Saturday, November 19, 2016

Surat Ke 3

     Akhir-akhir ini aku kurang tertarik untuk mencari kesibukan. Entah bagaimana rasa bosan hadir begitu saja. Sam, kau tahu aku punya alasan untuk semua itu. Rasa bosan yang aku terima akibat terlalu menuruti otak kanan. Aku bosan karena kreativitasku terkunci oleh sebuah ruang yang aku ciptakan sendiri. Bagaimana tidak, aku kehilangan banyak hal setelah kehidupan baruku dimulai. Apalagi aku terkunci oleh sebuah keadaan, keadaan di mana aku harus memikirkan kebahagiaan orang lain.

Saturday, November 5, 2016

Surat Kedua untuk Sam

Bagaimana Sam, apa kau masih diselimuti sepi? Aku tahu, akhir-akhir ini kesedihanmu berada di posisi depan, mendahului aba-aba yang kau siapkan. Yang aku tak tahu, apakah benar perasaan kita saat ini sama. Sam, pagi ini hatiku lebih tenang. Jiwaku lebih damai. Segelas kopi, laptop, dan wifi membuatku tampak lebih stabil. Walau aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Kau sendiri paham apa maksudku. Sudah lama aku mendambakan hal seperti ini. Entah dari mana aku mulai berkata-kata kali ini. Pagi ini, ketenanganku tidak bisa aku keluhkan.

Sam, kau pasti menonton apa yang aku tonton akhir-akhir ini. Terlalu banyak kehebohan yang membuat dada kita tersekat. Terlalu banyak bicara dengan orang lain, itu juga bukan hal yang baik. Tapi, aku paham betul. Diam tidak pernah bisa selalu menenangkan hati seseorang. Itulah cara bagiku untuk menyimpulkan bahwa berbicara denganmu adalah langkah mengurai kegelisahan. Entah berapa banyak orang yang akan tertarik dengan hal ini. Aku sendiri tidak pernah peduli. Aku anggap hati lebih punya pengaruh dari pada logikamu sendiri. Aku masih percaya itu.

Oh, ya, Sam.... Apa kau pernah membaca buku mengenai seseorang yang bermimpi menjumpai Nabi Muhammad SAW? Apa kau pernah tahu orang itu diselimuti kegelisahan. Ia sendiri tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya. Ia bukan pengikut Nabi Muhammad, ia masih menjadi sekelompok yang lain saat itu. Ia merasa apa yang terjadi pada dirinya adalah kejadian aneh yang keterlaluan. Tapi kita tahu Sam bahwa bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW adalah harapan semua umatnya, umatnya. Tapi ia, seseorang itu bukan umatnya. Kau tahu dan paham apa yang bisa terjadi karena hal itu. Kegelisahan yang terus menerus membuat orang itu mencari tahu mengenai Nabi Muhammad. Ia menjadi saksi betapa beruntungnya ia bisa bertemu walau hanya dalam mimpi. Kita sendiri tahu bahwa satu-satunya manusia yang tidak bisa diserupai wajahnya oleh setan adalah Nabi Muhammad SAW. Kebenaran itu tidak bisa dipungkiri. Itulah sebabnya jika ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad, maka sesungguhnya ia benar-benar menjumpainya.

Sam, kau dan aku tahu bahwa banyak hal bisa terjadi di luar batas pemikiran kita yang biasa saja ini. Tapi sebuah kebenaran tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Kebenaran bahwa denyut jantung itu letaknya di sini, di dada kita yang membaca Al Qur'an dan berusaha untuk menjalankannya. Terkadang kita ingin lari dari sebuah peraturan. Kita ingin berpaling, kita ingin menjadi liar saja, kita ingin membuat aturan sendiri saja, kita adalah hebat, kita merasa menjadi orang yang paling kaya, luar biasa, menakjubkan. Tapi kau tahu Sam, apa yang lebih hebat dari itu? Jawabannya: MUHAMMAD.

