Saturday, December 28, 2013

Resensi, Medan Bisnis, 8 Desember 2013


Resensi Buku
Membaca Cinta dari Surat Panjang Seorang Wanita
Oleh: Ria Ristiana Dewi
Judul Buku: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama
Kota/Tahun Terbit: Jakarta, Juni 2013
Halaman: 240 hlmn.

Jarak dan surat menjadi titik temu yang mengawali sekaligus mengakhiri kisah sepasang anak manusia ini. Konflik, tragedi, ataupun penantian yang dibalut dalam surat panjang. Ya! ada beberapa pertanyaan panjang yang pantas dilayangkan terhadap kisah di dalamnya. Seorang wanita, sebut saja ia pecinta dan seorang lelaki yang ia nantikan sepanjang surat yang ia tulis. Tidak hanya itu, sepanjang surat itu pula, wanita penulis surat kerap mengalami masalah demi masalah, tapi ia tetap patuh menuliskan surat untuk lelaki yang dimaksud, lelaki masa kecil yang selalu dinantikannya, Lelaki yang akhirnya menikah dengan wanita lain. 
Wanita itu menceritakan bagaimana perjuangannya saat benar-benar kehilangan ayah tercinta, keluarga yang sudah tidak peduli (selain ayahnya), ataupun saat-saat menuju kematiannya. Ia, wanita itu adalah seorang wartawan yang tangguh, tidak berhenti memperjuangkan kepentingan banyak orang, meskipun hanya dengan menuliskan sebuah fakta kehidupan. Menarik memang, jika pembaca menyimak kisah perjuangan wanita yang berprofesi sebagai wartawan ini. 
Tentu! Selain judul buku yang menarik perhatian, seperti membayangkan ada banyak penghalang bagi mereka untuk mendapatkan cinta satu sama lain. Atau sesungguhnya buku ini sedang memberitahukan nilai-nilai kesungguhan cinta yang seperti apa yang harus diperjuangkan. Lagi-lagi begitu, tapi tentu pula kisah kehidupannya yang mandiri dan tak kenal menyerah, terlebih ia, si tokoh utama adalah seorang wanita, harus dihadapkan dengan darah, merah, api, senjata, dan air mata. 
Selain dari segi ceritanya, dari segi bahasa juga turut mendukung kemenarikan di dalam buku ini. Bahasa adalah salah satu ketertarikan yang dimiliki sebuah tulisan. Sepertinya, “pembaca fasih” sangat haus akan pola bahasa yang dewasa dan berani. Mereka merindukan buku ini, buku yang dikenal memiliki nilai sastra yang cukup tinggi—tentu saat kita mengenal teknik bahasa yang digunakan penulisnya. Hal ini terlihat dalam kutipan, “Pada bulan-bulan isolasi itu, aku belajar bermasturbasi untuk kali pertama. Sesuatu yang membuncah di kepalaku saat pertama melakukannya membuat aku membayangkan bagaimana orang-orang bersenggama dalam gelap”. 
Meskipun kronologi maju mundur yang dipakai penulisnya membuat pembaca merasa seperti bimbang saat ingin melanjutkan bacaannya hingga akhir bab (surat). Selain itu, tentu saja pembaca kerap merindukan kisah cinta romantis yang berujung remaja, meskipun penulis menekankan nilai kehidupan—terlebih saat bab-bab yang ada, dimaksud untuk menggantikan surat demi surat, maka penulis seolah-olah curhat, atau sesungguhnya tokoh utama itu sendiri yang mulai bercerita “panjang lebar”.
Ada kebudayaan Bali yang ditawarkan “juga” dalam buku ini, penulis-nya, Dewi Kharisma Michellia, kelahiran 1991 asal Bali, memiliki wawasan setidaknya—tentang kebudayaan yang penuh kharismatik ini. Hal ini tampak pada beberapa kutipan novel seperti, “Keluarga ayah memang sangat kaku. Maklum saja, mereka berasal dari kalangan berwangsa kesatria di Bali. Di sana masih kuat adat untuk menikahkan wangsa kesatria dengan sesama wangsa kesatria, dan segelimpang tekanan adat lainnya.“
Begitu pula hitam putih yang ter-deskripsi di dalam buku ini. Penulis bermaksud membuat kisah flashback yang menarik seputar cinta, meskipun saat pembaca bergelut dalam bab-bab di dalamnya, saya (pembaca) merasa alur cerita masih belum dinamika. Ada beberapa konflik yang umum, dapat dibuat spesifik, namun penulis seperti kehabisan ide. Tapi mari! Di usia penulis yang masih cukup muda untuk seorang penulis yang memenangkan perlombaan novel setingkat dewan kesenian Jakarta, ini adalah sebuah awal pergerakan-nya yang patut diteladani. Tentu, ia adalah kelebihan tersendiri bagi penyelenggara! Selamat!

Saturday, December 7, 2013

Welcome To Batam

Batam merupakan salah satu kota di Provinsi Kepri, yang merupakan provinsi pecahan Riau. Jika melihatnya dari pesawat, Batam memang dikelilingi banyak pulau--maka dari itu-lah provinsi ini, diberi nama Kepulauan Riau. Ketika mendarat, saya jadi berpikir, pulau yang manakah pulau Batam, terasa sangat berhati-hati mencermati sebab saya kurang begitu memperhatikan peta kepulauan Riau. Saya hanya menduga-duga dari kejauhan. Saat mendarat, keluar dari pesawat melalui gardabrata, mengambil bagasi, lantas menuju pintu keluar bandara, kesan pertama saya: rapi, hijau, sepi. Ya! memang tak seramai dan sebesar bandara di Medan ataupun Jakarta. Sampai saat ini saya masih lebih nyaman berada di bandara Soeta dibandingkan di Kuala Namu (yang konon masih baru) ataupun Hang Nadim (Batam).

Ini kedua kalinya saya menginjakkan kaki di Batam setelah 2 minggu lalu saya sempat ke sini dengan maskapai yang sama untuk keperluan tes menjadi pegawai baru. Tentunya setelah lulus, kini, dengan rencana akan menikah dan menyatukan visi misi dengan partner masa depan saya "itu", saya berniat dan berencana lebih banyak lagi di kota ini.

