong menyaksikan sebuah tubuh dalam keadaan ingin memeluk, di sekujurnya masih lengket debu putih bekas debu yang dilontarkan oleh gunung api. Namun wajahnya begitu hitam, mulutnya sedikit ternganga, ada perih yang masih disimpan.

"Dita!"
"Aku baru tahu bahwa orang baik bisa meninggal dengan begitu tragis!" katanya tersedu di samping jenazah sang kekasih. Entah kapan ia mulai memutuskan untuk mencintai, entah kapan pula ia memutuskan lelaki itu adalah yang terbaik di matanya. Kini, ketika yang di hadapannya hanyalah seonggok tubuh yang tak mampu memberikannya apa-apa, ia baru menyadarinya.

Sementara, wanita itu menangis secara tidak sengaja, meskipun ia mengutuk dengan sumpah serapah. Biarlah... biarlah kematiannya begitu tragis.
"Dita! Aku tahu, ini sangat memukul hatimu. Tapi, masih banyak yang harus kau lakukan."

"Aku tahu! Selagi aku masih bernapas..." Ia berhenti sejenak, "Aku tahu!" Lalu membuang napas secara perlahan.

"Dita, ada yang harus kau ketahui tentangnya!"
Dita menolehkan pandangannya dari tubuh yang teronggok itu. Kini, ia menatap mata lelaki yang tadi di belakang pandangannya - ia mencari tahu sesuatu dari mata itu. Lelaki itu adalah salah seorang teman baik Redra. Entah bagaimana mereka memutuskan untuk datang ke tempat ini. Ian, teman Redra, berhasil selamat dengan sepeda motornya. Namun, motor yang dikendarai Redra justru mogok dan menumpahkan satu nyawa tepat di hadapan awan panas. Nyawa yang menyerah di usia 28 tahun.

"Katakan, Ian... katakan apa yang harus aku ketahui!"
"Kami sengaja ke tempat ini karena sebuah surat yang Redra ceritakan padaku! Awalnya, aku menganggap itu hanyalah lelucon, namun setelah kejadian ini, aku jadi semakin percaya dengan apa yang dikatakannya!"

"Apa?" Mata itu menyala dengan penuh tanda tanya. Ia menatap mata Ian dengan lekat dan masih menunggu dengan tidak sabar, itu terlihat benar dari gerakan tubuh yang gelisah.

"Satu hari sebelum ini kau dan Redra sempat bertengkar. Aku tahu itu! Ya... sebab Redra telah menceritakannya padaku." Ia membalas tatapan yang dipenuhi tanda tanya itu lebih lekat. Tak lama sambil menarik napas, ia melanjutkan cerita.
"Apa hubungannya dengan peristiwa ini?"

"Ini!" Ian menyodorkan sebuah kertas dengan begitu sadar, lalu ia melanjutkan jawaban atas pertanyaan yang semakin terlihat jelas di mata Dita.

"Kertas itu adalah surat Redra untukmu. Saat itu ia letakkan kertas di dalam tasku. Aku terpaksa membaca surat itu usai peristiwa yang menimpanya. Bukankah itu wajar? Maaf bila aku lancang!"

Tanpa panjang cerita, Dita membuka surat itu dengan gerakan yang tidak mampu dibendungnya lagi. Matanya bergerak dengan cepat ke kanan dan ke kiri. Seiring itu ia menarik napas satu persatu, berusaha untuk percaya dengan apa yang dibacanya.

Aku memutuskan hidupku, dan kau memutuskan hidupmu. Biar pun aku lelaki yang kau kutuk menjadi daging yang terpanggang. Aku baru menyadarinya, betapa kau mencintai sekaligus membenciku. Tapi, apakah itu masih begitu penting?

Tarikan napasnya semakin kuat, ia menceritakan apa yang terjadi - pertengkaran antara dia dan Redra kepada Ian.

"Aku membencinya. Sejak dulu aku tahu ia coba memancing banyak wanita untuk di dekatnya! Aku selalu bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Mengapa? Tapi, ia hanya tersenyum lalu mengatakan bahwa ia lelaki bebas, bebas memilih.