Ia, Muhammad, diciptakan dengan segala bentuk kelebihan yang tak bisa dimiliki banyak ciptaan-Nya. Kau tahu, kehebatan yang sempurna adalah ketika kau bisa menahan diri demi kebaikan banyak orang. Ketika kau berjalan dengan berjuang di jalan Allah, namun jalanmu tertatih, ketika kau tak perlu diketahui banyak orang. Hanya namamu yang tercatat di sana, di sisi banyak manusia, tapi tidak dengan wajahmu. Kau tahu dua yang tidak bisa kau lihat ketika kau hidup di dunia ini tapi bisa kau rasakan keberadaannya. Kau tahu siapa? Jawabannya: Allah dan Muhammad.

Kau tahu, hingga kini tidak ada manusia yang mampu menggambarkan wajahnya. Hingga kita, manusia, merasa bahwa jika nanti kita mati yang pertama ingin kau lakukan adalah melihat wujud Allah dan Muhammad. Itulah mengapa Sam, jika ada seseorang yang bermimpi menjumpai Muhammad walau hanya dalam mimpi, ia adalah orang yang benar-benar beruntung. 

Sam, apa kau pernah melakukan banyak kebaikan, tapi tidak ada satu manusia pun yang peduli dengan kebaikanmu? Ah, Sam, aku yakin itu sering terjadi. Kau merasa bahwa kau sudah sangat baik, tapi justru itu tidak ada apa-apanya di mata manusia. Tapi itu ada artinya di mata Sang Pencipta. Itu ada. Kau tahu bahwa kini banyak orang hebat di dunia yang konon merasa dirinya hebat mencaci maki agamamu? Kau tahu? Jika kau tahu ada hal yang tidak bisa mereka ketahui kebenarannya. Bahkan ketika aku menuliskan ini, aku jadi ingat Nabi Muhammad, Al Qur'an, dan Umat Islam yang kini diberi begitu banyak cobaan, di berbagai belahan bumi ini, kini, mereka hanya bisa menangis, tapi sesungguhnya tangisan itu hanyalah kecil jika dibandingkan dengan kebesaran rasa ikhlas yang kita miliki di dunia ini. Ikhlas itu demi sebuah janji dari Allah, surga.

Sam, kau sendiri tahu bahwa memperjuangkan kebenaran tidaklah gampang. Memahami Al Qur'an yang terkesan mengerikan bagi yang menolaknya, tidak lain, yang menolak adalah yang tidak memiliki keikhlasan. Kita diajarkan ikhlas karena tubuh kita pun tidak akan abadi di dunia. Al Qur'an lah salah satu penolong bagi kita nanti ketika ruh kita terlepas dari tubuh. Allah, Yang Maha Agung, menjelaskan pada kita bahwa sangat mudah baginya untuk meluluh lantahkan dunia ini berikut kita yang ada di dalamnya. Kita tidak ada apa-apanya. Lantas mengapa kita harus sombong? Untuk itulah, Al Qur'an mengajarkan kita akan lebih berhati-hati dalam melangkah di muka bumi. Ia adalah sumber ilmu sesungguhnya yang tak bisa kau dapatkan dari buku-buku ciptaan manusia. Dan kau tak bisa berpaling darinya walau hanya satu langkah. Kebenaran itu adalah Al Qur'an!


