Riak Toba
Oleh:
Ria Ristiana Dewi
Mompang menangis
persis terakhir kali ia melambaikan tangan pada danau. Cuplikan masa lalu yang berjalan
seperti deretan adegan, menggirinya kembali ke masa-masa itu. Deru angin menggebu-gebu
di balik pegunungan, di tempat yang mudah menjangkau segala kenangan. Ia seolah
terlempar berkali-kali, asap menggumpal, lalu menghilang, burung-burung di atas
pinus memberi kabar kepastian. Riak danau kecil-kecil menggeli kaki, memoar
langkah-langkah kecilnya bersama tubuh-tubuh tanggung di atas gunung sana,
gunung yang berada di tengah Samosir: bermain gundukan, mencari kebahagiaan,
bercanda erat dengan alam, memenuhi ruang kecil tentang anak-anak Toba
bermimpi.
“Apa
kabar, Danau Toba...” katanya memberi salam kecil untuk menggantikan cuplikan
hangat ini.
Sementara,
di hotel yang telah ia persiapkan persis menghadap ke Pulau Samosir, pergulatan
dua anak kecil tengah menguatkan ingatan-ingatan itu. Sebuah surat dari amang
tergenggam dalam hatinya. Ia bawa dahulu, saat hendak menempuh juang ke
Jakarta. Saat hendak menjadi orang yang berhasil, membawa kabar tentang kisah
kecil, menampung banyak renungan hati rakyat Pulau Samosir. Ia merasa menjadi
kuda yang berlari secepat kilat. Saat inilah ia ingin menjadi kendaraan pribadi
yang cukup adil bagi mereka—siapa saja yang mengaku dirinya Samosir kecil. Riak
air Danau Toba berbicara bisik padanya memberi kabar muasal cita-cita mereka. Riak
itu berkecipak terus menerus seolah tak ingin berhenti. Riak yang menuntutnya,
hendak berbicara mimpi kecil.
Wujudkan...
wujudkan...
***
Edo
dan En. Itulah nama kedua anaknya. Amara, wanita yang telah menemaninya selama
8 tahun ini. Dan, tentu saja pekerjaan baru sebagai seorang pengusaha di sebuah
daerah kecil di Pulau Jawa, tidak jauh dari Jakarta.
Ia
mengaku dengan kesadarannya bahwa ia adalah anak Samosir itu. Seorang Samosir
kecil yang dahulunya sempat bercita-cita membangun gedung-gedung besar, membeli
kapal-kapal mewah, menjadikan Samosir menjadi istimewa dengan keberadaannya di
tengah danau terbesar di Indonesia, Danau Toba. Kata amangnya, danau
mereka istimewa: masuk dalam daftar danau yang terluas di Asia Tenggara. Kata amangnya,
danau itu anugerah bagi rakyat Toba untuk mencari penghasilan, dapat
menyekolahkan anak-anak Toba ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Lantas,
bukankah mimpi itu seharusnya tengah diwujudkan anak-anak Toba, anak-anak dari
Pulau Samosir?
Dahulu,
di seberang hotel ini, tepatnya di Pulau Samosir itu, ia ingat pernah mengikuti
sebuah kompetisi menulis cerita rakyat tentang Danau Toba. Salah seorang temannya
yang mengabari. Anak-anak sekolah dasar tengah dihebohkan dengan hadiah yang diusung
kepala desa. Tidak tanggung-tanggung: beasiswa bersekolah tingkat perguruan
tinggi. Bukankah itulah yang sedang dicita-citakan anak-anak Samosir? Termasuk
ia, Mompang.
“Kalau
Kau mau tahu, Mompang! Anak juara terakhir sepertimu tak mungkin bisa menang!”
Seperti
yang diketahui amangnya. Mompang kecil tidak pernah terlalu perduli
kata-kata tidak penting yang sering terlontarkan dari orang-orang. Salah satu
ketidakpedulian itu adalah kata-kata amangnya sendiri.
“Mana
pulak bisa menang Kau! Sudah tak usah susah Kau memikirkan perlombaan itu.
Baik-baik saja Kau teruskan usaha amang dan inang.”
Ia
memang begitu. Tidak perduli dengan kata-kata amang yang sering
mengatakan padanya Si Anak Danau yang liar. Pulang sekolah bukan pulang atau
berganti pakaian terlebih dahulu melainkan mencari ikan di pinggir danau,
bermain pasir, berenang dengan telanjang dada. Alhasil, segala umpatan kesal dari
inang kerap memenuhi pendengaran Mompang. Lagi-lagi memang bukan Mompang
kalau bukan santai lantas menerima serangan itu dengan apa adanya.
Pada
malam-malam tertentu, bukannya Mompang tidak pernah memikirkan tentang masa
depan. Malam itu pula ia berpikir untuk memenangkan perlombaan—yang menurutnya
sebuah tantangan besar. Ia bertanya banyak hal pada opung tentang ulos
yang menjadi kebanggaan adat mereka. Opung hanya mencoba menjelaskan
beberapa jenis ulos yang berbeda fungsinya. Dan saat Mompang mendengar
penjelasan itu, ulos memang kerap menjadi mata pencaharian keluarganya selama
ini. Beberapa turis asing bahkan mengaku ulos buatan keluarga Mompang adalah
tenunan yang terbaik. Jadi, di akhir penjelasan opung sempat pula berpesan pada
Mompang, jangan banyak kali mimpi, jaga danau, jaga warisan usaha keluarga opung.