Beberapa saat saya sempat mengunjungi beberapa tempat di Batam. Sebut saja, Costarina (taman bermain dan bersantai di pinggir laut Batam),

Monday, November 4, 2013

Telah Terbit!



BUKU KUMPULAN CERPEN BULAN BIRU

PENULIS: RIA RISTIANA DEWI
PENERBIT: TIGA MAHA
JUMLAH HALAMAN: 220 hlmn + viii
KERTAS: BOOK PAPER
HARGA: 40.000 (Belum Ongkir)
BISA DIPESAN DENGAN PENULIS.
NO. HP: 088264312234

JUGA BISA DIDAPATKAN DI TOKO BUKU GRAMEDIA!

Tuesday, October 15, 2013

Analisa, Cerpen, 4 September 2013


Riak Toba
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Mompang menangis persis terakhir kali ia melambaikan tangan pada danau. Cuplikan masa lalu yang berjalan seperti deretan adegan, menggirinya kembali ke masa-masa itu. Deru angin menggebu-gebu di balik pegunungan, di tempat yang mudah menjangkau segala kenangan. Ia seolah terlempar berkali-kali, asap menggumpal, lalu menghilang, burung-burung di atas pinus memberi kabar kepastian. Riak danau kecil-kecil menggeli kaki, memoar langkah-langkah kecilnya bersama tubuh-tubuh tanggung di atas gunung sana, gunung yang berada di tengah Samosir: bermain gundukan, mencari kebahagiaan, bercanda erat dengan alam, memenuhi ruang kecil tentang anak-anak Toba bermimpi.
            “Apa kabar, Danau Toba...” katanya memberi salam kecil untuk menggantikan cuplikan hangat ini.
            Sementara, di hotel yang telah ia persiapkan persis menghadap ke Pulau Samosir, pergulatan dua anak kecil tengah menguatkan ingatan-ingatan itu. Sebuah surat dari amang tergenggam dalam hatinya. Ia bawa dahulu, saat hendak menempuh juang ke Jakarta. Saat hendak menjadi orang yang berhasil, membawa kabar tentang kisah kecil, menampung banyak renungan hati rakyat Pulau Samosir. Ia merasa menjadi kuda yang berlari secepat kilat. Saat inilah ia ingin menjadi kendaraan pribadi yang cukup adil bagi mereka—siapa saja yang mengaku dirinya Samosir kecil. Riak air Danau Toba berbicara bisik padanya memberi kabar muasal cita-cita mereka. Riak itu berkecipak terus menerus seolah tak ingin berhenti. Riak yang menuntutnya, hendak berbicara mimpi kecil.
            Wujudkan... wujudkan...
***
            Edo dan En. Itulah nama kedua anaknya. Amara, wanita yang telah menemaninya selama 8 tahun ini. Dan, tentu saja pekerjaan baru sebagai seorang pengusaha di sebuah daerah kecil di Pulau Jawa, tidak jauh dari Jakarta.
            Ia mengaku dengan kesadarannya bahwa ia adalah anak Samosir itu. Seorang Samosir kecil yang dahulunya sempat bercita-cita membangun gedung-gedung besar, membeli kapal-kapal mewah, menjadikan Samosir menjadi istimewa dengan keberadaannya di tengah danau terbesar di Indonesia, Danau Toba. Kata amangnya, danau mereka istimewa: masuk dalam daftar danau yang terluas di Asia Tenggara. Kata amangnya, danau itu anugerah bagi rakyat Toba untuk mencari penghasilan, dapat menyekolahkan anak-anak Toba ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Lantas, bukankah mimpi itu seharusnya tengah diwujudkan anak-anak Toba, anak-anak dari Pulau Samosir?
            Dahulu, di seberang hotel ini, tepatnya di Pulau Samosir itu, ia ingat pernah mengikuti sebuah kompetisi menulis cerita rakyat tentang Danau Toba. Salah seorang temannya yang mengabari. Anak-anak sekolah dasar tengah dihebohkan dengan hadiah yang diusung kepala desa. Tidak tanggung-tanggung: beasiswa bersekolah tingkat perguruan tinggi. Bukankah itulah yang sedang dicita-citakan anak-anak Samosir? Termasuk ia, Mompang.
            “Kalau Kau mau tahu, Mompang! Anak juara terakhir sepertimu tak mungkin bisa menang!”
            Seperti yang diketahui amangnya. Mompang kecil tidak pernah terlalu perduli kata-kata tidak penting yang sering terlontarkan dari orang-orang. Salah satu ketidakpedulian itu adalah kata-kata amangnya sendiri.
            Mana pulak bisa menang Kau! Sudah tak usah susah Kau memikirkan perlombaan itu. Baik-baik saja Kau teruskan usaha amang dan inang.”
            Ia memang begitu. Tidak perduli dengan kata-kata amang yang sering mengatakan padanya Si Anak Danau yang liar. Pulang sekolah bukan pulang atau berganti pakaian terlebih dahulu melainkan mencari ikan di pinggir danau, bermain pasir, berenang dengan telanjang dada. Alhasil, segala umpatan kesal dari inang kerap memenuhi pendengaran Mompang. Lagi-lagi memang bukan Mompang kalau bukan santai lantas menerima serangan itu dengan apa adanya.
            Pada malam-malam tertentu, bukannya Mompang tidak pernah memikirkan tentang masa depan. Malam itu pula ia berpikir untuk memenangkan perlombaan—yang menurutnya sebuah tantangan besar. Ia bertanya banyak hal pada opung tentang ulos yang menjadi kebanggaan adat mereka. Opung hanya mencoba menjelaskan beberapa jenis ulos yang berbeda fungsinya. Dan saat Mompang mendengar penjelasan itu, ulos memang kerap menjadi mata pencaharian keluarganya selama ini. Beberapa turis asing bahkan mengaku ulos buatan keluarga Mompang adalah tenunan yang terbaik. Jadi, di akhir penjelasan opung sempat pula berpesan pada Mompang, jangan banyak kali mimpi, jaga danau, jaga warisan usaha keluarga opung. Titik.