Saturday, October 8, 2016

Surat Pertama untuk Sam


      Sam, bagaimana kabarmu? Apa kau masih mengingat-ingat masa lalu? Apa mungkin, kau masih romantis seperti dulu? Oh, Sam, di antara seluruh pelaku tokoh paling nakal dalam pikiranku masih kamu. Entah bagaimana Sam, kemudian kita berjalan ke arah hidup kita yang menuju ke depan terus menerus. Kita tidak diberi waktu walau hanya satu detik saling menatap daun-daun yang gugur, pagi ataupun sore. Sam, banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi, kau selalu bilang jangan pernah berkata apa-apa. Sebab kata-kataku terlalu berlian bagimu. Aku lucu sekali mendengarnya.
       Sam, kau tak mengetahui apapun saat ini. Itu akibatnya. Ya! entah mengapa ingin sekali aku utarakan betapa setiap langkah yang kujalani, semakin banyak pendakian yang berada di luar hitung-hitungan kita dulu. Kini aku menyadari bahwa tidak selamanya hal baik yang aku lihat akan menjadi kebaikan dan sebaliknya tidak selamanya hal buruk itu akan mengakibatkan keburukan. Segalanya tidak sama.
          Oh, Sam, ayolah! Jangan menertawakanku begitu. Menurutmu apa aku telah berubah. Aku tetap seperti dulu. Yang berubah hanyalah dinamika kehidupanku. Itu saja. Aku tidak lebay!
             Sam, menurutmu seperti apa sebuah pilihan? Apakah kita berhak untuk menentukan pilihan? Tahukah kau sam, di antara banyaknya pilihan, terkadang Allah hanya memberikan 4 opsi. Empat untuk kau racik, cicipi, dan tentukan! Empat yang tidak semuanya ada satu pun dari yang kau inginkan. Apakah menurutmu ini adil? Itulah mengapa ada orang yang mengatakan hidupnya tidak ada pilihan. Padahal ia telah diberikan empat pilihan. Sam, kau lihat? Kau baca? Kau paham?
           Entahlah, menurutku pilihan akan diberikan setelah usaha yang kita perbuat. Kau ingat? Dulu, saat kau masih memiliki satu gelar? Kau diberi pilihan akan menjadi guru atau buruh. Kini, setelah gelarmu bertambah, kau diberi pilihan akan menjadi dosen, guru, buruh, atau mungkin anggota DPR. Oh, ayolah Sam, jangan menertawakanku! Ini kenyataannya. Dan, oh, ya, kau juga pernah diberi pilihan untuk memilih wanita pendamping hidupmu. Tapi anehnya, pilihanmu tidak bisa kau pikirkan dengan seberapa usahamu. Kau aneh, kau gila menurutku. Aku sudah menasihatimu bahwa apa yang kau lihat belum tentu seperti apa yang kau lihat. Ada kuasa Allah di balik semua itu. Lalu, seperti apa selama ini kau berdoa? sudahkah seperti orang yang teraniaya atau jutru seperti orang yang suka menganiaya? Inilah yang kukatakan padamu bahwa kau harus berhati-hati dengan tingkah lakumu, Sam. Penentuan hidupmu adalah kualitas perilakumu. Aku tidak heran bahwa kau akan mengalami banyak hal yang tidak bisa kau pikirkan sebelumnya. Sama seperti aku. Kini, aku melihat terlalu banyak orang yang melampaui batasnya dalam meminta hak-haknya. Coba kau pikirkan, ada orang yang memarahimu