Kepada Habibi,
Ijinkan aku mengucapkan selamat malam
padamu. Dan ijinkan aku memilihmu menyembelih paras malam setiap pukul 23.00
berdentang. Meskipun itu hanyalah waktu yang aku pilih sendiri bersebab pada
saat itulah permainan para hati memuai ke permukaan. Sam, saat ini aku sedang bercerita padamu
tentang dunia yang luas, namun terasa menyempit umpama kota dalam tempurung
kepalaku. Sam aku gelisah, kegelisahan akibat terlalu banyaknya permainan air mata. Ah, Sam, aku sedang tak ingin
mengeluh, namun aku khawatir dan itu semakin.
Ini tentangnya: Namanya Andra, namun ia lebih suka aku memanggilnya
Rendra. Katanya, ia mengagumi puisi-puisi Rendra, untuk itulah ia lebih suka
dengan nama itu. Tapi Sam, ia justru tak tahu dan tak mau tahu apa yang paling
aku sukai. Ya! Ia tak tahu kalau aku juga menyukai puisi dan mengagumi Rendra.
Tapi, aku patuh, tak ingin mengganggu semua pikirannya yang memiliki prioritas
lain tanpa aku, barangkali. Aku ingin patuh, itu aku pastikan.
Malam itu aku memang ingin Rendra
datang, maka aku menelponnya dan bertanya, sedang di mana ia saat ini. Di
kantor, katanya. Lidahku masih kelu
mengucapkan satu kata itu “datanglah” sebab aku tahu dari nada suaranya yang
berat dan sebelum mengatakannya ada nada suara ə panjang, maka dalam beberapa
detik hanya iringan napas satu-satu berada antara jaringan telepon kami. Aku
benamkan niat untuk mengatakan padanya bahwa hari ini aku berulang tahun. Sam,
aku hanya ingin ia hadir di pestaku hari ini atau setidaknya ia mengucapkan
selama ulang tahun untukku. Ya! Dan Telepon itu terus berisik dengan angin, hanya
angin, untuk itulah ia mulai membelah suasana, ia mengatakan bahwa pekerjaannya
masih terlalu penting. Aku diam, namun sebelum aku ingin meminta maap sebab
telah mengganggunya, ia langsung mengucapkan salam dan mematikan telepon. Air
mataku tampak bening, aku melihatnya dari kaca lemariku. Aku menutup wajahku
dengan bantal saat ibu masuk ke dalam kamar. Aku katakan bahwa aku tak ingin
diganggu oleh siapapun.
Sam, aku tak mengenalnya, masih tak
mengenalnya. Mengapa ia bersikap seolah aku bukanlah pacarnya. Ia masih sama,
seakan tokoh dalam puisi-puisi yang kubumbui belakangan ini, menemukan fajar
dengan embun pagi, kisah asa menebas sesal atau saat senja menirukan wajahnya,
namun ia memang akan tetap wajar. Maka pada
hari lain aku mencoba bertanya satu hal padanya, sebuah tanya yang selama ini
aku simpan hanya dalam pikiranku hingga membuatku mengeluarkan keringat panjang
selama satu tahun kami berjalan, dengan status berpacaran, tentunya. Aku
bertanya, apakah ia benar-benar mencintaiku? Tapi ia tidak seperti sedang
dilemparkan pertanyaan mengejutkan sebab ia langsung mengatakan dengan nada
datar dan mimik wajar bahwa pasti! Ya, pasti ia mencintaiku. Aku tak mengerti,
aku semakin tak mengerti terhadapnya.
Sam, sesungguhnya aku tak pernah punya
keinginan untuk berpisah dengannya. Dan aku tak berani berulang kali bertanya
demi memastikan apakah ia benar-benar mencintaiku sebab aku tahu ia tak suka
sebuah pertanyaan yang itu dan itu lagi. Maka aku putuskan untuk tidak
mengatakannya lagi. Namun hari itu, saat ia sendiri yang memutuskan akan
memecah rindu, aku dengan sengaja membuka beberapa pesan kotak masuk dari HPku.
Ia duduk sambil menatap sebelah wajahku, aku tak tahu ia sedang apa. Aku
biarkan ia melakukan itu dan selagi begitu aku mulai membuat gerakan yang
mencurigakan hendak memancing perhatiannya. Ada beberapa pesan dari temanku
Riki. Aku pernah bercerita padanya bahwa Riki selalu meminta aku menjadi
pacarnya, namun pada hari itu ia tak mau percaya, maka aku yang akan
memulainya. Aku melayangkan beberapa SMS gila perihal cinta dan aku berharap
ini mendapat perhatian serius darinya. Gerakanku seakan menutupi bahwa ada
pesan masuk dan ya! Jelas sekali ia melihat siapa nama yang tertera di situ.