Lalu bagaimana dengan aku, wanita itu, itu, dan itu? Wanita untuk dilindungi? Kau percaya? Sekarang, surat ini? Menjijikkan! Pengakuan yang menjijikkan! Kau tahu? Suatu hari, takkan ada lagi wanita yang benar-benar menikmati hidup! Semua yang ada di hadapan kalian, kalian ubah untuk menyulap kami! Mengubahnya menjadi hewan buas! Kemarahan yang penuh tanda tanya."
"Kau cantik, Dita! Bisakah kita lebih tenang?"

"Menurutmu, kecantikan terbuat dari apa? Dan apalah artinya!"
Saat ia mengatakan itu, ada sebuah gerakan luar biasa yang mengguncang tubuh mereka berdua. Tidak! Tidak mereka berdua, namun seluruh yang ada di dekat pengungsian. Tapi sungguh! Guncangan itu bukan datang dari degupan jantung atau darah mereka yang mengalir cepat, namun dari bumi, bumi yang sedang marah.

"Allahuakbar... Allahuakbar..."
Beberapa orang mengucapkan nama besar Allah dengan berteriak. Beberapa lainnya berlari ke segala arah, mencari anak-anak mereka, nenek, ayah, ibu, saudara.

"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini!"
"Aku takkan pergi! Kau harus dengar!"
"Sudahlah! Tidak ada lagi masalah, yang ada hanyalah permintaan maaf! Aku tahu, kau begitu mencintai Redra, tapi aku mohon hentikan semua kebencianmu itu!"

"Lalu, ia akan mati dengan tenang?"
"Hentikan, Dita! Kemarahanmu di luar batas!"
"Kau mengatakannya karena kau juga lelaki yang suka mempermainkan perasaan wanita!"

"Hentikan!"
"Sebab, kemarahan seorang wanita adalah..."
Di luar tenda, warga pengungsian berteriak "awan panas" dan "awas", "awan panas" dan "awas". Begitu seterusnya hingga sayup-sayup menghilang di telan angin. Tenda mulai berguncang hebat, seonggok tubuh yang tadi ditatap Dita, kini tampak menggulung di tanah. Dita dan Ian saling berpegangan erat.
"Sebaiknya kau hentikan amarahmu!"

Awan setinggi bayangan tubuhmu, menghunjam, memeluk dan berkata "selamat datang". Apakah kau juga merasakannya dalam tidurmu, sayang? Meskipun begitu, aku tak menolak jika cinta ini milikmu. Namun,Tenda rusak. Warga mengosongkan lokasi. Dua orang ditemukan tewas saling berpelukan. Terpanggang, tubungnya lekat berwarna hitam, matanya memerah, debu di sekujur, pohon-pohon berdoa, memanjatkan pengampunan.

Pernahkah kau mendengar kisah sepasang kekasih yang saling mengkhianati, lalu ia terkena kutukannya sendiri? Pernahkah kau memperhatikan sepasang merpati di depan rumahmu? Matanya merah, sayapnya gelisah, kakinya ingin melangkah.

Dan jika kau memperhatikan mereka, tak ada yang mampu menduga kalau keduanya telah berselingkuh. Ditemukan dalam keadaan kelaparan dan saling berpelukan. Dita, aku ingin kau membaca surat ini saat kondisimu telah membaik. Kondisi di mana kau begitu membenci seorang lelaki. Hentikanlah kebencianmu, dan jika tidak, kau menerima kepergianku.

Berita pagi ini.
Telah ditemukan tiga mayat dalam sebuah bencana dahsyat akibat awan panas gunung api tadi malam. Ketiga mayat itu ditemukan dalam keadaan terpanggang. Dua mayat, wanita dan lelaki, saling berpelukan, satunya lagi, lelaki yang lain, memegang tangan wanita itu. Oh! Bukan! Pemirsa! Maaf ternyata, ada empat mayat! Ya! lebih tepatnya mayat lelaki yang satunya tadi memegang tangan wanita lainnya, tepat di sebelahnya! Itu artinya telah ditemukan empat mayat, dua wanita, dua lelaki. Oh! Begitu romantis!
Sekian berita dari saya!
...maafkan aku Dita, aku mencintaimu, sangat! Tapi itu sebelum aku bertemu dengan wanita pilihanku! Dan kini, dalam pencarianku, ia mencariku, kini, ya, kini, pencariannya - yang menurutku sudah sangat terlambat! Dita hiduplah dengan tenang di sampingku dan tanpaku. Sekali lagi, maafkan aku!
Serambi Kompak, Maret 2013

No comments:

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...