karena ia merasa bahwa ia telah memberikanmu uang satu juta untuk melayanimu menjadi lebih cantik. Tapi, ia minta menjadi seperti ratu kerajaan Inggris. Apa menurutmu, ini masuk akal? Dari perilakunya saja ia tidak pantas menjadi ratu. Oh, ayolah... aku sedang ingin mencontohkan sebuah perilaku manusia yang terkadang sangat aneh. Bagaimana caranya seorang tukang salon yang belajar autodidak di kampungnya disuruh membuat wanita biasa menjadi seperti ratu Inggris. Bagaimana bisa uang satu juta yang ia berikan bisa dibandingkan  dengan uang miliayaran rupiah yang diberikan seorang Ratu kepada tukang salon kecantikan berpendidikan tinggi, berpengalaman luas, dan menjadi tugasnya melayani seorang Ratu.
          Sam, terlalu banyak orang aneh yang aku temui akhir-akhir ini. Dan aku harus berurusan dengan orang-orang lebih aneh lainnya. Kau percaya itu? Terlalu banyak orang yang berpikir bahwa ia bisa mendapatkan lebih dari perilaku buruknya. Ini memang terdengar menyesakkan. Baiklah, begini saja. Dahulu, kau pernah menasihatiku agar aku menjadi wanita yang biasa-biasa saja karena melihatku tidak bisa jatuh dalam pergaulan menggunjing dan melakukan tekanan pada orang lain secara berkelompok. Kau tahu bahwa aku sangat tidak bisa membuat sekawanan perlawanan. Berorganisasi atau berkelompok hanya untuk menceritakan keburukan orang ataupun melakukan hal yang berfoya-foya dan boros. Kau tahu aku begitu hemat, aku sangat perhitungan dalam setiap tingkah lakuku. Aku memutuskan tidak selalu suka melakukan segala sesuatunya dengan berlebihan. Termasuk ketika aku memasuki organisasi. Aku akan memilih organisasi yang lebih banyak manfaatnya daripada keburukan yang diciptakannya. Aku suka menulis, dan kau tahu itu. Untuk itulah, aku memilih jalan menulis. Menurutku, ini sehat. Aku bisa berlomba dengan sehat, aku bisa berkreativitas, aku bisa bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Aku suka itu. Aku lebih tidak suka jika aku harus memakai pakaian serba tertutup, memegang Al Qur'an, memahaminya, tapi aku justru membuat hidup orang lain tertekan karena perilakuku. Aku lebih suka hidup sederhana daripada aku harus memiliki banyak kekayaan, tetapi aku harus mencampakkan uang di muka orang dan mempermalukan hidup orang lain. Aku memang sok suci bukan berarti aku suci. Setidaknya, aku orang yang tidak suka menjadi sebab kesusahan hidup orang lain. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya Sam. Kau tahu itu, kau tahu aku dari dulu. Inilah yang aku maksud, Sam. Kita terlalu sering menganggap diri kita adalah sempurna, padahal tidak. Kekuranganku, aku tidak bisa sekuat karang. Sam, titipkan salamku pada hidupmu yang baru. Saat aku menulis surat ini untukmu sebenarnya dispenser di rumahku sedang rusak, AC di kamar tengah rusak pula, atap rumah juga bocor. Doakan saja, ini menjadi pengalaman berharga bagiku. Da...