Yeah, aku tersenyum dari dalam hati. Aku pikir....
Tapi tidak!
Sam, aku tetap tak mengerti mengapa ia
hanya menunjukkan sikap yang wajar. Tidak ada usaha untuk meraih HPku,
menciptakan wajah kecemburuan, atau sedikit saja teguran agar aku tidak
bermain-main perihal cinta. Aku mau kau tahu Sam bahwa aku benar-benar ingin
mengatakan kekecewaan mendalam itu.
Entahlah, aku tak tahu harus meracik
siasat apa lagi agar ia marah demi cinta, setidaknya. Aku gagal menemukan kecemburuan dari
wajahnya, maka aku berpikir ia tak serius mengatakan bahwa ia benar-benar
mencintaiku. Dia memang pernah memintaku agar jangan berlebihan menyikapi hal
ini. Ia tak suka jika aku bersikap seperti anak-anak. Tapi Sam, seharusnya ia
paham bahwa aku adalah seorang wanita. Aku tak bisa jika harus bersikap wajar,
hatiku bersikap lain dengan hatinya. Sam, tak sedikit pula aku menemukan
sepasang insan saling mencintai yang terlihat penuh kebahagiaan. Laki-laki itu,
tetanggaku, hampir setiap malam mendatangi kekasihnya, Ia bercerita padaku
bahwa ia tak ingin kehilangan wanita yang paling dicintainya. Aku tahu bahwa
itu terlalu berlebihan, tapi setidaknya terlalu jauh dengan Rendra. Rendra
justru menemuiku hanya setiap dua minggu sekali bahkan jika ia ke luar kota,
aku harus menunggunya selama berbulan-bulan dan jika ia ingin datang, kami
hanya menghabiskan obrolan selama dua jam.
Sam, hubungan kami telah menemukan satu
tahun dan seharusnya bukan lagi tindakan yang wajar jika aku tetap percaya
kesungguhannya. Aku benar-benar tak paham bahkan dengan diriku sendiri.
Dan tibalah hari itu ia menelponku.
Katanya, ia akan pergi ke luar kota untuk memenuhi tugas kantor. Seperti biasa
aku tak dapat berkata apapun kecuali mendoakan keselamatannya. Aku tutup telepon, tapi entah alasan apa yang
membuatku tersenyum.
Pagi-pagi sekali aku telah sampai di
kampus. Ternyata teman-teman merasa seperti ada hujan di siang bolong melihatku
hadir setengah jam sebelum pelajaran dimulai sementara itu yang mereka ketahui
selama ini adalah aku yang selalu terlambat. Ah, aku tak terlalu memperdulikan
hal sepele itu.
Saat jam mata kuliah usai, aku mencoba
memberikan waktu untuk berbicara sedikit dengan Riki. Aku pikir ia sudah tidak
bernafsu lagi untuk mengajukan pertanyaan yang sama, apakah aku ingin menjadi
pacarnya. Di bawah pohon beringin itu, kami duduk berdua. Aku menyilangkan kaki
begitupula dengannya. Angin berputar bulat dan berhembus menghilang secara
perlahan, daun-daun berserakan menuju satu tempat di belakang kami. Riki
menatapku aneh, aku tahu bahwa Riki tahu aku mencoba menutupi mataku.
“Menangis?”
“....”
“Katakan! Apa kau mau menjadi pacarku?”
“Kau tahu aku sudah punya pacar!”
“Aku tak peduli, sebab ia juga tak
peduli terhadapmu.”
“Aku tak mau terlibat masalah. Aku ingin
menemukan alasannya.”
“Alasan mengapa ia bersikap seperti itu
padamu? Kau ingin tahu apakah ia mencintaimu atau tidak mencintaimu? Kau ingin
tahu apa ia bersungguh-sungguh atau ada wanita lain dalam hidupnya? Kau ingin
tahu apa ia memiliki pacar lain selain dirimu? Yang selama ini tak pernah kau
ketahui kebenarannya. Sementara itu aku selalu mencintaimu dengan kau tahu
bahwa tak ada siapapun selain dirimu.”
“Aku harus bagaimana? Memutuskannya? Tak
ada alasan....”
“Aku bisa membantumu!”
“Tidak! Kau tak bisa membantuku!”
“Aku bisa membantu jika kau mau!”
“Jangan.”
“Aku akan membantumu untuk mencari tahu
apa yang tak kau ketahui.”
“Maksudmu?”
“Jika kau mau. Bagaimana?”
“Baiklah...”
“Jika kau menjadi pacarku, kau bisa tahu
ia akan bersikap apa.”
“Lalu...”
“Jika ini tak adil baginya, ia akan
membalas perbuatanmu atau sekejap akan meninggalkanmu.”
“Kau gila!”