            Mendengar penjelasan itu, dadanya berdebar tak karuan. Ah, itu urusan lain, pikirnya dalam hati.
***
            Perlombaan membuat cerita rakyat itu berjalan dengan peserta anak-anak cukup banyak. Yaitu berjumlah hampir lima puluh anak. Jumlah ini adalah yang terbanyak di antara perlombaan lainnya yang sering diselenggarakan kepala desa. Mompang hadir di urutan empat puluh delapan. Melihat namanya di urutan itu, hatinya sudah berlatih agar berlapang dada. Ia merasa sangat yakin dengan judul cerita rakyatnya: Ulos Sian Toba. Dalam pikirnya, pasti tak salah, begitu pula dengan apa yang ia pikirkan kemarin bahwa ulos memiliki tempat istimewa. Lantas hatinya mulai menunjukkan posisi yang sama berat: antara keyakinan atau pasrah atas apapun hasilnya nanti.
            Kepala desa mulai membuat pesta kecil di pinggir danau untuk anak-anak Samosir. Mereka disuguhi makanan ala kadarnya. Api unggun melengkapi suasana pesta khusus anak-anak malam itu. Beberapa dari mereka tertawa dengan tarian yang dibawakan orang tua dan sebagian lagi tampak memasang wajah tegang menunggu hasil perlombaan yang akan diumumkan tidak lebih dari sejam lagi.
            Api mulai meniup ke arah barat, sementara kayu-kayu bakar tampak mulai memudar, malam semakin pekat dan sekarat. Mompang dan anak-anak yang lain tampak mulai merapat pada angin. Kepala desa tampak telah berdiri di depan mereka lalu memilih duduk di tikar. Sebelum mulai membacakan nama pemenangnya, kepala desa menceritakan pada anak-anak Samosir bahwa Danau Toba adalah sebuah kebanggaan besar mereka. Ada banyak kisah yang dapat diangkat, ada banyak kenangan adat yang mampu dibawa merantau, ada banyak anak-anak hebat di pulau ini. Kepala desa mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan adalah persoalan bagaimana kita mampu mendapatkan sebuah keinginan untuk bermimpi besar.
            Lalu tibalah saatnya. Sebuah pengumuman penting dan akan mengubah kehidupan salah seorang anak Samosir. Namun, lagi-lagi tertunda. Kepala desa masih memberikan kesempatan pada salah seorang juri yang tidak lain adalah tokoh adat untuk mengomentari cerita rakyat beberapa anak.
            “Ulos...” kata juri itu memulai. Mendengar satu kata itu, dada Mompang berdebar lebih kencang dari yang pernah ia rasakan selama ini.
            “Ulos bukanlah sembarang benda adat. Ulos merupakan peninggalan yang istimewa bagi adat kita. Ulos tidak sekadar dijual lalu dibawa sebagai oleh-oleh. Kalian harus tahu, ulos lebih dari sekadar cenderamata bagi kita. Biarlah ia menghidupi, namun keberadaannya jauh dari apa yang kamu pikirkan.”
            Mompang menunduk. Ia berpikir sejenak. Lalu ia dapat menerima kekalahan.
***
            Pagi itu riak air di Danau Toba kembali berulang kisah. Mompang menunggu kedua anaknya selesai menikmati pasir. Tatapannya sulit terlepas dari pulau di tengah danau itu. En mendekat ke arahnya.
            “Pa.. kapan kita ke sana?” katanya menunjuk ke arah Pulau Samosir. Lalu Mompang menjawab dengan berat, “Beberapa jam... beberapa jam lagi.”
            Beberapa orang yang masih ia kenal, kini tak dapat mengenalnya lagi. Entahlah, apakah ia harus memperkenalkan ulang dirinya sendiri kepada mereka. Bukankah dua puluh tahun yang lalu, saat ia meninggalkan tempat ini, ia sempat berjanji akan kembali dan akan mengatakan pada semua anak-anak Samosir bahwa bermimpi besar bukanlah kesalahan. Ia melihat hotel-hotel banyak dibangun. Salah satunya adalah hotel yang ia bangun ini, tempat ia menginap bersama istri dan anak-anaknya. Meskipun tidak ada satupun teman-temannya yang tahu, ia tetap merasa lega.
            Amang masih di pulau itu, walau hanya sebatang nisan. Ah, inang pasti masih setia menemani amang. Tentu saja walaupun hanya sebatang nisan pula. Dan, dua puluh tahun yang lalu, saat amang meninggal karena sakit keras, Mompang sempat dipesankan harta untuk bersekolah ke Jakarta seperti cita-citanya selama ini. Saat opung meninggalkan amang, amang masih sempat menjual tanahnya. Bukankah ia begitu mencintai Mompang?
 Lalu amang berbisik kecil pada bocah berusia sepuluh tahun kala itu,
            “Pergilah sana, cari dunia mimpi dan wujudkan!”
            Air di Danau Toba tengah memimpin riak kecil di cekungan mata Mompang kala itu. Ia berusaha berdiri ketika tulang membawanya ke Jakarta tinggal bersama sepupu-sepupunya. Satu yang pasti diingatnya,
            Mewujudkan mimpi yang kerap riak di Danau Toba.
Serambi Kompak, 8 Nov 12.