Titik.
Mendengar
penjelasan itu, dadanya berdebar tak karuan. Ah, itu urusan lain, pikirnya
dalam hati.
***
Perlombaan
membuat cerita rakyat itu berjalan dengan peserta anak-anak cukup banyak. Yaitu
berjumlah hampir lima puluh anak. Jumlah ini adalah yang terbanyak di antara
perlombaan lainnya yang sering diselenggarakan kepala desa. Mompang hadir di
urutan empat puluh delapan. Melihat namanya di urutan itu, hatinya sudah
berlatih agar berlapang dada. Ia merasa sangat yakin dengan judul cerita
rakyatnya: Ulos Sian Toba. Dalam pikirnya, pasti tak salah, begitu pula dengan
apa yang ia pikirkan kemarin bahwa ulos memiliki tempat istimewa. Lantas
hatinya mulai menunjukkan posisi yang sama berat: antara keyakinan atau pasrah
atas apapun hasilnya nanti.
Kepala
desa mulai membuat pesta kecil di pinggir danau untuk anak-anak Samosir. Mereka
disuguhi makanan ala kadarnya. Api unggun melengkapi suasana pesta khusus
anak-anak malam itu. Beberapa dari mereka tertawa dengan tarian yang dibawakan
orang tua dan sebagian lagi tampak memasang wajah tegang menunggu hasil
perlombaan yang akan diumumkan tidak lebih dari sejam lagi.
Api
mulai meniup ke arah barat, sementara kayu-kayu bakar tampak mulai memudar,
malam semakin pekat dan sekarat. Mompang dan anak-anak yang lain tampak mulai
merapat pada angin. Kepala desa tampak telah berdiri di depan mereka lalu
memilih duduk di tikar. Sebelum mulai membacakan nama pemenangnya, kepala desa
menceritakan pada anak-anak Samosir bahwa Danau Toba adalah sebuah kebanggaan
besar mereka. Ada banyak kisah yang dapat diangkat, ada banyak kenangan adat
yang mampu dibawa merantau, ada banyak anak-anak hebat di pulau ini. Kepala desa
mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan adalah persoalan bagaimana kita
mampu mendapatkan sebuah keinginan untuk bermimpi besar.
Lalu
tibalah saatnya. Sebuah pengumuman penting dan akan mengubah kehidupan salah
seorang anak Samosir. Namun, lagi-lagi tertunda. Kepala desa masih memberikan
kesempatan pada salah seorang juri yang tidak lain adalah tokoh adat untuk
mengomentari cerita rakyat beberapa anak.
“Ulos...”
kata juri itu memulai. Mendengar satu kata itu, dada Mompang berdebar lebih
kencang dari yang pernah ia rasakan selama ini.
“Ulos
bukanlah sembarang benda adat. Ulos merupakan peninggalan yang istimewa bagi
adat kita. Ulos tidak sekadar dijual lalu dibawa sebagai oleh-oleh. Kalian
harus tahu, ulos lebih dari sekadar cenderamata bagi kita. Biarlah ia
menghidupi, namun keberadaannya jauh dari apa yang kamu pikirkan.”
Mompang
menunduk. Ia berpikir sejenak. Lalu ia dapat menerima kekalahan.
***
Pagi
itu riak air di Danau Toba kembali berulang kisah. Mompang menunggu kedua
anaknya selesai menikmati pasir. Tatapannya sulit terlepas dari pulau di tengah
danau itu. En mendekat ke arahnya.
“Pa..
kapan kita ke sana?” katanya menunjuk ke arah Pulau Samosir. Lalu Mompang
menjawab dengan berat, “Beberapa jam... beberapa jam lagi.”
Beberapa
orang yang masih ia kenal, kini tak dapat mengenalnya lagi. Entahlah, apakah ia
harus memperkenalkan ulang dirinya sendiri kepada mereka. Bukankah dua puluh
tahun yang lalu, saat ia meninggalkan tempat ini, ia sempat berjanji akan
kembali dan akan mengatakan pada semua anak-anak Samosir bahwa bermimpi besar bukanlah
kesalahan. Ia melihat hotel-hotel banyak dibangun. Salah satunya adalah hotel
yang ia bangun ini, tempat ia menginap bersama istri dan anak-anaknya. Meskipun
tidak ada satupun teman-temannya yang tahu, ia tetap merasa lega.
Amang
masih di pulau itu, walau hanya sebatang nisan. Ah, inang pasti masih
setia menemani amang. Tentu saja walaupun hanya sebatang nisan pula.
Dan, dua puluh tahun yang lalu, saat amang meninggal karena sakit keras,
Mompang sempat dipesankan harta untuk bersekolah ke Jakarta seperti
cita-citanya selama ini. Saat opung meninggalkan amang, amang
masih sempat menjual tanahnya. Bukankah ia begitu mencintai Mompang?
Lalu amang berbisik kecil pada bocah
berusia sepuluh tahun kala itu,
“Pergilah
sana, cari dunia mimpi dan wujudkan!”
Air
di Danau Toba tengah memimpin riak kecil di cekungan mata Mompang kala itu. Ia berusaha
berdiri ketika tulang membawanya ke Jakarta tinggal bersama
sepupu-sepupunya. Satu yang pasti diingatnya,
Mewujudkan
mimpi yang kerap riak di Danau Toba.
Serambi Kompak, 8 Nov
12.

No comments:
Post a Comment