“Aku tidak gila. Tak ada maksud untuk
membodohimu. Kau tahu aku mencintaimu dan dia juga tahu itu. Tapi yang ingin
kita ketahui adalah dirinya dan jika ia mencintaimu ia akan merasa bersalah
telah bersikap tidak wajar padamu.”
“Aku tak berani!”
“Harus!”
“Aku tak berani! Apa kau tak
mendengarku? Apa kau mau aku lebih hancur dari hari ini? Apa kau bermaksud
untuk...”
“Kau salah!”
“...”
“Jika
nanti ia tidak mempertahankanmu, ia kalah dalam cinta.”
“...”
“Jadi kau tak perlu seperti ini setiap
saat sebab aku tak tahan.”
“Aku memang wanita bodoh.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri sebab
kesalahannya lebih besar, menurutku.”
“Mungkin aku hanya berprasangka buruk.”
“Prasangka buruk tak terjadi setiap saat
hanya pada satu orang.”
“Ya! Kau benar! Aku tak pernah seperti
ini sebelumnya. Aku tak tahu kenapa.”
Ah, Sam, ia memelukku sangat erat dan
aku membiarkannya. Sebelumnya Riki tak pernah punya kesempatan ini, namun ia
tak sanggup melihatku mengeluarkan air mata. Daun-daun kembali berterbangan
saat itu, aku melihat segalanya terserak di sekeliling kami. Senja telah jatuh
memenuhi ruang, garis-garis sinar itu pun telah tersamar dan aku tak kutip
untuk memperhatikan keindahan langit yang berwarna jeruk matang.
Sam, aku telah layu dibawa perasaan.
Racikan pedas yang akan kumainkan bersama Riki. Aku tak tahu apakah ini benar.
Aku menuruti keinginannya setelah satu tahun. Kenyataannya, aku begitu.
Walaupun aku akan begitu murka mendengar kata perselingkuhan dan tak terbilang
jumlah aku mendengar orang lain melakukannya, aku mencaci mereka, berkata
sumpah serapah sebab aku tak tahu apa masalahnya.
***
Rendra belum pulang, aku
mengkhawatirkannya. Tapi saat ia pulang, aksiku telah siap menjadi hidangan.
Lamat-lamat kubuka kain gorden bercorak melayu persia, dalam jeruji besi
berukiran arabi, elok menerpa angin, menari-nari terbawa, membelah suasana
matahari yang tegak di atas kepala. Dari lantai dua kuteguk air liur
menyaksikan langkahnya yang mengembang. Daun-daun berterbangan mengikuti
bayangannya, terinjak-injak oleh kegelisahan di dadaku. Pukul 12.00 berdentang.
Aku yakin ia telah memencet bel.
Aku tahu bahwa Riki terus
menunggunya.
Dan aku sadar bahwa aku harus segera
turun.
Pintu itu terbuka. Aku yang menyuruh
bibi melakukannya. Kami membelakangi Rendra yang berjalan sambil melongok ke
kanan dan ke kiri. Dengan lagak cepat aku berpura-pura kejut oleh tatapannya
dan segera lepas dari pelukan Riki. Ia tercengang, aku tersenyum dalam hati.
Yeah, aku berhasil. Itu sekejap dan sekejap lagi Rendra mengumbar senyum dan
mengatakan permintaan maap. Ia merasa bahwa telah mengganggu kami bermesraan.
Ia pergi setelah menyodorkan sebuah cincin yang indah di hadapanku. Itu hadiah,
katanya.
Sam, aku ingin menilik hatiku saat
itu. Aku tak percaya seperti apa Rendra yang sesungguhnya dan apa pengertian
atas hal ini. Aku ingin menjerit dan mengucap penyesalan. Bukan salah
siapa-siapa melainkan kecerobohan. Dan aku tak berani menelponnya lagi hingga
akhirnya ia memberikan SMS kepadaku:
Aku rindu.
Sam, aku katakan padanya bahwa aku sudah
punya pacar dan ia tak berhak lagi untuk merindukanku. Aku katakan padanya
bahwa aku berdoa segala sesuatunya demi kebahagiaan hidupnya. Sam, aku khilaf ***
Dear Habibi.
Saat ini aku
sedang berjuang menyelesaikan kuliahku di Mesir dan aku mengambil judul tesis
mengenai penggunaan bahasa yang islami. Habibi... surat ini tak pernah salah
alamat. Aku sedang mencoba mengucapmu dengan cara begini: buat “kekasihku” yang
dalam bahasa islami dituliskan “habibi”.
Sam, kau kekasihku yang terbaik dan aku akan pulang untuk memenuhi
panggilanmu sebab aku rasa besar keinginanku untuk menyempurnakan ibadah kita.
Sam, ini surat terakhirku dan kini kau tahu siapa aku dan mengapa aku. Maka,
ijinkanlah aku memintamu untuk menungguku.
From your habib,