Mimbar Umum, Esai, 31 Agustus 2013



Sahabat dalam Manajemen Baca Puisi  
Oleh: Ria Ristiana Dewi

Membaca puisi juga perlu manajemen yang baik. Jika baca puisi ibarat memainkan parodi, maka pembacaan puisi  dianggap gagal memenuhi teknik penampilan. Akhirnya, tawa penonton-lah yang akan bergema di ruangan. Terlebih, sulit ditemukan puisi dengan tambahan anekdot, sehingga seyogiyanya puisi memiliki tingkat penafsiran dari sedih, senang, haru, sendu, kritis, dan perjuangan. Untuk memenuhi penafsiran tersebut, membaca puisi dirasa perlu menampilkan kinesika yang baik. Selain itu ada banyak penilaian, mulai dari volume, artikulasi, warna suara, efektivitas, dan estetika.
Volume adalah tinggi rendahnya suara pada saat membacakan puisi. Terkadang, kita perlu memberikan batas mana yang harus ber-volume tinggi dan mana yang harus ber-volume rendah. Jika ada kata-kata yang perlu penekanan untuk memberikan penyampaian makna penting dan inti pada puisi, tentu saja volume sedang hingga tinggi perlu diterapkan. Biasanya volume seperti ini dilakukan pada pembacaan puisi-puisi perjuangan dan keagamaan. Sementara itu, puisi-puisi seperti puisi cinta justru cenderung memaknainya dengan nada rendah dan mendalam, seperti berbisik, namun tetap terdengar oleh penonton.
Kedua, artikulasi adalah pengucapan kata demi kata pada pembacaan puisi dengan jelas. Seperti yang kita ketahui, puisi merupakan karya sastra yang memakai pilihan kata-kata kias atau bergaya bahasa. Namun, dalam implementasi pengucapannya kata demi kata perlu eksperimentasi. Misalnya saja, kata rembulan perlu dilakukan pengucapan “rem-bu-lan” sehingga jelas terdengar dan tidak hanya seperti penyampaian tanpa makna. Dalam pengucapan kata-kata tertentu dimungkinkan dengan penekanan jelas agar penonton merasakan usaha kita dalam penyampaian makna isi puisi.
Ketiga, warna suara, tentu saja persoalan intonasi dan artikulasi adalah cakupan untuk menemukan warna suara. Ketika membaca puisi dengan penekanan-penekanan seperti pada tahap artikulasi, secara jelas warna suara juga akan tergambar dalam pendengaran penonton. Tinggi-rendah, kasar-lembut, jelas-samar akan tampak menjadi warna pada suara sang pembaca puisi.
Keempat, efektivitas adalah masalah kesesuaian atau ketepatan. Masalah ini sesungguhnya berpedoman pada masalah pembacaan dengan isi puisi seperti pada masalah volume tadi. Apabila kemudian pemberian ketentuan penekanan kata mana yang harus ditinggirendahkan mampu diimplementasikan, maka akan tercermin pula efektivitas. Dan terakhir adalah estetika. Estetika adalah keindahan. Pada puisi, terdapat rima (persamaan bunyi) yang turut mendukung dalam pemberian estetika. Tentu saja apabila kemudian keempat penilaian terpenuhi, estetika pada puisi menjadi pembacaan puisi yang paling dirindukan.
Mahasiswa, Sahabatnya, Puisi
            Penulis merasa perlu menyajikan teknik ini, mengingat masih hangat dalam benak penulis tentang bagaimana penampilan mahasiswa-mahasiswi LP3I untuk membaca puisi dalam acara Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) LP3I, Sabtu, 25-30 Maret 2013 lalu. Menarik! Mengingat mahasiswa-mahasiswi LP3I berasal dari jurusan-jurusan seperti: Akutansi dan Manajemen. Namun, kali ini antusias mereka untuk mengikuti perlombaan membaca puisi pantas diangkat jempol. Yang terpenting adalah semangat untuk bersaing. Dalam hari pertama perlombaan, mahasiswa diperlombakan terlebih dahulu untuk menyaring 3 besar yang nantinya—juara pertama, kedua, dan ketiga akan diperebutkan pada acara puncak. Pada babak penyaringan tiga besar itulah, mereka lebih banyak menemukan pemahaman yang salah tentang baca puisi. Meskipun mereka berusaha dengan penghayatan, namun jika pemahaman salah tentu akan sia-sia.
            Lomba baca puisi, bukan lomba musikalisasi puisi, atau visualisasi puisi. Kebanyakan peserta menganggap bahwa baca puisi lebih cocok jika dibawakan dengan gitar, atau gerakan-gerakan mendekati drama. Sebenarnya untuk ajang Porseni yang menggelar perlombaan baca puisi, hal ini akan menjadi salah acuan. Apabila panitia menggelar lomba musikalisasi puisi, maka yang dibawa adalah gitar, seruling, atau alat musik pendukung lainnya—yang mana puisi dijadikan lirik lagu pula. Dan, jika yang diperlombakan visualisasi puisi, maka perserta boleh membuat gerakan-gerakan seperti drama untuk memberikan gambaran jelas pada puisi yang akan disampaikannya. Namun, kali ini panitia Porseni LP3I menyajikan lomba baca puisi. Maka, peserta yang awam masalah baca puisi justru salah penafsiran dengan membawa alat musik atau membuat gerakan seperti drama dalam pembacaan puisinya. Dalam membaca puisi, seharusnya peserta hanya perlu membaca (bukan menghafal) puisi dan menonjolkan keunggulan intonasi, penghayatan, mimik, pelafalan, jeda, gerakan tubuh (seperlunya), dan penampilan. Apabila kombinasi di antara penilaian ini baik, maka hasil yang dicapai untuk menyampaikan makna puisi pada penonton juga baik.
            Inti utama dan pertama yang menjadi acuan adalah penghayatan. Penghayatan adalah soal rasa. Apabila penghayatan berhasil, maka pembaca puisi dianggap berhasil untuk merasakan isi puisi. Hal itu akan terlihat pada suara yang dihasilkan. Penghayatan dalam membaca puisi setidaknya tercermin dalam 4 hal yaitu: pemenggalan, intonasi, ekspresi, dan kelancaran (Doyin, 2008: 74). Pemenggalan dalam hal ini, adalah pembacaan puisi dengan tanpa terburu-buru untuk menyelesaikan pembacaan puisi. Apabila kemudian pemenggalan yang dilakukan baik, maka pengaturan napas pada pembaca juga akan baik. Begitu pula dengan ekspresi dan kelancaran pembacaan yang dihasilkan.
            Salah seorang peserta wanita pada lomba pembacaan puisi tersebut, membacakan puisi ciptaannya sendiri berjudul “Warna itu kita”. Dengan pemilihan tema persahabatan, tentu saja judul ini akan mendukung penghayatan si pembaca puisi. Namun, sayang sekali pada penentuan akhir penjurian yang penulis lakukan saat itu, sang pembaca puisi ini terkesan datar dan kurang memberikan energi vokal pada “justru” warna suaranya sendiri. Sehingga pembaca puisi tidak memberikan kesan merah, kuning, biru, abu-abu (apapun) pada penonton selain ya, mendengarkan berbicara di depan penonton. Membaca puisi perlu pula mimik, namun pembaca puisi “Abadi Kita”, salah seorang peserta lainnya dalam ajang ini, memberikan kesan persahabatan sebagai politik yang sadis. Bukankah ini sungguh berlawanan? Nah! Memang, pembacaan puisi juga harus disesuaikan dengan tema dan puisi itu sendiri, khususnya. Jadilah jiwa pada puisi itu, lakukanlah pada cara kita membacakannya.
            Menarik! Peserta terakhir yang maju ke babak akhir ini, kemudian membacakan puisi berjudul “Kalian Sahabatku”. Sejenak, judul puisi itu terkesan biasa. Namun, pada isinya “kalian” dalam hal ini menunjukkan siapapun, musuh atau teman adalah sahabat. Inilah yang menarik dari isi puisi peserta terakhir.
            Pada babak awal, peserta terakhir ini melakukan kesalahan dengan membawakan puisi dengan isi luas seperti itu dengan teknik mimik dan intonasi yang tidak konsisten. Namun, setelah melalui proses penjurian dan pengarahan ulang saat penjurian babak awal. Dengan  kejutan, peserta terakhir yang mengawalinya dengan tarik napas pelan dan dalam kemudian mampu membuat penonton bertepuk tangan puas. Ia membacakannya tentu dengan persabatan. Ya, sesuai dengan tema baca puisi kali ini: Sahabat.