Wednesday, September 7, 2016

Saksi yang Datang dari Dermaga

Malam ini sesibuk angin di tengah laut
tugas kita tidak jeda walau hanya satu detak jarum
di sini suratan takdir mengantar tuanku
menemu bibir pantai sepanjang pulau
merebah badan, merekah harap, memilin ombak
telah raga jadi badai--mengais mimpi si anak pantai
tuan, bakau menjadi risau pun tatapmu jauh bagai pisau
mengoyak seisi hati para pemilik surau
yang berdiri tepat di atas bukit wellcome
dan kita di sini, mengenal arti pong dan gong
melewati rempang dan galang, meniti hati perantau
dari sipembuat jantung yang berlabuh di dermaga
kasih, tak terima kau jauh, walau entah,
seribu tahun tak tentu menemu kau di sisi ini
kemarilah, kau yang kami rindu!

Monday, August 8, 2016

Full Day School



Menyambut “Full Day School”, Membentuk Karakter Siswa
            Oleh: Ria Ristiana Dewi, S.Pd.

                Akhir-akhir ini kita diberikan sedikit bisikan mengenai adanya rencana yang diajukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Muhadjir Effendy untuk membuat system “full day school”. Rencana ini nantinya dikhususkan bagi pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), baik di sekolah negeri maupun swasta. Hal ini dilandasi alasan beliau bahwa kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orang tuanya seusai jam kerja.
                Menyambut kabar ini, sesungguhnya ada kekhawatiran pemerintah atas tingkah laku anak-anak yang kerap menjadi liar saat jam pulang sekolah, saat orang tua bekerja dan tidak berada di rumah. Pada umumnya anak usia SD dan SMP memerlukan pengawasan yang ekstra. Terutama menyikapi tingkat konsumsi media sosial yang akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Nantinya, di sekolah anak-anak dikontrol untuk tidak menggunakan media sosial saat-saat masa produktif mereka dalam mencari ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, walaupun anak-anak memerlukan media, mereka tetap diberi arahan pengajar bahwa fungsi media yang selama ini mereka gunakan harusnya digunakan untuk hal-hal bermanfaat. Mereka bisa menggunakan facebook untuk mencari teman, tapi perlu bagi mereka untuk bercerita apa yang terjadi pada orang tuanya. Namun, kontrol yang dilakukan harusnya tidak lepas dari kata “lengah”. Untuk itulah, dalam mengatasi ini nantinya, anak-anak perlu diberi kesibukan yang bersifat akademik hingga tiba waktunya mereka mampu mengendalikan diri dalam menyikapi manfaat media sosial.
                Siswa SD kelas V dan VI menjadi awal meningkatnya tingkat berpikir pada anak-anak dari yang bersifat menerima kondisi berubah menjadi anak yang memiliki rasa ingin tahu lebih besar. Menurut teori “Tahap Perkembangan Piaget”, Anak-anak usia ini mulai masuk dalam kategori tahap operasional formal. Di usia ini anak-anak mulai berpikir logis dan sistematis. Usia yang dimaksud adalah usia 11-15 tahun. Usia ini, rata-rata baru akan dimulai pada siswa kelas V SD di semester dua. Untuk itulah ketika memasuki usia ini, anak-anak akan mulai mengalami perubahan cara berpikir dari yang pasif menjadi lebih aktif. Sifat aktif anak-anak ini tentunya perlu disalurkan dengan baik. Jangan sampai usia ini dihabiskan dengan melakukan kegiatan yang cenderung menghabiskan masa ingin tahu ke arah yang tidak baik, seperti bermain games, lebih banyak menerima respon dan umpan balik dari pergaulan yang buruk. Masa ini juga disebut sebagai masa peralihan dari tahap operasional nyata ke tahap perkembangan kognitif terakhir yang tadi disebut tahap operasional formal. Tahap operasional formal dalam teori piaget adalah tahap di mana anak sudah mampu berpikir abstrak, menalar dengan logis, menarik kesimpulan sebuah informasi. Hal ini menarik ulur pengetahuan mereka dalam mengenal cinta, dan nilai. Tahap ini juga disebut tahap pubertas.
                Berasal dari teori ini sesungguhnya anak sedang dalam kondisi puncaknya untuk menerima lingkungan. Untuk alasan inilah pemerintah merasa khawatir ada banyak respon yang buruk akan diterima anak, jika guru dan orang tua “tentunya” tidak segera mengambil alih pengaturan kondisi lingkungan. Lalu, karakter apa yang akan dibentuk dengan adanya penerapan “Full Day School”?
                Pengaruh positif yang bisa didapatkan dari penerapan sistem ini adalah anak perlahan mengubah karakter puncaknya dengan kegiatan positif yang cenderung berada di jalur aman. “Aman” dalam hal ini, anak hanya mengetahui apa yang ia lihat dan dengar dari guru yang telah dikonsep untuk menjadikan siswa tidak mengetahui hal-hal yang buruk. Tentu saja ini adalah hal yang baik disambut oleh orang tua. Namun di sisi lain, anak akan mengalami kondisi tidak menemukan kehidupan dinamis seperti yang terjadi pada kondisi kehidupan sesungguhnya. Anak akan menjadi miniatur yang digerakkan dan dirawat sedemikian rupa. Proses perkembangannya yang aktif sesungguhnya tidak tersalur sebagaimana mestinya. Namun, pengaruh negatif ini masih bisa diatasi dengan adanya kerjasama guru dan orang tua, pun pemerintah dalam hal merawat kondisi lingkungan menjadi aktif positif. Buatlah kegiatan-kegiatan yang cenderung mewadahi mereka dengan kondisi baik. Seperti, aktivitas mengaji, kaligrafi, menari, menulis, bernyanyi, wisata alam, olahraga dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan mereka bersama teman, guru, orang tua, sekaligus lingkungan. Hingga pada akhirnya anak-anak mampu mengetahui arti dinamika kehidupan berasal dari apa yang dia alami di dalam berorganisasi positif bukan berorganisasi negatif di luar sana. Mereka akan menemukan sebuah cara untuk memberi bantuan daripada  menyulitkan orang lain. Hal inilah karakter yang sesungguhnya diinginkan bangsa Indonesia.