Serambi Kompak, April 2013




Saturday, June 29, 2013

Medan Bisnis, 30 Juni 2013



Dua Daun Magenta
Oleh: Ria Ristiana Dewi


            Bermata magenta, kau sisir matahari tengah cengkrama dan berkata perihal daun-daun. Dengan mata magenta, kau duduk di halte tua, menunggu kedatangan malam yang berganti pagi. Kau tak beranjak barang satu atau dua jam. Hari itu, kau buat dirimu menunggu. Hingga matamu magenta dan aku pun akhirnya memilih untuk memanggilmu dengan sebutan itu. Hingga kini, aku mengenalmu begitu. Ya! Magenta...
            “Magenta!”Aku panggil kamu dengan lirih. Kau alihkan pandang pada daun gugur, menyisir angin seolah-olah mendengarkan suaraku. Memanggilmu, hanya itu yang dapat aku lakukan dan kau selalu bergidik memenuhinya. Magenta, jika aku bersuara dan kau mendengar, dengarkanlah...
            Kemarin malam ada sepasang merpati menjengukku di rumah. Aku tengah duduk di teras, menunggumu memilih daun-daun di bawah cemara, menuliskan kata rindu. Entah sudah berapa kali. Namamu tertera begitu ilu, menyengat dalam dadaku. Sudah berapa lama kita tak bertemu, begitulah aku menghitung daun-daun yang tumbuh pada pohon cemara di depan rumah. Magenta.. aku hanya punya daun dan dengan ini bisakah kau menikah denganku? Kataku masih membicarakanmu, berkabar dengan angin. Ada sambutan hembus dua hembus angin bulat dan menghilang. Membawa kabar yang hendak kau dengar. Aku sedang mempelajari caranya, percayalah! Aku sedang mempelajari bagaimana menjadi lelaki yang romantis. Aku sedang bergumam pada dua daun di tanganku lalu menuliskan namamu di keduanya. Untukmu satu dan dua. Magenta... aku seperti menunggumu, seperti benar bahwa kau akan datang dengan sendirinya. Tak ada yang bisa aku lakukan. Pagi itu semakin berkabut saja dan  malam semakin garangnya. Begitulah sehari itu aku belajar menjengukmu dan kau mendengarkan kata rindu dariku.
            Hari ini menginjakkan kakinya dalam tempo tujuh tahun. Tentu bukan waktu yang sejenak dalam batinmu, menunggu dalam kalbu, menghitung daun-daun yang gugur di bawah pohon- pohon cemara. Menyimak angin dan menjadikannya suara yang berkata, akan ada yang datang. Sebentar... sebentar lagi. Bukan aku tak tahu menahu tentang penungguanmu itu. Aku paham benar. Tujuh tahun adalah waktu yang berarti.  
            Daun gugur di kota Mukalla, tanda musim gugur yang hadir saat aku duduk di teras rumah. Beberapa hari aku sibuk menyiapkan kata-kata, aku sibuk menegur daun, aku sibuk membereskan  batin, aku tengah disibukkan dengan benak-benak yang berkelakar. Di Hadhramaut Mukalla, Yaman, aku beranjak membawa ijazah yang lama aku dan kau nanti. Tak sabar dadaku berkabar. Lalu, di depan rumah aku hembuskan napas panjang, menyimakmu dalam hembusan angin.
            Kira-kira seperti inilah perkataannmu, “Akan aku  nanti kamu, aku menanti dengan senyum paling indah.”
            Magenta, sudah lama aku tak mendengarkan kata-katamu bahkan aku seperti belajar kembali mengumpamakan suaramu dalam telingaku. Di benakku, suaramu yang terindah. Aku memilihmu menjadi calon istriku. Aku ingin kau tahu, aku akan pulang dengan satu  likaran cincin. Aku hanya ingin kau simak baik-baik, aku tak pernah melupakanmu barang satu atau dua jam yang selalu kau pungut di halte tua.
            Beberapa hari lagi, aku akan meninggalkan Kota Mukalla, kota yang selama ini kukenal bermata tajam, menyorotiku, seorang pejuang dari Indonesia, mencari ilmu, meneguk pengalaman yang indah dalam dunia yang luas. Tahukah kau, Magenta, kota ini seolah-olah ingin mencekamku. Setiap aku berjalan, aku menghitung sudah berapa ayat yang kupelajari, sudah berapa kata yang aku simak, sudah berapa kali aku berdoa, sudah berapa kali aku mempersiapkan untuk menghadapi ujian demi ujian.
            Aku masih ingat saat ibunda menangis dan memelukku lalu memberikan nasihat-nasihat panjang dan berarti. Ia mengecupku tepat di kening seraya berdoa untuk kesuksesanku. Entah berapa lama aku mencoba untuk ingat apa yang ia pesankan. Doamu dan doa ibulah yang membuat aku bertahan.
            Di Rayyan Airport, Mukalla, Yaman, aku duduk tengah menunggu pesawat yang akan membawaku kepadamu. Lantas aku mengingat-ingat sampai aku belajar bagaimana caranya dapat aku menegurmu. Di ruang tunggu itu, aku masih memegang cincin yang aku takkan meletakkannya di dalam tas, agar saat aku turun dan melihat matamu yang magenta, akan langsung aku genggam tanganmu dan kukenakan ia di jari indahmu. Magenta, sudah lama kita berpisah. Aku masih ingat saat kita bertemu di halte tua. Malam itu sepi bergelanyut di dadamu. Aku menyimak matamu, merah seperti tengah menangisi sesuatu. Kau bercerita panjang lebar tentang kepergian dan kepulangan. Kau merindukan ayah dan ibumu, yang di panti asuhan kau tak menemukan kedua mata magenta yang sekarang kau miliki di dalam matamu. Magenta, di halte tua aku memungut tanganmu dan untuk terakhir kali setelah kita berkenalan dan bercanda remaja, aku hendak pergi mencari ilmu, kau dengan senyummu meski tetap matamu yang magenta, berkata bahwa kau akan menungguku. Bukan barang satu dua kali akun menikmati kebahagiaan itu, setiap aku harus mengingat-ingatnya aku jadi menemukan ruhku yang berdiri tegak dan tak hendak menyerah. Beberapa kali kepulangan dengan kegagalan selalu menghantuiku. Kau tahu hal itu. Aku selalu menceritakannya padamu, selalu!
            Beasiswa adalah rangkaian bunga paling membanggakan dalam hidupku sekaligus meski aku memenuhi syarat. Kita sudah pernah berdebat. Ya, aku masih ingat!
            “Bagaimana jika kau dipulangkan sebelum ijazah kau genggam? Tidak mudah hidup di sana!”
            “Aku akan selalu menghadapi ujian demi ujian dan setiap itu pula aku akan berhasil. Percayalah!”
            Meskipun hatiku berdebar, berdenyut hebat, darah pun mengalir sangat cepat, seolah-olah aku benar-benar gugup. Aku tetap menyakinkanmu bahwa akan ada yang aku bawa pulang. Daun-daun di matamu berguguran seperti akan berganti esok dan esoknya dengan guguran yang sama. Magenta, aku hanya punya cincin ini dan dengan tanpa mengurangi rasa kasihku, selebihnya aku hanya punya daun-daun. Hanya ada dua daun di tanganku yang siap aku serahkan kepadamu. Yang keduanya memiliki sejarah dalam guguran cemara di depan rumah sewaku aku di Mukalla, Yaman.
            Daun yang pertama adalah ijazah yang aku persiapkan mencari kerja di tanah air. Ketika hendak pulang dan menunggu pesawat di ruang penungguan, aku sudah memikirkan apa yang bisa aku lakukan di tanah air. Di Mukalla, aku bekerja di sebuah rumah makan, aku selalu terlambat sebab setiap malam adalah waktu yang kupakai untuk menghapal mata kuliah esok. Sementara itu, aku harus bertahan. Uang beasiswa tidak sepenuhnya menjanjikan kehidupanku.
            Aku bekerja sebagai apa saja yang halal. Pernah suatu kali, aku bekerja sebagai pembantu di rumah salah seorang rumah tangga di Mukalla, aku juga menjadi supir angkutan, menjadi pengangkut barang-barang bagi orang-orang kaya. Setiap kali mereka melihatku, dengan perawakan kulit kuning langsat dan tubuh tidak terlalu tinggi, mereka akan paham, akan mengerti, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan itulah, aku menyerahkan daun kepadamu, dengan keberanian dan doa.
            Daun yang kedua, aku sudah menghapal dengan khusyuk, sudah berapa banyak yang akan aku pelajari untuk menjadi imam yang baik bagimu. Bagaimana caranya memberikan nasihat jika istriku salah, bagaimana caranya menasihati diriku sendiri pun jika aku yang salah, bagaimana caranya agar dapur terus mengepul, agar kau merasa nyaman dan berkecukupan, bagaimana caranya aku dan kau membina anak-anak kita kelak dan menjadi penghuni surga.
            Magenta, bisakah kau tunggu aku di sana. Meskipun dua daun itu gugur di matamu setelah aku menaiki pesawat dan tersenyum, lalu delapan jam perjalanan yang aku janjikan kepadamu, kau tak menemukanku. Maapkan aku, Magenta, kau harus menungguku di halte tua. Aku akan terbang, ingin kembali, namun kehendak Tuhan mengatakan lain. Magenta, aku melihatmu dan ingin kau berdiri. Bisakah kau mendengarkan suaraku di antara daun-daun yang berguguran?
Serambi Kompak, 7-9 Mei 2013