Friday, August 5, 2016

Esai,

Saya Berpikir, Puisi Menjadi Awal
(Catatan kecil bahagia dengan menulis)

Memahami Proses, Mencari Jati Diri
Saya merasa yakin, Anda tidak akan menemukan tempat di mana Anda berada saat ini melainkan Anda sendiri yang akan mencarinya. Carilah sampai Anda temukan kapan terakhir kali Anda melupakan proses hidup Anda sendiri. Semuanya adalah perjalanan yang harus Anda arungi bersama ombak berikut badainya. Entahlah, apa yang Anda inginkan dari kehidupan Anda saat ini, Anda tidak ingin membaca, Anda tidak ingin menulis. Ini kegagalan proses yang pasti datangnya. Tetapi, Anda selalu mengeluh ketika diminta memaknai perjalanan hidup. Itu karena Anda merasakan proses yang tidak seindah bunga di taman kota. Alahai, memang tak semudah berucap dengan lisan.
Diri Anda itu minta untuk disentuh rapi. Mata, mulut, telinga, hidung, tangan, kaki, kepala adalah saksi betapa proses hidup Anda akan menjadi garapan sejarah usang tanpa dimaknai. Mengapa Anda ragu untuk menuliskan proses hidup Anda? Saya pikir, di sinilah awal mulanya.
Sukses dari Membaca dan Menulis
Saya tidak ingin mempersulit proses yang harus dilalui. Namun, untuk “sukses” memang harus melalui sebuah proses yang tak sederhana. Hipotesa yang saya dapatkan di lapangan menunjukkan bahwa 80 persen anak-anak Indonesia malas membaca dan menulis. Inilah proses yang harus dilalui sesungguhnya. Hasilnya, tak sedikit yang mengalami kemunduran kreativitas. Mengapa kemunduran? Artinya ada proses yang menurun? Ya! Ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Salah satunya, anak-anak diperdaya oleh kecanggihan zaman: bermain games di laptop, tablet, dan handphone.
Setiap orang ingin menjadi sukses. Kategori manusia sukses itu sendiri sangat relatif, tergantung dari mana kita memulainya. Menjadi sukses tidak hanya semasa hidup, tapi juga dibawa hingga kehidupan yang lainnya, kehidupan di mana semua amal perbuatan kita akan diperhitungkan. Salah satu yang akan kita bawa nantinya, tentu ilmu yang bermanfaat. Bagaimana bisa pemikiran kita akan terbuka ke wadah yang lebih luas jika kita sendiri tidak mulai mencari jalan ke arah wadah itu. Tapi, apa yang ingin kita wadahi? Tulisan? Ya! Tentu saja kita ingin menjadikan gagasan kita diterima banyak orang, namun kita tidak memiliki wadah untuk memulainya. Maka, mulailah menulis! Sepanjang apa kamu menulis, seluas itulah kamu melangkah. Kamu akan pergi ke manapun yang kamu inginkan. Menulislah semasa kamu hidup, jadikan hidupmu bersejarah, penuh arti, diingat orang lain. Harga dari gagasan yang kita keluarkan adalah awal menuju manusia yang percaya diri.
Mengeluarkan gagasan dengan menulis sesungguhnya menjadi pintu gerbang kita untuk mendekatkan diri dengan lingkungan sosial. Tentu saja gagasan adalah harga yang cukup mahal. Sementara itu untuk mulai menulis, diperlukan wawasan dengan membaca sebanyak mungkin. Inilah yang menjadi pagar hitam, seolah-olah kita terkurung dalam penjara yang bernama “malas membaca”. Kita selalu berpesan bahwa saya tidak sempat untuk membaca, apalagi menulis. Alahai, sungguh kata-kata itu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi dunia kreativitas. Padahal, dengan menulis walau hanya lima menit, Anda sedang menginvestasikan kualitas hidup yang sesungguhnya. Sebagai contoh, tulisan saya ini, saya tuliskan saat anak saya masih tertidur pulas dan pekerjaan rumah sudah hampir beres, tentu sebelum ia terbangun. Saya coba membuka laptop pelan-pelan, membuka file-file lama. Saya ingat bahwa kemarin saya baru mendapat tantangan dari salah seorang teman agar mengirimkan beberapa tulisan terbaik. Tapi saya tidak sedang ingin membuat cerita pendek seperti yang selama ini saya tekuni. Akhirnya saya memutuskan untuk menyambung tulisan ini—yang mana telah saya tulis sebagian pada bulan Januari 2016 lalu. Berangkat dari alasan inilah, saya merasa Anda tidak perlu menulis dengan cara langsung menuntaskan tulisan saat itu juga. Kesimpulannya, jangan sesekali membuang file-file lama meskipun Anda masih malas untuk menulisnya kembali.
Belajar sebuah kesuksesan tidak perlu berandai bahwa suatu saat Anda akan menjadi orang kaya raya, memiliki harta berlimpah hingga tujuh turunan hingga hari kematian Anda cukup menenangkan. Menjadi sukses cukup dengan berhasil mengendalikan diri Anda untuk bisa menyumbang sebuah tulisan, membaca hasil gagasan orang lain, dan menginspirasi orang lain pula.
Kini, jika Anda telah menulis, mulailah dengan menuliskan sebuah catatan kecil yang mencurahkan isi hati Anda. Di sinilah ruh puisi menjadi salah-satu alasan untuk mengatasi betapa waktu telah memperdaya Anda dengan kesibukan yang tidak beralasan.