Tuesday, June 25, 2013

Cerpen, Mimbar Umum, 23 Juni 2013



Pelukan Tangis

Beberapa kali dalam satu malam suaramu tak habis mengucapkan kalimat-kalimat tangisan dan aku hanya bisa mencoba untuk memahamimu. Namun malam itu, aku tak bisa. Entahlah, dengan deru-deru yang panjang, tangismu meleleh seperti tertahan selama bertahun-tahun. Aku ingin mencoba memahamimu. Percayalah...
“Aku tak ingin menangis, tapi bisakah kau menghentikan tangisku?” katamu sambil terus mengusap air mata di pipi. Dan, masih terus kucoba untuk memahamimu kembali.
“Aku tidak tahu!” kataku mencoba memahamimu kembali lagi, meskipun kau tahu aku terlalu panik untuk menyikapi ini. Hingga aku mungkin takkan pernah paham. Dalam mimpi-mimpi yang terpasung diingatanmu, kau selalu mencurahkannya padaku. Setiap kali kau curahkan, aku tak mengerti mengapa kau menangis. Padahal, menurutku, beberapa hal yang kau katakan, tidak untuk mengakibatkan tangis-tangis panjang seperti ini.
“Mungkin akhir-akhir ini mimpimu ada yang aneh?”
“Tidak ada yang aneh, Pram!”
Sementara tangismu menderu dengan perlahan, namun perlahan-lahan menjadi begitu kencang. Aku tak bisa benar-benar memahamimu. Semestinya kau selalu bisa mengatasi apapun yang membara di dadamu.
Setiap malam, ada angin di pintu masuk kamar sewa ini akan begitu riuh mesra di bulu kuduk kita. Dan kau selalu bercerita banyak hal padaku. Suatu waktu pula, kau pernah pergi ke suatu tempat yang paling kau cintai. Katamu, di sana seorang lelaki selalu menunggumu. Ia adalah sosok yang kau kenal—pertama kali tentang cinta dan sajak-sajak. Kau berkata bahwa kau sendiri tidak pernah mengenal lelaki dengan sajak-sajak sebelumnya. Saat kau mengenalnya, ada cerita pendek yang timbul dan tenggelam. Di bagian yang paling baik dan cerahnya, ia, yang kau sebut lelaki sajak selalu memujamu dan menjadi bagian paling gelisah di dadamu adalah ketika ia mengucapkan kata cinta di saat cinta bukan untuk dikatakan waktu-waktu tersebut. Kau, dengan gelimu sendiri mengucapkan penuh kebanggaan bahwa “Aku berhasil dicintai”. Entahlah, kebanggaan seperti apa? Namun, saat aku melihat matamu yang berkaca-kaca dan lagi-lagi melelehkan air mata itu, seolah-olah ada rasa amuk yang dahsyat tengah kau simpan dan kau lipat baik dalam kenanganmu. Mungkin, sebuah tawa yang paling kau nikmati.
Malam itu, menjadi malam  yang begitu panjang. Di kota Medan, hal ini menjadi yang paling wajar. Pasalnya, cinta akan timbul di waktu-waktu yang tak pernah kau sangka-sangka. Kita selalu menatap ke depan, di pintu masuk kamar sewamu. Agar tak ada yang mengira bahwa kau wanita malam, katamu berkali-kali.
“Aku ini wanita baik-baik,” katamu lagi untuk lebih menyakinkanku selama lebih kurang dalam lima tahun kita saling mengenal. Namun, saat mengatakan hal itu pun kau selalu saja menangis. Berada di sisimu semalaman ini membuatku seperti berada di dalam tumpuk percikan sungai yang alirannya deras dan menemukanku tenggelam dalam arusnya. Jika kau adalah sungai, maka aku sangat ingin menyampanimu dengan cinta. Ah, terlalu!
“Kau itu temanku. Dan jangan katakan hal lain selain itu.” Begitulah selalu dan selalu.
Pintu masuk kamar sewamu  telah kau tutup. Kini tangismu menderu seperti guncangan yang dahsyat di dalam sebuah tong air, ingin keluar. Ketika aku mengendari sepeda motorku dan memikirkan tangis-tangis panjangmu, aku selalu tampak menjadi pengkhayal yang paling misteri. Hidupku telah kau kuasai, dan jalanku terpasung dalam mimpi-mimpimu. Dan, begitulah.
            Selagi aku memikirkanmu, aku tak tahu ke mana perginya kesadaranku. Aku seperti ingin menabrak siapapun, ingin mengamuk, ingin mencederai, dan aku seperti seorang pecandu tangismu yang paling tidak waras. Bahkan, aku tak menyadari bahwa di depanku telah tergeletak seorang anak yang darahnya tak mau berhenti. Anak itu terpental. Persisnya, aku tengah melamun saat itu, aku menyalahkanmu sebagai tokoh dalam khayalanku, hingga kini aku menbrak seorang anak tak bersalah. Entahlah, persetan dengan tangis-tangismu itu!
            Dan begitulah. Tangismu selalu mempersulit kesadaranku. Di dalam sel, aku masih sempat mendengar tangismu itu. Entahlah...
            Dahulu, tangis itu adalah tangis yang paling kau cintai. Pasalnya, dengan tangis-tangis yang kau punya, kau mampu menyewa rumah hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Di saat usiamu mencapai 15 tahun, kau masih begitu manis dan segar untuk menjadi seorang pekerja yang handal sehingga kau tak mampu menunjukkan cantiknya paras wajah atau hatimu.
            Kau selalu menikmati hasil-hasil dari tangismu. Saat kau akan dipecat karena perlakuanmu yang menodongkan pisau ke perut salah seorang pelanggan, bahkan tangismu kembali menolongmu. Kau terduduk tunduk dan merengek hebat, menarik-narik ujung pakaian bosmu, kau katakan bahwa kau akan membayar kerugiannya dua kali lipat asalkan kau tak akan dipecat. Sebab dari pekerjaan itulah, kau bisa menyewa rumah itu. Dan dari situlah kau bisa makan minum, ke salon, berjalan-jalan, menikmati dunia yang bagimu, itu perlu kau nikmati. Kau pernah menannyakan padaku, bagaimana caranya menikmati hidup meskipun begitu kau tak pernah menuruti nasihatku. Kau selalu kembali pada keyakinanmu bahwa tangis-tangis yang kau punya adalah kebahagiaan terbesarmu.
            Kini, setelah aku melangkah keluar dari sel dan kembali mendengar gema hebat dari tangismu di antara tiang-tiang sel yang akan aku lalui, bahkan kau tidak pula datang mengunjungiku. Bagiku, jika kau tetap ingin menjadikan aku sebagai temanmu, yang selalu mencintaimu dan menemani malam-malam sepimu, seharusnya atau setidaknya kau membawakan satu rantang makanan ke sel ini. Bahkan aku mendekam selama sebulan di sini, itu, karena tangis-tangismu yang menyesakkan dadaku. Sungguh menjengkelkan!
            “Sebagai teman, aku akan selalu berada di sampingmu. Percayalah!”
            Tentu saja aku masih ingat kata-katamu itu. Tentu. Dan saat ini, aku seperti mendapat pukulan hebat. Seolah-olah ada benda keras yang jatuh di atas kepalaku dan menyadarkan bahwa itu hanya sepotong kalimatmu.
            Ketika itu, aku melihatmu tengah menangis di balik salah satu tiang rumah sakit. Dengan sangat rapi, kau simpan sebelah wajahmu yang basah itu agar tidak ada satupun yang melihat. Malam tidak diam, tangismu memberisik di telinga, menyusup dan membuatku ingin mengukirnya lalu menjadi prasasti di dadaku. Itulah, pertama kalinya aku melihat dan mendengar tangis-tangismu. Membakar di mataku yang melihat parasmu, syahdu, penuh kekhusyukan. Lantas, bukankah bagi seorang wanita sepertimu adalah wajar jika menangis. Namun, yang paling tidak kumengerti, kau mencintai tangisanmu. Ah, gila!
            Saat itu hingga kini, aku tak pernah mengetahui siapa persisnya namamu. Aku hanya memanggilmu dengan asal saat kita seolah berpura-pura akrab, dan aku datang untuk menjadi bagian paling nyaman di hatimu. Santana! Begitulah aku memanggilmu. Meskipun kau tetap saja menangis, dan teruslah menangis. Ayah dan ibumu telah dipeluk maut, begitu katamu. Dan kini yang kau cintai hanyalah tangisan. Kau tau, dengan tangisanmu itu, kau nyaris saja terbunuh. Lagi-lagi kau berlari menghindari pelangganmu kala itu. Dengan sangat tergesa kau berlari dan tak tahu kalau kau sedang dikejar berpuluh preman yang siap menjadikanmu sebagai wanita paling kasihan, sangat. Kalau bukan karena aku datang dan menarik tanganmu naik ke atas sepeda motorku, mungkin aku takkan bisa lagi menikmati tangis-tangismu itu.
            Tapi enyahlah kau dengan tangis-tangismu itu, aku masih terus mendengarnya meskipun aku telah keluar dari sel dan tengah berjalan menunggu angkutan umum. Aku juga mendengar tangismu saat aku tengah menikmati sebuah lagu di dalam angkutan tersebut. Dengan cepat, kau merobek-robek waktu tenangku. Entah kapan kau akan pergi dan berlalu. Saat itu, kau mengatakan padaku dengan rengekan hebat bahwa kau tak memiliki rumah, maka aku mengusulkan padamu agar menyewa saja di rumah saudaraku. Tentu saja saat itu kau tak memiliki uang sepeserpun. Aku meminjamkan uangku dan kau menuruti janji-janjimu akan mengembalikannya meskipun aku takkan tega. Namun, saat aku menasihatimu agar keluar dari pekerjaan itu, kau tetap saja bekerja. Bahkan ketika nyawamu tengah kalut di tangan kematian dan aku akan selalu berada di sampingmu.
            Persetan! Persetan dengan tangis-tangismu!
            Tangisan itu telah memelukmu bertahun-tahun lamanya. Hingga pada suatu masa kau jatuh dalam pelukan cinta seorang lelaki yang kau sebut pahlawanmu. Saat itu aku ingin menjadi pemarah yang maniak, namun aku hentikan sebab aku sadar bahwa aku hanya ingin kau selalu tampak bahagia. Kau berjanji akan bahagia bersamanya. Di saat usiamu tengah memasuki usia 20 tahun, kau tampak matang akan melepas masa mudamu. Di rumah yang kemudian di sewa oleh suamimu itu, kau tampak bahagia, namun  itu tak lama. Dan kau menangis dengan tersedu-sedu di bahuku, memelukku erat, dan telah menyesal telah menjadi istri kedua. Bersamaku, kau selalu tampak lebih tenang, walau aku tau tidak ada kesungguhan masa tenang di dalam dadamu sendiri.
            Aku mengatakan padamu bahwa sebaiknya kau bekerja dengan halal, maka ketika tak ada satupun pilihan, kau menurutiku dengan baikmu. Kau selalu mengadu padaku bahwa kau bahagia, bahagia telah menemukanku dalam hidupmu.
            Sehingga, pada waktu-waktu tertentu, kita akan menghabiskan waktu bersama-sama. Dan aku selalu mencintaimu semenjak kau menangis di balik tiang rumah sakit itu. Dengan bercerita ringan dan tawa-tawa paksa, kau mengatakan bahwa hidupmu telah dipeluk tangis. Tangis menjadi teman baikmu, kemanapun selalu mengikutimu. Orang tuamu adalah seorang pekerja keras, meninggalkanmu dengan penuh peluh perjuangan. Sementara itu, kau hanya tahu bahwa kau harus makan untuk esok hari dan aku tak tahu setelah itu. Mengapa kau selalu saja menyesak di dalam dadaku.
            Aku telah sampai di rumah sewamu dan aku telah bersiap-siap untuk tidak tertidur dalam tangis-tangismu. Aku telah menyiapkan kata-kataku untuk meminta penjelasan kepadamu, mengapa kau tak pula menjengukku di sel saat itu. Ketika aku selalu saja memikirkanmu dan ingin kau menjadi istriku. Kau menangis dan selalu saja menangis dan mengatakan, kau masih mencintai lelakimu. Kau wanita tangis yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Aku telah bersiap-siap dan aku akan menggedor-gedor pintumu lalu melabrakmu yang tengah berpelukan mesra dengan tangis-tangismu.
            Namun, aku melihatmu dengan terpaksa: terpaksa aku memeluk tangismu selama-lamanya. Abadi, di dalam dadaku. Tersimpan.
            Aku buka pintu rumah sewamu dan kau telah pergi tampa pamit sedikitpun. Aku menangis, menangis, dan menangis.
            Aku mencintaimu, Pram! Aku mencintaimu! Putusilah pacarmu! Aku tak bisa hidup tanpamu! Aku mohon Pram! Jangan permainkan aku lagi!

Jangan Terlalu Percaya Diri!

 Jangan  jika belum kau kuasai ilmu langit dan kau benam segala pongah beberapa meter di dalam tanah jangan jika belum kau mampu, mengisi ti...