Saya Menulis Puisi, Lalu Anda Menulis Apa?
Dengan lagak sombong seolah telah memiliki uang miliaran rupiah, saya ingin berkata, “Saya menulis puisi, lalu Anda menulis apa?”
Alahai, betapa kayanya saya karena telah menjadi seorang penulis walau hanya menulis puisi. Betapa bahagianya saya bisa mencoba untuk menulis walau hanya sebatang pena. Sebuah alasan mengapa saya menjadi begitu berharga setidaknya bagi diri sendiri hingga saat ini.
Tahukan Anda sebelum saya menulis esai ini, beberapa tahun yang lalu, saya menulis puisi. Dan tahukah Anda? Ketika itu, tulisan saya dibaca oleh seorang dosen yang sangat saya hargai jasa-jasanya. Pertama kalinya beliau membaca tulisan saya, beliau berkata, “Gak enak!” hati kecil kecewa, di sisi lain merasa tertantang. Saya membuat beberapa tulisan lagi dan seperti biasa, jawaban beliau tetap, “Gak enak!”
Tapi menyerah bukan kata kunci sukses. Saya mencoba lagi, dan akhirnya beliau meminta saya membacakan puisi saya sendiri pada acara baca puisi di depan rel kereta api, dan menghadap jalan raya. Saat itu, yang terlintas dalam pikiran saya adalah sebuah kebahagiaan. Pertama kalinya saya merasa dihargai dan menjadi seseorang yang sukses bagi diri sendiri. Sukses untuk menggagalkan asumsi bahwa saya tidak mampu menulis. Jadi, mengapa puisi harus menjadi harga kecil jika pengaruhnya sangatlah mewah? Anda bisa? Mulailah menulis!
Oleh: Ria Ristiana Dewi
www.perempuan-bermata-elang.blogspot.com

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...